
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Pov author
Sebulan berlalu, hari biasa pun dijalankan dengan baik dan mungkin juga membosankan.
Marsel kembali dengan aktivitas nya di kantor, sedangkan Misella libur semesteran sehabis kuliahnya.
"Fokus bener lu, Sel? Pengen double gaji kah? "
Marsel merespon ejekan Enrico tanpa melihatnya, karena ia benar-benar fokus dengan pekerjaannya.
"Gak usah ngejek lu Ric, gua tau posisi lu sekarang" kesal Marsel.
"Yaelah, gitu doang baper lu" ucap Enrico.
"Manusiawi, wajar kalau gua baper, gak baper bukan manusia, tapi patung! " tegas Marsel.
"Wuihh, besok naik jabatan aja lo bro, soalnya ganas.... "
"Gua tabok lu pake map tebel ini mau? " ancam Marsel dengan mengangkat sebuah map tebal.
"Tbl tbl tbl, takut banget loh.... Kaburr.... "
Enrico meninggalkan meja kerja Marsel, sedangkan Marsel masih kesal dengan tingkah sahabatnya.
"Awas kalau pulang, gua geprek lu ntar ric" ucap Marsel.
Selesai mengerjakan pekerjaannya, Marsel bergegas ke ruangan manager, ia berjalan melewati lorong kantor.
Dari arah belakang, tiba-tiba Marsel terdorong dari belakang, ia terjatuh dengan map nya dan meringis kesakitan.
"Auhhh, siapa sih yang lari larian? Kayak anak TK aja...! " tegas Marsel.
Marsel menatap ke depannya, ia melihat karyawati yang terjatuh dengan berbagai berkas yang dimilikinya.
"Lainkali tuh gak usah lari larian, kayak anak kecil aja pake lari larian dikantor" ucap Marsel dengan nada kesal.
"Dih, salah lo sendiri, badan gede tinggi ngalangin jalan orang! Kan jatuh semua barang gua! " sewot karyawati tersebut.
Melihat karyawati tersebut sewot dan bodyshaming atas badannya, Marsel mengerutkan keningnya.
"Enak aja lo, udah bodyshaming sama badan gua, asal enak aja nuduh orang ngalangin jalan lo, salah sendiri lari terus nabrak orang ampe jatuh, pake acara sewot juga, aneh lo" balas Marsel tak senang, ia memungut barang barangnya dan berdiri lagi.
"Kok lo gak tanggungjawab bantuin gua beresin barang?! "
Marsel tak menjawabnya dan tak peduli, ia langsung bergegas pergi dari tempat tersebut, karena ia malas berurusan dengan wanita.
"Dasar cowo gak peka! " teriak karyawati tersebut.
Di ruangan manager, Marsel meletakkan map yang berisi berkas yang sudah ia kerjakan, dengan raut wajah datar dan kesal membuat manager wanita tersebut menatap Marsel.
"Si tampan, kenapa wajahmu begitu? " goda manager.
"Tidak ada bu, hanya hal sepele saja... " ucap Marsel.
"Apa hal nya? Saya tidak suka melihat raut wajah karyawan yang seperti kamu, apalagi kamu tampan dan mudah tersenyum selama ini, sangat dikagetkan jika melihat raut wajah kamu yang terlihat kesal seperti ini. Mari duduk dan curhat dengan saya... "
Marsel menganggukan kepalanya, ia duduk dan memposisikan duduknya dengan sopan.
"Ada apa? Karyawan lain yang kurang menyenangkan ya? Terlihat sekali soalnya dari raut wajah kamu" tanya manager.
"Ya seperti itulah, bu Reni, tadi ribut sama karyawati lain, tapi itu sepenuhnya kesalahan nya sendiri"
"Kesalahan seperti apa? " tanya bu Reni.
"Dia berlari dan menabrak saya, yah dan dia bodyshaming dengan saya, ya tentu saja membuat saya kesal dan dia menyalahkan saya karena menghalangi jalannya. Kalau dia jalan seperti biasa saja mungkin tidak akan menabrak saya.... " jelas Marsel.
"Oh seperti itu, ya kamu maklumi saja, mungkin saja dia terburu-buru, tetapi pastinya saya tidak akan mentolerir karyawan yang terburu-buru seperti itu, karena membuat dirinya dan orang lain kacau saja" ucap bu Reni.
