PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 5


__ADS_3

Briana tidak punya rasa takut berada di tempat yang cukup menyeramkan itu, bagi nya tidak ada apa - apa nya di bandingkan dengan hidup nya. Briana menghela nafas sembari melihat langit begitu terik yang dapat membakar kulit nya yang putih. Namun Briana tak menghiraukan nya. Briana mengingat masa lalu nya pada saat ia duduk di bangku kelas 6 SD.


Briana mengayuh kan kursi roda nya untuk memasuki ke kelas nya.


"Ehh Siska, kok kamu mau sih berteman dengan Briana?". Tanpa sengaja Briana mendengar pertanyaan itu dari dalam kelas, sentak membuat ia berhenti dari balik pintu sembari mendengar kelanjutan nya.


Siska/ "Ya . . . Mau gimana lagi . . . abis nya aku di paksa sama Mama aku. Lagian Aku itu temanan sama dia itu karena kasihan juga sama dia karena dia enggak ada teman nya, kalian kan tau gimana kondisi nya yang cacat. Walau pun aku malu sih sebenar nya berteman sama dia tapi aku harus tahan rasa malu aku karena kata Mama ku, dia itu anak nya pintar terus kaya lagi, karena aku berteman dengan dia, bisnis Papa aku jadi maju berkat Papa nya".


"Ouh gitu, kirain kamu emang beneran mau berteman sama dia".


Siska/ "Ya enggak lah, kalau bukan karena dia anak pintar dan anak orang kaya, aku sih enggak mau berteman sama orang cacat kayak dia, ha ha ha".


"Ha ha ha ha, iya ya, kasihan banget".


Dari balik pintu Briana meneteskan air mata nya mendengar pembicaraan seorang yang dia anggap sahabat itu. Briana tak menyangka bahwa mereka terutama Siska mendekati nya karena memiliki tujuan yang tertentu. Dan sejak saat itu Briana tak lagi mempercayai apa itu pertemanan atau persahabatan, bagi nya semua itu adalah sampah.


Seketika ia mengingat masa itu, seketika itu juga ia berteriak sekencang mungkin.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrgggght".


Ryo bersembunyi dari balik tiang yang sedikit berlumut, lalu mengintip Briana yang berjalan ke pinggir bibir teras sembari berteriak. Mata Ryo terbelalak ketika ia melihat Briana sudah berjalan semakin di ujung.


"Jangan - jangan dia mau bunuh diri lagi, gawat".


Dengan gerak cepat Ryo berlari mendekati Briana lalu menyergap tubuh nya dari belakang sembari menjauhkan nya dari pigir genteng.


Sontak membuat Briana terkejut tiba - tiba seseorang menyeret tubuh nya, lalu ia meronta - ronta.


"Apa - apaan ini? lepasin gue, lepasin". Sekuat tenaga ia melepas kan tangan Ryo yang ada di pinggang nya dan sekuat tenaga juga ia memukuli tangan Ryo.


"Enggak, gue enggak mau melepskan elo asal kan elo janji sama gue enggak bakal mau bunuh diri". Ryo semakin mengencang kan tangan nya, menahan rasa sakit pukulan dari Briana.


"Apa?". Kesabaran Briana sudah di ujung batas dan sudah mengetahui siapa orang tersebut, sekuat tenaga ia menarik tangan Ryo, setelah berhasil lalu ia mengeluarkan keahlian tae kwondo nya, ia membanting badan Ryo hingga jatuh pingsan.


Awal nya Briana tidak memperdulikan nya, namun ia melihat Ryo sudah tak berkutik dengan cukup lama. Briana menyenggol tubuh Ryo dengan menggunakan kaki nya, namun Ryo tidak merespon nya.


"Heh . . . Heh . . . Heh . . . . ".


"Heh . . . Bangun . . . Enggak usah pura - pura lu. Heh . . . Bangun lu . . . ".


Briana mulai panik karena Ryo masih tidak merespon. Secara perlahan Briana mendekati Ryo. Ia membungkuk kan badannya, tangan Briana gemetar saat ia ingin memeriksa nadi dan nafas Ryo. Briana mendekatkan telinga nya pada dada Ryo lalu merasakan detak jantung Ryo berdetak dengan normal.


