
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Setelah perginya Arinska dari rumah, suasana menjadi senggang dan tenang, karena semuanya terdiam atas permasalahan dari Arinska.
"Bang Marsel, apa ucapan izah tadi salah ya? " tanya Azizah dengan nada suara yang ragu.
"Ngga izah, ucapan izah tadi bagus, cuma timingnya aja yang gak pas untuk izah mengingatkan Arinska seperti itu... " jawab Marsel dengan nada tenang, karena ia masih bingung.
"Tapi kan, saling mengingatkan dan menasehati itu bagus katanya, bang Marsel... " ucap Azizah.
"Tidak semua orang yang suka atas pendapat dan nasehat kita, Azizah, apalagi kalau kita lihat sepertinya Arinska punya masalah... " jelas Marsel.
"Iya deh, bang Marsel, kayaknya Azizah salah untuk memberitahukan hal itu, karena gimana gitu melihat Arinska semakin lama bajunya sangat terbuka, makanya keceplosan ngasih taunya tapi gak tepat timingnya... " ucap Azizah dengan nada bersalah.
"Nah kak, kak izah aja tau letak kesalahannya sendiri udah buat kak iska marah karena ucapannya, lah kakak, teman Sela yang namanya Wulan kakak bikin dia nangis atas ucapan kakak yang gak ngenakin dia.... " sindir Misella.
"Lah emangnya kenapa? Gak ada yang salah sama ucapan kakak sama temanmu yang kurang ajar itu. Bayangkan aja orang asing seenaknya masang masangin dasi sembarangan gitu, ya jelaslah kakak marah! " ucap Marsel dengan tidak terima.
"Bukan begitu, kakak tadi ngungkit orangtuanya gak ngajarin etika sama tatakrama sama dia loh yang bikin dia sakit hati dan sampai nangis.... " ucap Misella.
Suasana mulai runyam, Azizah dan Raka hanya terdiam, mereka tidak mau ikut campur dalam perdebatan adik kakak itu, karena tidak ingin mendapat masalah.
"Lah kenapa? Setiap tingkah anak itu buruk itu berpengaruh pada orangtuanya juga yang mendidiknya... " ucap Marsel.
"Kakak ini bodoh atau gak pernah peka sih? Kakak tuh salah, gak seharusnya kakak mengucapkan Wulan begitu dengan ngungkit ngungkit orangtuanya...! " ucap Misella dengan nada yang gemas.
"Apa salahnya?! Kakak gak merasa... "
"Wulan itu anak yatim piatu! " potong Misella dengan nada meninggi.
Suasana menjadi senggang, Azizah dan Raka menyadari apa yang dimaksud, sedangkan Marsel melotot tak percaya.
"Apa? Yatim piatu? " tanya Marsel dengan nada tidak percaya.
"Gak tau! Sengaja tuli ya pas aku ngomong tadi?! " ucap Misella dengan kesal.
"Sela, kakak serius nih, ucapan kamu tadi... "
"Iya! Memang benar yang kuucapkan tadi! Wulan itu anak yatim piatu! Dia aja tinggal di panti asuhan dan kakak gak tau itu karena saat kita kemah dia sengaja ke kostan dia, karena dia bilang sama Sela dia gak mau merasa malu harus jemput dia ke panti! " tegas Misella.
Marsel merasa bingung, ia kemudian langsung duduk dibawah berdekatan dengan Misella.
"B... Bagaimana ini, Misella? Kakak benar-benar gak tau kalau Wulan itu anak yatim piatu, dan gak seharusnya tadi kakak ngungkit orangtuanya... " tanya Marsel dengan nada ketakutan.
"Makanya, kalau bodoh itu emosi diatur! Jangan ceplas-ceplos kalau ngomong, biar gak nyakitin hati orang! Sekarang aku gak tau dan gak mau ikut campur! Pikir sendiri cara buat minta maaf sama Wulan! Belajar jadi cowok yang peka! Gak bakal bisa selamanya kakak jadi cowok yang gak pekaan dan egois terhadap diri sendiri! Wanita itu pengen dimengerti, bukan mereka yang ngertiin! " tegas Misella, ia kemudian berdiri dan membawa piring bekas nugget itu kedapur.
Raka dan Azizah melihat hal tersebut merasa suasana sudah benar-benar runyam, mereka memutuskan untuk pamit, agar tidak melihat keributan tersebut.
"Emmm kak Marsel, Raka sama kak Azizah pamit dulu ya, soalnya kata kak Azizah tadi dia mau tahfidz, dan juga Raka mau bantu mami nya Raka tadi nitip sesuatu sama Raka... " ucap Raka.
"Ka, pliss, bantuin kakak lah Raka, kakak butuh saran sekarang... " ucap Marsel dengan memohon.
"Maaf kak, gak bisa bantu sekarang, kami pamit ya, assalamu'alaikum.... "
Raka dan Azizah segera pergi dari kediaman keluarga Thomas, sedangkan Marsel mengusap kasar wajahnya.
