PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 8


__ADS_3

Briana tak bergeming menatap surat itu. Perlahan ia membuka lipatan kertas tersebut. Ia melihat tulisan tangan yang bisa di bilang seperti cakar ayam tertoreh pada kertas biru yang ia pegang.


Isi surat :


Hai Kak Na.


Apa kabar?


Kakak Na kenapa enggak pernah lagi main ke rumah?


Kakak Na sudah enggak mau lagi ya main - main dan belajar bersama dengan aku?


Aku rindu sekali sama kak Na.


Kalau kakak Na rindu sama aku, kakak Na main - main lagi ya ke rumah.


Tapi kalau kakak Na enggak rindu sama aku . . .


Paling enggak kakak Na balas surat aku ini ya.


Ya sudah kak Na, surat nya sampai di sini dulu ya, soal nya tangan aku sudah mulai capek nulis nih he he he.


See You Kakak Na.


Aku rindu Kakak Na.


Dari : Pasha.


Tanpa sadar air mata Briana menetes setelah ia membaca surat itu, lalu ia menghapus air mata nya. Ia menyimpan surat tersebut ke dalam saku tas nya.


Briana menyandang kan tas nya lalu keluar dari kelas. Ia berencana ingin pulang, meski pun acara kelulusan belum kelar, dia tetap meninggal kan acara tersebut dan ia juga meninggal kan mobil nya di parkiran sekolah agar tidak ketauan kalau dia keluar dari sekolah.


Di tengah terik nya matahari ia menunggu taxi online yang sudah ia pesan terlebih dahulu. Cukup lama ia menunggu di pinggir jalan raya yang sedikit jauh dari sekolah nya. Mengingat jalanan Ibu Kota begitu padat taxi online tersebut tiba setengah jam dari waktu pesanan nya.


"Dengan mbak Carroline?". Supir itu bertanya dengan santun kepada Briana usai ia membuka kaca mobil nya.


"Iya Pak". Briana membuka pintu mobil.


"Maaf ya mbak, saya lama tiba nya, soal nya tadi macet sekali". Pak supir melirik Briana dari kaca sembari menyetir. Ia merasa tidak enak pada Briana yang sudah hampir setengah jam menunggu nya.

__ADS_1


"Iya Pak, enggak apa - apa". Briana menyungging kan senyuman nya.


"Makasi ya mbak, sekali lagi makasi banyak karena tidak meng- cancel orderan nya. Biasa nya penumpang lain nya enggak pernah mau menunggu seperti Mbak Carroline, terus langsung nge - cancel saja orderan nya tanpa peduli nasib driver nya". Pak supir curhat.


Briana melirik supir tersebut mendengar kan nya dengan seksama.


"Coba saja semua penumpang kayak mbak Carroline yang enggak mau memutus kan rezeky orang he he he".


"Bapak salah, seharus nya yang bapak bilang itu, coba jalanan lancar dan teratur pasti semua nya akan lancar, bukan malah menyama kan semua orang sama seperti saya. Dan lagi, rezeky itu sudah di atur sama Tuhan. Kalau memang itu rezeky kita, ia akan datang dengan sendiri nya, kalau bukan rezeky kita, mau seberapa keras pun usaha kita, tetap saja enggak akan menjadi milik kita. Itu semua sudah di atur sama Tuhan. Yang penting bapak jangan patah semangat". Untuk pertama kali nya Briana angkat bicara yang panjang dengan orang asing.


"Iya sih Mbak. Mbak nya masih anak sekolahan tapi pemikiran nya sudah dewasa, saya jadi malu, umur saya sudah berumur 30 tahun terus sudah beranak dua saja masih saja terkadang kekanak - kanakan he he he".


Briana kembali tersenyum.


"Oh ya pak nanti kita singgah sebentar ke toko kue sama ke toko mainan ya".


"Oke mbak".


Pak supir mengantar nya ke toko kue lalu ke toko mainan. Briana selesai dengan belanjaan nya dan lanjut menuju ke tempat tujuan nya.


Kini mereka tiba di depan sebuah bengkel yang cukup besar, yakni bengkel "Sha" alias bengkel milik orang tua Raysa.


Supir itu kaget. "Lho apa ini mbak?, kenapa mbak repot - repot sekali pakai ngasi beginian".


Briana/ "Sudah pak, ngitung - ngitung karena bapak sudah nganterin saya ke toko kue dan toko mainan".


"Ya gusti . . . Kan mbak nya sudah ngasi uang lebih ini".


Briana/ "Mungkin ini rezeky bapak".


"Makasi banyak ya mbak, saya doa kan semoga mbak menjadi anak yang pintar dan sukses di masa depan, Aamiin".


