Pilihan Marsel

Pilihan Marsel
10: Tahun baru


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula šŸ”°


.


Pov author


Mendekati tahun baru, Marsel di beratkan oleh tugas akhir tahunnya, ia berfokus pada kerja kantor nya, karena tugas kuliah sedang tidak ada untuk beberapa bulan kedepan


"Kak, kakak.... " panggil Misella


Marsel diganggu oleh suara Misella yang memanggilnya, ia hanya berdengung merespon adiknya yang memanggilnya


"Ada apa, Sela? Kamu kan tau setiap akhir tahun tugas kantor kakak numpuk? " tanya Marsel dengan wajah kusam dan kacaunya


"Ya resiko dong, kakak juga sih tamak, udah tau masih kuliah nekat ambil kerja kantoran" omel Misella


"Terus, kalau kakak gak kerja, gak bakal kamu selalu beli baju sama kosmetik kan? " balas Marsel


Misella tersenyum senyum, ia mendekati kakaknya dan memeluknya


"Kakak tau banget ih, Sela tadi kan hanya perumpamaan aja, gak papa kok kakak kerja, lagipula itu menguntungkan Sela, hehehe... " goda Misella, Marsel melepas pelukan Misella dan melanjutkan kerjanya


"Yaudah, kalau cuma itu aja yang mau kamu sampaikan sama kakak, keluarlah" ucap Marsel


"Belum, main ngusir aja ah kakak ini"


"Terus, apa yang mau kamu sampaikan? " tanya Marsel tanpa menatap adiknya


"Jadi gini, kan nanti malam mau tahun baru tuh, kakak mau kan ikut... "


"Ikut malam tahun baruan? Gak dulu lah, mau istirahat dulu, capek tau" potong Marsel, Misella hanya berdecak kesal


"Ayolah kak, sekali ini aja, tahun tahun kemarin kakak gak ikutan, mama sampai sedih loh.... " ucap Misella sambil menarik narik lengan kakaknya


"Ck, kakak aduin mama kalau kamu ganggu kakak kerja" ancam Marsel


"Mah, Sela gangguin Marsel kerja, mah! " teriak Marsel memanggil Salma


'Sela, jangan ganggu kakakmu kerja, sini bantuin mama aja, anak gadis... '


Misella berdecak kesal, ia menghentak hentakan kakinya, sedangkan Marsel mengusir Misella dari ruang kerjanya


"Kakak ngadu sama mama ya? Sela bakal ngadu sama papa, awas aja ya" ancam Misella


"Aduin aja, palingan kamu juga yang bakal dimarahin papa" ucap Marsel dengan remeh


Misella berdecak kesal, ia berjalan dengan kaki yang dihentak hentakan


.


.


Di kamar mandi, Thomas baru keluar selesai mandi, ia dikejutkan oleh Misella


"Sela, kok kamu disini nak? Kenapa kamu gak bantu mama kamu di dapur buat persiapan bakar bakaran nanti malam? " tanya Thomas


Misella merasa kesal pada papanya, ia memajukan bibir nya dan cemberut


"Papa sama kakak sama aja, nyebelin! "


"Loh, kok gitu sih? " tanya Thomas, Misella tidak membalasnya dan langsung pergi ke dapur untuk membantu Salma


"Nah, ini baru muncul anak gadisnya mama, sini bantuin mama racik bumbu" Misella membantu Salma, ia menahan tangisnya, tak sengaja suara isakan tangisnya terdengar oleh Salma

__ADS_1


"Sela, kok kamu nangis? Ada apa? "


"Sela sebel sama kakak, gak ada waktu buat ngumpul ngumpul bareng keluarga! Sibuk sama kerja, kerja dan kerja! " keluh Misella, Salma mendekati anaknya


"Kalau Sela mau kakak Marsel kumpul kumpul sama kita, bantuin aja dia buat selesain kerjaan dia, kan Sela udah bisa megang komputer sama laptop, nanti juga kan diarahin sama kakak kamu, sekaligus juga bisa belajar, itung itung dapat ilmu gratis dari kakakmu"


Misella berpikir, ia menganggukan kepalanya


"Iya juga mah, Sela mau bantuin kakak nanti"