"Ya, terimakasih bu manager, saya permisi dulu... "
"Baiklah,kamu harus semangat ya, tersenyum lagi dong tampan, senyum kamu tuh indah, ditambah lagi tampan, sangat membuat saya semangat untuk bekerja" goda bu Reni.
Marsel menganggukan kepalanya, ia tersenyum dan keluar dari ruangan.
.
__ADS_1
Pov Marsel
Bu Reni tidak membantu sama sekali, taunya cuma bisa menggodaku saja.
Aku sengaja cepat cepat keluar dari ruangannya, karena tidak mau bermasalah dengan suaminya karena ulahnya sendiri yang suka menggoda pria lain.
Setelah ini aku harus memberikan satu berkas lagi ke ruangan Enrico, sekalian mungkin bisa bercerita dengannya.
Sesampainya aku di ruangan Enrico, dia melihatku kemudian menghindari ku.
"Aghhh! Jangan lihatin muka kusut lo sama gua Sel! Lagi terserang penyakit anti wajah kusut! "
Kesal dengan sikap usilnya, aku mendekat dan mengancam ingin memukulnya dengan map yang kupegang.
"Mau kena ini lo hah?!" ancam ku.
"Ganas amat lu Sel? Kayak cewe lagi bulanan aja" ejeknya.
"Lo itu yang buat gua kesal, sialan! Lama-lama gua tepuk juga muka lu pake map ini! " ancam ku.
"Hahaha, okelah, sorry deh.... Laporan kerja yang gua kasih tadi udah dikerjain? "
"Kalau belum selesai, gua gak bakal kesini, Rico! " kesal ku.
"Oh ya, santai santai, nanya doang kok, mood lo kayaknya gak bagus deh hari ini, ada apa sih? "
Kebetulan Enrico bertanya soal ini, tetapi rasa kesal ku belum mereda juga, karena banyak sekali kejadian yang membuatku kesal.
"Termasuk lo juga, dan karyawati gak jelas yang marah marahin gua di lorong karena katanya gua ngehalangin jalan dia...! " ucapku dengan kesal.
"Kok gua? Oh, maksudnya karyawati, ayo ayo duduk di situ, ngobrol sama gua lah"
Aku kemudian duduk, bertambah saja kesal ku saat ingin menceritakan di lorong tadi.
"Entahlah gua Ric, di lorong tadi berpapasan aja sama karyawati aneh bin stress, dia yang lari larian di lorong terus nabrak gua ampe gua dan dia jatuh. Bukannya minta maaf, malah bodyshaming badan gua. Sumpah, tuh karyawati aneh banget, mana dia bilang gua gak tanggungjawab karena barang barang dia jatuh, padahal dia sendiri yang buat orang juga jatuh! Pake acara ngatain gua gak peka juga! " jelasku dengan kesal.
"Ya, harusnya lo tanggungjawab dong Sel karena bikin barang dia jatuh, masa cewe jatuh gak lo bantuin... "
Saran Enrico sangat tidak membantu, aku kesal dan menepuk meja.
"Kok gua yang salah?! Dia tuh yang salah! " kesal ku.
"Eh, lo itu beneran sobat gua gak sih? Gua yang jelas jelas jadi korban, lo malah benerin si pelaku, malas gua sama lo, Ric! "
"Ya gak papa lu malas sama gua, kan gua maunya sama Arinska, secara gua cowo normal dan peka, gak kayak elu, antah berantah dan gak peka'an orang nya, mana mau cewe sama cowo yang gak peka'an kayak elu... "
Aku menahan kesal, mentang mentang dia naksir Arinska seenaknya saja menyebutku antah berantah.
"Dahlah, ngomong sama lo kayak ngomong sama bu Reni, gak membantu, bu Reni malah jadi tukang godain brondong, lo malah jadi tukang naikin darah gua! " tegas ku.
"Ya, mau sampai kapan lu gak mau jadi orang peka'an dikit, Sel, cewe mah ogah deket sama elu"
"Gua sendirian pun gak papa! Punya cewe malah bisa bikin gua hipertensi aja! "
Aku pergi dari ruangannya, sama sekali tidak membantu, yang ada bikin darahku naik.