"Aghhh! Bodohnya aku! " teriak Marsel sambil menggebrak meja dan menenggelamkan wajahnya ke meja.
'Gak usah mukul-mukul meja! Kalau rusak tambah banyak masalah kakak! ' teriak Misella dari dapur.
.
.
Di lain tempat, tepatnya di pinggir danau, Arinska dengan mata sembab nya duduk di tepi.
Tak lama kemudian, seseorang menyapanya dari samping.
"Arinska? "
Arinska menatap ke sampingnya, ia berdecak kesal, karena itu adalah Enrico.
"Kenapa sih gua harus ketemu sama elo?! " ucap Arinska dengan nada kesal.
__ADS_1
"Ya, seperti kata pepatah, dunia itu sempit" jawab Enrico dengan santai.
"Tapi gak selalu gua ketemu terus sama lo, di mana gua ada, disitu juga lo ada! " kesal Arinska dengan sisa dari isak tangisnya.
"Habis nangis? " tanya Enrico, ia kemudian duduk disamping Arinska.
"Kepo! " jutek Arinska.
Enrico dan Arinska menatap ke arah danau dan matahari yang akan tenggelam, sesekali Enrico menghirup udara dan membuangnya.
"Kayak berat banget hidup lo, sampe buang nafas segala... " ucap Arinska tanpa melihat ke arah Enrico.
"Ya begitulah"
"Jadi setiap hari lo datang kesini terus? Kenapa gak kayak orang orang biasanya, ada masalah ke diskotik atau sewa wanita buat jadikan hiburan? " tanya Arinska.
Enrico tertawa mendengar pertanyaan Arinska, Arinska menatap heran ke arahnya.
"Kenapa lo ketawa? Kesambet penghuni danau ini? " tanya Arinska.
"Aku lucu dengan pertanyaan kamu, Arinska, kamu sepertinya menyamakan aku seperti patner patner kerja lain ya? Yang kalau punya masalah hidup perlu ada pelarian seperti ngedisko dan mesan wanita untuk jadi hiburan semata? " tanya balik Enrico.
"Ya, mungkin aja sih, kan golongan pekerja sibuk kayak elo biasanya kayak gitu dikala bosan sama ada masalah hidup, makanya gua nanya kayak gitu" jawab Arinska.
"Iska, aku gak pernah kepikiran seperti itu. Mungkin kamu tidak percaya, aku ini masih perjaka. Karena ya rugi saja, untuk apa melampiaskan kesenangan sementara dan melepas kehormatan kita seperti itu? Lebih baik kamu nikmati saja kesulitan dan masalah hidup ini sampai benar-benar gila! " jelas Enrico.
Arinska menganggukkan kepalanya.
"Dan juga, aku menjaga semuanya hanya untuk satu tujuan ku" sambung Enrico.
"Apa? Tujuanmu untuk jadi orang gila kan? " tanya Arinska.
"Hahaha, tentu saja bukan, melainkan tujuanku untuk mengejar seseorang yang ku idola kan semenjak masih kecil, Marsel pun tau siapa orangnya" jawab Enrico.
"Apa? " tanya Arinska.
"Tentu saja yang sekarang ada disini" jawab Enrico.
Arinska merasa bingung, ia melihat kanan dan kirinya tidak ada satupun, kecuali itu dirinya.
"Heh! Gila lo ya? Gua ceburin lo ke danau ini, tau rasa lo! " teriak Arinska sambil memukul lengan Enrico.
Enrico hanya tertawa, ia tidak mengeluh sakit ataupun membalasnya, melainkan hanya menikmati pukulan tersebut sambil tertawa.
Lelah memukul Enrico, Arinska kemudian ngos-ngosan dan menatap kesal kearah Enrico.
"Udah mukulnya? Puas ngga? " tanya Enrico.
"Asli, lo gila! " tunjuk Arinska.
Enrico tersenyum dan menggeleng kepalanya, ia kemudian menatap ke arah Arinska.
"Iska, aku lebih baik jujur sama, kebetulan ada kamu juga disini kan, jadinya enakan jujur, sesak rasanya terus memendamnya. Begitu juga dengan kamu kan? Kamu nangis begini juga ada yang kamu pendam kan? Kenapa gak coba kamu lampiaskan apa yang kamu pendam itu sama aku" jelas Enrico.
"Semua hal lo mau tau! Lo itu kepo ya?! " kesal Arinska.
"Itu bukan kepo, tapi kita saling bicara dari hati ke hati. Mungkin saja setelah ini kita bisa sama sama lega, karena bisa bicara dari hati ke hati" ucap Enrico.
Arinska kemudian diam, ia kemudian menatap ke arah danau dan menghela nafas kasar.
"Sebenarnya aku.... Agh, udahlah! " ucap Arinska.
"Gak papa, ceritain aja sama aku" ucap Enrico dengan tenang.
"Aku lelah dengan hidup aku, Enrico. Aku lelah sekali... " ucap Arinska.
"Teruskan, sampai tuntas" ucap Enrico.
