
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Pov Marsel
Kami akhirnya sudah sampai ke rumah, gerbang rumah masih terbuka, sepertinya ada yang berkunjung atau papa yang sedang pergi
"Kak, tumbenan ya pintu gerbangnya kebuka, kayaknya ada yang lagi berkunjung ya? " tanya Misella padaku
"Kayaknya, yaudah kamu masuk sana, kakak mau masukin mobil kedalam"
Misella masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, sedangkan aku memasukkan mobil ke teras rumah
Selesai memasukkan mobil, aku segera menyusul ke dalam rumah, mama tampak sedang membereskan air minum dan makanan kecil yang ada di meja tamu
"Mah, tumben gerbang rumah kebuka, ada tamu ya? " tanyaku pada mama
"Iya, temen kerabat kerjanya papa, si Om Putra sama tante Rani" jawab mama padaku
"Apa?! Om Putra sama tante Rani datang?! Mereka ajak Raka ngga mah?! "
Misella tiba-tiba datang ke depan ruang tamu sambil memeluk kucingnya, mama dan aku menatapnya dengan heran
"Raka gak ada Sela, cuma om Putra sama tante Rani aja yang datang, Raka nya gak ikutan" jelas mama pada Misella
"Yahhh, Sela kira ada Raka kesini buat nunjukin Winter...."
Aku hanya berdecak sambil menggeleng kepalaku
"Ini nih mah, giliran om Putra sama tante Rani datang pasti aja nanya nya Raka, kamu lupa Raka lagi tes TNI untuk beberapa bulan ke depan? " jelas ku
"Iyakah?! Kok aku gak di kasih tau sama dia ya? Ish, Raka kok seneng banget nyembunyiin sesuatu sama aku"
"Ya dia ada alasannya tersendiri, kalau kasih tau kamu juga yang ada dia gak bakal fokus buat tes TNI, kamu kan selalu aja ngebet itu ini buat dia mampir ke rumah, rengek rengek kayak anak kecil. Gede umur doang, tingkah masih anak anak kamu itu" ucapku
"Sotoy! Itu memang biasa aja kalik, emang kakak tau apa soal hubungan? Pasangan aja gak punya, kok mau ceramahin aku"
Selalu saja Misella menghinaku tidak mempunyai pasangan, kau itu aja masih cinta cinta bucin, belum cinta dalam ikatan sebuah hubungan
"Mah, bagi mama itu wajar kan kalau cewe lebih manja ketimbang cowo? "
"Gak tau, pacaran mama sama papa gak kayak kamu, papa kamu aja main lamar mama dulu dan kami langsung nikah, sebulan nikah kakak kamu udah timbul aja di perut mama"
Misella akhirnya terdiam, akhirnya dia kalah debat dan langsung membawa si Winter nya ke kamar
"Mah, raut wajah papa beberapa hari ini berubah ngga? " tanyaku
"Kok kamu tau? Iya, semalam aja kerjaan papamu lihat kalender sambil buang nafas, kesenggol kaki meja langsung emosi, ada apa ya memangnya dia di kantor? " tanya mama balik padaku
"Dikantor dia baik baik aja mah, mungkin karena beberapa hari yang lalu kita melupakan hari spesial dia" jawabku
"Astaghfirullah, kok bisa lupa ya?! Padahal selama ini kita gak pernah lewatin hari ulangtahun papa kamu, haduh mau kasih hadiah apa ya? " tanya mama padaku
"Marsel sama Misella tadi udah rencana pengen minta tolong sama Azizah buatin kaligrafi yang menyiratkan papa di dalam tulisannya, tenang aja, Marsel siap biaya buat bayar jasa Azizah bikinin kaligrafi nya" jawabku
"Ide bagus juga, Marsel, jarang jarang kasih lukisan atau kaligrafi kayak gitu, mama juga gak tau mau kasih apa selain celana, sepatu atau ngga baju, ya itu aja sih, ide kamu cukup bagus, kasih kabar dulu sama Azizah nya"
"Oke mah, nanti Marsel kasih kabar sama Azizah nya"
"Ya sudah, lanjut istirahat ya, udah malam soalnya, kamu pasti capek pulang kerja langsung anter adekmu ke dokter hewan"
"Iya mah, udah capek juga, selamat malam mah"
Aku berjalan dari ruang tamu menuju ke kamar, keseharian sama saja, pulang kerja langsung tepar dan itu berulang-ulang
.
Pov author
Keesokan harinya, setelah shalat subuh, Marsel menyuruh Misella untuk memberitahu bahwa mereka meminta jasa Azizah untuk pembuatan kaligrafi, karena mereka tau Azizah sangat pandai dalam membuat kaligrafi dan pernah menang lomba kaligrafi di kota lain
"Sela, udah kamu kasih tau belum sama si Azizah? " tanya Marsel
"Ini mau ku chat dulu, kayaknya dia belum jawab, mungkin lagi ngaji subuh dia" ucap Misella
"Yaudahlah, hari ini kan lagi libur juga, kita bantu mama buat beres beresin kebun belakang aja, nanti siang baru pergi ke tempat Azizah"
"Okelah"
Tring!
