
Flash on...
Ryo memarkirkan mobil Briana tepat di depan pintu gerbang rumah yang sangat mewah. Mata Ryo tak lepas memandangi rumah yang memiliki 3 lantai serta halaman dan garasi mobil yang luas.
" BUKA".
Ryo semakin tercengang mendengar serta melihat Briana sedang membuka pintu rumah nya dengan hanya mengucapkan kata BUKA. Ryo benar - benar tidak pernah melihat rumah semewah itu, biasa nya ia hanya melihat smartphone smartwatch dan smart television. Dan kali ini dia melihat ada nya smarthome.
"Mewah banget rumah nya. Pantesan saja dia enggak pernah mau ngasi tahu alamat rumah nya. Ternyata ini alasan nya. Wajar juga sih dia bersikap dingin kayak gitu, wong dia orang nya tajir mamp** kayak gini, sudah jelas lah dia bakalan jadi alat". Ryo berkata - kata di dalam hati nya dan masih melihat sekeliling rumah, ia sempat melihat banyak nya perabotan rumah yang begitu mewah serta hiasan - hiasan bertema klasik di setiap sudut ruangan.
"Loe duduk saja di situ, gue mau buati minum. Elo mau minum apa?". Briana menunjuk kan ke arah sofa di ruangan keluarga.
Ryo/ " Hmm terserah loe saja".
Briana meninggalkan Ryo sendiri. Sedang kan Ryo masih belum puas melihat rumah itu. Walau pun Ryo anak orang kaya juga tetapi tidak sebanding dengan Briana. Mungkin bagi Briana, Ryo masih berada di kalangan menengah.
Meski merasa takjub namun Ryo merasa aneh, ia sama sekali tidak melihat siapa pun yang ada di rumah sebesar itu.
Briana kembali menghampiri Ryo dengan membawa segelas air syirup berwarna kuning.
"Rumah loe kok sepi banget? Keluarga loe kemana?".
Wajah Briana terlihat berubah datar.
" Enggak ada". Singkat nya.
"Maksud loe enggak ada?". Memiring kan kepala nya melihat wajah Briana.
Briana melirik nya.
" Mereka di Jerman".
Ryo/ "Ouh, jadi elo di rumah ini tinggal sama siapa?".
__ADS_1
Briana/ " Gue sendirian di sini, keluarga gue semua nya di Jerman".
Ryo/ "Ahh seriusan elo? Rumah sebesar ini cuma ada elo doank? Elo enggak takut apa sendirian di sini?".
Briana/ " Gue sudah terbiasa. Lagian elo kepo banget. Kenapa?".
Ryo/ "Ya kan gue pengen tahu saja. Lagian kan gue juga baru pertama kali ke rumah loe, loe pasti sering bawa teman - teman loe ke sini, ya kan?".
Briana/" Enggak pernah. Baru elo orang pertama yang nginjak kaki nya di rumah gue".
Ryo/ "Ahh yang benar saja. Enggak mungkin lah gue orang pertama. Masa si Anya atau si Raysha enggak pernah ke rumah loe, sudah jelas kalian berteman lama. Ha ha ha enggak mungkin".
" Brianaaaaa". Tiba - tiba terdengar suara wanita memanggil nya. Mereka menoleh ke arah sumber suara, Ryo sempat milirik Briana.
Ekspresi Briana berubah datar ketika ia melihat Mommy nya alias Bu Mona lah orang yang baru memanggil nya. Bu Mona terkejut melihat Briana membawa seorang cowok ke dalam rumah.
"Ehh.. Ada tamu ternyata". Bu Mona menghampiri mereka dan tersenyum ramah.
Ryo pun menyalami Bu Mona.
Ryo merasa canggung.
"Eh bukan tante, saya Ryo teman nya Briana".
Bu Mona/ " Teman apa teman he he he. Saya Mommy nya Briana". Ia menyikut lengan Ryo. Sedang kan Briana melirik nya.
