
"Tadaaaa". Anya memamer kan kunci mobil dan kunci villa itu pada Raysa.
Raysa/ " Hmmp, jadi cerita nya elo berhasil".
"Iya donk, enggak lihat apa ini kunci apa yang ada tangan gue". Anya mengayun - ayun kan kunci itu.
Raysa/ " Tapi bukan nya elo sama Briana belum begitu akrab ya?".
Secepat kilat Anya membungkam mulut Raysa sembari melirik ke sekitar taman.
"Elo jangan bising, sekali - sekali si Chiko gue kelabuin boleh donk. Lagian emang gue akui, susah banget ngebuat itu anak di jadiin teman, maka nya gue kelabuin saja itu si Chiko". Anya melepas kan bungkaman nya.
Raysa/ "Gilak loe, kalau loe ketahuan sama si Chiko bisa mati loe di buat nya".
"Maka nya loe jangan bocorin soal ini, ini cukup kita dua saja yang tahu, lagian kan ini gue lagi usaha juga jadi teman nya si Briana". Any mengecil kan suara nya.
" Oke lah, gue bisa bungkam tapi kalau Chiko tahu nya dari Briana langsung gimana?". Raysa menaikkan alis mata kanan nya sembari menatap wajah Anya yang sedikit khawatir.
Anya/ "Itu juga sih yang lagi gue pikirin, tapi filling gue kayak nya enggak mungkin Briana mau cerita ke Chiko rang si Briana anti banget sama orang - orang sekitar, apa lagi sama cowok sengak kayak Chiko".
Raysa/ " Iya juga sih, kalau di pikir - pikir sih gitu, kan kita tahu juga Briana orang nya gimana. Terus itu yang satu lagi kunci apaan?". Raysa melirik kunci yang satu nya alias kunci villa.
Anya memamerkan nya kembali.
__ADS_1
"Kunci villa gue". Bisik nya.
Raysa mengerut kan dahi nya.
" Sejak kapan loe punya villa?, setahu gue, elo enggak pernah deh cerita kalau elo punya villa. Apa lagi loe juga pernah cerita ke gue kalau loe tinggal di rumah kontrakan".
"Shhh . . . Elo bisa enggak sih ngomong nya jangan kenceng - kenceng, satu sekolahan enggak ada yang tahu kalau gue bukan anak orang kaya, cuma elo yang tahu kondisi keluarga gue, itu pun karena enggak sengaja". Anya memutar bola mata nya.
Raysa/ " Ya maaf, lagian kan enggak apa - apa juga kalau mereka tahu, toh mereka enggak bakalan peduli soal itu".
Anya / "Loe ngomong enak Ray karena elo emang terlahir dari keluarga kaya, lah gue. Gue malu kalau sampai satu sekolahan tahu soal keluarga gue, bisa - bisa enggak ada yang mau temanan sama gue".
Raysa/ " Hmm . . . Nya Nya , siapa yang bilang enggak ada yang mau temanan lagi sama loe?, bukti nya gue saja sudah tahu tentang latar belakang keluarga loe tapi gue masih nerima loe jadi teman gue".
Raysa/ " Hmm... Terserah loe saja lah. Sekarang balik lagi ke topik awal, itu kunci vila".
Anya/ "Kunci villa dari Chiko untuk gue". Anya tersenyum.
Rasya/ " Kok bisa?, bukan nya taruhan nya cuma mobil BMW nya doank. Kalian buat perjanjian baru lagi ya?".
Anya menaik turun kan kedua alis mata nya.
Raysa menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Kali ini apa lagi?".
Anya membisik kan nya pada telinga Raysa. Sentak Raysa terkejut bahkan spontan suara nya meninggi.
" Apa?".
Lagi lagi Anya membungkam mulut Raysa.
"Shhh . . . Issh elo ya dari tadi suara loe bising banget".
Raysa/ " Elo sama Chiko benar - benar sudah enggak waras. Elo enggak takut apa, itu tuh bahaya banget buat loe, bisa - bisa elo masuk ke dalam penjara terus merusak masa depan loe".
Anya/ "Ya enggak lah, percuma donk gue sudah di jamin sama si Chiko".
Raysa/ " Iya kalau si Chiko benaran mau ngejamin loe, kalau dia ngebohongi loe terus dia lepas tangan gitu saja gimana?".
Anya/ "Sudah, elo tenang saja, itu bisa di atur, gue enggak bodoh, gue bakalan cari rencana agar Chiko enggak bakal ngibuli gue".
Raysa/ " Benar - benar enggak waras loe gara - gara materi. Ingat ya, gue enggak ada hubungan nya sama semua rencana gilak loe berdua".
Anya/ "Iya, tenang saja loe, loe cukup jadi teman terbaik gue saja, gue enggak akan melibat kan loe, tapi sedikit banyak nya elo harus bantu - bantu gue juga donk pasti nya he he he".
"Hmm... Enggak janji gue". Raysa memutar bola mata nya, lalu beranjak meninggal kan Anya.
__ADS_1
"Ray . . . Kok gue di tinggalin siiiiih". Anya berteriak lalu berlari menyusul Raysa.