Suara dering dari hp Misella, Misella berjalan ke arah meja riasnya dan mengambil hpnya kemudian mengangkat telponnya
'Assalamu'alaikum Misella, ada apa ya telpon Azizah pagi pagi? '
"Ehh, waalaikumsalam kak, maaf nih ganggu, kakak masih bisa ngga bikin kaligrafi?" tanya Misella
'Bisa, InsyaAllah, tema kaligrafi nya mau kayak gimana nanti? "
__ADS_1
"Tema nya nanti kami bakal kasih tau, kami juga mau mampir ke rumah kakak ya kak Azizah, kalau soal bahan nanti kak Marsel bantu buat beliin nya" ucap Misella
'Oh oke Misella, tapi agak siangan sedikit ya, soalnya kakak mau tahfidz di masjid dulu, kamu sama kak Marsel bisa kan nungguin nya? '
"Bisa kak, nanti kami nunggu kakak tahfidz di masjid nya ya"
'Baik, kakak matiin dulu ya telponnya, mau lanjut ngaji subuhnya sebentar'
"Makasih ya kak"
Pip!
Panggilan terputus, Misella menaruh lagi hpnya di meja rias dan menyusul kakaknya
"Udah nelponnya? Apa kata si Azizah? " tanya Marsel
"Bisa kak, tapi agak siangan katanya, kakak jangan lupa dananya ya... " ucap Misella
"Ck, iya bawel, yaudah segera ke belakang rumah, kita bantu mama buat ngurus halaman belakang"
"Oke, ayo"
Misella dan Marsel berjalan keluar, mereka menuju ke belakang dan bergegas membantu Salma untuk mengurus halaman belakang
.
.
Menunjukkan pukul 9 pagi, Marsel dan Misella bergegas untuk pergi ke tempat Azizah, mereka lagi lagi melihat Thomas yang masih melihat kalender dan kakinya tertendang kaki meja
"Auhhh! " ringis Thomas
"Papa, hati hati dong... " ucap Misella
"Iya, papa ceroboh juga sih, yaudah, papa mau berangkat kerja dulu, soalnya ada urusan mendadak di hari libur kayak gini di kantor" ucap Thomas
Marsel dan Misella menatap papa mereka dari belakang, mereka menunggu Thomas benar-benar pergi dari rumah dan bergegas menuju ke rumah Azizah
Marsel menuju ke dalam mobil, ia mengeluarkan mobilnya dan menyuruh Misella untuk masuk ke dalam mobil, mereka akhirnya pergi dari rumah untuk menuju ke rumah Azizah
"Kak, kita beli bahan bahannya dulu ya di tempat pencetakan" ucap Misella
"Iya, nanti kita mampir kesana, dan juga kita mampir ke toko seni untuk beli kanvas sama cat yang udah kita atur ya"
"Oke kak, let's go"
.
.
"Kak, ambil buket bunga nya, nanti kalau kak Azizah nya datang, segera di kasih ya" ucap Misella
"Ish apaan kamu, Sela, kakak gak mau malu maluin diri kakak untuk kasih bunga di depan masjid begitu" jelas Marsel
"Oh okelah kalau begitu, nanti aja ngasihnya ya"
"Iya, kita tunggu aja dimobil"
Di dalam mobil, Marsel dan Misella tampak sibuk dengan gadget mereka, sampai sampai suasana di dalam mobil menjadi senyap dan tidak berisik
Tak lama kemudian, Azizah datang mendekat ke arah mobil, karena Azizah sudah hafal betul mobil milik Marsel
"Tunggu sebentar, ini buket bunga untuk kami, izah"
Marsel memberikan buket bunga untuk Azizah, Azizah terdiam dan menatap buket bunga tersebut dan mengambilnya
"Ini izah, hadiah dari Misella buat kamu" ucap Marsel dengan ragu ragu
Misella diam diam merekam kakaknya yang sedang memberikan buket bunga tersebut untuk Azizah
"Syukron bang Marsel, Azizah suka, makasih juga ya Misella"
"Itu hadiah dari kak Marsel, kak izah, dia cuma gengsi aja mau ngaku kalau itu dari dia" ucap Misella
Marsel menatap kaget, ia melotot menatap Misella, sedangkan Misella tertawa terkikik kikik karena ekspresi kakaknya
.
.
