PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 30


__ADS_3

Perlahan Briana membuka mata nya, ia merasa sangat pusing. Semua terlihat samar, Briana sangat terkejut ketika dia melihat bahwa diri nya sudah berada di tempat yang tidak ia ketahui.


"Gue dimana? Apa gue sedang bermimpi? Ssh aaah". Briana melirik ke sekeliling area hutan sempat ia memegang kepala nya yang terasa sakit. Dia masih merasa bingung dan mengingat apa yang terjadi dengan diri nya sehingga ia tergeletak di bawah pohon di tengah - tengah hutan dengan kondisi diri nya yang berantakan.


Briana mengingat apa yang ia lakukan tadi malam. Ia ingat bahwa dia berada di tengah - tengah keramaian pada acara akhir sekolah dan tak banyak hal yang ia lakukan, ia hanya duduk santai bersama Anya dan Raysha dengan segelas minuman yang di suguhi oleh Anya.


Kepala Briana semakin terasa pusing. Ia berusaha berdiri hingga mata nya melihat sesuatu yang sangat mengerikan.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa". Briana menjerit histeris ketika ia melihat Chiko sudah tergantung di atas pohon. Kaki Briana terasa lemas, namun begitu ia tetap berusaha untuk lari dari tempat itu. Ketakutan yang luar biasa untuk Briana dan bertanya - tanya apa yang sedang terjadi, kenapa ia tak mengingat nya sedikit pun. Briana terus berlari dan tidak melihat ke depan sehingga ia menabrak seseorang yaitu Ryo.


"Briana". Ryo melihat wajah ketakutan Briana serta kondisi nya yang berantakan dan nafas yang tidak teratur.


" Are you oke?". Ryo memegang kedua lengan Briana namun Briana masih tak menjawab akibat shock berat yang ia alami.Ia sempat melihat ke sekeliling area.


"Bri? Are you okey?". Ulang nya. Briana melihat wajah Ryo lalu menepis tangan Ryo yang memegang lengan nya. Briana bergegas pergi namun Ryo menahan diri nya lalu menggendong nya secara paksa.


" Lepasin gue, lepasin gue". Briana sempat berteriak dan memukulin punggung Ryo. Usaha Briana tak membuat Ryo berhenti membawa nya menjauh..


Suasana area setempat begitu hening dan sedikit menyeramkan. Ryo menurunkan Briana dari gendongan nya. Briana melirik ke sekitar, ia sama sekali tidak melihat permukiman warga di sekitar tersebut, yang ada hanya pepohonan dan mata air yang mengalir.


Dengan lihai Ryo membasuh kaki, tangan serta wajah Briana yang kucel. Briana sempat menepis tangan Ryo namun ia berhasil membuat Briana berhenti memberontak.


"Elo bisa enggak sih untuk tenang sebentar saja". Ujar nya.

__ADS_1


Briana masih menatap nya dengan emosi akan tetapi iya menuruti Ryo. Ia merasa kan Ryo begitu lembut membasuh wajah nya dengan air yang dingin seperti es.


"Elo itu abis ngapain sih, kenapa bisa sekotor ini? Heran deh cantik - cantik kok main nya sampai kotor seperti itu". Ryo tertawa kecil melihat wajah Briana.


" Ini kita lagi dimana?". Briana masih bingung dengan keberadaan nya.


Ryo/ "Elo enggak lagi amnesia kan?".


Briana memutar bola mata nya.


" Bisa enggak, elo itu cukup jawab pertanyaan gue?".


"Hmm iyaaaaa. Ini kita lagi di tengah hutan yang ada di dekat tempat kita buat acara kemarin malam".


"Ha?... Kalau itu.... Kalau gue.... Gue... Tadi malam tersesat terus sampai sekarang gue belum ketemu jalan keluar hutan ini he he he., Lagian masa sih loe lupa kenapa loe bisa di sini". Ryo sedikit terbata menjawab pertanyaan Briana.


Briana melihat seperti nya Ryo sedang berbohong. Sekilas bayangan Chiko yang tergantung di pohon terlintas di benak nya. Briana mengusap wajah nya.


" Kalau gue enggak ingat sama sekali, kenapa gue bisa sampai di sini".


"Hmm bagus lah kalau gitu". Ryo menaikkan bahu nya.


" Maksud loe?".

__ADS_1


"Ah... Enggak ada. Maksud gue, enggak bagus kalau loe jadi pelupa kayak gitu. He he he". Ryo melirik Briana.


" Ya sudah yuk, kita keluar dari hutan ini, takut nya nanti mereka mencurigai kita lagi kalau tahu kita di sini". Ryo mengulurkan tangan nya untuk Briana.


"Mencurigai? Mencurigai apa?". Briana benar - benar masih bingung.


" Yaaa maksud gue, nanti kalau ada yang ngeliat kita berduaan entar mereka curiga nya kita ada apa - apa nya lagi, maksud nya di curigai kita pacaran he he he". Ryo menggaruk kepala nya.


Briana/ "Hmm. Emang loe sudah tahu jalan keluar nya dari mana?".


" Ya tahu lah, gue kan sudah hapal banget sama hutan ini". Ceplos nya.


Sentak Briana melihat Ryo, dugaan nya benar bahwa Ryo tadi sedang berbohong.


"Bukan nya elo bilang, elo sudah tersesat dari tadi malam ya dan belum menemukan jalan keluar nya. Kenapa sekarang loe bilang loe sudah hapal sama hutan ini".


Wajah Ryo menunjukkan bahwa ia sudah ketahuan berbohong.


" Ha? Maksud gue....". Ryo bingung mau jawab apa.


Kepala Briana semakin pusing dan pandangan nya pun mulai terlihat samar, hingga akhir nya ia jatuh pingsan. Ryo sangat spontan untuk menangkap tubuh Briana yang terkulai lemas.


"Sorry Bri". Ujar nya dan mengendong Briana.

__ADS_1


__ADS_2