Tring!
Hpku berdering, aku melihat layar hpku dan itu adalah Misella.
"Halo Sela, ada apa dek? "
'Kak, pesen cemilan dong kalau kakak habis pulang, soalnya temenku Wulan main ke rumah, hambar banget gak ada cemilan di rumah... ' ucap Misella dari telpon.
"Duitnya? " tanyaku.
'Gak usah pelit sama adek, kak, plis ya beliin, kakakku kan baik hati dan ganteng... '
Heh, giliran ada maunya selalu memuji ku, kalau aku gak diperlukan pasti selalu dia tindas.
"Iya deh, nanti sehabis ini kakak beliin cemilan, sama minuman dingin juga kan? "
'Nah, cocok, makasih ya kak, yaudah bye... '
Pip!
Misella mengakhiri panggilan, aku memasukkan hpku ke dalam kantong kemudian langsung bergegas untuk membereskan barangku, ingin langsung pulang saja.
.
__ADS_1
Pov author
Setelah berbelanja di minimarket, Marsel pulang membawa cemilan yang telah dipesan oleh Misella.
Sesampainya dirumah, Marsel bertemu dengan Misella dan memberikannya cemilan yang sudah dipesan, ia kemudian dengan nafas kesal dan mood yang kacau berjalan memasuki ruang kerja.
"Marsel, gak makan dulu nak? " teriak Salma dari dapur memanggil Marsel.
"Gak dulu mah, Marsel mau istirahat dulu" ucap Marsel.
Di dalam ruang kerja, Marsel mengusap kasar wajahnya, hari ini moodnya tak beraturan.
Secara tiba-tiba Misella dan Wulan masuk keruang kerja, Misella kemudian menahan Marsel, Marsel merasa kebingungan melihat adiknya secara tiba-tiba menahan nya.
"Ayo Wulan, pasangin aja, kalau berontak bisa kupegang si kak Marsel.... " ucap Misella dengan semangat.
Wulan dengan ragu ragu memasangkan dasi di kerah baju Marsel, dengan perlahan-lahan ia memasangkan dasi nya dan sesekali salah.
Melihat hal tersebut, ditambah mood yang sedang buruk, Marsel berteriak dan melepaskan pegangan adiknya, ia kemudian berdiri dan menatap kesal ke arah kedua wanita tersebut.
"Apa apaan maksud kalian berdua hah?! Kalian kira lucu bercanda disaat sekarang hah?! " bentak Marsel.
"Yaelah, gitu doang kok ka... "
"Gitu doang apanya?! Pasang pasang dasi sembarangan, kamu kira bagus?! " bentak Marsel ke arah Misella.
"Dan kamu juga, tau kurang ajar gak? Masuk masuk ruang kerja orang seenaknya terus masang masang dasi sembarangan, kamu kira itu sopan?! " tanya Marsel ke Wulan dengan nada yang meninggi.
"T.. Tapi bukan Wulan yang mau, bang Marsel.... " ucap Wulan dengan terbata bata.
"Makanya punya mulut tuh ngomong! Nolak kalau gak mau! Jangan semua kau angguk angguk saja! Kau mudah dibodohi orang kalau begitu! Orangtua kamu gak ngajarin kamu sopan santun hah?! "
Deg! Perkataan Marsel menusuk hati Wulan, Wulan terkejut dan terdiam mendengar perkataan Marsel yang menyakitkan itu.
"Kak! Jaga bicara kakak itu! " ucap Misella dengan tegas.
"Apa lagi hah?! Sekarang kalian berdua keluar dari ruangan ku, sekarang! " tegas Marsel.
Misella merangkul Wulan, Misella tau Wulan terkejut mendengar ucapan kakaknya yang menyakiti perasaaannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Halo semua
Apa kabar nih? moga selalu sehat ya dikala minyak lagi mahal š
Mau kasih kabar nih, sekarang author sudah punya grup NT tersendiri, yeeeeeyyyy!
Kalian bisa bergabung ke grup yang ada di profil author
š
Ayo yang mau gabung, kalian boleh kok ikutan, bebas dan unlimited, kita bisa diskusi bersama, kalau cocok berarti kita sejodoh, eaaaaa š
.
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£
__ADS_1