PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 26


__ADS_3

Hampir setengah jam Ryo menunggu dirinya turun ke bawah akhir nya Briana pun muncul dengan memakai t shirt Ryo yang agak besar untuk tubuh Briana yang langsing. Ryo terpaku menatap langkah Briana menuju mendekati nya, sempat Ryo menelan ludah nya ketika ia melihat Briana sedang mengikat rambut nya sehingga leher nya yang jenjang terlihat lebih jelas.


"Jaga mata loe". Briana membuyarkan tatapan Ryo. Meski terlihat cuek tapi Briana sadar bahwa Ryo menatap nya.


" Eh. . . He he he, sarapan yuk, nyokap gue sudah nyiapin ini semua". Ryo menarik kursi meja makan untuk Briana dan Briana pun duduk sembari melihat banyak nya aneka jenis masakan rumahan buatan bunda nya Ryo.


"Enggak apa - apa kan kalau elo sarapan nya makan ini?". Ryo sedikit sungkan karena masakan rumahan sang Bunda yang terbilang indonesia banget.


Tanpa kata Briana mengambil piring lalu mengambil nasi serta lauk pauk itu ke dalam piring nya. Ryo melihat Briana mulai menyuapin makanan nya ke dalam mulut nya,Ryo merasa sedikit takut jika masakan bunda nya tidak sesuai dengan lidah Briana.


"Emm... Maaf ya kalau sarapan nya hanya makanan rumahan, gue harap sesuai dengan selera lidah loe hi hi hi". Ryo masih menatap getir setiap kali Briana menyuapkan mekanan nya.


Briana/ " Elo mau makan atau cuma mau lihatin gue makan?".


Ryo/ "Eh... Iya, gue mau makan kok he he he. Oh ya emm mobil loe mau gue suruh orang yang bawa ke sini atau....?".


"Biar gue saja yang ngambil". Briana terdiam sejenak seperti mengingat sesuatu.


" Maksud gue, kita berdua yang ngambil ke sekolah".


Ryo/ "Hmm oke, entar kita ambil bareng - bareng, trus sampai sekolah baru kita balik masing - masing, gitu kan?".


Briana/ " Enggak usah, kita ke sekolah nya naik taxi online saja, entar elo yang nyetirin mobil gue, soal nya gue lagi enggak bisa bawa mobil dulu, gue masih lemas".

__ADS_1


"Oummm oke, gue pesan taxi online nya dulu ya". Ryo mengangguk lalu menyambar ponsel nya.


Briana/ " Jangan sekarang".


Ryo/ "Lho kenapa?".


Briana/ " Huh.... Elo mau makan buru - buru karena taxi online nya sudah muncul?".


"Eh he he he enggak sih, ya sudah entar kalau sudah siap makan saja baru gue pesan taxi online nya". Ryo meletakkan kembali ponsel nya di atas meja.


Briana menggelengkan kepalanya sembari menyunggingkan senyuman nya.


.


.


" Sudah saya bayar pakai credit ya pak?". Ujar nya dengan ramah.


"Ehh i. Iya dek..".


Ryo melihat mata pak supir begitu liar melihat Briana yang terlihat hanya memakai baju kaos yang panjang nya sepaha. Ryo menatap supir itu dengan sinis.


" Bapak mau saya lapor kan atas tuduhan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur". Ancam nya.

__ADS_1


"Ehh... Maaf, saya permisi, terimakasih sudah order dan jangan lupa bintang 5 untuk saya he he he". Supir itu tertawa getir karena ancaman Ryo lalu berlalu.


" Bintang lima bintang lima, entar langsung gue kasih lu bintang jatuh biar cepat - cepat taubat". Ryo ngedumel sendiri usai supir itu pergi. Ia merasa kesal dan menghampiri Briana sembari membuka jaket nya.


Ryo menarik tangan Briana, sentak membuatnya terkejut.


"Apa - apaan sih loe?".


Ryo mengikatkan jaket nya kepinggang Briana agar melindungi nya dari pandangan para mata keranjang.


" Lain kali elo enggak boleh keluar seperti ini, banyak mata keranjang yang ngeliatin elo".


Briana mengerutkan dahi nya, ia enggak ngerti apa maksud Ryo.


"Elo kenapa sih?".


" Gue enggak mau ada yang ngebahayain elo, paham?". Ryo menatap nya dengan tegas, ia membuat Briana terdiam.


"Ayok...". Ryo berjalan lebih di depan dari Briana dan Briana pun mengikuti nya.


Sesuatu yang tak biasa, mereka melihat banyak nya orang - orang mengerumuni area sekolah yang sudah di kelilingi oleh police line, di tambah lagi banyak nya pihak kepolisian serta bunyi sirine dari mobil polisi dan mobil ambulance.


Sedang kan Ryo dan Briana terkejut dan bingung apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2