PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 13


__ADS_3

Tepat pada malam prom, semua siswa - siswi serta para guru berduyun - duyun memasuki gedung sekolah dengan mengenakan costume yang sudah tetapkan pada tema acara tersebut. Beraneka ragam costume anime jepang yang mereka kenakan. Ada yang berperan sebagai sailor moon bahkan ada yang mengenakan costume doraemon dan masih banyak lagi keunikan mereka masing - masing.


Ryo yang sudah tiba sejak sore hari masih sibuk mengkoordinir acara tersebut, ia begitu tampan mengenakan style sebagai pemeran prince charming yang ada di komik - komik jepang membuat yang lain nya pangling melihat nya tak seperti biasa nya yang terlihat sedikit cupu.


Mata Ryo liar melihat seisi gedung sekolah, ia mencari sosok yang ia tunggu - tunggu sejak tadi, yang tak lain ialah Briana. Ryo sama sekali tidak melihat batang hidung cewek blasteran itu.


"Woi. .. Elo nyariin siapa sih? Dari tadi gue perhatiin mata loe lihat sana lihat sini". Dimas menepuk pundak Ryo, ia penasaran sejak ia melihat Ryo celingukan mulu. Ryo melirik Dimas yang mengenakan costume yang menurut nya aneh untuk di lihat. Rambut yang di cat warna kuning menyala plus jigrak - jigrak bagaikan di setrum listrik. Belum lagi dengan pakaian nya yang berwarna serba orange. Itu membuat tingkat kenorakan nya naik 100%.


" Elo pakai costume apaan tuh? Kok enggak jelas gitu bentukan nya?". Ryo melihat penampilan Dimas dari ujung rambut hingga kaki. Rasa nya mau ketawa tapi takut dosa.


Dimas/ "Masa elo enggak tahu sih, ini tuh costume ala ala naruto".


Ryo terlihat getir/ " Kayak nya naruto enggak senorak ini lah heh heh".


Dimas/ "Jadi menurut loe gue norak?".


Ryo mengangguk sembari menahan tawa nya.


Dimas/ " Hufft pantesan dari tadi gue jadi pusat perhatian yang lain, tapi enggak apa - apa lah, lagian kan gue jadi terkenal sama yang lain ha ha ha".


Ryo/ "Haiiiih terkenal tuh karena prestasi atau potensi yang kita miliki, bukan terkenal karena sensasi, yang ada mempermalukan diri sendiri, paham?".


Dimas/ " Hmm iya iya yang mentang - mentang terkenal karena prestasi nya".


Ryo/ "Sudah aah, enggak usah bahas enggak penting. Elo lihat Briana sudah datang atau belum?".


Dimas/ " Gue enggak ada lihat, mungkin dia belum datang, cuma gue tadi ngeliat si Raysa sudah datang tapi dia sendiri terus si Anya datang sama cowok nya. Kalau Briana enggak ada keliatan".

__ADS_1


Ryo/ "Hmm, kalau itu gue juga lihat. Ya sudah deh mending loe siap - siap sana bentar lagi acara drama nya mulai, elo kan bakal berperan jadi kurcaci nya".


Dimas/ " Alah masih lama lagi, tenang saja. Oh ya gue heran kenapa sih drama nya cerita putri salju kan harus nya cerita dari kartun jepang sesuai dengan tema, kenapa jadi enggak nyambung gitu sih?".


Ryo/ "Entah gue enggak ngerti, gue juga heran, terus lagi waktu panitia drama memutuskan main drama ini tiba - tiba mengajukan Briana yang jadi pemeran putri salju nya padahal kan Briana bukan anggota theatre terus dia juga enggak pernah mau ikut - ikutan kayak begini, bukti nya acara akhir sekolah saja dia enggak nongol - nongol juga sampai sekarang dan mungkin dia enggak bakalan datang".


"Siapa bilang dia enggak datang?". Dimas menepuk pundak Ryo dan mengarahkan pandangan Ryo pada pintu utama gedung sekolah.


Semua mata tertuju pada tujuan yang sama yakni melihat Briana yang baru tiba, ia begitu memukau dengan mengenakan costume style ala cewek modern pada komik jepang. Mata Ryo tak lepas memandangi Briana yang berjalan memasuki gedung theatre.


