PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 6


__ADS_3

Seperti biasa Briana berangkat ke sekolah dengan menjadi diri nya. Menjadi pusat perhatian dan pusat perbicangan semua siswa - siswi di sekolahan?, sudah menjadi makanan nya sehari - hari. Kini Briana memasuki kelas nya, semua mata tertuju pada diri nya yang sedang berjalan menuju ke bangku nya, tak ketinggalan Ryo, Raysa dan Anya juga melihat nya, karena permintaan Anya, Raysa terpaksa pindah duduk di bangku sebelah Briana dan menyuruh Devi teman sebangku Anya untuk duduk di sebelah Briana.


Briana tak pernah memperdulikan itu semua, ia duduk dengan santai seakan tidak pernah ada kejadian apa pun.


"Hai Bri . . . ". Dengan ramah nya Ryo menyapa Briana, namun ia mengacuhkan nya, ia lebih memilih mengambil buku pelajaran yang ada di dalam tas nya ketimbang ia merespon Ryo.


"Ehh . . . Elo tahu enggak Ray? Gue sudah pacaran loe sama Bobby". Anya melirik Briana, ia sengaja membicarakan hal tersebut dengan suara kuat karena ia ingin Briana merasa panas mendengar kan nya. Ryo dan Dimas melirik ke arah Anya dan Raysa yang duduk di belakang bangku Briana.


"Apa?". Raysa melirik Briana.


"Iya, kemarin Bobby nembak gue. Loe tahu enggak Ray?, Bobby itu romantiiiis banget, tadi malam dia nembak gue dengan ala - ala drakor gitu, apa enggak meleleh gue nya fu fu fu, terus gue langsung terima aja deh dia nya, lagian kan lumayan juga biar ada pasangan pas di malam prom nanti, loe kan tahu, enggak enak banget kalau kita ke prom night nya sendiri, ntar di bilang FREAK lagi sama satu sekolahan fu fu fu fu". Anya menyindir Briana yang tak sedikit pun bergeming.


Raysa, Ryo dan Dimas melirik Briana yang masih fokus pada buku yang ia baca.


"Pagi anak - anak". Tiba - tiba seorang pria paruh baya berwibawa menyapa mereka alias wali kelas mereka.


"Pagiiii Paaaak". Mereka sudah teratur rapi pada bangku mereka masing - masing lalu melihat ke arah depan tepat nya ke arah dimana posisi Pak Gerry berdiri.


Pak Gerry/ "Oh ya, sebelum kita mulai dengan pelajaran kita. Bapak mau mengumumkan sesuatu pada kalian semua bahwa lagi - lagi di tahun ini kita mampu mempertahan kan gelar kita yaitu kelas terbaik seperti tahun - tahun sebelum nya".


#Prok . . . Proook proook . . .


Semua murid bertepuk tangan dengan riuh dan bangga kecuali Briana.


Pak Gerry/ "Dan lagi, Bapak tak bosan - bosan nya mengumumkan berita gembira ini, dan kita patut bangga bahwa dua siswa terbaik di sekolah ini berasal dari kelas kita dan mereka masih mempertahan kan prestasi nya, berkat mereka berdua kelas kita menjadi kelas terbaik dalam tiga tahun berturut - turut, Bapak bangga pada kalian Briana dan Ryo, terimakasih kalian masih mempertahan kan gelar kalian menjadi siswa terbaik nomor satu dan dua di sekolah bahkan menjadi siswa lulusan terbaik dengan nilai yang tertinggi se - Indonesia, kami semua bangga pada kalian yang telah mengharumkan nama sekolah kita". Beliau melihat ke arah Ryo dan Briana.


Berulang kali para siswa bertepuk tangan sembari bersorak karena bangga, kecuali Anya yang enggan bertepuk tangan untuk Briana. Ryo tersenyum bangga, tapi tidak untuk Briana.


Pak Gerry/ "Jadi untuk keberhasilan kelas kita, pak kepala sekolah akan memberi kan penghargaan khusus untuk kita terutama untuk Briana dan Ryo pada hari kelulusan kalian nanti di awal bulan depan". Dan bla bla bla bla.

__ADS_1


Walau pun siswa yang lain tidak mendapat kan nilai tinggi seperti Briana dan Ryo, namun mereka tetap bangga dengan berita tersebut. Seisi kelas memberi kan selamat pada Briana dan Ryo. Seakan mereka melupakan kejadian yang kemarin, bahkan mereka tidak peduli Briana akan menyambut mereka atau tidak.


"Selamat ya Ryo . . .".


"Selamat ya Bri . . .".


"Selamat ya Bri . . . ". Ryo mengulur kan tangan nya pada Briana. Briana memutar kan bola mata nya lalu beranjak keluar dari kelas. Teman sekelas nya menatap kepergian nya.


Anya/ "Dasar cewek freak. Baru gitu saja sudah selangit sombong nya". Cibir nya.


