PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 9


__ADS_3

Sedang kan di sekolahan. Acara kelulusan pun usai, semua murid berhamburan keluar dari gedung sekolah, tak ketinggalan Ryo dan Raysa.


"Raysa . . . ". Ryo berteriak memanggil Raysa yang sudah berjalan di depan gerbang. Ia menghampiri nya.


"Apa?". Raysa menoleh.


"Loe sendiri saja?". Ryo melirik ke sekitar.


"Loe enggak lihat gue lagi sendiri atau lagi rame - rame? Lagian apaan sih? Elo pasti mau nanya Briana dimana kan? Gue enggak tahu". Raysa memutar bola mata nya.


"He he he, elo tahu saja kalau gue mau nanyain dia". Ryo menggaruk kepala nya.


"Elo beneran enggak tahu Briana dimana?".


Raysa/ "Iya, kan tadi sudah gue bilang, kalau gue enggak tahu, mungkin dia sudah pulang, soal nya terakhir gue lihat dia di dalam kelas, terus pas gue balik dari toilet dia nya sudah enggak ada di dalam kelas, bahkan tas nya pun juga enggak ada".


Ryo/ "Enggak mungkin dia sudah pulang, mobil nya saja masih terparkir tuh di situ". Ia menunjuk kan ke arah mobil Briana yang masih terparkir cantik.


Raysa/ "Ya mana gue tahu Ryo, mungkin dia sengaja ninggalin mobil nya atau dia memang masih di sini, coba loe check".


Ryo/ "Gue sudah memeriksa di berbagai tempat di sekolah ini, bahkan di tempat biasa nya dia menyendiri, tapi dia juga enggak ada".


Raysa/ "Ya elo check saja lagi, mungkin elo enggak keliatan kali".


Ryo/ "Hmm coba loe telpon dia, gue agak khawatir nih".


Raysa/ "Enggak lah, elo saja, elo kan tahu Briana sudah enggak mau kenal lagi sama gue apa lagi nerima telpon dari gue".


"Huffft, gue agak takut juga mau nelpon dia, lagian kan gue enggak punya nomor ponsel nya he he he". Ryo nyengir bagai kan kuda.


Sedang kan Raysa menepuk jidat nya.


"Ya ampun, cowok apaan sih elo, masa nomor ponsel gebetan nya sendiri enggak tahu. Lagian kan elo ketua osis sekaligus ketua kelas masa iya elo enggak punya nomor ponsel nya Briana. Kebangetan loe".


Ryo/ "Ya mau gimana lagi, rang Briana nya sendiri enggak pernah mencantumkan nomor ponsel nya setiap kali di pinta biodata untuk kepentingan sekolah".


Raysa/ "Ya juga sih, gue saja kalau bukan karena adik gue mungkin gue juga enggak tahu nomor ponsel nya. Eh . . . Sudah aah, kok gue jadi kelamaan ngobrol nya sama elo. Gue mau cabut, entar bokap gue ngamuk kalau gue enggak pulang cepat - cepat soal nya lagi banyak kerjaan di bengkel".


Ryo/ "Gue ikut ya?".


Raysa/ "Mau ngapain?, ntar di kira orang tua gue, gue bawa pacar gue lagi, enggak enggak enggak".


Ryo/ "Idih . . . Perasaan amat loe. Gue mau ikut loe karena gue sekalian mau memeriksa mesin mobil gue, soal nya gue ngerasa ada yang enggak enak sama mobil gue".


Raysa/ "Ouh gitu, ya sudah kalau gitu. Berarti nih gue nebeng sama elo ya hi hi hi".


Ryo/ "Kalau loe nebeng sama gue, terus motor loe mau elo letak mana?".


Raysa/ "Gue enggak bawa motor hari ini, motor gue mogok jadi gue naik taxi online".


Ryo/ "Hmmp . . . Ya sudah, yuk lah".


