PHOBIA (TRAUMA)

PHOBIA (TRAUMA)
BAB 12


__ADS_3

Flash On . . .


Suasana di dalam kelas begitu hening padahal ada beberapa siswa yang sibuk dengan diri nya masing - masing, tak ketinggalan Briana yang masih tetap fokus pada buku nya sejak ia berada di dalam kelas.


#Uwleeeek . . . Uwlleeeek . . .


Terdengar suara yang bikin enek untuk di dengar, suara itu bersumber dari Anya yang duduk di belakang Briana. Semua mata tertuju pada Anya.


#Wuuuuuush.....


Bagaikan angin yang berhembus, Anya berlari menuju ke toilet karena sudah tak mampu menahan rasa mual yang sudah berada di kerongkongan nya.


"Si Anya kenapa Ray?'. Salah satu teman sekelas nya bertanya pada Raysa.


Raysa/" Lagi enggak enak badan dia, dari kemarin - kemarin sudah kayak gitu terus".


"Mungkin masuk angin dia itu".


Raysa melirik ke arah Briana yang keluar dari kelas/ " Mungkin. Ya sudah, gue susul Anya dulu ya, gue khawatir dia kenapa - kenapa".


"Iya Ray, abis ini elo bawa saja dia ke UKS atau pulang, entar makin parah dia nya".


Raysa mengangguk pelan. " Iya, ya sudah gue luan ya".


#Uwleeek Uwleeeeek


Anya terduduk lemas di depan toilet dan menunduk kan sedikit kepala nya ke arah toilet. Tiba - tiba Anya menangis histeris sembari memegang perut nya yang rata.


#Kletek...


Anya dengan sigap menghentikan tangisan nya lalu menyeka air mata nya ketika ia mendengar bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam toilet. Anya berusaha berdiri dan merapikan diri nya. Dengan hati - hati ia membuka pintu toilet, ia berharap bahwa seseorang yang baru masuk tadi tidak melihat diri nya yang sedikit berantakan.


#Kletek...


Sentak Anya terkejut lalu berpura - pura merapi kan rambut nya di depan cermin. Ia melihat bahwa orang tersebut ialah Briana.


Sekilas Briana melirik ke arah diri nya yang berdiri tegak di depan cermin. Seketika mata Briana tertarik pada satu pemandangan yang terletak di lantai tepat nya berada tak jauh dari kaki Anya. Briana melihat sebuah tes pack yang bergaris dua tergeletak di lantai.


"Ck. . . .". Briana menyungging kan senyuman nya setelah ia melihat test pack tersebut, ia paham benar apa yang sedang terjadi pada Anya.


Anya melirik senyuman Briana yang membuat nya merasa di hina oleh Briana.


" Elo ngetawain gue?". Anya menghentikan langkah kaki Briana yang ingin keluar dari toilet.


Briana membalik kan badan nya lalu mendekati Anya.


"Elo pantas untuk ditertawakan". Tegas nya.


Anya mendorong bahu Briana.


" Maksud elo apa? Ha. . .? Elo senang gue seperti ini?".


Briana memutar bola mata nya dan tidak menjawab pertanyaan Anya.


#Kletek . . .


Empat mata melirik ke arah pintu yang akan di buka kan oleh seseorang yakni Raysa. Tanpa menghiraukan mereka, Briana keluar dari toilet meninggalkan mereka.


"Elo enggak apa - apa kan Nya? Gue antar loe ke UKS ya?". Raysa mendekati Anya yang masih emosi karena Briana.


"Enggak usah, gue enggak apa - apa. Gue cuma masuk angin saja". Anya menolak tawaran Raysha sebab ia takut ketahuan sama orang lain bahwa ia sedang mengandung.

__ADS_1


Tanpa sengaja Raysa melirik pada lantai, ia juga melihat test pack tersebut lalu memungut nya. Ia melihat tanda garis dua pada test pack, itu menunjukkan bahwa hasil nya positive.


"Ini. . .?". Raysa menyodorkan nya pada Anya. Sentak mata Anya terbelalak, ia shock karena ketahuan oleh Raysa. Wajah Anya semakin pucat pasih, ia bingung harus menjawab apa?.


Raysa/" Ini punya elo?".


Anya/ "Ha. . . Enggak. . . Itu bukan punya gue, mungkin punya siswi lain kali". Sangkal nya.


Tapi Raysha tidak percaya begitu saja.


Raysha/ " Hmmp, berani banget tuh orang membuang sembarangan ini benda sensitive, enggak takut apa kalau entar kedapatan sama guru di sekolahan, bisa - bisa entar satu sekolah bakalan di geledah, mau nyari tahu ini punya siapa".


