PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 2


__ADS_3

Flash back . . .


“Briana Caroline MC, selamat ya kamu dapat pemeran sebagai putri salju di acara wisuda Taman Kanak – kanak kita”. Seorang guru yang mengajar kan Briana di kelas Taman Kanak – kanak nya memberitahu kan pada Briana yang berusia 5 tahun.


“Benarkah Miss?, Briana nanti jadi putri salju?”. Briana menatap guru nya.


“Iya Briana sayang, kamu nanti yang bakal jadi pemeran putri salju nya, nanti kamu akan memakai gaun – gaun yang cantik kayak princess”.


“Yeaaaaaaaay asyik . . . Briana nanti jadi putri salju yeaaaaaa”.


.


.


Singkat cerita, di acara wisuda tanam kanak – kanak, tepat nya di acara drama. Briana sudah siap dengan kostum putri salju. Ia begitu cantik nan menggemaskan memakai gaun tersebut, siapa pun yang melihat nya pasti selalu memuji diri nya, apa lagi dengan wajah nya yang begitu khas berdarah Jerman.


Briana kecil sangat bahagia dan bersungguh – sungguh di saat memekan peran nya sebagai putri salju.


Musibah tak dapat bisa di tolak. Di saat Briana dan para pemain lain nya sedang menari – nari dengan riang di penghujung acara, tanpa sengaja panggung drama rubuh karena kesalahan dari para panita.


Semua anak – anak yang berada di panggung teriak sambil menangis sekencang mungkin dan berlari keluar gedung, tapi tidak dengan Briana, dia jatuh dan terbaring tak sadar kan diri karena terhimpit papan panggung tersebut.


“Brianaaaaaaa”. Seorang wanita muda yang berwajah indo teriak histeris memanggil Briana di saat beliau melihat sosok anak nya sudah tak berdaya. Ia adalah Mami dari Briana yakni Mona Laura, beliau juga sama seperti Briana peranakan indo dan beliau menikahi Bryan MC lelaki keturunan Jerman asli, yakni Daddy dari Briana.


Briana langsung di lari kan ke rumah sakit terbesar di Ibu Kota. Dan Briana pun mengalami lumpuh pada kaki nya sehingga Ia harus memakai kursi roda.


“Briana enggak mau pakai kursi roda hu. . . hu . . . hu. . .”. Briana merasa marah dan sedih.


Mona/ “Briana sayang, kalau kamu enggak pakai kursi roda, nanti kamu enggak bisa sekolah, apa lagi main – main sama teman kamu”. Bujuk nya.


“No, I wont Mom”. Teriak nya dan memalingkan pandangan nya ke arah jendela kamar.


“Hey . . . Sweety, You can’t be like that, you need be in this wheelchair. You want to stay home all day without having to do anything?”. Kali ini Pak Bryan alias Daddy nya Briana membujuk diri nya.

__ADS_1


“But I’m ashamed to be like this Dad. Then no one will want to be friends with me anymore”. Briana terisak.


Bryan/ “No honey, your friends must still want to be your friends”. Beliau menyeka air mata yang membanjiri pipi lembut Briana.


Setelah lama di bujuk oleh kedua orang tua nya, akhir nya Briana menuruti mereka untuk memakai kursi roda kemana pun dia beraktivitas.


Kini Briana sudah di boleh kan untuk kembali ke sekolah nya, dan kebetulan itu adalah hari terakhir dia berada di taman kanak – kanak. Dengan semangat Briana memasuki ruang kelas nya memakai kursi roda nya. Semua mata tertuju pada nya.


“Hai . . . Lusi, kamu sudah datang ternyata . . .”. tegur nya pada teman sebangku nya. Bukan nya menjawab pertanyaan Briana namun dia pergi mengabaikan Briana.


“Lusi . . . Kamu mau kemana?”. Briana menarik tangan Lusi menahan nya pergi.


“Kamu enggak usah berteman lagi sama aku, karena kamu sekarang sudah cacat, aku sudah enggak mau lagi berteman sama kamu. Kamu itu anak cacat". Lusi menepis tangan Briana dan pergi meninggal kan Briana di dalam kelas sendiri. Briana menangis sedih karena apa yang dia takut kan terjadi juga.


“Briana, kamu kenapa menangis sayang?”. Bu Mona yang baru masuk ke dalam kelas Briana langsung menghampiri anak nya yang sedang menangis dan menyeka air mata di pipi nya. Briana menepis tangan Mami nya. Sentak membuat ia terkejut.


“Kamu kenapa sayang?”.