Kedua nya berjalan menuju ke parkiran mobil dan berlalu meninggal kan gedung sekolah.


Hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai ke bengkel sekaligus rumah Raysa. Ryo memarkir kan mobil nya ke dalam bengkel keluarga Sha.


"Briana . . . ". Kedua nya terkejut melihat sosok Briana berada di dalam rumah Raysa dan ia sedang bermain boneka puppet bersama adik semata wayang Raysa yakni Pasha.


Ryo memarkir kan mobil nya ke dalam bengkel keluarga Sha, lalu mereka menemui Papa nya, meminta beliau untuk menangani mobil tersebut.


Raysa/ "Pa . . . ini teman Ray nama nya Ryo, dia mau memeriksa mesin mobil nya, kata nya agak rada - rada enggak enak bawa nya".


Ryo/ "Iya Om, mungkin butuh di service mobil nya".


Papa nya Raysa/ "Hmm . . . Ya sudah biar om check dulu".


Ryo/ "Iya Om".


Papa nya Raysa/ "Raysa, nanti kalau kamu sudah siap ganti pakaian, kamu langsung balik ke sini ya, bantuin Mama, dari tadi pagi Mama mu enggak kelar - kelarm bantuin Papa di sini, kasihan".


Raysa/ "Iya Pa, ya sudah Raysa masuk ke dalan dulu ya Pa".


Papa nya Raysa/ "Iya, jangan lama - lama kamu ya".

__ADS_1


"Iya Pa. ehh . . . Elo mau nunggu di sini atau di dalam rumah gue?, biar sekalian gue buat kan elo minum". Raysa bertanya usai mereka di tinggal kan Papa nya.


Ryo/ "Di dalam rumah loe saja deh, sekalian gue mau nge - cas hp gue, gue lupa nge - cas nya di dalam mobil he he he".


"Ya sudah, ayok lah masuk". Raysa mempersilahkan ia masuk.


Di depan pintu mereka terkejut melihat sosok Briana berada di ruang tamu bersama Pasha. Mata mereka terbelalak.


"Briana". Seru mereka secara serentak.


Briana dan Pasha pun menoleh, kedua nya melihat Raysa dan Ryo berdiri di depan pintu utama. Briana berpaling memandang Pasha lalu mengajak nya untuk pindah ke ruangan lain.


"Ehh kamu sudah pulang Raysa?, ini siapa? Pacar kamu?". Tiba - tiba Mama nya muncul dan menghentikan langkah mereka. Beliau melihat Ryo yang berada di samping Raysa.


Ryo pun menyalami wanita paruh baya tersebut.


"Bukan tante, aku Ryo teman nya Raysa dan Briana, aku ke sini karena mau benerin mobil aku tante". Tutur nya dengan ranah dan lembut.


Briana melirik nya ketika Ryo berkata bahwa mereka berteman.


Mama nya Raysa/ "Ouh kirain pacar kamu Raysa, soal nya jarang - jarang kamu bawa teman cowok kamu ke rumah fu fu fu fu".


Raysa/ "Enggak Ma, Ryo ini teman aku Ma, bukan pacar aku. Mama ini main ngasal sebut saja. Lagian selera pacar nya aku itu bukan kayak dia, dia mah cupu". Raysa mencibir Ryo.


Ryo/ "Ehe he he he, Raysa emang suka bercanda ya tante".


Mama nya Raysa/ "Ha ha ha iya, dia memang suka begitu, jadi agak di maklumi lah fu fu fu". Beliau malah membully anak nya sembari menutupi mulut nya.


"Oh iya, tadi kata Briana kamu jadi panitia di acara kelulusan ya maka nya kalian pulang nya enggak barengan?".


Raysa melirik ke arah Briana yang perlahan mendorong kursi roda Pasha. Ia tahu bahwa Briana sedang berbohong.


"I . . . Iya Ma".