Anya/ "I iya, sembarangan banget tuh orang he he he, untung kita yang nemuin, iya kan? Mending kita buang saja ketimbang entar kedapatan sama yang lain terus kita juga yang repot harus di periksa he he he". Anya jadi gelagapan dan secepat kilat ia membuang nya ke dalam tong sampah.


" Hmm". Raysha melirik wajah Anya yang terlihat jelas gugup nya.


#Teeeeet. . . . Teeeeeet. . . . .


Terdengar suara bunyi bel sekolah, itu menandakan bahwa jam sekolah telah berakhir. Semua murid berhamburan tak ketinggalan Briana yang tengah berjalan sendirian menuju ke parkiran mobil.


Bahu Briana merasa kan sentuhan tangan dari seseorang. Ia menghentikan langkah kaki nya lalu menoleh ke belakang.


"Don't touch me, sekali lagi loe berani nyentuh gue, gue hajar loe". Briana mengepalkan tangan nya di depan wajah seseorang yang telah menyentuh pundak nya, yakni Ryo.


" He he he, sorry lah Bri, abis nya elo setiap gue panggil enggak mau noleh". Ryo menunjukan gigi nya yang putih.


"What do you want?". Briana langsung to do poin pada Ryo.


Ryo/ " Santai saja lah Bri, lagian gue enggak mau apa - apa kok dari elo, gue cuma mau nanya sama elo, entar elo ke prom sama siapa?".


Briana mengusap wajah nya.


"Jadi elo dari tadi manggil - manggil gue dan bikin gue ngerasa terganggu itu cuma mau nanya ini doank?". Briana merapat kan gigi nya.


"Enggak penting". Briana melangkahkan kaki nya meninggalkan Ryo.


" Ehh. . . Ehh Bri, jawab dulu donk pertanyaan gue, malah main pergi saja, elo pergi nya sama siapa entar?". Ryo bergerak cepat menghadang langkah kaki Briana sehingga Ryo berada di depan Briana.


"Jawab dulu pertanyaan gue, entar elo pergi nya sama siapa?". Ulang nya.


Briana/ " Apa urusan nya sama elo, gue pergi nya sama siapa?".


Ryo/ "Ya adalah urusan nya sama gue".


Briana/ " Ck, kenapa? Elo mau memastikan siapa yang bakalan menang di taruhan ini?".


"Ha? Ffffft buaha ha ha ha". Sentak Ryo tertawa terbahak - bahak mendengar perkataan Briana.


"Ya ampun Bri Bri. . . Jadi elo pikir gue seperti itu? Jadi loe mikir nya selama ini gue taruhan gitu? Ha ha ha oh my god. Kenapa sih Bri, yang ada di pikiran loe itu semua orang yang ngedeketin elo bakalan sama niat nya? Enggak semua orang itu sama Bri. Coba deh sedikit saja elo buka hati loe buat percaya sama orang lain. Ya emang gue tahu setiap ada orang yang ngedeketin elo pasti karena ada mau nya dan wajar juga sih ngebuat loe jadi trauma seperti ini. Tapi bukan berarti sama sekali enggak ada yang benar - benar tulus ngedeketin elo, pasti ada Bri. Mau beribu orang pun yang bermaksud jahat sama loe, elo harus yakin masih banyak bahkan lebih banyak yang tulus sama elo. Apa yang kita lihat buruk belum tentu itu tidak baik. Kebaikan akan datang pada orang yang mau menerima kebaikan itu".


Briana sedikit tertegun akan ucapan Ryo, tanpa kata Briana meninggalkan Ryo dan Ryo pun tidak menghalangi nya lagi.


"Bri pokok nya gue tunggu kedatangan loe di malam prom nanti". Teriakan Ryo sama sekali tidak di gubris oleh Briana.


.


.


"Kenapa sih Bri, yang ada di pikiran loe itu semua orang yang ngedeketin elo bakalan sama niat nya? Enggak semua orang itu sama Bri. Coba deh sedikit saja elo buka hati loe buat percaya sama orang lain. Ya emang gue tahu setiap ada orang yang ngedeketin elo pasti karena ada mau nya dan wajar juga sih ngebuat loe jadi trauma seperti ini. Tapi bukan berarti sama sekali enggak ada yang benar - benar tulus ngedeketin elo, pasti ada Bri. Mau beribu orang pun yang bermaksud jahat sama loe, elo harus yakin masih banyak bahkan lebih banyak yang tulus sama elo. Apa yang kita lihat buruk belum tentu itu tidak baik. Kebaikan akan datang pada orang yang mau menerima kebaikan itu".