"Kalau dia mah wajar sombong karena dia pintar dan punya segala nya, nah elu pintar kagak, cantik pun kagak berlagak sombong". Dimas menimpal cibiran Anya, karena kuping nya pengeng dengerin Anya.


"Maksud elo apaan?". Anya mulai emosi, ia memukul meja nya.


"Sudah, sudah, apaan sih kalian berdua. Mau gue laporin lu berdua sama Pak Gerry ha?". Ryo melerai kan Anya dan Dimas agar tidak berkelanjutan.


Anya benar - benar emosi dan rasa nya ia ingin menghajar Dimas dan Briana habis - habisan.


"Hai Briana . . . Selamat ya sudah menjadi siswa nomor 1 se - Indonesia". Tiba - tiba seorang siswa laki - laki berbadan sedikit cungkring plus cupu dengan berani nya ia menyapa Briana, Briana pun menghentikan langkah kaki nya lalu menoleh pada orang tersebut. Ia adalah Satria, siswa dari kelas 3B, ia salah satu siswa pintar di sekolahan namun tak menandingi kepintaran Briana dan Ryo. Ia juga sudah lama memendam perasaan pada Briana.


Semua mata tertuju pada mereka berdua yang berdiri di tengah - tengah lorong, tak ketinggalan juga mereka saling berbisik - bisik mencibir mereka.


Briana melirik ke sekitar mereka, lalu melirik Satria.


"Makasih". Untuk pertama kali nya Briana merespon orang - orang yang sering menyapa nya. Semua yang melihat sontak terkejut, lalu bertanya - tanya.


"Itu beneran si Briana? Kok dia merespon si cupu?".


"Demi apa? Dia bilang makasih sama si cupu?".

__ADS_1


"O M G . . .! Seriusan itu? Apa gue enggak salah dengar?".


"Jangan - jangan dia suka nya sama cowok cupu lagi ha ha ha".


"Manusia juga dia ternyata, gue pikir dia patung".


Bagai kan love love di udara, Satria begitu senang untuk pertama kali nya ia menyapa cewek yang ia taksir dan di respon pula dengan nya. Wajah Satria berseri - seri serta tersipu malu, bahkan ia mematung menatap Briana yang sudah pergi meninggal kan nya.


Tiba - tiba sekelompok anak basket mendekati Satria lalu menoyor kepala nya.


"Ehh cupu, kok bisa - bisa nya si Briana merespon elo? Gue aja yang sudah 3 tahun sekelas sama dia enggak pernah di respon setiap kali gue deketin. Apa jangan - jangan elo main dukun ya".


"Sembarangan kalian nuduh - nuduh aku main dukun. Mungkin Briana suka nya sama aku bukan nya suka sama kalian, maka nya dia merespon aku". Ujar nya sangking polos nya diri nya.


"Apa?, Ha ha ha ha, harus nya elo tuh ngaca cupu. Elo itu harus sadar si Briana enggak bakalan mau sama bentukan kayak elo gini ha ha ha. Briana itu suka nya tipe cowok yang kayak gue gini, cakep terus tajir lagi, bukan cupu kayak elo ha ha ha".


"Iya benar, enggak usah kepedean elo jadi orang ha ha ha".


"Kalau memang Briana itu suka nya tipe cowok seperti kalian, enggak mungkin sampai sekarang Briana enggak merespon kalian. Bukti nya aku, baru sekali menyapa Briana langsung di respon sama Briana, berarti Briana enggak suka sama kalian, dia nya suka sama aku". Dengan berani nya ia menantang cowok - cowok selengekan tersebut. Mereka merasa geram lalu ingin menghajar wajah Satria.


"Minta di beri ini orang". Ia melayang kan kepalan tangan nya ke wajah Satria, Satria memejamkan mata nya, ketakutan. Namun tiba - tiba sebuah tangan menghalangi kepalan tangan itu agar tidak mengenai wajah Satria.


Mereka terkejut ternyata tangan tersebut tangan milik Briana. Ia membela Satria yang di saksi kan hampir seluruh siswa di sekolah, tak ketinggalan Anya, Raysa, Ryo dan Dimas juga berhamburan mendekati mereka setelah mereka mendengar keributan di lorong sekolahan.


"Mau gue merespon atau enggak sama siapa aja, itu bukan urusan elo, elo dan elo semua". Mata Briana memerah karena kesabaran nya sudah habis. Dengan kasar ia menghempas kan tangan cowok itu.


Briana membalik kan badan nya ke arah Satria.


"Dan elo. Enggak usah kepedean". Tegas nya.

__ADS_1


Mereka mendadak kikuk apa lagi Satria yang paling hancur dengan ucapan Briana.


Tanpa basa basi Briana meninggal kan keributan tersebut. Ia kembali menapaki kaki nya menuju ke dalam kelas nya untuk mengambil tas. Sebelum bel berbunyi Briana sudah berjalan menuju ke parkiran mobil.


__ADS_2