
Ryo berlari di koridor gedung sekolah nya yang tak berpenghuni. Sekolah di libur kan sementara karena kejadian tragis pada Anya. Sedang kan untuk siswa yang sudah lulus di minta datang secara bergiliran, khusus nya teman sekelas Anya untuk meminta keterangan nya. Ia langsung bergegas ke sekolah setelah pak kepala sekolah menelpon nya dan meminta ia untuk datang ke sekolah.
Setelah bertemu dengan kepala sekolah dan memberikan keterangan pada pihak berwajib. Ryo dan Dimas berjalan menuju parkiran.
Dimas/ "Sudah enak - enak tidur di rumah, eh malah di suruh datang ke sekolah. Enggak tahu apa, orang sudah ngantuk banget, ini malah ngadepi bapak - bapak polisi yang menyeramkan lagi, lagian kan dia bunuh diri bukan nya di bunuh, ngapain lagi minta - minta keterangan kita, kayak kita di curigai saja sama mereka hufft". Dumel nya.
Ryo melirik nya.
"Ya nama nya mereka mau menyelediki kasus nya, terlebih lagi keluarga nya enggak terima atas kematian Anya, sudah pasti di telusuri lah kasus ini".
Dimas/ " Iya, itu sama saja mereka menuduh kita pelaku nya. Eh tapi tunggu dulu sejak malam itu gue enggak pernah lihat si Briana lagi. Bahkan dia enggak datang ke sekolah untuk minta keterangan nya. Apa jangan - jangan?".
Ryo/ "Loe kalau ngomong jangan sembarangan. Itu nama nya fitnah. Lagian Briana enggak datang karena dia lagi sakit".
Dimas/ " Elo dari mana tahu kalau dia lagi sakit?".
Ryo/ "Ya tahu lah gue, rang pas malam itu gue sendiri yang bawa dia pulang, dia kena demam tinggi. Terus tadi gue menyempatkan ke rumah nya, lihat kondisi nya, dia masih belum sembuh".
Dimas/ " Itu setelah kejadian atau sebelum kejadian loe bawa dia pulang?".
Ryo/ "Mana gue tahu. Lagian ya, malam itu dia sama gue terus, enggak kemana - mana. Jadi tuh mulut jangan asal nuduh orang sembarangan". Ryo menarik mulut Dimas.
Dimas menepis nya.
" Iya iya, lagian kan gue kan cuma menerka doank. oh ya kalian sudah sedekat itu ya? Apa jangan - jangan loe sudah jadian lagi sama Briana".
Ryo menaikkan kedua alis nya.
"Sudah jelas donk, kalau enggak, mana mungkin Briana mau duduk sama gue di malam prom kemarin, terus gue ngantar dia ke rumah nya".
Dimas/ " Iya juga sih. Eh jadi loe sudah pernah ke rumah nya?".
Ryo/ "Loe budek atau apa sih Dim, tadi kan gue sudah bilang ke loe kalau gue ngantar dia pulang, ya sudah jelas lah gue sudah tahu rumah dia dimana".
Dimas/ " Wow... Cepat banget ya kemajuan loe, salut gue sama loe".
Ryo/ "Apa gue bilang, buat gue yang kayak gitu mah kecil, jangan kan tahu rumah nya bahkan gue sudah ketemu sama nyokap hi hi hi". Ryo menjentikkan jari nya.
Dimas/ "Ah serius loe? Ketemu sama nyokap nya? Oh ya ngomong - ngomong gimana rumah nya, besar enggak? Karena kan kata nya dia anak konglomerat, betul enggak tuh? Terus nyokap nya gimana? Cakep enggak?".
Ryo/ "Kepo banget sih loe".
" Ya iya lah gue kepo, elo kan tahu kalau seisi sekolah ini penasaran banget sama dia apa lagi latar belakang nya, nah mumpung loe sudah tahu, jadi loe ceritain ke gue gimana dia atau kalau enggak sekali - sekali loe bawa gue main ke rumah dia gitu he he he".
"Ogah......! Biarin loe mati penasaran sono, gue enggak bakal ceritain ke loe atau ke siapa pun". Ryo menempeleng kepala Dimas lalu, masuk ke dalam mobil nya.
