PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 11


__ADS_3

"Pagi Briana...". Anya berlari menghampiri Briana yang baru muncul di dalam gedung sekolah. Tanpa segan Anya menggandeng lengan Briana.


Briana memutar bola mata nya.


" Pagi". Singkat nya.


"Elo sudah sarapan belum? Temani gue ke kantin yuk, soal nya gue belum sarapan nih, tadi gue enggak sempat sarapan di rumah, dan sekarang gue lapar banget he he he". Anya memasang wajah memelas nya sembari ia memegang perut nya yang datar.


Briana melirik diri nya, sebenar nya ia sudah enek banget melihat tingkah Anya yang sok akrab nya enggak ketulungan, namun Briana teringat sesuatu dan berpikir untuk mengikuti alur permainan mereka.


"Yuk, gue juga belum sarapan". Tanpa basa - basi Briana menerima ajakan Anya.


Betapa senang nya Anya, seperti mendapat kan lampu hijau dari takdir. Dengan semangat ia menggandeng tangan Briana menuju ke kantin.


Setiba di kantin, Semua mata tertuju pada mereka berdua tak ketinggalan Chiko yang menatap salut pada Anya. Anya melirik ke arah Chiko and the gengs yang duduk di bagian pojokan dekat lapangan basket. Anya memamerkan kedekatan nya pada Chiko dengan isyarat agar tidak di curigai oleh Briana.


"Kita duduk di sana saja yuk". Briana sengaja menunjuk kan pada meja yang bersebelahan dengan meja Chiko and the geng.


Anya terkejut dan sedikit takut ketika Briana menunjuk ke arah itu.


" Ha . . . Iya, yuk kita ke situ, kayak nya tempat nya enak he he he". Anya tersenyum getir.


"Mati gue, kalau gue ketahuan sama si Chiko bisa gawat, gue kan sama Briana belum sedekat yang dia pikirin, ini saja kebetulan nih cewek mau, aduuuh". Batin nya berkata - kata.


Briana berjalan lebih di depan, ia melirik sekilas ke arah Chiko yang sudah memasang senyuman yang menjijikkan. Dengan terpaksa Anya menuruti Briana lalu menyusul duduk berhadapan dengan Briana lalu sesekali ia melirik ke arah Chiko.


"Elo mau makan apa Nya? Biar gue pesan kan". Briana berpura - pura untuk terlihat ramah, seolah - olah mereka sudah akrab.


"Ha . . . Hmm . . . Gue... Samain saja deh pesanan nya sama kayak punya loe Bri".


Anya menjadi kikuk sendiri.


" Oke, bentar gue pesan dulu". Briana beranjak dari duduk nya lalu berjalan menuju outlet pemesanan.


"Sst . . . Sstt . . .". Chiko memanggil Anya dengan isyarat, Anya pun menoleh.


"Jangan sekarang deh, nanti saja di tempat biasa, kalau di sini entar ketahuan sama Briana". Anya mengecilkan suara nya seperti berbisik namun pandangan nya melirik ke arah Briana.


" Oke oke, jam istirahat gue tunggu loe di tempat biasa". Chiko sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar taruhan nya. Sebelum Briana balik ke tempat duduk nya, Chiko mengajak teman - teman nya untuk cabut dari tempat mereka.


"Gue cabut". Ujar nya pelan sembari tangan nya memegang pundak Anya.


" Emm . . .". Singkat nya.


Chiko berjalan melewati Briana, tak lupa juga ia menyapa Briana sembari menebarkan senyuman nya.


"Briana". Sapa nya dengan begitu ramah, namun tak sedikit pun di gubris oleh nya, alias kacang - kacang. Meski kesal tapi Chiko harus tetap bersabar.


" Sekarang loe boleh mengacuhkan gue, lihat saja nanti, gue bakal ngebuat elo yang ngemis - ngemis sama gue, tunggu saja nanti". Kata hati busuk nya berkata menatap langkah kaki Briana yang menghampiri Anya.