"Gue yang hampir pingsan, kok jantung loe yang dag dig dug". Ryo membuka mata nya sembari menahan tawanya. Sentak membuat Briana berdiri dan benar - benar marah.

__ADS_1


"Ha ha ha ha". Ryo tertawa puas karena ia telah berhasil mengerjai Briana.


Dengan spontan Briana melayang kan tinju nya ke wajah Ryo.


#Baaaammm . . . .


"Adoooooooooooiiii". Rintihnya sembari memegang pipi nya yang terkena bogem mentah dari Briana, lalu ia pergi meninggal kan Ryo.


"Bri . . . Briana . . . Tunggu . . . . ". Ryo berlari mengejar Briana dengan wajah nya yang sudah lebam.


"Bri . . . Loe mau kemana?. Sorry, gue cuma bercanda tadi, Bri . . .". Ryo menarik tangan Briana, dengan spontan tangan Briana menepis tangannya. Mata Briana memerah menatap Ryo.


"Don't toch me". Briana membentak Ryo. Tangan Briana bergetar hebat namun ia langsung menyembunyikan kedua tangan nya di balik badan nya.


"Oke oke oke, sorry gue enggak akan nyentuh lu, sorry". Ryo mengangkat kan kedua tangan nya.


"Sorry . . . Gue enggak ada maksud buruk ke elo, sebelum loe bertanya dan mungkin elo enggak bakalan mungkin nanya kenapa gue bisa ada di sini juga, jadi gue kasih tahu ke elo, kalau gue ke sini memang ngikutin elo karena gue di suruh sama Pak Gerry. Pak Gerry ngeliat loe tergesa - gesa keluar dari sekolah padahal baru mulai jam belajar, maka nya Pak Gerry minta gue mastiin elo enggak kenapa - kenapa. Ya . . . Walau pun gue enggak di suruh sama Pak Gerry, gue bakal tetap ngikuti elo, karena gue khawatir sama elo setelah kejadian elo sama Anya di kelas pagi ini. Gue enggak tahu mau bilang apa, gue cuma mau bilang ke elo, elo harus sabar menjalani semua ini, dunia ini memang keras tapi elo harus percaya kalau elo bisa melembutkan dunia, dan yakin masih banyak orang - orang yang tulus menerima elo apa adanya". Ryo merasa enteng karena mampu memberikan suport pada patung hidup yang satu ini.


Briana terlihat cuek dan acuh namun ia tetap mendengarkan perkataan Ryo. Tanpa merespon, tanpa basa - basi pada Ryo, Briana langsung masuk ke dalam mobil nya dan berlalu meninggalkan Ryo yang menatap kepergian nya.


"Hmm gue memang enggak tahu apa yang loe rasain Bri selama ini, tapi gue yakin loe pasti bisa menjalankan nya dan menemukan orang - orang yang benar - benar tulus sama loe".


Ryo merebah kan badan nya setelah ia tiba di rumah nya, tepat nya di dalam kamar nya.


"Elo yaaa, nyusahin gue aja". Dimas melempar kan tas milik Ryo yang ia tinggal kan di atas meja kelas nya. Tas tersebut mengenai wajah Ryo.


"Kenapa tuh muka lu lebam gitu?, abis berantem lu ya?". Dimas memperhatikan wajah Ryo.


"Kagak, gue kagak berantem, tadi gue enggak hati - hati, gue enggak sengaja nabrak tiang listrik, yaaa gini lah jadi nya". Ryo berbohong.


Dimas memegang dagu Ryo untuk melihat kembali pipi nya.


"Aah enggak percaya gue, masa nabrak tiang listrik pipi lu lebam nya kayak abis di tonjok, dimana - mana kalau ketabrak tiang listrik itu kepala nya yang benjol bukan pipi yang lebam".


"Ya sudah kalau lu enggak percaya, lagian enggak penting juga". Ryo memutar bola mata nya, lalu melirik Dimas yang enggak percaya dengan ucapan nya.


Dimas/ "Oh ya, jadi tadi gimana si Briana?, dia enggak kenapa - kenapa kan?".


Ryo menaik kan kedua bahu nya.