"Memang nya elo jadi panitia ya? Perasaan gue elo eng . . . ". Ryo mencetus nya, secara spontan Raysa menginjak kaki Ryo.


"Aauuuuu . . . .".


Raysa memplototin Ryo.


"Ouh, ya sudah kalau gitu Tante tinggal dulu ya,kalian jangan macam - macam, oke?". Beliau meninggal kan mereka.


Ryo/ "Iya tante".


"Lagian siapa juga yang mau macem - macem sama cowok astral kayak loe". Raysa ngedumel sembari memplototin Ryo.


"Loe pikir gue mau macam - macam sama cewek kayak elo ha ha ha, ya sudah sana bikinin gue minuman, gue haus banget nih, kalau bisa minuman dingin ya he he he". Ryo merebah kan badan nya pada sofa empuk di ruang tamu Raysa.


"Iya iya, bentar, gue ganti baju dulu, baru gue buatin loe minuman". Raysa memutar bola mata nya lalu meninggal kan Ryo sendiri.


Mata Ryo berpaku memandangi sosok Briana yang tidak biasa nya. Kali ini Ryo melihat Briana seperti bukan diri nya yang ia kenal. Briana tampak ceria dan hangat ketika bermain bersama Pasha, untuk pertama kali nya Ryo melihat senyum dan tawa Briana yang selama ini ia sembunyikan. Sayup - sayup angin mengembuskan setiap helai rambut Briana dan sesekali ia menyelip kan rambut nya pada telinga nya. Bagaikan bidadari turun dari syurga, pancaran sinar yang entah dari mana muncul nya memancar pada wajah Briana sehingga wajah nya yang putih bening terlihat semakin memukau dan bersinar.


"Awas sampai keluar mata loe ngeliatin nya". Tiba - tiba Raysa muncul membuyarkan Ryo yang mata nya berbinar - binar menatap Briana, tak lupa ia membawa kan segelas air soda untuk Ryo.


"Aah, elu ganggu saja. Oh ya itu beneran Briana kan?". Ryo masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Hmm . . . Kenapa?, elo kaget ngeliat nya?". Raysa duduk di sofa yang tak jauh dari nya sembari melihat Briana.


"Yaaa elo kan tahu sosok Briana yang selama ini gimana. Kali ini gue ngeliat dia itu bukan seperti Briana yang gue kenal. Dia benar - benar beda, dia seperti orang lain. Apa jangan - jangan itu kembaran nya ya?". Ryo mengerut kan dahi nya.


Raysa menoyor jidat Ryo/ "Apaan sih loe. Dia itu anak tunggal ha ha ha. Yang elo lihat sekarang, itu lah Briana yang sesungguh nya, Briana yang ceria, penyayang dan hangat, bukan Briana yang selama ini kita kenal. Awal nya gue juga sama kaget nya seperti elo, waktu pertama kali dia ke rumah gue terus dia ketemu sama adik gue Pasha, ia simpatik sama Pasha, gue pikir dia hanya sekedar kasihan sama Pasha karena keterbatasan nya, tapi gue salah, ternyata Briana benar - benar tulus sayang sama Pasha. Briana selalu memberi kan harapan untuk Pasha sehingga membuat Pasha kembali ceria dan menjadi semangat untuk hidup dan menjadi percaya diri dengan keterbatasan nya, sejak itu adik gue terus berusaha untuk belajar dengan giat. Entah sihir apa yang di miliki Briana sampai - sampai Pasha begitu sayang pada diri nya melebihi sayang nya ke gue he he he, gue sih sama sekali enggak merasa iri, malah gue senang banget ngeliat nya, melihat adik gue enggak putus asa lagi seperti dulu. Gue sangat berterimakasih sama Briana. Maka nya gue enggak sedikit pun punya maksud dan tujuan apa pun berteman dengan nya, gue benar - benar tulus berteman dengan nya dan gue beruntung punya teman seperti dia, sayang nya Anya tidak sama seperti gue, mata hati nya tertutup untuk melihat sisi asli nya Briana, maka nya sampai sekarang ia masih belum puas untuk memanfaat kan Briana demi keuntungan nya, dan masih banyak lagi hal yang belum kita ketahui tentang Briana, entah apa itu, kita enggak pernah tahu, selama Briana pandai menyembunyikan sosok asli diri nya".