"Hai Briana".


" Hai Bri".


Berbagai sapaan yang terlontar untuk nya setiap ia melewati para siswa cowok di gedung itu. Namun tak satu pun di gubris oleh nya. Tak ketinggalan para siswi cewek yang pada iri melihat diri nya yang jauh lebih memukau dari mereka.


" Gue pikir elo enggak bakalan datang ke acara ini, makasih ya". Terlihat jelas dari raut wajah Ryo bahwa ia merasa senang dengan hadir nya Briana.


"Itu tempat duduk nya sudah ada nama nya atau boleh duduk di sembarang tempat?". Briana melirik ke arah kursi penonton yang sudah tersusun rapi seperti di bioskop.


Ryo/ " Hmm? Terserah mau duduk dimana, enggak ada daftar nama nya kok, cuma yang duduk paling depan untuk para guru kita dan tamu exclusive".


"Lagian siapa yang mau duduk di depan, ya sudah yuk kita duduk di situ saja". Briana menunjuk kan pada kursi yang paling atas dan bagian pinggir.


" Ha?". Ryo tercengang dengan ajakan Briana. Sulit di percaya, seorang Briana yang mengajak nya terlebih dahulu.


Briana/ "Kenapa? Elo berperan juga main di drama itu?".

__ADS_1


Ryo/ " Hm? Enggak, gue cuma..., enggak apa - apa. Ya sudah yuk kita duduk di situ".


Seluruh gedung sudah di penuhi para siswa dan para tamu undangan untuk menonton drama yang di peran kan oleh anggota sanggar theatre di sekolah. Mereka berantusias menyambut pementasan yang akan mulai. Berbeda dengan Briana yang duduk di sebelah Ryo, ia sedikit gelisah di saat drama sudah mulai. Tanpa sadar sekujur tubuh nya sudah berkeringat dingin serta tangan nya bergetar hebat namun ia menahan nya dengan sekuat tenaga nya.


Seperempat drama sudah berlalu dan di waktu itu juga Briana mengingat kejadian pahit nya di saat ia memerankan putri salju dan menyebab kan ia celaka. Ryo melihat ada sesuatu yang aneh pada Briana.


"Elo kenapa Bri? Elo sakit?". Ryo mulai khawatir melihat wajah Briana yang sudah pucat pasih.


Briana menggelengkan kepala nya.


" Enggak, gue enggak apa - apa. Gue ke toilet dulu". Briana beranjak dari tempat itu sebab ia sudah tak mampu menahan rasa yang menghantui nya.


Ryo menyusul Briana keluar dari gedung. Ia melihat Briana duduk di bangku taman bukan nya ke toilet. Briana berusaha menenangkan diri nya dan berusaha untuk tidak mengingat kejadian itu.


"Elo enggak apa - apa kan?". Ryo menghampiri Briana dan mengagetkan nya. Ryo melihat tangan Briana bergetar, secepat nya Briana menyembunyikan tangan nya.


" Gue bilang gue enggak apa - apa". Briana membalikkan tubuh nya untuk tidak berhadapan dengan Ryo.


Ryo/ "Elo yakin? Karena gue lihat wajah loe pucat gitu. Gue antar elo pulang ya?".


Briana tak menjawab Ryo. Ke khawatiran Ryo semakin memuncak.


" Hmm... Elo tunggu di sini bentar ya, gue mau ngambil minum buat elo. Elo jangan kemana - mana, gue cuma bentar, enggak lama".


Ryo berlari meninggal kan Briana sendirian. Tak lama Ryo kembali menghampiri Briana dengan membawa sebotol air mineral dan sebungkus roti, namun Ryo tak melihat Briana pada tempat itu alias Briana sudah tidak ada.


"Lho. . . Briiiii. . . Brianaaaaaa". Ryo berteriak memanggil nama nya. Ryo mencari ke sana kemari namun tak menemukan nya.

__ADS_1


" Brianaaaaa. . .". Ryo tak berhenti mencari nya hingga ia menemukan Briana tergeletak di atas tanah tepat nya di taman belakang sekolah.


__ADS_2