Pilihan Marsel

Pilihan Marsel
28: Tunangan Misella


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula šŸ”°


.


Tepatnya sudah seminggu berlalu, Misella bersiap siap untuk menyambut keluarga Raka, karena mereka ingin mengadakan acara pertunangan.


Misella lewat di depan ruang kerja, ia kemudian mengacak pinggangnya menatap Marsel.


"Kak, kakak ini mau jadi batu terus apa? " tanya Misella.


"Lah, apalagi Sela... " jawab Marsel.


"Pura-pura bodoh ya? Kakak udah hampir sebulan lebih gak ada niatan minta maaf sama Wulan apa? Sampai aku mau tunangan pun kakak gak ada niatan mau minta maaf sama Wulan temannya Sela apa? Asli, kakak batu bener" ucap Misella.


Marsel berdecak kesal, ia menutup laptopnya dan membawa laptopnya keluar.


"Eh, kakak mau kemana? " tanya Misella.


"Mau ke kamar, gak tenang rasanya kerja diganggu terus sama kamu"


Marsel pergi dari ruang kerjanya, ia kemudian berjalan menuju ke kamarnya, sementara Misella menghentakkan kedua kakinya.


"Kakak nyebelin sumpah! " teriak Misella.


'Sela, ayo bantu mama... ' ucap Salma dari ruang keluarga.


Misella kemudian berjalan ke ruang keluarga, ia kemudian membantu Salma membereskan peralatan yang dibutuhkan untuk acara pertunangan nya nanti.


.


.


Tiba waktunya acara pertunangan telah tiba, Misella telah dirias rapi oleh MUA yang sudah dipesan, keluarga Thomas memakai baju yang senada dan kompak.


"Ciee yang mau tunangan, sini papa peluk dulu... " ucap Thomas.


Misella mendekat kepada Thomas, ia memeluk papanya dengan erat.


"Udah besar ternyata kamu ya, sampai sampai Raka kecil itu udah mampu mau lamar kamu terus jadiin kamu tunangan dia, hahahaha... " ucap Thomas.


"Sela bakalan rindu deh sama papa mama, terutama kakak Sela yang aneh itu juga.... " ucap Misella.


Marsel tidak peduli, ia masih fokus dengan layar hpnya dan tidak memperdulikan apa yang diucapkan Misella padanya.


"Salma, katanya keluarga dari Raka sudah datang, ayo sambut" ucap Maggie.


Keluarga Thomas keluar kecuali Misella, mereka menyambut Keluarga Raka dengan baik, Raka kemudian dibimbing untuk berdiri di panggung tunangan tersebut, Raka dan keluarga membawa seserahan untuk Misella.


Adik Raka, Fara, ia menjadi pembawa acara pertunangan kakaknya dengan Misella.


Setelah menyambut dan pembukaan, mulailah perwakilan dari keluarga Raka menyampaikan ucapan yang sudah disusun, kemudian ditanggapi oleh Thomas dan Salma.

__ADS_1


Setelah tanggap menanggapi selesai, Misella yang ada di ruangan terdekat dibimbing oleh teman temannya keluar menuju ke panggung tunangan.


"Pada malam hari ini, tepatnya malam ini hari pertunangan kita. Dengan ini aku menyatakan, aku ingin melamarmu dan menjadikanmu sebagai tunangan ku. Jadi, teruntuk Queretta Misella, aku sebagai Raka Pamungkas, ingin meminta izin untuk melamarmu. Apakah kamu bersedia menerima lamaran pertunangan ini dari ku? " tanya Raka.


Misella merasa malu malu, ia kemudian mendekatkan mikrofon nya dan mulai menjawab.


"Aku menerimamu, Raka Pamungkas" jawab Misella.


Tiba saatnya pemasangan cincin yang dilakukan oleh kedua pihak ibu dari kedua pasangan tersebut.


Salma dan Rani memasang masing-masing cincin pertunangan anak anak mereka, Salma memasang cincin pertunangan nya untuk Raka, sedangkan Rani memasang cincin pertunangan nya untuk Misella.


Semua bertepuk tangan, mulai dari keluarga, sanak saudara hingga teman teman kuliah dan kerja bertepuk tangan gembira.


"Cieeee, yang pacaran bertahun-tahun akhirnya jadi tunangan... " sorak Arinska dan Enrico.


Misella dan Raka tersenyum, mereka saling bergandeng bahu dan memamerkan cincin di jari manis mereka.


Setelah acara pasang cincin pertunangan selesai, para tamu dipersilahkan untuk menikmati makanan.


"Itu anak gadismu ya? Yang mau tunangan ya? " tanya salah satu tamu undangan pertunangan.


