PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 14


__ADS_3

"Brianaaaaaa". Ryo berlari menghampiri nya lalu menggendong nya menuju ke parkiran mobil. Secepat kilat Ryo melarikan Briana keluar dari gedung sekolah tak lupa ia berpamitan dengan pak satpam yang tengah berjaga di pos nya.


" Bri... Sebenar nya apa yang terjadi sama loe?". Meski Ryo merasa panik namun ia tetap fokus pada jalanan dan sesekali melirik ke arah Briana yang tak sadarkan diri.


Ryo mencari klinik 24 jam yang ada di sekitar namun tak satu pun ia menemukan nya, semua nya sudah tutup mengingat pada hari itu tepat tanggal merah libur. Ryo menghentikan mobil nya ke pinggir jalan.


"Kenapa di saat kayak gini enggak ada satu pun yang buka klinik nya. Kalau di bawa ke rumah sakit enggak mungkin, gue saja takut menginjak rumah sakit. Mau gue antar pulang, gue enggak tahu dimana rumah nya, mau gue bawa ke hotel, apa kata orang, yang ada gue menjatuhkan harga diri gue dan Briana. Haaaaa.....". Ryo mengusap wajah nya, ia bingung mau di bawa kemana Briana dengan kondisi nya seperti itu.


Ryo menghidupkan mesin mobil nya, ia sudah memutuskan untuk membawa Briana ke rumah nya meski ia merasa takut dan ragu.


Setiba nya di rumah, ia melihat rumah nya begitu sepi berhubung waktu sudah larut. Ia menggendong Briana masuk ke dalam rumah dengan mengendap - ngendap seperti maling. Ia melihat tiada tanda - tanda kehidupan di dalam rumah nya, alias sunyi.


Ryo melangkahkan kaki nya pada anak tangga yang terhubung menuju lantai dua.


"Ryo... Kamu sudah pulang?". Tiba - tiba terdengar suara wanita paruh baya yang bersumber dari ruang tv. Suara itu mengagetkan Ryo dan menghentikan langkah nya.


" I. . . Iya Bunda". Ryo berpasrah diri jika ia ketahuan diam - diam membawa seorang gadis ke dalam kamar nya.


"Kok kamu pulang?, bukan nya kamu tadi bilang kamu enggak pulang ya?". Suara itu masih bersumber dari ruangan itu tidak menghampiri nya.


Ryo/ " Ia bun, kepala Ryo mendadak sakit maka nya Ryo pulang ninggalin acara nya".


"Tuh kan apa bunda bilang, kamu itu jangan memporsir tubuh kamu, kan jadi kecapekan. Bunda ambilkan obat ya untuk kamu?".


Ryo/ " Enggak usah bun, bunda nonton tv saja, Ryo cuma butuh istirahat sudah cukup. Ya sudah bun, Ryo naik ke kamar dulu ya Bun".


"Ya sudah, kalau kamu butuh apa - apa bilang sama bunda".


Ryo/ " Iya bun, oh ya bunda juga jangan lama - lama nonton tv nya, sudah malam".


"Iya nanggung, film nya lagi seru, ya sudah kamu pergi sana istirahat".


" Iya bun". Secepat kilat Ryo melarikan Briana masuk ke dalam kamar nya lalu mengunci pintu.


"Huuuuuh. . . . Untung saja enggak ketahuan sama bunda, kalau sampai ketahuan gue bawa Briana kesini bisa di penggal kepala gue". Ryo bernafas lega berkat film favorit bunda nya, beliau tidak begitu melihat Ryo membawa Briana.


Ryo meletakkan Briana di atas tempat tidur nya. Dengan hati - hati ia membuka sepatu dan jaket yang Briana kenakan lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Briana.