.


.


"Elo ya Chik, enggak sabaran amat, kalau kita ketahuan sama Briana gimana?, bisa kacau rencana kita". Anya yang tiba - tiba muncul, ia langsung mengomeli Chiko.

__ADS_1


" Abis nya gue gemes lihat kalian berdua jalan bergandengan gitu dan ngebuat gue penasaran, tapi gue salut sama elo, elo berhasil ngedeketin Briana". Prok prok prok, Chiko bertepuk tangan untuk Anya.


" Kan gue sudah bilang ke elo, kalau urusan begituan mah kecil buat gue, kalau elo ngasi tantangan yang lain pun gue layani". Anya berlagak sok oke.


"Ya ya ya, gue akui kehebatan loe, elo berhasil untuk yang satu ini dan sekarang waktu nya elo memanfaat kan dia untuk gue". Chiko punya rencana licik lain nya untuk mendapatkan Briana.


" Oke, gue bakalan ngedeketin elo dengan dia biar supaya dia bisa jadian sama elo, iya kan?". Tebak nya.


Chiko menggeleng kan kepala nya.


"Tebakan elo salah, gue enggak butuh itu, sekarang elo harus berhasil mewujud kan apa yang gue mau".


" Emang apa lagi yang elo mau selain menjadi pacar nya dia?". Dahi Anya mengerut penasaran.


Chiko membisik kan keinginan nya pada telinga Anya.


"Serius loe?".


Chiko/ "Emang gue pernah bercanda?".


Anya/ " Oke, terus kalau gue sudah ngelakuin hal itu, apa yang gue dapat dari elo?".


Chiko melempar kunci mobil BMW dan sebuah kunci rumah. Dengan sigap Anya meraih kedua nya.


"Itu semua untuk elo".


"Ini kunci apa?". Anya sedikit menaikkan kunci rumah itu.


" Itu kunci villa gue yang ada di puncak dan itu untuk loe, kalau elo berhasil villa itu gue balik nama menjadi nama loe tapi kalau loe enggak berhasil villa itu yang akan menjadi saksi nafsu kita berdua, gimana?". Chiko mah enggak sebodoh itu untuk memberi kan itu semua, ia pasti harus mendapatkan keuntungan yang setimpal.


Chiko/ " Oke, gue sudah enggak sabar menanti nya".


.


.


Setelah menerima kesepakatan Chiko. Anya lebih giat berusaha mewujudkan tantangan gila plus berbahaya itu.


"Tadaaaa". Anya memamerkan kunci mobil dan kunci villa itu pada Raysa.


Raysa/ " Hmmp, jadi cerita nya elo berhasil".


"Iya donk, enggak lihat apa ini kunci apa yang ada tangan gue". Anya mengayun - ayun kan kunci itu.


Raysa/ " Tapi bukan nya elo sama Briana belum begitu akrab ya?".


Secepat kilat Anya membungkam mulut Raysa sembari melirik ke sekitar taman.


"Elo jangan bising, sekali - sekali si Chiko gue kelabui boleh donk. Lagian emang gue akui, susah banget ngebuat itu anak di jadiin teman, maka nya gue kelabui saja itu si Chiko". Anya melepas kan bungkamannya.


Raysa/ "Gilak loe, kalau loe ketahuan sama si Chiko bisa mati loe di buat nya".


"Maka nya loe jangan bocorin soal ini, ini cukup kita dua saja yang tahu, lagian kan ini gue lagi usaha juga jadi teman nya si Briana". Any mengecil kan suara nya.


" Oke lah, gue bisa bungkam tapi kalau Chiko tahu nya dari Briana langsung gimana?". Raysa menaikkan alis mata kanan nya sembari menatap wajah Anya yang sedikit khawatir.