" Ya elah bro, elo mah parah amat, timbang ngasih tahu doank parah amat loe. Jangan buat gue penasaran gini donk. Janji deh kalau loe ceritain, gue enggak bakalan cerita sama yang lain". Dimas pun heboh mengejar Ryo sembari meminta Ryo membuka kaca mobil nya.
Ryo menongolkan kepala sedikit dari jendela mobil.
"Bodo.....!".
" Yo... Please lha Yo, kasih tahu gue". Dimas masih memaksa nya.
__ADS_1
"Sudah deh, enggak usah segitu nya. Sudah loe pulang sono, kata nya loe sudah ngantuk terus mau tidur - tiduran, sudah sono pulang". Ryo menepis tangan Dimas yang menggantung di bibir pintu mobil.
"Enggak, gue sudah enggak ngantuk lagi, gue sudah segar ini. Kasih tahu donk Yo". Rengek nya.
" ENGGAK, awas loe, gue mau nutup kaca nya".
Dimas menyingkirkan tangan nya dengan tampang kecewa.
"Parah amat sih loe Yo".
" BODO, bye". Ryo pun menutup kaca jendela mobil nya dan pergi meninggalkan rasa penasaran Dimas.
"Parah amat tuh anak, awas saja loe entar, kapan loe minta temenin sama gue, hufft sial". Dimas ngedumel sendiri sembari melihat kepergian Ryo.
.
.
#Ting Nong...
Terdengar bunyi bel, seseorang telah memencet bunyi bel di kediaman Briana. Ia yang mendengar nya mengerutkan dahi nya lalu berjalan menuju pintu utama.
"BUKA". Ucap nya dan pintu pun terbuka atas izin nya. Briana mengusap wajah nya ketika ia melihat sosok yang bertamu ke rumah nya di siang bolong.
" Elo mau ngapain lagi ke sini? Lagian loe kok bisa langsung masuk ke sini?". Briana melirik ke pintu gerbang nya yang sudah terbuka.
"Hmm... Tadi pas gue kemari tuh pintu gerbang sudah kebuka maka nya gue bisa langsung masuk ke sini. Lagian teledor banget sih, sudah buka pintu gerbang tapi lupa nutup nya kembali, untung gue yang masuk, kalau orang lain gimana? Bisa - bisa loe dalam bahaya". Jelas nya sambil mengomeli Briana, namun sedikit gelagapan.
Briana mengingat apakah ia ada membuka pintu pagar dan lupa menutup nya kembali.
" Oh ya Bri, ini". Ryo menyodorkan sebuah bungkusan makanan siap saji kepada Briana.
"Gue bawa makanan untuk makan siang kita berdua, emang gue beli nya bukan di restoran bintang lima. Ini makanan buatan bintang kejora dalam hidup gue, yakni masakan bunda gue he he he dan gue jamin makanan nya enak dan pas di lidah loe he he he".
Briana menyambut nya, ia melirik bungkusan tersebut lalu masuk ke dalam rumah.
" Gimana keadaan loe sekarang?". Ryo mengikuti Briana dari belakang namun mata nya begitu liar melihat seluruh rumah Briana.
"Gue sudah baikan". Jawab nya.
Ryo/ " Alhamdulillah, bagus lah kalau gitu".
Briana menyuruh Ryo untuk duduk di pantry, sedang kan ia segera menyiapkan makanan yang sudah Ryo bawa. Briana menyusun satu per satu piring yang sudah terisi makanan siap saji tersebut dan menyodorkan nya pada Ryo.
"Waaaaah, perut nya sudah enggak sabar kalau lihat yang beginian". Mata Ryo berbinar - binar melihat makanan itu dan secepat nya ia mengambil piring nya. Ryo melirik Briana menyantap makanan yang berbeda, bukan makanan yang ia bawa.
" Lho, kok loe enggak makan makanan yang gue bawa Bri? Kok loe malah makan salad? Loe enggak suka ya? Apa karena bukan dari restoran mewah ya?".
Briana berhenti menyuap.
"Gue alergi sama seafood".
Ryo melirik ke semua makanan yang ia bawa, semua makanan itu beraneka ragam jenis seafood. Sempat ia memejamkan mata nya sejenak.
__ADS_1
" Ya ampun, kenapa loe enggak bilang kalau loe alergi seafood? Kalau tahu gitu gue enggak bakalan minta bunda masakin makanan ini". Ryo merasa kecewa sehingga nafsu makan nya hilang.