Usai dia membersihkan diri nya dan mengganti pakaian, ia menarik kursi belajar nya di dekat tempat tidur nya. Ia memandangi wajah Briana yang terlihat lusuh, perlahan Ryo memberanikan diri untuk menyentuh wajah Briana, spontan ia terkejut karena ia merasa kan panas pada wajah Briana, ia memeriksa kembali suhu tubuh Briana dan benar, Briana demam. Sesegera mungkin ia keluar dari kamar nya untuk membuatkan kompres. Kali ini Ryo benar - benar aman, sang bunda sudah masuk ke dalam kamar nya dan tidak mengetahui kalau Ryo tengah panik membuat kompres untuk Briana.


Ryo kembali ke kamar nya tak lupa membawa semangkuk air dingin dan handuk kecil. Dengan hati - hati ia meletakkan kompres pada dahi Briana. Di dalam bawah alam sadar Briana, tiba - tiba ia meneteskan air mata nya. Dengan lembut Ryo menghapus air mata yang mengalir pada pipi Briana.

__ADS_1


"Mom... Dad....". Lirih nya dan air mata nya masih mengalir.


" Seperti nya begitu banyak kesedihan yang elo rasakan Bri, sampai - sampai elo menangis dalam ketidaksadaran elo seperti ini. Meski gue enggak tahu kesedihan apa yang elo rasain, gue janji gue akan membantu elo untuk menghapus kesedihan loe itu". Ryo paham benar bahwa Briana sedang menutupi kesedihan nya selama ini, ia menggenggam tangan Briana dan kembali menghapus air mata Briana yang masih mengalir di pipi nya.


.


.


Perlahan Briana membuka kedua mata nya, ia mengerutkan dahi nya ketika ia menatap ke sekeliling ruangan, meski terlihat samar tapi ia yakin bahwa ia bukan berada di dalam kamar nya. Briana merasakan bahwa tangan nya sedang di genggam oleh seseorang, sentak ia bangkit dari tidur nya dan melihat Ryo yang masih tertidur pulas sambil menggenggam tangan Briana.


Ryo pun tersadar dari tidur nya.


"Hoaaaammm. . .". Ryo merenggangkan tubuh nya yang sedikit pegal akibat tidur di kursi.


" Ehh elo sudah bangun?". Ia bertanya setelah ia melihat Briana yang sudah duduk di atas tempat tidur.


"Gimana keadaan loe, sudah mendingan?". Ryo melepaskan genggaman nya lalu menyentuh dahi Briana untuk memeriksa suhu badan nya.


"Kenapa gue bisa di sini sama elo?". Briana menepis tangan Ryo.


Ryo/ " Mmm... Tadi malam elo pingsan di taman belakang sekolah, enggak tahu entah kenapa loe bisa ada di sana padahal kan gue sudah nyuruh loe untuk tetap duduk di bangku taman depan dan enggak kemana - mana, pas gue balik, elo nya sudah ngilang terus gue cariin, elo nya sudah pingsan di taman belakang sekolah".


"Sshhh aaaah". Rintihnya sembari memegang kepala nya yang terasa sakit.


Ryo/ " Elo kenapa? Kepala loe sakit?".


"Gue enggak apa - apa. Terus kenapa gue di sini?". Briana melihat sekeliling ruangan.


Ryo/ " Gue bingung mau bawa elo kemana, mau gue bawa loe ke klinik, semua klinik pada tutup karena kemarin pas hari libur, mau gue bawa loe ke rumah sakit, gue takut masuk ke rumah sakit, mau gue bawa loe pulang, gue enggak tahu dimana alamat rumah loe, mau gue bawa loe ke hotel, enggak mungkin, itu sama saja gue menjatuhkan harga diri gue dan harga diri loe. Maka nya gue mutusin bawa elo ke rumah gue, itu pun tanpa sepengetahuan nyokap gue he he he".