__ADS_1


Anya/ "Itu juga sih yang lagi gue pikirin, tapi filling gue kayak nya enggak mungkin Briana mau cerita ke Chiko rang si Briana anti banget sama orang - orang sekitar, apa lagi sama cowok sengak kayak Chiko".


Raysa/ " Iya juga sih, kalau di pikir - pikir sih gitu, kan kita tahu juga Briana orang nya gimana. Terus itu yang satu lagi kunci apaan?". Raysa melirik kunci yang satu nya alias kunci villa.


Anya memamerkan nya kembali.


"Kunci villa gue". Bisik nya.


Raysa mengerut kan dahi nya.


" Sejak kapan loe punya villa?, setahu gue, elo enggak pernah deh cerita kalau elo punya villa. Apa lagi loe juga pernah cerita ke gue kalau loe tinggal di rumah kontrakan".


"Shhh . . . Elo bisa enggak sih ngomong nya jangan kenceng - kenceng, satu sekolahan enggak ada yang tahu kalau gue bukan anak orang kaya, cuma elo yang tahu kondisi keluarga gue, itu pun karena enggak sengaja". Anya memutar bola mata nya.


Raysa/ " Ya maaf, lagian kan enggak apa - apa juga kalau mereka tahu, toh mereka enggak bakalan peduli soal itu".


Anya / "Loe ngomong enak Ray karena elo emang terlahir dari keluarga kaya, lah gue. Gue malu kalau sampai satu sekolahan tahu soal keluarga gue, bisa - bisa enggak ada yang mau temanan sama gue".


Raysa/ " Hmm . . . Nya Nya , siapa yang bilang enggak ada yang mau temanan lagi sama loe?, bukti nya gue saja sudah tahu tentang latar belakang keluarga loe tapi gue masih nerima loe jadi teman gue".


Anya/ "Itu kan elo, orang lain beda - beda pandangan nya, enggak semua orang itu sama".


Raysa/ " Hmm... Terserah loe saja lah. Sekarang balik lagi ke topik awal, itu kunci vila".


Anya/ "Kunci villa dari Chiko untuk gue". Anya tersenyum.


Rasya/ " Kok bisa?, bukan nya taruhan nya cuma mobil BMW nya doank. Kalian buat perjanjian baru lagi ya?".


Anya menaik turun kan kedua alis mata nya.


Raysa menggeleng kan kepala nya.


"Kali ini apa lagi?".


Anya membisikkan nya pada telinga Raysa. Sentak Raysa terkejut bahkan spontan suara nya meninggi.


" Apa?".


Lagi lagi Anya membungkam mulut Raysa.


"Shhh . . . Issh elo ya dari tadi suara loe bising banget".


Raysa/ " Elo sama Chiko benar - benar sudah enggak waras. Elo enggak takut apa, itu tuh bahaya banget buat loe, bisa - bisa elo masuk ke dalam penjara terus merusak masa depan loe".


Anya/ "Ya enggak lah, percuma donk gue sudah di jamin sama si Chiko".


Raysa/ " Iya kalau si Chiko beneran mau menjamin loe, kalau dia membohongi loe terus dia lepas tangan gitu saja gimana?".


Anya/ "Sudah, elo tenang saja, itu bisa di atur, gue enggak bodoh, gue bakalan cari rencana agar Chiko enggak bakal ngibulin gue".


Raysa/ " Benar - benar enggak waras loe gara - gara materi. Ingat ya, gue enggak ada hubungan nya sama semua rencana gilak loe berdua".


Anya/ "Iya, tenang saja loe, loe cukup jadi teman terbaik gue saja, gue enggak akan melibat kan loe, tapi sedikit banyak nya elo harus bantu - bantu gue juga donk pasti nya he he he".


"Hmm... Enggak janji gue". Raysa memutar bola mata nya, lalu beranjak meninggal kan Anya.

__ADS_1


"Ray . . . Kok gue di tinggalin siiiiih". Anya berteriak lalu berlari menyusul Raysa.


__ADS_2