
#Niiinuuu.... Ninuu... Ninuuuu.....
Terdengar nyaring nya suara bunyi sirine yang membuat suasana pada area itu menjadi menegang kan. Riuh para warga yang berlomba ingin masuk ke dalam gedung sekolah membuat para petugas keamanan kwalahan mengatasi nya.
Briana meraih tangan Ryo lalu menggenggam nya begitu erat, sontak Ryo kaget dan menoleh ke arah Briana yang terlihat ketakutan. Ryo mendekatkan diri nya pada Briana dan memberi isyarat bahwa ia menenangkan Briana. Ryo menggenggam tangan Briana dengan erat, lalu menuntun nya masuk ke dalam gedung sekolah.
"Kalian mau kemana? Kalian dilarang masuk ke dalam". Salah satu petugas keamanan menghalangi jalan mereka.
Ryo mengeluarkan kartu pelajar nya dan menunjukkan nya pada petugas itu.
" Kami pelajar di sekolah ini pak, ke datangan kami di sini karena di suruh pak kepala sekolah". Ryo berkata bohong.
Petugas itu mengembalikan kartu pelajar nya dan sesekali melirik Briana yang begitu tegang.
"Ya sudah, kalian silahkan masuk ke dalam. Dia kenapa? Apa dia sedang sakit?".
" I... Iya pak, dia sedang tidak enak badan, dia terpaksa ke sini karena atas perintah pak kepala sekolah". Ryo tersenyum getir.
"Ya sudah, setelah urusan kalian selesai suruh dia minum obat dan istirahat yang cukup".
" Iya pak, terimakasi, kami masuk dulu ya pak, permisi". Dengan langkah kaki seribu Ryo membawa Briana ke dalam sekolah.
"Bri.. Elo enggak apa - apa kan?". Ryo menatap wajah Briana yang pucat.
" Gue takut sama suara sirine". Untuk pertama kali nya Briana mengatakan pada seseorang apa yang ia takuti. Briana menutup telinga nya.
__ADS_1
Ryo melihat sekeliling tempat. Ia menenang kan Briana dan berusaha untuk meredakan ketakutannya.
"Lihat gue, elo tenang ya, ada gue di sini, gue ada di samping loe dan gue enggak akan melepaskan tangan loe. Jadi elo enggak usah takut, lagian itu hanya suara, anggap saja itu suara dari musik yang elo suka". Ryo menggenggam tangan Briana sembari menatap nya. Ryo merasakan tangan Briana yang membeku. Briana pun menatap wajah Ryo yang begitu meyakinkan nya.
Ryo/ "Sekarang, kita masuk ke dalam, abis itu kita langsung ambil mobil loe terus kita pulang. Okey?".
Briana mengangguk pelan menuruti Ryo.
" Ya sudah yuk". Ryo menggandeng tangan Briana. Mereka berjalan menuju parkiran mobil sekolah.
"Nak Ryo.. Nak Ryo..". Tiba - tiba pak satpam sekolah menghampiri mereka dengan nafas nya yang sedikit ngos - ngosan.
Ryo dan Briana menoleh ke belakang.
" Iya pak?".
Ryo/" Coba bapak atur nafas dulu baru bicara".
"Huuh... Kalian tahu enggak nak Anya teman sekelas kalian berdua tewas di taman belakang sekolah".
Berita itu membuat Ryo kaget dan merinding , sedang kan Briana seperti mati rasa.
" Serius pak? Jadi keramaian ini karena kasus ini?".
"Iya nak Ryo".
__ADS_1
Ryo/ " Terus bapak tahu enggak kejadian apa yang terjadi?".
"Bapak belum tahu jelas kejadian yang sebenarnya, cuma menurut petugas kebersihan yang pertama kali melihat mayat nya, itu di sebab kan bunuh diri, karena ia menemukan mayat nya tergantung di pohon yang paling besar di taman belakang, tapi tadi bapak ngeliat mayat nya dari dekat terus bapak melihat ada luka sayatan pada leher nya dan itu bukan seperti sayatan dari tali tambang yang menggantung pada leher nya, malah seperti sayatan dari sebuah benda tajam, menurut bapak ini bukan kasus bunuh diri tapi kasus pembunuhan yang sengaja di buat seolah ini bunuh diri". Satpam itu menceritakan menurut versi nya.
Ryo/ " Ouhmm... Tapi pak, bisa saja itu luka dari bekas tali nya pak, kita enggak bisa sembarangan menyimpulkan kalau kita enggak ada bukti".
"Iya juga sih nak Ryo, kalau lah nak Anya di bunuh, ini pasti karena dendam sama nak Anya. Tapi kira - kira siapa ya pelaku nya".
Ryo merasakan genggaman tangan Briana semakin erat, ia melirik Briana yang sudah mengeluarkan keringat pada wajah nya.
"Eh he he mana saya tahu pak. Kita tunggu saja laporan dari penyelidikan nya, karena mereka lebih tahu soal ini. Cepat atau lambat semua nya pasti terungkap. Oh ya pak, saya enggak bisa lama - lama di sini soal nya saya mau ngantar Briana pulang, dia lagi enggak enak badan he he he".
Pak satpam melirik Briana.
" Oh.. Ehh tapi kalian enggak mau masuk dulu, mau lihat? Lagian teman - teman kalian juga ada di dalam lagi di minta keterangan sama polisi".
Ryo/ "Enggak usah deh pak, kasihan sama Briana nya, lihat tuh dia nya sudah lemas gitu, bapak mau dia kenapa - kenapa di sini? Lagian kalau cuma di mintain keterangan kan masih bisa besok - besok, kan enggak mungkin gara - gara keterangan kami berdua tidak ada, penyelidikan di batal kan he he he".
" Iya juga sih. Ya sudah , kalian balik saja cepat keburu nanti ada yang lihat kalian, mending kalian cepat keluar dari sekolah, eh tapi kalian jangan lewat dari depan. Lewat dari gerbang sebelah kiri, di situ tidak ada petugas keamanan".
"Baik pak. Makasi banyak ya pak. Jangan sampai ada yang tahu kalau kami ke sini ya pak". Ryo bergerak cepat membuka kan pintu mobil nya untuk Briana.
" Oke siap... Kalian hati - hati. Nak Briana semoga lekas sembuh ya".
Briana tersenyum pada pak satpam. Dengan cepat Ryo melarikan diri keluar dari gedung sekolah dari arah yang di saran kan oleh pak satpam. Mereka pergi menjauh dari ketegangan itu.
__ADS_1
"Hmm... Elo masih ngerasa takut?". Ryo meraih tangan Briana lalu menggenggam nya.