PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 3


__ADS_3

Briana dan Anya sudah berada di caffe anak muda. Mereka berdua duduk di bangku pojokan, dimana posisi tersebut tempat yang paling nyaman di caffe itu.


"Bri, gue sudah cantik belum?". Anya merapikan dandan nya dan tak lupa dengan bando nya.


"Heeemmm". Briana menaikan alis nya sebelah dan sesekali melirik jam tangan nya yang sudah mengarah setengah 3.


"Masih lama enggak sih Nyak?, gue enggak bisa lama - lama nih, bentar lagi nyokap gue nyampe ke rumah".


"Sabar donk Bri, paling bentar lagi dia nyampe, janji deh gitu orang nya sampek, kalau loe mau langsung pulang juga enggak apa - apa Bri". Anya celingak - celinguk mencari sosok yang dia tunggu. Briana mengendus kan nafas nya.


"Naah itu mereka". Anya menunjuk kan ke arah 2 orang cowok yang gaya nya sedikit alay berjalan menghampiri mereka.


"Hai, sorry ya gue telat, kalian lama ya nungguin nya? oh ya gue Bobby". Salah satu dari 2 cowok tersebut melirik ke arah Briana.


Anya/ "Ahh enggak kok, kita baru nyampe juga kok he he he. Oh ya duduk yuk".


Mereka pun duduk berempat secara berhadapan.


"Oh ya gue lupa, ini kenalin teman gue nama nya Kevin".


"Anya". "Kevin". (mereka saling berjabat tangan).


"Nya . . . Gue langsung cabut ya". Briana bangkit dari duduk nya, memotong pembicaraan mereka.


"Tunggu dulu Bri, loe kenalan dulu sama teman - teman gue". Anya menahan Briana pergi.


Briana/ "Alaaah Nya, lagian tadi loe sudah janji sama gue, gue sudah boleh langsung cabut kalau teman - teman loe sudah datang".


Kedua cowok itu melirik Anya dan Briana.


Anya/ "Sebentar saja Bri, kenalan dulu sama mereka".


"Enggak penting....!". Ketus nya, tanpa basa basi Briana meninggal kan Anya bersama teman - teman baru nya di caffe.


"Maafin teman gue ya, maklum dia lagi PMS jadi memang gitu orang nya, tahu lah ya kalau cewek lagi PMS he he he". Anya mendadak kikuk.

__ADS_1


Bobby/ "Iya enggak masalah kok he he he".


.


.


Dengan kecepatan tinggi Briana melajukan mobil nya menuju rumah nya agar dia lebih tiba dari pada sang mami. Tapi dugaan nya salah, sang mami sudah tiba di rumah satu jam yang lalu.


"Mami pikir kamu bakal enggak pulang lagi seperti biasa nya setiap mami pulang". Bu Mona yang sibuk di dapur melirik anak tunggal nya yang baru tiba di rumah. Sedang kan Briana hanya acuh.


"Yuk kita makan bareng, ini mami sudah nyiapin makan siang untuk kamu, mami masakin makanan kesukaan kamu lho". Bu Mona menyuguhkan berbagai macam makanan kesukaan Briana di atas meja makan.


"Huh . . . Masih ingat sama makanan kesukaan aku?". Ketus nya.


"Kamu itu kan anak nya Mami satu - satu nya masa iya mami lupa sama makanan kesukaan kamu sayang". Bu Mona menghampiri nya dan membelai rambut pirang Briana.


Briana/ "Waaah enggak sangka, aku saja sudah lupa sama makanan kesukaan aku sendiri, karena yang selalu aku ingat cuma yang aku BENCI saja (Briana menekan kan kata BENCI ke telinga Bu Mona). Lagian aku enggak lapar, kasi saja sama orang lain makanan nya atau enggak di buang saja di tong sampah". Tegas nya menatap mami nya penuh dengan kebencian.


"Briana . . . ". Bu Mona bernada tinggi karena emosi nya mulai terpancing.


Bu Mona meredam kan emosi nya dan berusaha untuk mendamaikan hati Briana.


"Mami pulang karena mami rindu sama kamu Bri, mami juga bawa ole - ole makanan kesukaan kamu dari Jerman dan barang - barang branded". Bu Mona sigap menyodorkan sekotak bingkisan yang berbagai macam barang di dalam nya.


Sedang kan Briana tak sedikit pun melirik ke arah tersebut.