Briana/ "Itu bukan nya sama saja ya, apa beda nya elo bawa gue ke hotel sama elo bawa gue ke rumah loe? Bukan nya itu menjatuhkan harga diri gue. Gimana kalau ketahuan sama nyokap loe kalau elo diam - diam bawa seorang gadis ke rumah nya ke dalam kamar nya malah, bukan nya itu merusak kehormatan gue juga?".


Ryo tertawa getir sambil menggaruk kepala nya.


"He he he, abis nya gue bingung, gue sudah kalang kabut karena khawatir sama loe, di tambah lagi tadi malam loe demam tinggi, apa enggak makin panik gue nya".


Briana menarik nafas nya menatap wajah polos Ryo.


#Tok tok tok...


" Ryo. . . .". Tiba - tiba sang bunda mengetuk pintu kamar nya.

__ADS_1


"Ma*p*s nyokap gue". Ryo jadi panik sedang kan Briana hanya diam santai.


"Iya Bun. . .".


Bunda/ "Kamu sudah sholat subuh tadi nak?".


Ryo menepuk jidat nya dan melihat jam sudah pukul 07 pagi, ia ingat bahwa ia kesiangan dan telat untuk sholat subuh.


" Belum bun, Ryo kesiangan, ini mau sholat".


Bunda/ "Ya sudah di segera kan cepat, entar kalau sudah siap, kamu turun ke bawah, bunda sudah siapin sarapan untuk kamu. Bunda mau keluar karena tiba - tiba ada urusan bentar di kantor, mungkin bunda bakal malam pulang nya"


"Iya bun...". Teriak nya.


Bunda/ " Kalau kamu mau keluar, kamu telpon atau sms bunda ya, terus kalau kamu mau makan kamu pesan saja di luar, jangan lupa kamu sholat nya".


Ryo/ "Iya bun, ya sudah bunda hati - hati di jalan, kapan Ryo mau sholat nya kalau bunda masih ngajakin Ryo ngomong?".


Bunda/ " Hmm iya sudah, bunda pergi ya nak".


Ryo/ "Iya bun hati - hati"


"Fuuhhht". Ryo menghela nafas nya lalu berlari menuju kamar mandi. Sedang kan Briana hanya melihat diri nya yang kepanikan.


Tak lama Ryo keluar dari kamar mandi, ia sudah mengganti pakaian nya yang rapi serta memakai sarung dan peci di kepala nya.


" Gue sholat dulu, elo kalau mau ke kamar mandi, itu kamar mandi nya". Ryo menunjukkan posisi kamar mandi tersebut, tiada respon dari Briana, ia hanya menatap Ryo.


Mata Briana tak sedikit pun berpaling selain menatap Ryo sejak awal Ryo memulai sholat hingga selesai.


"Kenapa loe ngeliatin gue sampai segitu nya?, gue terlihat cakep ya kalau lagi kayak gini he he he". Ryo tersenyum kepedean karena ia sadar kalau Briana sejak tadi memperhatikan nya.


Briana memutarkan bola nya.


"Ck, keluar loe dari kamar, gue mau mandi". Briana berusaha untuk berdiri, ia mendorong tubuh Ryo keluar dari kamar nya lalu mengunci kamar nya.


" Lah.. Itu kan kamar gue, kenapa jadi dia yang ngusir gue keluar dari kamar gue sendiri??". Ryo menggelengkan kepala nya.


"Bri.... Kalau elo butuh pakaian ganti, elo pakai saja baju gue, elo pilih saja di dalam lemari yang mana menurut loe cocok, terus kalau elo sudah siap, elo langsung saja turun biar kita sarapan". Teriak nya.


Briana hanya mendengarkan nya. Ia kembali melihat sekeliling kamar Ryo yang terdapat banyak nya buku - buku pelajaran dan beberapa foto nya. Briana membuka lemari pakaian Ryo, ia melihat pakaian - pakaian itu tersusun rapi dan bersih. Tanpa memilih Briana mengambil sebuah t shirt putih milik Ryo lalu membawa nya ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2