Mata mereka masih memandangi keceriaan Briana yang sedang bermain bersama Pasha. Ryo mendengar kan Raysa dengan seksama, ia semakin kagum pada sosok tersebut, senyuman indah yang terukir, tak kan bisa di lupa kan oleh nya begitu saja.


Briana memalingkan pandangan nya pada jam tangan nya yang mungil di pergelangan tangan kiri nya, ia melihat bahwa jarum jam sudah menunjuk kan ke angka pukul 4.


"Pasha . . . Kak Na pulang dulu ya, nanti kalau ada waktu Kak Na akan ke sini lagi, main - main lagi sama Pasha". Tutur nya dengan lemah lembut sembari menatap wajah Pasha sedikit sedih.


"Tata Na, nji ya au cini agi (Kakak Na, janji ya mau ke sini lagi)?". Pasha menggerakkan semua anggota tubuh nya.


"Iya, Kak Na janji, kalau Kak Na sudah enggak sibuk lagi, Kak Na pasti ke sini lagi. Ya sudah Kak Na pamit pulang dulu ya, Pasha harus lebih rajin lagi belajar nya, biar Pasha makin pintar, oke?". Briana mengusap kepala Pasha dengan manja.


Pasha mengangguk kan kepala nya.

__ADS_1


"I . . . Iya, Tata Na ti ti lan (Kakak Na hati - hati di jalan)".


"Iya, daaaa Pasha . . . .". Briana melambai kan tangan nya pada Pasha yang berusaha mengangkat tangan nya untuk membalas lambaian tangan Briana.


Briana berjalan menemui orang tua Raysa di bengkel mereka. Bukan hanya orang tua Raysa saja yang ada di situ, tak ketinggalan Briana melihat Raysa dan Ryo berada di sisi mereka. Briana menghampiri mereka tanpa menghiraukan Ryo dan Raysa.


"Om . . . Tante . . Aku pamit pulang dulu ya". Briana mencium tangan kedua nya. Sedang kan Raysa dan Ryo melirik Briana.


Mama nya Raysa/ "Lho kamu pulang?, tante kira kamu nginap di sini seperti biasa nya".


Briana tersenyum simpul/ "Enggak tante, aku enggak bisa nginap di sini soal nya aku masih ada urusan lagi di rumah".


Mama nya Raysa/ "Hufft padahal tante masih rindu sama kamu, kita saja belum bercerita - cerita karena tante sibuk di sini".


Briana/ "Enggak apa - apa tante, lain kali saja, kalau aku ada waktu aku pasti main lagi ke sini".


Mama nya Raysa/ "Hmm . . . Ya sudah deh tante enggak maksa kamu, tapi janji ya kamu pasti main ke sini lagi?".


"Iya tante". Briana tersenyum pada beliau, pandangan Ryo tak lekang memandangi wajah Briana.


Papa nya Raysa/ "Kamu naik apa pulang nya?, soal nya dari tadi om enggak ngeliat mobil kamu".


Briana/ "Oh iya Om, Aku naik taksi online om, tadi sengaja aku tinggalin mobil nya di sekolah tapi ini mau aku ambil kok kalau gedung sekolah masih buka".


Mama nya Raysa/ "Oh ya sudah, kamu di anterin saja sama Ryo, kan kalian temanan terus mobil nya Ryo sudah selesai kan?".


Briana/ "Hah . . . Enggak usah tante, aku bisa sendiri kok".


Sentak mereka saling melirik satu sama lain sedang kan Raysa mengulum senyum nya.


