
Anya dan Raysa yang sudah tiba di dalam kelas melihat Briana sudah muncul di depan pintu kelas. Seperti biasa nya, dengan gaya jutek dan cuek nya ia ngelengos seperti tidak ada siapa pun yang berada di dalam kelas.
"Ehh Bri . . . ". Anya menepuk pundak Briana usai dia duduk di bangku nya yang terletak di depan bangku Anya dan Raysa. Briana menoleh ke belakang.
Anya/ "Elo ya, buat malu gue saja kemarin, gara - gara elu, gue jadi kikuk menangani Bobby dan Kevin. Gue malu banget tau".
Briana memutar kan bola mata nya dan berbalik badan mencuekin Anya.
"Bri . . . Gue masih belum siap ngomong nya". Anya menepuk pundak nya lagi.
"Apa lagi sih?". Briana mulai kesal
"Kalau lu masih mau ngebahas cowok - cowok bre**s*k kayak mereka, mending lu cerita nya sama orang gila saja sana, enggak usah sama gue".
"Kalian ini bahas apaan sih? Gue enggak ngerti". Raysa kebingungan yang sejak tadi memperhatikan kedua teman nya itu.
"Apa elu bilang? cowok - cowok bren**ek?". Sentak Anya berdiri.
Briana/ "Ck, mereka memang pantas dengan sebutan itu. Lagian ya lu itu cari teman yang beneran sedikit napa sih. Jangan ngasal saja pilih - pilih teman. Sudah kayak barang obralan saja".
"Apa?". Suara Anya bernada tinggi sehingga se - isi kelas tertuju pada mereka. Tak terkecuali Ryo dan Dimas yang baru muncul di dalam kelas, mereka juga beralih melihat mereka. Teman sekelas mereka berbisik - bisik membicarakan mereka.
"Ehh mereka kenapa tuh?".
"Mereka bertengkar ya?".
__ADS_1
"Heh . . . Bri, enggak semua cowok - cowok yang ada di muka bumi ini sama seperti apa yang elo pikirin. Gue tahu elo itu cantik, keturunan bule, pintar, nomor satu di sekolah ini, tajir, terkenal, tapi elu enggak bisa se - enak jidat lu saja meremehkan orang lain tanpa elu tahu orang itu dengan jelas. Asal elu tahu, mereka yang ngejar - ngejar elu dan pengen berteman dengan elu itu sebenar nya punya tujuan lain, mereka cuma ada mau nya saja sama elo, bukan karena mereka suka sama elo, malah mereka menganggap lu cewek freak". Anya meluap kan emosi nya.
"Kalau bukan karena gue dan Raysa, mungkin elu enggak akan pernah punya teman di sekolah ini". Anya semakin nyolot.
Briana tertawa kecil. Briana menanggapi nya dengan santai, sesekali dia menyungging kan senyuman nya.
"Ha ha ha, enggak salah? Bukan nya kalian yang butuh gue? Bukan nya kalian salah satu dari mereka juga, yang berusaha mendekati gue biar bisa berteman dengan gue, ck".
Anya terdiam karena di serang balik oleh Briana. Sedang kan Raysa dan yang lain nya hanya terdiam melihat pertengkaran mereka.
"Jangan elu pikir gue enggak tahu, gue bukan orang bodoh, percuma donk gue selalu jadi siswi terpintar di sekolah ini kalau gue enggak bisa tahu apa tujuan dan maksud kalian selama ini, selama ini gue cuma pura - pura tutup mata saja soal itu, karena gue pengen tahu sampai mana tujuan kalian. Dan gue peringati sama elu untuk terakhir kali nya, elu harus hati - hati sama kedua cowok bre**s*k itu, kalau tidak?, yaaa elu bakal tanggung penyesalan dan akibat nya sendiri. Gue sudah berusaha untuk memperingati elu, tinggal lu saja mau terima atau tidak. Oh ya satu lagi, gue sama sekali enggak butuh kalian semua terutama elu, yang ada gue kasihan dan prihatin sama elo semua".