“Briana kan sudah bilang, Briana sudah enggak mau masuk ke sekolah lagi karena sudah enggak ada lagi yang mau berteman dengan Briana, dan Briana juga enggak mau makai kursi roda seperti ini, Briana mau bisa jalan lagi, Briana mau seperti dulu hu hu hu”. Briana menangis sambil bernada tinggi.


Flash On...


“Hai . . .”. Ryo menyapa Briana setelah mereka sama – sama memarkir kan mobil nya. Briana melirik nya dan bersikap acuh pada nya.


“Kamu sudah sarapan belum?, kita sarapan bareng yuk ke kantin sebelum bel bunyi”. Ryo tersenyum lebar sembari mengikuti Briana berjalan. Briana menghentikan langkah kaki nya dan berbalik badan menghadap ke arah Ryo dengan tampang kesal nya.


“Gue sudah bilang sama loe, kalau gue enggak mau jadi peran yang loe pinta. Jadi, loe enggak usah sok baik sama gue, ngerti?, dan lagi loe jangan ngikuti gue”. Tegas nya dengan sinis dan pergi. Briana berhasil membuat Ryo kikuk menggaruk kepala.


Tiba – tiba teman Ryo yang bernama Dimas mengagetkan nya, ia menepuk punggung Ryo.


“Bro . . . Bro . . . Ha ha ha. Cewek aneh kayak gitu loe kejar – kejar, kayak enggak ada cewek lain saja ha ha ha. Gue akui memang sih dia cantik, bahkan dia yang paling cantik di sekolahan, tapi kalau aneh gitu mah siapa yang mau, di tambah lagi dia orang nya sombong nya minta ampun hmm …”. Ujar nya sembari melihat sosok Briana yang sudah di gedung lantai 2.


“Bising banget sih loe, itu hak gue mau ngejar - ngejar siapa saja, enggak ada urusan nya sama loe. Loe urus saja urusan loe sendiri”. Ryo menepis rangkulan tangan Dimas.

__ADS_1


Dimas/ “Hemm ya ya ya oke, tapi sih, loe kan aneh juga orang nya, jadi kalau di pikir - pikir loe cocok juga sama yang cewek aneh kayak dia ha ha ha”.


“Si***n loe . . .”. Ryo memiting leher kawan nya itu. Dimas pun merintih kesakitan.


.


.


Di dalam kelas, Briana, Raysa dan Anya sibuk dengan ponsel mereka masing - masing. Tidak dengan Briana, ia lebih memilih membaca buku ketimbang bermain dengan ponsel nya.


Anya/ “Bri . . . entar pulang sekolah temani gue donk ke Caffe Anak Muda, soal nya gue mau ngopi darat nih sama kenalan gue di facebook hi hi hi”.


“Gue enggak bisa, minta temenin saja sama si Ray”. Mata Briana masih fokus pada buku nya.


“Gue juga enggak bisa, soal nya gue banyak kerjaan di bengkel, loe berdua kan tahu kalau gue lagi di hukum sama Bokap gue gara - gara gue ngelariin motor bokap gue he he he”. Sedang kan Ray sibuk dengan game nya


“Tuh kan Bri, si Ray enggak bisa, jadi please lah Bri temani gue sebentar saja”. Anya mengambil buku Briana.


Briana/ “Ck, Ya Sudah, tapi gue enggak bisa lama – lama soal nya Mami gue hari ini pulang, gue mesti di rumah sebelum jam tiga”.


Anya/ “Yeay . . . Oke, makasih Briana ku sayang. Iya tenang saja loe, enggak bakalan lama kok paling enggak nya loe nemenin gue pas ketemu di awal saja, biar gue enggak kikuk banget he he he, abis itu kalau loe mau pulang enggak apa – apa deh”.


“Hemm, sini balikin buku gue”. Briana merampas buku nya kembali dari tangan Anya.


“Loe kok tumben enggak kemana – mana?, biasa nya kalau Mami loe pulang, loe selalu ke bengkel gue dan enggak mau di rumah bahkan loe enggak pulang ke rumah”. Raysa menghentikan game nya, ia melirik Briana penuh curiga.


Briana/ “Enggak ada apa – apa, gue cuma pengen di rumah saja”.


“Hmmpt . . . loe enggak lagi ada masalah kan Bri?”. Raysa memegang pundak Briana.


Briana menepis tangan Raysa.


"Apaan sih loe? Gue enggak ada masalah apa pun".

__ADS_1


Raysa masih penasaran pada Briana, terlebih lagi ia sangat penasaran tentang kehidupan Briana. Meski mereka sudah berteman selama setahun akan tetapi ke dua teman Briana itu tak pernah mengetahui kehidupan Briana yang sebenar nya seperti apa. Bahkan mereka berdua tidak mengetahui rumah Briana dimana. Yang mereka tahu hanya lah berteman dengan nya.


__ADS_2