Sesampainya di rumah Azizah, bu Rahma menyambut mereka dengan baik dan menyuruh mereka untuk langsung duduk dan menikmati makanan yang telah disediakan sebelumnya
"Ayo silahkan bersantai dahulu, perjalanannya kan lumayan jauh tuh dari sini ke rumah kalian, hampir di perbatasan lagi rumahnya Azizah" ucap bu Rahma
"Gak papa bu, lumayan juga sambil liburan di luar kota, bosen dirumah terus" ucap Misella, bu Rahma hanya tertawa dan ia masuk ke dalam
"Abang Marsel, mana kanvas yang Azizah butuhkan tadi? Apakah sudah dibeli? " tanya Azizah
"Oh ya, sebentar, akan kuambil di mobil"
__ADS_1
Marsel berlari ke arah mobil, ia membuka pintu belakang dan mengambil berbagai macam peralatan tulis ukir kaligrafi
"Ini Azizah, kamu tinggal atur saja ya, kalau ada yang lainnya bakal abang bantu" ucap Marsel
Azizah baru kali ini terkesima pada Marsel, karena selama ini Marsel sangat irit berbicara pada siapapun kecuali kepada Salma
"Dari om Thomas, kita ambil huruf kaligrafi Arab yang bagus itu dari Surah Al-Baqarah ayat 233, ayat tersebut juga bisa menerangkan seorang ayah yang berusaha agar tidak selalu pihak ibu yang kewalahan mengurus sang buah hati, penggambaran om Thomas juga terlihat seperti itu, seorang lelaki yang bekerja keras untuk keluarga dan selalu ingin menjadi pahlawan bagi keluarga kecilnya. Tema ini juga bisa ditujukan untuk tante Salma, wanita kuat yang bisa mengurus kedua anaknya yang sudah dewasa walaupun berbeda gender dan mengarahkan nya dengan baik, memastikan kedua anaknya tumbuh sehat dan kuat, hingga sekarang terlihat lelah tetapi derajatnya terlihat sangat tinggi karena jasa seorang ibu pada anak anaknya yang tanpa pamrih, agar memastikan anak anaknya bisa bahagia selalu... " jelas Azizah
Misella bertepuk tangan, ia sangat kagum dengan penjelasan dan tema yang dijelaskan oleh Azizah sangat menyentuh hatinya
"Kakak Azizah pinter banget jelasinnya, Sela kagum"
"Syukron Misella, yasudah, Azizah mau lanjutkan tulisannya dahulu"
Marsel dan Misella hanya bisa melihat tulisan Arab kaligrafi yang indah dan sedang diukir
Selesai dengan semua itu, Azizah membungkus rapi kanvas kaligrafi itu dengan hati hati, ia memberikannya kepada Marsel dan menyuruh nya langsung menaruhnya di dalam mobil
"Makasih ya Azizah sudah membantu abang sama Sela untuk bikin hadiah buat papa kami" "Iya, sama sama bang Marsel"
Marsel merogoh dompetnya, Azizah kemudian menolaknya
"Eeh gak usah bang, Azizah gak bakal nerimanya" tolak Azizah
"Loh, kakak udah makai jasa kamu untuk buatin kaligrafi ini loh, masa abang gak kasih kamu uang... " ucap Marsel
"Ngga usah bang, soalnya kanvas dan lainnya itu saja dari abang. Jadi, kalau gak dari abang, baru Azizah bisa terima uangnya. Udah cukup kok sama buket bunga nya tadi" ucap Azizah
"Oh, yasudah, abang pamit pulang dulu ya biar bisa kejar waktu biar gak kesorean banget, makasih ya udah bantu abang"
"Iya sama sama bang, hati hati dijalan" ucap Azizah. Marsel dan Misella menaiki mobil, mereka memastikan tidak ada yang tertinggal dan segera pulang
.
.
Menunjukkan pukul 5 sore, Marsel dan Misella telah sampai di rumah, mereka markirkan mobil di teras kemudian membawa barang barang lainnya untuk merayakan ulang tahun Thomas yang terlewat
"Mama bikin apa? " tanya Marsel
"Ini, nasi tumpeng buat papamu, biar dia bisa seneng" ucap Salma yang sedang menghiasi tumpeng nya
"Semuanya sudah? " tanya Salma
"Sudah mah, lukisan kaligrafi juga sudah sebagai hadiahnya" jawab Misella
Setelah magrib tiba, mereka bertiga pun sudah bergegas shalat maghrib dan bersiap siap menyambut Thomas
"Papa pu.... "
"Selamat ulang tahun, papa! "
Thomas terkejut dengan kejutan tersebut, ia menatap berbagai barang barang maupun nasi tumpeng yang sudah disediakan di atas meja
"Mas, ayo kesini... "
Salma menggenggam tangan Thomas, mereka berjalan ke arah depan nasi tumpeng tersebut
"Selamat ulang tahun, papa, ini hadiah dari mama, kak Marsel sama Sela, diterima ya pah.... "
Misella memberikan kanvas bulat berukiran kaligrafi Arab tersebut pada papa nya, Thomas merasa senang dan meniup lilin yang dihidupkan oleh Salma
"Makasih ya buat kalian bertiga, semoga kita bisa begini lagi ya" ucap Thomas
Salma, Marsel dan Misella memeluk Thomas, mereka berempat saling berpelukan bersama
Jangan sampai melupakan hari spesial untuk yang terkasih, agar ia bisa bahagia selalu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£