Briana terdiam di halaman belakang rumah nya sambil merenungkan perkataan Ryo yang masih terngiang di telinga nya. Ia sadar bahwa ucapan Ryo itu benar tapi dia hanya manusia biasa yang memiliki ketakutan yang seperti sudah mendarah daging dalam hidup nya.

__ADS_1


Flash back...


Di atas balkon apartemen yang terletak di tengah kota yang begitu ramai terdapat seorang ibu dan anak nya yang berumur 8 tahun, yakni Bu Mona dan Briana, mereka sedang duduk bersama sembari mengobrol santai. Bu Mona berusaha menenangkan Briana yang sedang merasa sedih karena habis di bully oleh teman sekelas nya karena kondisi kaki nya yang cacat.


Bu Mona/ "Enggak semua orang itu sama sayang. Jika kita ingin bahagia kita pasti akan menemukan orang yang buruk terlebih dahulu sebelum kita menemukan orang - orang yang baik. Kebaikan akan datang dalam hidup kita dan kita harus percaya itu".


Briana/ " Tapi kalau di dalam hidup kita sama sekali enggak mendapatkan orang - orang yang baik gimana Mom?".


Bu Mona/ "Enggak mungkin sayang, karena Tuhan itu Maha Adil. Tuhan enggak akan pernah membuat hamba nya hidup menderita. Tuhan punya cara nya sendiri untuk membuat hamba nya bahagia. Kita harus percaya itu. Dan kamu harus yakin kebaikan itu akan datang dan selalu datang dalam hidup kamu".


Briana tersenyum menatap sang Mommy yang selalu memberikan semangat untuk diri nya di saat ia merasa terpuruk.


Flash on...


"Tapi sayang nya kepercayaan itu sudah hancur lebur hingga tak bersisa sedikit pun". Ujar nya sembari menatap langit yang masih cerah namun tidak menyengat.


.


.


" Elo kenapa? Dari tadi gue lihat loe kayak lagi mikir keras gitu". Dimas membuyarkan Ryo yang terdiam sejak tiba di rumah.


Ryo/ "Hmm gue lagi mikir".


Dimas/ “Mikirin apa?".


Ryo/ " Gue lagi mikir, gue salah enggak ya ngomong kayak barusan sama Briana?".


" Emang nya elo ngomong apaan? Jangan bilang loe menyatakan cinta ke dia". Dimas mendekatkan wajah nya di depan wajah Ryo.


Ryo menoyor kepala Dimas.


"Ya enggak lah, ngacok loe, tadi pas pulang sekolah gue sok kepintaran nasihati dia, gue bilang ke dia, enggak semua orang itu punya niat yang sama ke dia, terus tanpa basa - basi dia pergi ninggalin gue".


Dimas/ " Ya kalau menurut gue sih elo enggak salah ngomong kayak gitu ke dia tapi enggak tahu juga menurut dia salah atau enggak nya, elo kan tahu dia anak nya aneh. Lagian ya elo kenapa sih masih saja ngedeketin dia? Elo seriusan sama dia?".


Ryo/ "Kalau gue enggak seriusan, mana mungkin gue sudah sampai sejauh ini. Harus nya loe ngedukung gue donk".


Dimas/ " Gimana gue mau ngedukung loe, rang gue kagak dekat sama Briana".


Ryo/ "Ya enggak mesti nunggu loe dekat dulu sama dia baru loe ngedukung gue, paling enggak nya elo kasih gue semangat kek atau ngasi doa ke gue gitu biar di permudah jalan gue menuju Briana".


Dimas/ "Iya iya gue doain semoga Briana enggak jutek lagi sama elo, semoga hati nya cepat luluh dan semoga tujuan elo ke Briana segera tercapai, Aamiin".


Ryo/ " Aamiin. Gitu lah dari tadi, thanks ya bro he he he.


Dimas/ "Hmm...".


Ryo/ "Kira - kira Briana datang enggak ya ke malam prom nanti?".


Dimas/ "Mana gue tahu, emang nya gue bapak nya".


Ryo/ " Ya elah Dim, di kira - kira saja kenapa sih Dim, lagian gue kan cuma nanya doank".


Dimas/ "Lagian gue mana tahu dia pergi apa kagak, loe salah nanya sama gue".


Ryo/ " Jadi gue nanya sama siapa kalau bukan elo?".


Dimas/ "Loe tanya saja sama s*t*n sono".


Ryo/ " Iya elo se**n nya ha ha ha ha".

__ADS_1


"Sialan loe ngatain gue set**". Dimas melempar sebuah buku tepat pada kepala Ryo. Ryo pun merintih kesakitan namun tidak membalas nya.


__ADS_2