PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 10


__ADS_3

Flash Back . . .


Di tengah hiruk pikuk siswa - siswi yang sedang melakukan aktifitas mereka masing- masing di saat jam istrihat, ada yang sedang bermain bola basket di lapangan, ada yang berada di kantin, ada yang tengah asyik berbincang ria satu sama lain.


Briana yang sedang asyik duduk sendiri di bawah pohon sembari membaca buku nya. Ia sama sekali tidak menghirau kan orang - orang yang berada di sekitar nya, inti nya, dia hidup hanya di dunia nya sendiri.


Sungguh Briana itu sosok yang selalu membuat orang lain penasaran, bahkan mungkin mereka bisa mati penasaran karena diri nya.


"Elo yakin mau ngedekati dia?, elo kan tahu dia itu cewek aneh". Raysa ragu dengan keputusan Anya yang sudah lama berkeinginan mendekati Briana.


Anya/ "Ya yakin lah, kalau gue enggak yakin, enggak mungkin gue narik loe sampai ke sini, lagian kalau enggak kita coba, kita enggak akan tahu gimana hasil nya". Anya menarik tangan Raysa.


Raysa/ "Kalau dia enggak suka, terus dia marah sama kita gimana?".


Anya/ "Ya elah Ray, gaya elo saja yang kayak laki tapi mental loe mental tempe tau enggak, masa gitu saja takut".


Raysa/ "Bukan nya gue takut, gue cuma enggak mau saja gara - gara ini malah ngejatohi harga diri gue".


Anya/ "Sudah, elo tenang saja, gue jamin enggak bakal ngejatohi harga diri loe dan kita bakalan berhasil menjadi orang pertama yang bisa ngedekati dia".


Mereka tergesa - gesa berjalan mendekati pohon itu.


"Hai". Anya menjadi kikuk menyapa Briana.


Briana pun menoleh ke sisi kiri nya, ia melihat dua siswi itu alias Anya dan Raysa. Raysa menyingkut tangan Anya sembari tersenyum getir melihat tatapan Briana yang datar.


"Hai Briana. Kita berdua boleh gabung enggak di sini?". Anya bersikap ramah.


"Silah kan". Briana menggeser kan tubuh nya ke sisi kanan agar Anya dan Raysa bisa berteduh di bawah pohon itu juga lalu ia melanjut kan membaca buku nya.


"Makasi banyak ya". Anya dan Raysa duduk di samping Briana.


Suasa hening sejenak, Raysa kembali menyingkut Anya sembari melirik Briana yang fokus dan cuek.


"Loe mau ini enggak Bri?". Anya menyodor kan beberapa cemilan pada Briana.


Briana melirik. "No, thanks".


Anya/ "Oh ya, selamat ya buat prestasi elo sudah menjadi siswa pintar nomor satu sejakarta, enggak nyangka kalau elo itu anak nya jenius, malah mengharum kan nama sekolah kita lagi terutama di kelas kita, we are proud of you, ya kan Ray?".


"I . . . Iya, selamat ya". Sambung nya sembari tersenyum.


Briana menyungging kan senyuman nya. "Thanks".


Sedang kan Anya dan Raysa tersenyum getir menghadapi Briana yang super duper datar.


Tak banyak bicara, sebab yang banyak mengoceh hanya Anya seorang. Briana pergi meninggal kan mereka sebab ia tidak fokus membaca karena ocehan Anya. Setelah di tinggal pergi oleh Briana, Anya dan Raysa geleng kepala sembari menatap kepergian nya.


Anya/ "Itu orang terbuat dari apa ya, kok datar amat".

__ADS_1


Raysa/ "Mana gue tahu, lagian elo sih kurang kerjaan saja pakek ngedekati dia, sudah tahu dia orang nya agak aneh, ya kayak gitu lah jadi nya kita ngadepin nya".


Anya/ "Hmm . . . Tapi biar lah, yang penting kita berhasil kan ngedekati dia he he he. Yok kita ke tempat anak - anak yang lain, mereka pasti nunggu' in kita".


Raysa/ "Hmm . . .".


Kedua nya bergegas ke bascamp siswa pentolan di sekolah, yakni di bagian ruangan anggota mading.


#Prook . . . Prook . . . Prok . . .


Terdengar riuh nya tepuk tangan ketika Anya dan Raysa masuk ke ruangan tersebut. Mereka di sambut dengan takjub.


"Selamat selamat selamat untuk kalian berdua, karena kalian sudah berhasil ngedekati si Miss aneh Briana dan dia welcome sama kalian berdua, kita - kita salut sama kalian berdua ha ha ha". Salah satu anggota mading bernama Chiko, ia mengucap kan selamat pada mereka.


"Iya benar, kalian hebat bisa duduk bareng dengan nya selama jam istirahat". Yang lain nya menimpal.


Anya dan Raysa tersenyum kemenangan atas keberhasilan mereka.


Anya/ "Iya donk, kan sudah gue bilang, ngedekati dia mah kecil, bahkan gue bisa jadiin dia sahabat karib gue, ya walau pun karena terpaksa ha ha ha".


Chiko/ "Ha ha ha memang licik kalian berdua".


"Ya sudah . . . Sudah, mana ini uang hasil taruhan nya?, sini sini". Anya meminta teman nya yang sudah mengumpul kan beberapa lembar uang seratus ribuan.


Chiko/ "Nah . . . Nah . . . Next kita buat taruhan lagi, gue tantang elo berdua bisa bersahabatan dengan nya kalau bisa elo berdua manfaati dia".


Anya/ "Kalau kita berhasil, apa hadiah nya?".


Anya/ "Elo serius?, bukan nya mobil itu baru elo beli kemarin?, malah mobil keluaran terbaru lagi. Bokap gue saja kagak sanggup beli nya".