Briana/ "Aamiin, makasi pak doa nya, saya permisi". Ia pun keluar dari mobil.


Pak supir penasaran dengan isi kue tersebut ia membuka bungkusan serta kotak kue. Ia melihat kue brownies yang sangat menggugah selera nya. Sebelum selera nya semakin menjadi, ia menutup kotak itu kembali dan menghidup kan mesin mobil nya.


"Pagi Om, tante". Briana menyapa kedua orang tua Raysa yang sedang sibuk di kantor bengkel mereka.


Mereka menoleh Briana.

__ADS_1


"Ehh Briana, sudah lama kamu enggak main ke rumah, kamu apa kabar?". Mama nya Raysa menghampiri Briana lalu memeluk nya.


Briana/ "Eh iya tan, Alhamdulillah aku sehat tan, aku lagi sibuk sama ujian akhir sekolah, jadi enggak sempat untuk main ke sini tan".


Mama nya Raysa/ "Oh iya sih, si Raysa pun sejak mau lulus - lulusan kerjaan dia di kamar mulu, enggak kemana - mana bahkan enggak pernah lagi bantuin om di bengkel".


Papa nya Raysa/ "Iya, awal nya Om ngira ada terjadi sesuatu sama dia maka nya mengurung di dalam kamar ehh Om salah sangka, ternyata Raysa nya belajar untuk kelulusan he he he".


Mama nya Raysa/ "Ehh iya, bukan nya kalian ada acara kelulusan ya di sekolah, tapi kenapa kamu ke sini terus Raysa nya kemana?, kenapa kalian enggak barengan?".


Briana tersenyum/ "Eh iya Tan, aku memang pulang duluan, kalau si Raysa masih ada kerjaan lagi di sekolah, kebetulan dia panitia nya. Kalau aku enggak suka sama acara begituan terus karena aku ingat sama Pasha maka nya aku ke sini. Oh iya om tan, ngomong - ngomong Pasha nya dimana ya?". Briana sedikit mengarang perihal kebolosan nya.


Mama nya Raysa/ "Ouh gitu. Pasha nya ada di dalam, tadi pas tante tinggalin dia lagi belajar di ruang tv, kamu masuk saja lah temui dia. Tapi maaf nih tante enggak bisa nemeni kamu ke dalam soal nya tante harus bantui om, banyak banget kerjaan nya he he he".


Briana/ "Iya tante enggak apa - apa kok, ya sudah aku masuk dulu ya om tante".


Mama nya Raysa/ "Iya sayang, nanti kalau mau apa - apa bilang saja sama Mbak Erna ya".


Briana/ "Iya tante".


Briana berjalan masuk ke dalam rumah Raysa sembari mencari sosok yang ia cari. Di ruang tv ia melihat seorang anak kecil berumur 7 tahun sedang duduk di kursi roda. Anak kecil tersebut begitu tekun menulis pada buku nya sehingga ia tidak menyadari ke datangan Briana.


"Tulisan kamu semakin bagus". Briana mengaget kan anak tersebut.


Ia menoleh lalu menyambar tubuh Briana.


"Tata Na Tata Na . . .". (arti nya Kakak Na Kakak Na)


Ia adalah adik satu - satu nya Raysa yakni Pasha. Ia bukan lah anak kecil yang sempurna, ia memiliki keterbatasan. Ia bisu dan tuli serta kaki dan tangan nya lumpuh seumur hidup bahkan ia juga memiliki cacat pada mental nya, ia mengalami hal tersebut sejak ia lahir. Namun begitu dia tidak patah semangat untuk belajar dengan giat. Ia tetap berusaha meski berulang kali ia gagal.


"Kakak Na bawa sesuatu untuk kamu". Briana menyodor kan dua bungkusan yang ia bawa. Yang satu bungkusan kue cokelat favorit Pasha dan satu lagi berisi mainan edukasi untuk anak seperti Pasha.


"Yeeeee yeeeee, maasi Tata Na". Pasha kesenangan, sekali lagi ia memeluk Briana.


"Sama - sama".


Meski pun Pasha memiliki keterbatasan tapi mereka faham dan lancar berkomunikasi pada Pasha, mengingat Pasha selalu memakai alat pendengar dan ia pun berbicara seperti anak kecil yang baru pandai berbicara.


Briana sangat sayang pada Pasha, ia sudah menganggap nya seperti adik nya sendiri. Begitu juga dengan Pasha. Kedekatan mereka melebihi kedekatan Raysa dan Pasha. Walau pun begitu Raysa tak pernah merasa cemburu, malah Raysa merasa bahagia, sejak ada nya Briana, adik nya menjadi semangat untuk hidup dan lebih ceria.

__ADS_1


__ADS_2