Salma mengusap air mata anaknya, tiba-tiba Misella menangis lagi


"Mama! Mata Sela pedih! "


Salma terkejut, ia lupa, karena ia baru saja memegang cabai rawit yang sudah dikupas olehnya


"Sini Sela! Basuh matamu! "


Selesai dengan keributan di dapur, Misella beranjak pergi dari dapur


"Mama, udah semua kan? Sela mau bantuin kakak" ucap Misella


"Oh iya sudah semua, makasih ya Sela udah bantuin mama" jawab Salma


Misella berlari ke arah ruang kerja, suara tersebut mengundang perhatian, khususnya di dalam ruangan tersebut.


.


Pov Marsel


Suara hentakan kaki ini, ah sudah pasti ku kenal, tak lain dan tak bukan pasti si Sela lagi


"Kakak...! "


"Ada apa Sela? Papa kok ikutan si Sela? " tanyaku


"Adekmu minta papa izinin buat bantuin kamu kerja katanya, bolehin aja ya? " ucap papa padaku


"Gak ah, ntar kerjaannya gangguin Marsel mulu, pah! " tolakku


"Ya ajarin dong, niat adekmu bagus mau bantuin kamu, yaudah Sela bantuin kakak ya? Jangan digangguin kakaknya"


Papa dengan enteng menyetujuinya tanpa ada persetujuan dari ku


"T..Tapi pah..." ucapku terbata bata


"Udah ajarin aja, nanti nangis, papa sama mama kewalahan bujukin dia" ucap papa dengan santai


"Yeeey, makasih papa! "


"Iya sama sama sayang, sudah kamu bantu kakakmu ya, papa mau bantu mama di belakang. Inget, jangan berkelahi ya kalian berdua" ingat papa pada Misella


"Siap pa, yeeeeyyy"


Aku tak percaya, Misella tampak sangat senang, memang kalau anak papa beda, selalu saja dibela


"Kakak, sini sebagian berkasnya, aku bantuin"


Misella meminta sebagian berkas ku, aku memberikan sebagian berkas yang sudah kuajari dan pernah dia kerjakan sebelumnya saat membantuku dulu


"Ini aja ya kak? Akan Sela kerjain, biar cepet selesai ya... "


Wajah polosnya tersenyum padaku, aku hanya menatap sejenak dan kembali fokus pada komputer nya

__ADS_1


"Nih kalkulator, nanti hitung hitungan kamu ralat lagi... "


Aku menyerahkan kalkulator pada Misella, ia menatap remeh


"Zaman sekarang masih pake kalkulator kak? Aku kan otaknya papa, masalah hitung hitungan mah mudah kak"


"Heleh sok bisa, nanti ditanya matematika gak bisa"


"Siapa bilang? Bisa kok, percuma aja Sela sering ikut Olimpiade matematika di SMA kalau gitu... "


Oh ya, aku lupa, otaknya Misella kan encer kayak otaknya papa, dulu saja saat aku SMA banyak bertanya soal matematika padanya, dia cekatan sekali walaupun saat itu dia masih SMP


"Nah, kalau kamu baik kayak gini kayaknya ada tujuan nih, ada maunya kan? "


Misella menatapku dengan cengirnya yang menyebalkan, sudah kuduga


"Kakak ini, tau banget sih... Iya kak, kakak bener seratus persen deh. Sengaja bantuin kakak biar kakak bisa ikut tahun baruan gitu"


"Sudah kakak duga"


"Gak boleh nolak ya, nolak sama dengan upah dua kali lipat"


"Ck, iya iya, kamu lanjutin sana lagi"


Misella kesenangan, ini karena terpaksa saja aku mau


"Oh ya ada yang kelupaan! "


"Apalagi, Sela? "


"Aku mau nelpon kak iska sama kak izah! Biar tambah seru telpon Raka sama temen temen yang lainnya! "


What?! Aku sangat menghindari semua itu!


"Gak boleh nolak inget, nolak sama dengan upah dua kali lipat"


Aku menghela nafas kasar dan menjatuhkan keningku ke meja, tanganku menepuk-nepuk meja


"Gak boleh nolak, inget.... "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£šŸ‘£šŸ‘£

__ADS_1


__ADS_2