Chiko/ "Gue serius. Asal kan elo berhasil dengan semua tantangan gue".


Anya/ "Oke, berapa lama waktu nya?".


Chiko/ "Sampai akhir tahun ini, kalau elo enggak berhasil, loe berdua harus t*d*r sama gue, gimana?".


"Oke deal". Dengan semangat Anya menyetujui tantangan Chiko yang cukup extream akibat nya.


Sedang kan Raysa menelan ludah nya mendengar kan Chiko.


"Gue enggak ikutan".


Anya/ "Kenapa Ray?, elo takut kalau kalau elo gagal terus harus t*d*r sama si Chiko?".


Raysa/ "Bukan soal gue takut gagal, tapi gue enggak mau nyakitin orang lain demi keuntungan sendiri".


Chiko/ "Ck . . . Come on, ini zaman sekarang bukan zaman purba yang masih mikirin perasaan orang lain, zaman sekarang itu demi keuntungan kita bisa menghalal kan segala cara".


Raysa/ "Itu mah elo saja kali, gue kagak ikutan. Kalau kalian masih mau lanjut, jangan pernah libat kan gue".

__ADS_1


Chiko/ "Oke, berarti tantangan ini cuma untuk loe Nya, kalau loe menang mobil gue untuk elo, kalau elo gagal, elo harus siap - siap memuas kan gue Ha ha ha". Ia tersenyum licik plus genit.


Anya/ "Oke siapa takut".


Dari luar ruangan tanpa sengaja Briana melewati ruangan mading karena ia di suruh wali kelas nya ke ruang guru yang harus melewati ruangan mading, ia mendengar semua obrolan mereka termasuk mereka menjadi kan nya sebagai maianan taruhan mereka.


Briana bersikap tenang dan kembali ke kelas nya.


Anya/ "Elo kenapa sih enggak ikutan sama taruhan ini, kan lumayan besar taruhan nya, mobil BMW terbaru Fu Fu Fu. Elo takut kalau elo sampai gagal?".


Raysa/ "Kan sudah gue bilang kalau gue enggak pernah takut, cuma gue enggak mau nyakiti orang lain".


Anya/ "Alah elo enggak usah sok - sok an enggak mau nyakiti orang lain. Bukti nya sudah berapa kali elo ikutan taruhan, bukan nya itu sama saja, nyakiti orang lain demi keuntungan sendiri".


Raysa/ "Kali ini beda. Pokok nya gue enggak mau ikut campur. Ingat ya, jangan pernah sampai gue terlibat juga soal taruhan ini".


Anya/ "Iya iya, kagak, ini urusan gue sama Chiko. Tapi ya Ray, gue heran, kenapa ya si Chiko itu selalu nantangi kita - kita untuk ngedekati si Briana, padahal kan masih banyak lagi cewek - cewek di sini yang bisa di jadiin bahan taruhan".


Raysa/ "Mana gue tahu, mungkin dia suka kali sama si Briana".


Anya/ "Ahh enggak mungkin lah. Kalau cowok suka sama cewek bukan malah nyakitin atau di jadiin mainan kayak gini, tapi di dekati dengan berjuta kasih sayang dan cinta".


Raysa/ "Mana gue tahu".


Anya/ "Aah elo banyak enggak tahu nya, ya sudah yuk temeni gue ke kantin dulu". Ia menarik tangan Raysa mengarah ke sisi kiri mereka.


Raysa/ "Lah kita tuh mau masuk kelas bukan nya ke kantin, bentar lagi Bu Kribo yang masuk".


Anya/ "Sudah, bentaran saja, elo ahh makin lama makin kayak cewek loe".


Raysa/ "Lah emang gue cewek, sompret".


Anya/ "Ha ha ha iya ya, gue lupa ha ha ha".


.


Hari demi hari Anya berusaha mendekati Briana. Ia berusaha keras untuk mengakrabkan diri nya sehingga ia bisa menjadi sahabat Briana. Anya selalu mencari muka dan mencari perhatian pada Briana, tak peduli ia harus menjatuh kan harga diri nya demi tujuan nya itu.


"Huffft . . . Kenapa susah banget sih ngedekati cewek aneh itu?". Anya mengeluh di hadapan Raysa yang duduk di bangku taman sekolah.


"Apa gue bilang, mending enggak usah deh taruhan - taruhan begituan. Ini saja waktu elo sudah hampir limit, sedang kan elo belum berhasil juga ngedekati Briana. Sudah, elo bilang sana sama si Chiko, batalin saja taruhan nya". Ujar nya sembari menyeruput jus jeruk yang ia genggam.


Anya/ "Ahh mana mau gue, enak saja, gue sudah sejauh ini masa mau gue batalin gitu saja, lagian taruhan nya mobil BMW emm . . . Lagian ya mungkin si Chiko enggak bakalan mau di batalin gitu saja perjanjian nya".


Raysa/ " Terus, kalau elo gagal, emang elo mau tidur sama dia? Emang elo sudah siap menghancurkan masa depan elo gara - gara taruhan?".


Raysa membuat Anya sedikit takut.


Anya/ "Ahh gue enggak peduli, lagian kan enggak apa - apa juga kalau tidur sama Chiko, rang dia cakep terus tajir lagi, gue kan bisa menjebak dia balik untuk minta pertanggung jawaban ke dia". Otak licik Anya membuat Raysa geleng kepala dan berpikir bahwa ia salah memilih teman.

__ADS_1


" Terserah elo lah Nyai". Cibir nya, sedang kan Anya tersenyum licik.


Di balik pohon yang menjulang tinggi, tepat nya di bagian sisi kanan mereka, seperti biasa, Briana sedang duduk fokus membaca buku nya.. Tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan mereka berdua.


__ADS_2