Briana menunjuk kan jari nya ke muka Anya, lalu mengambil tas nya dan beranjak keluar kelas meninggal kan mereka yang kikuk serta tertegun dengan ucapan Briana. Anya sendiri tak bersuara sedikit pun, mata nya berkaca - kaca melirik ke sekitar.
Langkah kaki Briana bagai kan langkah kaki seribu, ia menyusuri koridor sekolah tanpa menghiraukan orang sekitar termasuk laki - laki paruh baya yang berwibawa yakni wali kelas nya, yang berselisih jalan dengan nya, ia sudah siap - siap ingin menyungging kan senyuman terbaik nya.
"Briana . . . Bri . . .". Teriak nya memanggil Briana yang sudah berjalan sampai ke pintu gerbang.
"Maaf Pak". Tiba - tiba Ryo muncul mengagetkan beliau.
"Saya mau bilang, kalau Briana izin untuk pulang karena dia tiba - tiba merasa tidak enak badan". Ryo sengaja ngeles dan berbohong karena berusaha membantu Briana.
Pak guru/ "Kalau memang begitu, kenapa Briana nya enggak bilang langsung ke saya barusan?, dia malah tidak menghiraukan saya dan lagi kan dia bisa ke UKS, kenapa harus izin pulang?".
Ryo/ "Iya pak maaf, Briana nya sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakit nya maka nya dia buru - buru, tadi dia sudah ke UKS tapi fasilitas di UKS kan masih belum lengkap maka nya saya suruh dia pulang saja agar dia bisa segera ke klinik atau ke rumah sakit pak".
__ADS_1
Pak guru/ "Ouh gitu, iya juga sih, UKS kita masih belum memadai, dari pada kenapa - kenapa mending kita suruh pulang saja ya kan?".
Ryo/ "Nah itu dia pak. Jadi gimana pak?, Briana di izin kan apa enggak pak?".
Pak guru/ "Ya mau gimana lagi, lagian anak nya sudah keluar".
Ryo menghela nafas nya karena ia berhasil meyakinkan wali kelas nya itu.
Pak guru/ "Terus kamu kenapa masih di sini?".
"Ehh iya pak maaf, saya permisi balik lagi ke kelas pak". Ryo tersenyum getir.
Pak guru/ "Lho kok balik ke kelas sih?".
Dahi Ryo berkerut, bingung. "Jadi pak?".
Pak guru/ "Ya kamu susul Briana nya lah. Kamu pastiin dia enggak kenapa - kenapa sampai di rumah nya. Itu tanggung jawab kamu sebagai ketua kelas".
"Hah? I ... Iya pak, baik pak". Ryo tercengang.
"Ya sudah apa lagi?, nanti Briana nya keburu jauh". Beliau mengusir nya.
"I . . . Iya pak, iya pak, saya permisi dulu ya pak". Ryo berlari menyusul Briana yang sudah keluar gerbang bersama mobil nya.
Ryo berusaha mengejar mobil Briana yang sudah berada jauh. Ryo mengendarai mobil nya dengan kecepatan maximum agar bisa tersusul. Dalam waktu setengah jam kini mereka berada di daerah yang nampak sunyi dan sedikit kumuh. Ryo melihat Briana menghentikan mobil nya ke pinggir jalan lalu turun dari mobil nya, ia berjalan menuju satu gedung tua nan menyeramkan. Ryo pun ikut turut menyusul diri nya dari belakang dengan mengendap - endap. Ia berjalan menyusuri ke dalam gedung tua itu sembari melihat sekeliling tempat yang begitu usang, gelap dan menyeramkan. Ryo mengikuti kemana Briana berjalan, hingga akhir nya mereka berada di teras paling atas gedung tersebut.
__ADS_1
"Jangan - jangan dia mau bunuh diri...". Mata nya terbelalak melihat Briana sudah di pinggir bibir atap gedung.