"Sudah lah, enggak usah manis - manis mulut, aku tahu anda pasti punya tujuan lain, enggak usah berbelit - belit. Aku enggak punya banyak waktu".


Bu Mona menarik nafas nya, ia tersenyum getir karena ketahuan oleh Briana.


"Okeh, Mami jujur dan langsung saja. Tujuan mami pulang itu untuk mengajak kamu ikut mami ke Jerman dan stay di sana".


"Ck . . . Sudah ku duga".


Bu Mona/ "Ya mami enggak bisa ninggalin kamu sendirian di sini terus - terusan, kamu itu anak perempuan, anak mami satu - satu nya. Ntar kalau ada apa - apa sama kamu gimana? kamu kan tahu gimana serem nya kalau anak perempuan sendirian di kota sebesar ini apa lagi ini Ibu Kota yang begitu kejam. Jadi mami mohon, kamu harus ikut sama mami ke Jerman".

__ADS_1


"Aku enggak akan pernah mau ikut mami ke Jerman, lebih baik aku mati di sini sendirian dari pada aku hidup di sana bersama kalian. Aku bukan anak kecil lagi, aku bisa jaga diri aku sendiri". Briana pergi ke luar rumah meninggal kan Bu Mona sendirian di dalam.


"Bri . . . . Brianaaaaaaaaa". Bu Mona mengejar nya keluar rumah, Bu Mona terpaku melihat Briana sudah berlalu dengan mobil nya dengan kecepatan yang tinggi.


.


.


Briana kembali ke caffe anak muda dan lebih memilih duduk di luar agar dia bisa menikmati suasana pemandangan jalanan Ibu Kota, tak lupa dia memesan segelas minuman dingin special di cafe tersebut. Briana memandangi jalanan tersebut dengan pandangan kosong dan sesekali dia menyeruput minuman nya.


"Ikut mami ke Jerman dan stay di sana". Permintaan mami nya masih terngiang di telinga nya. Ia mengepal kan tangan nya penuh kekesalan.


"Ehh menurut lu si Anya gimana? ". Kuping Briana tanpa sengaja mendengar suara seseorang yang berada di belakang nya. Alis Briana mengerut ketika laki - laki tersebut menyebut nama Anya. Briana memasang kuping nya untuk mendengar kan pembicaraan mereka lebih lanjut.


"Ya biasa saja sama gue, lagian kenapa lu yang nanya ke gue?, harus nya gue yang nanya kayak gitu ke lu". Terdengar suara laki - laki lain nya.


"Ya gue kan juga mau tahu pendapat lu. Kalau menurut gue sih, si Anya biasa saja, tapi bisa lah di ajak ke tengah. Lagian gue sama dia mah enggak bakalan mau berlanjut ke hubungan yang serius, palingan kalau gue sudah dapat pe**wan nya langsung gue campak dia nya ha ha ha".


"Memang lu ya cowok brengsek, enggak ada taubat - taubat nya lu. Kasihan tahu setiap kali lu kenalan sama cewek, lu cuma ngincar itu nya doank. Ingat dosa lu, entar lu kena karma nya baru tahu rasa".


"Ha ha ha, elleh lu enggak usah munafik deh, kayak lu enggak pernah saja. Apa lagi tadi gue perhatiin lu ngeliatin teman nya si Anya, siapa nama nya?".


"Briana".


"Nah lu ingat nama tuh cewek. Berarti lu demen kan sama dia? ha ha ha. Tapi kalau gue boleh jujur ya kalau Briana itu aduhai banget, tubuh nya kayak gitar spanyol, salah nya saja dia anak nya jutek kalau enggak sudah gue hembat juga tuh dia he he he. Hemm coba saja badan si Anya kayak Briana, sexy, tinggi, putih mulus, aduhai bikin gue tinggi ha ha ha".


"Enggak usah macam - macam deh lu. Kasian anak orang".


"Ahh bising amat sih lu, santai saja lah, yang penting kita happy menikmati masa muda kita he he he".


"Itu mah lu saja, gue kagak ikutan. Ya sudah kita cabut yuk, satu jam lagi gue ada kelas nih".


"Ya sudah yuk".


Secepat kilat Briana menutupi wajah nya dengan sapu tangan nya ketika ke dua lelaki itu melewati nya. Briana melirik mereka dan benar dugaan nya bahwa ke dua laki - laki itu adalah lelaki kenalan Anya yang tak lain ialah Bobby dan Kevin.

__ADS_1


"Ck. . . Dasar cowok breng**k".


__ADS_2