Mama nya Raysa/ "Sudah kamu di anterin saja sama Ryo, tante enggak mau kalau nanti kamu kenapa - kenapa di jalan, kalau sama Ryo kan tante bisa menjamin kamu enggak kenapa - kenapa. Ryo kamu mau kan nganterin Briana?".


Ryo/ "I . . . Iya Tante mau".


Mama nya Raysa/ "Ya sudah Briana kamu sama Ryo saja ke sekolahan nya, lagian bahaya juga kamu sendirian ke sana sudah sesore ini".


"Kalian hati - hati di jalan ya".


Briana tersenyum getir, Briana enggak bisa menolak nya, mau enggak mau dia harus semobil dengan Ryo. Setelah pamit mereka berdua pun berlalu meninggal kan bengkel keluarga Sha.


Suasana hening bagai tak berpenghuni. Briana seperti patung yang bernyawa sedang kan Ryo harus menjadi patung karena diri nya namun sesekali ia melirik Briana yang ada di samping nya yang hanya fokus menatap ke depan.


"Hei . . . Makhluk Tuhan yang paling misterius". Tiba - tiba Ryo mengagetkan Briana, ia mencoba untuk mencair kan suasana yang begitu dingin dan hening.


Briana sama sekali tak menggubris diri nya.


"Sebenar nya elo itu terbuat dari apa sih? Kenapa bisa semisterius ini, elo itu jutek dan cuek nya bikin ampun, daaaan senyuman elo itu juga minta ampun he he he". Ryo menaik kan alis mata nya melirik Briana yang enggan melihat nya.


Spontan Briana melirik nya dengan tatapan yang tajam alias sinis. Ryo tersenyum getir menatap mata itu. Pandangan Briana kembali ke jalanan.


"He he he, bercanda Bri. Lagian kan ucapan gue ada benar nya juga he he he, gue enggak nyangka cewek sejutek elo punya senyuman yang begitu indah, bahkan bidadari pun iri melihat nya sangking indah nya senyuman loe itu he he he".


"Elo bisa diam enggak sih?, sekali lagi gue dengar loe ngomong sampah seperti itu, gue hajar loe". Ketus nya lalu mengancam nya.


"Huffft iya iya, judes amat nih cewek . . . Oh ya, entar malam prom elo datang nya sama siapa?".


Briana tak mau menjawab pertanyaan Ryo. Ryo memonyongkan bibir nya.


Ryo/ "Ini cewek emak nya dulu ngidam apaan yak pas dia di dalam perut, kok bisa kayak gini wujud nya?". Bisik nya. Briana kembali melirik sinis.


"He he he". Tertawa getir.


"Turuni gue di sini". Briana menunjuk kan ke pinggir jalan.


"Ahh enggak, belum nyampe juga, gue itu harus nganterin elo sampai ke sekolah ngambil mobil loe, terus abis itu nganterin elo pulang sampai ke rumah. Gue janji gue enggak bakalan bicara lagi, gue bakalan diam". Ryo enggan menghentikan mobil nya.


"Ya sudah kalau elo enggak mau". Briana memencet tombol kunci pintu mobil. Ia berusaha membuka pintu mobil nya.


"Eh eh loe mau ngapain?, jangan - jangan mau lompat lagi ini anak. Jangan di buka pintu mobil nya". Ryo panik menghadapi kenekatan Briana.


"Oke oke . . . Gue turunin elo di sini". Ia memarkir kan mobil nya ke pinggir jalan, secepat kilat Briana keluar dari mobil dan meninggal kan Ryo tanpa basa - basi.


"Haiiiiih . . . Memang lah ini cewek, benar - benar dah, Aaaaaaarggght". Ryo mengacak rambut nya, ia hampir frustasi melihat kepergian Briana.

__ADS_1


Ryo/ "Elo benar - benar sosok yang misterius Bri, entah apa yang membuat elo harus menyembunyikan jati diri loe sendiri selama ini".


__ADS_2