"Entah, kenapa nasibku tak seindah seperti kak Marsel, Misella, Azizah sama teman teman ku. Ya, memang enak berlimpah harta kalau orang yang lihat diriku katanya, tetapi bagiku masih ada ruang hati yang mengatakan aku itu belum sepenuhnya puas dan menikmati hidup. Memang benar, aku tidak puas menikmati hidupku, aku gak jauh nasibnya kayak anak anak gelandangan di jalanan, cukup diberi uang, tidak dengan kasih sayang. Aku iri, aku iri sekali, aku tuh pengen banget bisa dimanja sama mamanya kayak Misella dan kak Marsel, pengen diajarkan ilmu agama kayak Azizah, pengen didukung semua cita cita kayak Raka, aku pengen banget kayak mereka. Aku tau mereka gak seperti ku, tapi setidaknya mereka bahagia dengan apa yang mereka punya, secukupnya" jelas Arinska.
Enrico menganggukan kepala nya, ia kemudian memegang kepala Arinska dan mengelus nya.
"Hahaha, kita sama, iska. Aku juga iri dengan kehidupan mereka. Nasib kita sama, bedanya papa kamu masih peduli sama kamu. Aku juga lelah hidup seperti ini, hidupku seperti mesin, harus terus digunakan dan terus di kayuh agar terus berjalan. Pekerjaanku itu lama lama seperti membunuhku secara perlahan. Aku juga ingin hidup dengan tenang dan ada yang bisa mengisi kekosongan hatiku ini" ucap Enrico.
"Ternyata hidup semua orang itu berbeda ya, bagi orang kita menikmati hidup kita yang mewah, bagi kita orang menikmati hidup yang sederhana namun berharga. Aku mulai sadar untuk sekarang, sudut pandang orang selalu beda, tinggal kita sendiri yang mensyukuri nya. Makasih ya ric, udah berbagi cerita sama aku, setidaknya udah bikin aku lega" ucap Arinska dengan nada lembut.
__ADS_1
"Ya, sama sama iska, kamu juga berbagi cerita kamu sama aku" ucap Enrico.
Tak lama kemudian matahari mulai tenggelam, Arinska dan Enrico terkagum melihat matahari yang ingin tenggelam itu.
"Ric, momen kayak gini bagusnya diabadikan deh, kamu mau ngga? " tanya Arinska.
"Boleh, mau kayak gimana? " tanya Enrico.
"Kita fotoin matahari yang tenggelam itu, terus kita post ke sosmed kita, kasih caption 'beautiful sunset with you', jangan lupa saling tag akun sosmed kita, bisa kan? " jelas Arinska.
"Boleh, ayo kita abadikan momen ini"
Arinska dan Enrico mengambil HP mereka masing-masing, mereka kemudian memotret matahari yang tenggelam itu, kemudian mengunggah nya ke sosmed dengan caption yang sudah disepakati tadi dan saling menandai akun sosmed masing-masing.
"Sudah menjelang malam ini, ayo kita pulang" ucap Enrico.
"Ric... " panggil Arinska.
"Udah, kamu sama aku aja, lagian juga supir kamu udah pergi kan tadi? " tanya Enrico.
Arinska dengan malu malu menganggukan kepalanya, Enrico mengajaknya untuk naik ke mobil dan mengantarkan Arinska ke rumahnya.
Di perjalanan menuju ke rumah Arinska, Enrico merasa senang akhirnya ia bisa menyempatkan diri bertemu langsung dengan Arinska dan bisa saling berbagi cerita.
.
.
Sesampainya di kediaman keluarga Wilson, Arinska turun, pintu mobil dibukakan oleh pelayan rumah.
"Arinska....! "
Suara teriakan dari dalam, Arina berlari dan memeluk Arinska.
"Kamu kemana saja nak? Mama dan papa khawatir sama kamu, supir juga bilang kamu pengen sendiri, gak mau diganggu.... " ucap Arina dengan cemas.
"Maafin iska, mama, papa, udah buat kalian cemas, tapi sekarang iska udah pulang sama kak Enrico.... " ucap Arinska.
Enrico kemudian keluar dari mobil, ia kemudian bersalaman dengan Brian dan Arina.
"Kamu bukannya anak dari pemilik perusahaan Ricotta itu kan? Saya sangat berterimakasih sama kamu, karena kamu membawa pulang anak saya dengan selamat.... " ucap Brian.
"Iya, sama sama om, kebetulan tadi ketemu sama Arinska di danau dekat pinggiran kota, dan juga ngobrol ngobrol sebentar sebelum anterin Arinska nya pulang... " ucap Enrico.
"Yaudah, ayo kita masuk, mama yakin kamu pasti lapar... " ucap Arina.
Arinska menganggukan kepalanya, ia dan Arina kemudian masuk ke dalam.
Di depan rumah, Enrico menatap Arinska yang ingin masuk, ia kemudian mulai mengatur nafasnya untuk mengucapkan kata-kata yang sudah ia siapkan sebelumnya ketika berhasil bertemu dengan Arinska.
"Arinska, ayo kita nikah...! "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£
__ADS_1