PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 23


__ADS_3

Semua mata tertuju pada tujuan yang sama yakni melihat Briana yang baru tiba, ia begitu memukau dengan mengenakan costume style ala cewek modern pada komik jepang. Mata Ryo tak lepas memandangi Briana yang berjalan memasuki gedung theatre.


"Hai Briana".


" Hai Bri".


Berbagai sapaan yang terlontar untuk nya setiap ia melewati para siswa cowok di gedung itu. Namun tak satu pun di gubris oleh nya. Tak ketinggalan para siswi cewek yang pada iri melihat diri nya yang jauh lebih memukau dari mereka.


"Hai Bri. . .". Ryo tak mau kalah dengan yang lain nya bahkan ia rela meninggal kan Dimas. Briana melirik diri nya.


" Gue pikir elo enggak bakalan datang ke acara ini, makasi ya". Terlihat jelas dari raut wajah Ryo bahwa ia merasa senang dengan hadir nya Briana.


"Itu tempat duduk nya sudah ada nama nya atau boleh duduk di sembarang tempat?". Briana melirik ke arah kursi penonton yang sudah tersusun rapi seperti di bioskop.


Ryo/ " Hmm?, terserah mau duduk dimana, enggak ada daftar nama nya kok, cuma yang duduk paling depan untuk para guru kita dan tamu exclusive".

__ADS_1


"Lagian siapa yang mau duduk di depan, ya sudah yuk kita duduk di situ saja". Briana menunjuk kan pada kursi yang paling atas dan bagian pinggir.


" Ha?". Ryo tercengang dengan ajakan Briana. Sulit di percaya, seorang Briana yang mengajak nya terlebih dahulu.


Briana/ "Kenapa? Elo berperan juga main di drama itu?".


Ryo/ " Hm? Enggak, gue cuma..., enggak apa - apa. Ya sudah yuk kita duduk di situ".


Seluruh gedung sudah di penuhi para siswa dan para tamu undangan untuk menonton drama yang di peran kan oleh anggota sanggar theatre di sekolah. Mereka berantusias menyambut pementasan yang akan mulai. Berbeda dengan Briana yang duduk di sebelah Ryo, ia sedikit gelisah di saat drama sudah mulai. Tanpa sadar sekujur tubuh nya sudah berkeringat dingin serta tangan nya begetar hebat namun ia menahan nya dengan sekuat tenaga nya.


"Elo kenapa Bri? Elo sakit?". Ryo mulai khawatir melihat wajah Briana yang sudah pucat pasih.


Briana menggelengkan kepala nya.


" Enggak, gue enggak apa - apa. Gue ke toilet dulu". Briana beranjak dari tempat itu sebab ia sudah tak mampu menahan rasa yang menghantui nya.

__ADS_1


Ryo menyusul Briana keluar dari gedung. Ia melihat Briana duduk di bangku taman bukan nya ke toilet. Briana berusaha menenangkan diri nya dan berusaha untuk tidak mengingat kejadian itu.


"Elo enggak apa - apa kan?". Ryo menghampiri Briana dan mengagetkan nya. Ryo melihat tangan Briana begetar, secepat nya Briana menyembunyikan tangan nya.


" Gue bilang gue enggak apa - apa". Briana membalikkan tubuh nya untuk tidak berhadapan dengan Ryo.


Ryo/ "Elo yakin? Karena gue lihat wajah loe pucat gitu. Gue antar elo pulang ya?".


Briana tak menjawab Ryo. Ke khawatiran Ryo semakin memuncak.


" Hmm... Elo tunggu di sini bentar ya, gue mau ngambil minum buat elo. Elo jangan kemana - mana, gue cuma bentar, enggak lama".


Ryo berlari meninggal kan Briana sendirian. Tak lama Ryo kembali menghampiri Briana dengan membawa sebotol air mineral dan sebungkus roti, namun Ryo tak melihat Briana pada tempat itu alias Briana sudah tidak ada.


"Lho. . . Briiiii. . . Brianaaaaaa". Ryo berteriak memanggil nama nya. Ryo mencari kesana kemari namun tak menemukan nya.

__ADS_1


" Brianaaaaa. . .". Ryo tak berhenti mencari nya hingga ia menemukan Briana tergeletak di atas tanah tepat nya di taman belakang sekolah.


__ADS_2