PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 34


__ADS_3

#Ting Nong...


Terdengar bunyi bel, seseorang telah memencet bunyi bel di kediaman Briana. Ia yang mendengar nya mengerutkan dahi nya lalu berjalan menuju pintu utama.


"BUKA". Ucap nya dan pintu pun terbuka atas izin nya. Briana mengusap wajah nya ketika ia melihat sosok yang bertamu ke rumah nya di siang bolong.


" Elo mau ngapain lagi ke sini? Lagian loe kok bisa langsung masuk ke sini?". Briana melirik ke pintu gerbang nya yang sudah terbuka.


"Hmm... Tadi pas gue kemari tuh pintu gerbang sudah kebuka maka nya gue bisa langsung masuk ke sini. Lagian teledor banget sih, sudah buka pintu gerbang tapi lupa nutup nya kembali, untung gue yang masuk, kalau orang lain gimana? Bisa - bisa loe dalam bahaya". Jelas nya sambil mengomelin Briana, namun sedikit gelagapan.


Briana mengingat apakah ia ada membuka pintu pagar dan lupa menutup nya kembali.


"Tapi gue kan enggak ada keluar kamar apa lagi keluar rumah, terus gue enggak mungkin lupa menutup pintu nya kalau gue keluar atau masuk ke rumah, kenapa pintu nya kebuka?". Ia berpikir dalam hati nya sembari melirik Ryo.


" Oh ya Bri, ini". Ryo menyodorkan sebuah bungkusan makanan siap saji kepada Briana.


"Gue bawa makanan untuk makan siang kita berdua, emang gue beli nya bukan di restoran bintang lima, tapi gue jamin makanan nya enak dan pas di lidah loe he he he".


Briana menyambut nya, ia melirik bungkusan tersebut lalu masuk ke dalam rumah.


" Gimana keadaan loe sekarang?". Ryo mengikuti Briana dari belakang namun mata nya begitu liar melihat seluruh rumah Briana.


"Gue sudah baikan". Jawab nya.


Ryo/ " Alhamdulillah, bagus lah kalau gitu".


Briana menyuruh Ryo untuk duduk di pantry, sedang kan ia segera menyiapkan makanan yang sudah Ryo bawa. Briana menyusun satu per satu piring yang sudah terisi makanan siap saji tersebut dan menyodorkan nya pada Ryo.


"Waaaaah, perut nya sudah enggak sabar kalau lihat yang beginian". Mata Ryo berbinar - binar melihat makanan itu dan secepat nya ia mengambil piring nya. Ryo melirik Briana menyantap makanan yang berbeda, bukan makanan yang ia bawa.

__ADS_1


" Lho, kok loe enggak makan makanan yang gue bawa Bri? Kok loe malah makan salad? Loe enggak suka ya? Apa karena bukan dari restoran mewah ya?".


Briana berhenti menyuap.


"Gue alergi sama seafood".


Ryo melirik ke semua makanan yang ia bawa, semua makanan itu beraneka ragam jenis seafood. Sempat ia memejamkan mata nya sejenak.


" Ya ampun, kenapa loe enggak bilang kalau loe alergi seafood? Kalau tahu gitu gue enggak bakalan beli ini makanan". Ryo merasa kecewa sehingga nafsu makan nya hilang.


"Emang gue pernah minta sama loe?". Briana memutar bola mata nya.


" Paling enggak nya loe cerita kek ke gue, apa yang loe suka dan yang enggak loe suka. Jadi kan enggak jadi kayak gini, gue nya jadi enggak enak sama loe". Ryo tertunduk.


"Biasa saja, enggak usah lebay. Sudah, loe makan itu makanan nya, kasihan di anggurin kayak gitu, masih banyak orang kelaparan di luar sana".


Ryo menjadi tidak nafsu makan.


Sedang kan Briana terlihat santai menyantap salad nya.


.


.


Usai mereka makan siang, mereka berpindah tempat ke halaman belakang rumah Briana yang luas nya seperti lapangan bola. Mata Ryo takjub melihat tempat itu, namun terlihat ada yang kosong.


"Halaman seluas dan secantik kayak gini kok gue ngerasa masih ada yang kurang ya? Padahal sudah kolam renang, tanaman dan yang lain nya sama seperti halaman yang ada di rumah gue, yaaa cuma enggak seluas ini sih he he he ".


Briana menyunggingkan senyuman nya sembari memandangi halaman nya.

__ADS_1


"Kurang hidup". Jawab nya.


Ryo menoleh ke samping kanan nya, ia melihat raut wajah Briana.


" Kurang hidup?".


"Hmpt... Dulu sebelum gue pindah ke rumah ini, gue suka banget sama halaman belakang nya dan ini lah alasan kenapa gue minta almarhum bokap gue beli rumah ini. Dari dulu sampai sekarang semua tatanan nya sama, enggak ada yang berubah sama sekali, hanya saja sekarang terlihat berbeda, itu terlihat seperti orang yang kesepian. Indah di pandang, namun tidak membuat bahagia". Tutur nya.


Sedangkan Ryo hanya mendengar nya dengan seksama sembari menatap raut wajah Briana yang terlihat sama seperti halaman itu, indah di pandang namun tidak bahagia. Perlahan Ryo memberanikan diri untuk memegang tangan Briana. Sontak membuat nya terkejut.


"Bri... Gue janji sama loe, gue akan membuat loe enggak kesepian lagi dan gue akan menjaga loe". Dia menyatakan nya dengan terang - terangan.


Briana nya sendiri terpaku dengan ucapan Ryo yang membuat jantung nya tiba - tiba bedegub kencang. Briana menarik tangan nya dari genggaman Ryo.


" Gue mau ke toilet". Briana pun pergi meninggalkan Ryo.


"Gue janji akan ngebahagiainn loe Bri, meski gue enggak akan pernah memiliki loe". Batin berkata.


Beberapa menit kemudian Briana keluar dari toilet dan kembali menghampiri Ryo, namun Briana tidak melihat Ryo duduk di tempat itu. Briana mencari Ryo ke seluruh ruangan, hingga ia pun keluar dari rumah nya untuk memastikan apakah Ryo sudah pulang. Briana melihat mobil Ryo masih terparkir rapi di bagasi.


Briana mengingat kemunculan Ryo yang mencurigakan.


Ryo/ " Tadi pas gue kemari tuh pintu gerbang sudah kebuka maka nya gue bisa langsung masuk ke sini. Lagian teledor banget sih, sudah buka pintu gerbang tapi lupa nutup nya kembali, untung gue yang masuk, kalau orang lain gimana? Bisa - bisa loe dalam bahaya".


Ia yakin pasti ada yang enggak beres, di tambah lagi Briana sempat melirik nya sedang memperhatikan sekitar rumah nya.


Ia bergegas cepat kembali masuk ke dalam menuju ke kamar nya, perlahan - lahan Briana membuka pintu kamar nya, ia sedikit mengintip ke dalam dan benar dugaan nya.


#Gedebuk....

__ADS_1


Briana memukul kepala Ryo dari belakang dengan menggunakan pukulan baseball. Pukulan nya cukup keras sehingga membuat Ryo jatuh pingsan ke lantai.


__ADS_2