"Emang gue pernah minta sama loe?". Briana memutar bola mata nya.
" Paling enggak nya loe cerita kek ke gue, apa yang loe suka dan yang enggak loe suka. Jadi kan enggak jadi kayak gini, gue nya jadi enggak enak sama loe". Ryo tertunduk.
"Biasa saja, enggak usah lebay. Sudah! Loe makan itu makanan nya, kasihan dianggurin kayak gitu, masih banyak orang kelaparan di luar sana". Walau terlihat seperti acuh namun jiwa peduli sesama manusia yang di miliki Briana masih melekat di dirinya.
Ryo menjadi tidak nafsu makan.
" Sudah hilang selera gue hiks hiks hiks".Ia meringis sembari menyuapi makanan yang ia bawa dengan tidak bersemangat.
Sedang kan Briana terlihat santai menyantap salad nya.
.
.
Usai mereka makan siang, mereka berpindah tempat ke halaman belakang rumah Briana yang luas nya seperti lapangan bola. Mata Ryo takjub melihat tempat itu, namun terlihat ada yang kosong.
"Halaman seluas dan secantik kayak gini kok gue ngerasa masih ada yang kurang ya? Padahal sudah ada kolam renang, tanaman dan yang lain nya sama seperti halaman yang ada di rumah gue, yaaa cuma enggak seluas ini sih he he he. Tapi rasa gue kurang nikmat untuk di lihat".
Briana menyunggingkan senyuman nya sembari memandangi halaman nya.
"Kurang hidup". Jawab nya.
Ryo menoleh ke samping kanan nya, ia melihat raut wajah Briana.
" Kurang hidup?".
"Hmpt... Dulu sebelum gue pindah ke rumah ini, gue suka banget sama halaman belakang nya dan ini lah alasan kenapa gue minta almarhum bokap gue beli rumah ini. Dari dulu sampai sekarang semua tatanan nya sama, enggak ada yang berubah sama sekali, hanya saja sekarang terlihat berbeda, itu terlihat seperti orang yang kesepian. Indah di pandang, namun tidak membuat bahagia". Tutur nya.
Sedangkan Ryo hanya mendengar nya dengan seksama sembari menatap raut wajah Briana yang terlihat sama seperti halaman itu, indah di pandang namun tidak bahagia.
Perlahan Ryo memberanikan diri untuk memegang tangan Briana. Sontak membuat nya terkejut.
"Bri... Gue janji sama loe, gue akan membuat loe enggak kesepian lagi, gue akan menjaga loe dan akan selalu ada buat loe". Dia menyatakan nya dengan terang - terangan.
Briana nya sendiri terpaku dengan ucapan Ryo yang membuat jantung nya tiba - tiba berdegup kencang. Briana menarik tangan nya dari genggaman Ryo.
" Gue mau ke toilet". Briana pun pergi meninggalkan Ryo.
"Gue janji akan ngebahagiain loe Bri, meski gue enggak akan pernah memiliki loe". Batin berkata.
Beberapa menit kemudian Briana keluar dari toilet dan kembali menghampiri Ryo, namun Briana tidak melihat Ryo duduk di tempat itu. Briana mencari Ryo ke seluruh ruangan, hingga ia pun keluar dari rumah nya untuk memastikan apakah Ryo sudah pulang. Briana melihat mobil Ryo masih terparkir rapi di bagasi.
Briana mengingat kemunculan Ryo yang mencurigakan.
Ryo/ " Tadi pas gue kemari tuh pintu gerbang sudah kebuka maka nya gue bisa langsung masuk ke sini. Lagian teledor banget sih, sudah buka pintu gerbang tapi lupa nutup nya kembali, untung gue yang masuk, kalau orang lain gimana? Bisa - bisa loe dalam bahaya".
Ia yakin pasti ada yang enggak beres, di tambah lagi Briana sempat melirik nya sedang memperhatikan sekitar rumah nya.
Ia bergegas cepat kembali masuk ke dalam menuju ke kamar nya, perlahan - lahan Briana membuka pintu kamar nya, ia sedikit mengintip ke dalam dan benar dugaan nya.
__ADS_1
#Gedebuk....
Briana memukul kepala Ryo dari belakang dengan menggunakan pukulan baseball. Pukulan nya cukup keras sehingga membuat Ryo jatuh pingsan ke lantai.