"Eh iya, itu anak gadis saya yang mau tunangan, mohon do'a nya ya, biar tujuan calon mantu sama anak gadis bisa lancar" ucap Salma dengan tersenyum bahagia.


"Anak bujang udah ada jodohnya? Kan dia anak tertua sesudah Misella ini. Udah nikah belum dia? " tanya tamu tersebut.


"Ehh, kalau yang itu belum katanya, lagi serius kerja dulu, jadi kasih jalan untuk adeknya dulu katanya" ucap Salma.


Mendengar obrolan mamanya dan orang-orang, Misella menjadi minder dan baper, karena tidak semua orang tadi ikut merestui acara pertunangan nya akibat Marsel yang belum menikah.


"Yang, aku capek... " ucap Misella.


"Loh beb, kamu udah capek? Bisa tahan dulu gak? " tanya Raka.


"Gak, makasih... "


Misella meninggalkan panggung pertunangannya, ia berjalan menuju ke kamarnya.


Salma yang menyadari anak gadisnya pergi dari panggung tunangannya segera menyusul nya, ia berjalan mencari Misella dan bertemu Misella yang berada di kamarnya.


"Nak, kamu kenapa? " tanya Salma.


"Mah, bisa gak mama kasih tau sama kakak, berhenti jadi cowo yang dingin, cuek, nyebelin dan egois! Sela tuh gak seneng ya mah, barusan tadi di acara tunangan Sela sama Raka, ada salah satu tamu seenaknya mengatur kehidupan kita, mah! Dan itu semua salah kakak! " teriak Misella sambil menangis.


"Ya, mau gimana lagi nak, mama gak bisa maksain kakak kamu, dia sudah dewasa, bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Mama udah gak berhak terus terusan ngatur dia, karena mama yakin dia itu bisa memilih yang baik untuk hidupnya" ucap Salma.


Misella menjambak jambak rambutnya sendiri sekaligus mengacaukan rambutnya, ia merasa kesal bahwa Salma tidak bisa mengerti apa yang ia maksud.


"Mah! Mama tuh kurang tegas sama kakak...! Aku gak mau ya, sampai aku harus nunda nunda nikahan ku nantinya sama Raka, kalau terus terusan nunggu kakak bisa punya jodoh, mah! " kesal Misella.


Misella kemudian menangis, Salma tidak mampu berbicara apapun.

__ADS_1


"Sela gak mau kalau semisalnya kakak sampai gak normal, dan pastinya kakak gak tertarik buat nikah. Aghhh! Stress banget ngadepin kakak! " teriak Misella.


"Jangan begitu nak, mama gak mau kakakmu gak normal, mama punya keinginan untuk dia biar bisa mempunyai pasangan yang berbeda jenis... Tapi ya mungkin, mama memang kurang tegas sama kakakmu, Sela... " ucap Salma.


"Baby, beb.... " panggil Raka, Raka kemudian masuk kekamar Misella dan mendekati Misella.


"Beb, kamu kenapa? " tanya Raka.


"Yang, kamu masih ingat gak cincin yang pernah kamu kasih sama aku dulu? " tanya Misella.


"I... Iya, itu kan kamu yang simpan, beb, mungkin kamu masih.... "


"Bagus! Sebelumnya, aku minta izin sama kamu yang, boleh cincin itu gak aku pake dan aku kasih sama kakakku? " tanya Misella.


"Tentu saja beb, itu kan udah jadi milik kamu, kamu bebas untuk gimanain tuh cincin. Emangnya untuk apa sih beb? "


Belum sempat selesai bertanya, Misella langsung mengambil kotak cincin di lemari nya, ia kemudian membawa kotak cincin tersebut dan berjalan dengan cepat ke kamar Marsel.


"Kakak! "


Marsel yang sedang berberes kamarnya terkejut melihat Misella mendobrak pintunya, ia kemudian didorong oleh Misella hingga tersungkur ke pinggir kasur.


Misella kemudian mengambil tangan Marsel, ia memberikan kotak berisi cincin tersebut pada Marsel.


"Sekarang gak ada lagi istilah istilah kakak nunda nunda buat minta maaf maupun nikah! Besok Sela bakal temenin kakak buat ke panti asuhannya tempat Wulan tinggal, gak ada pake alasan! Malam ini Sela bakal tidur sama kakak, jangan harap kakak mau kabur lagi dari tanggungjawab mau minta maaf sama temannya Sela! Dan gunakan cincin itu buat lamar dia, titik! " tegas Misella.


Marsel yang mendengar nada serius dari adiknya hanya bisa mengangguk, ia tau adiknya sedang serius dan tidak sedang bercanda.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£šŸ‘£šŸ‘£

__ADS_1


__ADS_2