"Kenapa lu naikin bahu lu?, jawaban macam apa itu?, gue enggak ngerti". Dimas malah nyolot.


Ryo/ "Haiiih . . . Boro - boro gue tahu keadaan dia, ketemu aja kagak, rang pas gue keluar dari sekolah dia nya sudah jauh, mau datang ke rumah nya, gue enggak tahu dimana alamat rumah nya". Lagi - lagi ia berbohong.

__ADS_1


"Lah terus, kalau elo enggak ketemu sama dia, kenapa lu enggak langsung balik ke sekolah dan malah pulang nya sampai sesore ini". Dimas menoyor kepala Ryo.


"He he he, sesekali bolos kan enggak apa - apa, lagian kan gue bolos yang di izin kan he he he he". Ryo menunjuk kan gigi nya yang putih itu alias nyengir.


Dimas menggeleng - geleng kan kepala nya.


"Enggak nyangka gue, siswa teladan nomor 2 di sekolahan bisa bandel juga".


Ryo/ "Ya elah bro, nama nya juga manusia, apa lagi masih anak sekolahan, sudah pasti lah punya jiwa kenakalan nya. Emang nya cuma elo aja yang bisa bandel, gue juga bisa kaleee he he he".


Dimas/ "Makin hari makin aneh lu sejak lu ngedekati si Briana. Sudah lah, emang cocok kalian kalau di pasang kan, sama - sama aneh".


Ryo/ "Si*lan loe bro ha ha ha".


Dimas/ "Oh ya . . . Sehabis elo dan Briana pergi, satu sekolahan menggosipkan kejadian pertengkaran mereka, padahal kan waktu itu cuma kita - kita saja yang tahu ehh enggak tahu nya sudah satu sekolahan membicarakan nya. Emang si Briana ini benar - benar bintang sekolahan. Tapi yaa, jujur gue kasihan sama Briana, enggak ada yang benar - benar tulus sama dia, padahal dia itu enggak pernah mengganggu atau nyakitin orang lain,, yaaa walau pun dia terlihat ngeselin dan sombong.Yang bikin gue salut sama dia, walau pun dia tahu kalau mereka enggak tulus berteman sama dia, tapi dia tetap diam aja dan pura - pura enggak tahu. Kalau gue jadi Briana mungkin mereka sudah habis gue babat".


Ryo mendengar kan Dimas dengan seksama, ia tersenyum simpul.


"Itu kan elo, bukan Briana. Sekarang loe sudah sadar kan, kalau Briana itu bukan cewek aneh?".


Dimas/ "Hmmp . . . Iya gue akui kalau gue salah menilai Briana".


Ryo/ "Maka nya, jangan suka nya menilai orang lain sembarangan. Kita enggak tahu sifat dan hati seseorang yang sebenar nya. Bisa jadi kan Briana bersikap acuh dan sombong kayak gitu karena dia takut kejadian tadi pagi bakal sering ia alami kalau dia mau di deketin sama orang lain".


Dimas/ "Ya enggak bisa gitu juga lah bro. Kan enggak semua orang sama. Kalau semua nya sama berarti elo ngedeketin Briana karena ada maksud nya juga lah".


Ryo/ "Emang. Gue ngedeketin dia emang gue punya maksud dan tujuan ke dia he he he".


Dimas/ "Hmm, dasar, berarti elo sama aja kayak yang lain".


.


.


"Briana anak cacat, Briana anak cacat ha ha ha".


"Jangan mau berteman dengan Briana, dia kan cacat".


"Aku temanan sama dia karena dia anak orang kaya terus pintar".


Bullyan tersebut masih terngiang jelas di telinga Briana bahkan di setiap dalam mimpi nya. Briana merasa gelisah dalam tidur nya, tubuh nya basah kuyup di guyur oleh keringat nya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa . . . .". Briana berteriak histeris dan tersentak. Briana bernafas dengan kencang sembari melirik ke sekeliling kamar nya yang gelap.

__ADS_1


Ia mencoba untuk mengatur nafas nya lalu mengusap wajah nya.


Briana beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke toilet. Ia membenamkan wajah nya ke dalam wastafel yang sudah terisi air bersih, ia berharap bisa mendingin kan pikiran nya.


__ADS_2