"Mau ngapain datang ke sini?". Briana memang orang yang tanpa basa - basi.
Wajah Bu Mona berubah getir, Ryo sendiri pun terkejut Briana bersikap dingin seperti itu kepada ibu nya.
" Mommy ke sini karena kangen sama kamu sayang". Bu Mona ingin memeluk Briana, namun ia menjauh kan badan nya dan menepis tangan Bu Mona.
Bu Mona melirik Ryo karena merasa tidak enak.
__ADS_1
"Kami permisi dulu ya nak Ryo".
" Iya tante".
Bu Mona menarik tangan Briana dengan paksa. Beliau membawa nya ke ruangan sebelah.
Bu Mona/ "Kamu kenapa sih enggak mau menjaga sikap kamu di depan Ryo, Mommy kan jadi malu. Memang kamu membenci Mommy tapi tolong paling enggak nya kamu berpura - pura di depan orang lain. Buat orang lain tidak mengetahui tentang yang sebenar nya".
Sontak membuat mata Briana panas dan memerah, ia meliriik ibu nya dengan penuh benci.
" Pura - pura? Hah... Bukan nya selama ini sudah cukup aku untuk berpura - pura". Nada suara Briana meninggi sehingga terdengar oleh Ryo.
"Kamu jangan keras - keras ngomong nya, nanti kedengaran sama Ryo". Bu Mona memegang lengan Briana, dan di tepis oleh nya.
" Biarin saja dia tahu, biarin saja semua orang tahu. Aku sudah tidak peduli soal itu. Aku sudah capek harus berpura - pura terus dan sekarang anda nyuruh aku berpura - pura? Aku sudah capek berpura - pura jadi anak yang kuat, tangguh dan pemberani, aku capek berpura - pura untuk tidak merasa kesepian, aku capek berpura - pura menjadi hidup, aku capek". Tangisan Briana pecah serta isi hati nya terluapkan meski tidak semua nya. Briana merosot ke lantai.
Bu Mona pun menitih air mata nya.
"Maafin Mommy sayang, Mommy ngelakuin ini semua untuk kita, Mommy enggak mau kamu terluka sayang". Ia berusaha untuk memeluk tubuh Briana.
Briana mendorong tubuh Bu Mana sehingga beliau terdorong satu meter dari Briana.
"Pergiiiii....". Jerit nya.
Bu Mona menangis tersedu dan ingin mendekati Briana.
" Pergiiiiiiiiii.... Pergiiiiiiiiiiii". Teriakan Briana semakin histeris mengusir Bu Mona. Dengan sangat terpaksa Bu Mona pergi meninggal kan nya dan tanpa berbasa - basi kepada Ryo.
Ryo yang menjadi saksi pertengkaran itu membuat nya terasa tidak nyaman dan bingung harus ngapain. Ryo mendengar isak tangis Briana yang begitu lirih. Ia memutus kan untuk menghampiri Briana. Ryo melihat Briana menutupi diri nya di sudut ruangan.
"Bri...". Ryo memberanikan diri nya untuk menyentuh Briana. Spontan Briana menjauh kan diri nya. Ia terlihat begitu ketakutan. Ryo melihat ekspresi wajah Briana seperti ia tidak mengenali Ryo.
'Bri... Elo enggak apa - apa?". Ryo menyentuh nya.
__ADS_1
Briana menepis tangan nya, Ryo melihat tubuh Briana bergetar terlebih lagi tangan nya. Briana seperti orang depresi. Ryo berlutut di hadapan nya, dengan perlahan ia mendekati Briana, ia membelai rambut nya dengan lembut agar Briana tenang. Pelan - pelan Briana merasa lebih tenang dan luluh ke dalam dekapan Ryo.
"Gue tahu, ini pasti berat banget buat loe Bri". Lirih nya dalam hati sembari mengusap kepala Briana.