
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Misella dan Wulan keluar dari ruangan kerja, Salma berjalan ke arah ruang kerja, karena ia mendengar suara ribut ribut dari ruang kerja.
"Ada apa tadi? Kok kayak suara ribut ribut ya? " tanya Salma.
Salma kemudian melihat Wulan yang sedang menangis, ia kemudian merasakan ada hal yang sedang terjadi.
"Wulan kenapa, Sela? Apa kakak kamu main kasar sama dia? " tanya Salma.
"Emmm, seperti itulah.... " ucap Misella dengan ragu.
Salma menggelengkan kepalanya, ia ingin menyusul ke dalam ruang kerja.
"Mah, ngapain mau masuk kesana? " tanya Misella.
"Mama mau kakakmu minta maaf, mama gak suka kalau laki-laki suka kasar sama perempuan, mama udah berkali-kali ngingetin sama kakakmu, tapi kali ini kakak kamu ngelanggar! " ucap Salma dengan tegas.
"Aduh gak usah mah, mama salah tangkap tadi, Sela bakal jelasin deh di ruang keluarga... " ucap Misella.
"Sela, aku pamit pulang ya ke panti, makasih buat hari ini.... " ucap Wulan dengan nada sedih, Salma mengerti dengan apa yang terjadi.
"Gak mau aku anter, lan? " tawar Misella.
"Gak usah Sela, aku permisi dulu ya, assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam, hati hati ya Wulan... " jawab Salma.
Wulan pergi dari kediaman keluarga Thomas, Salma dan Misella mengantarkan Wulan sampai ke depan pintu saja.
"Marsel udah keterlaluan sih ini, bilang apa dia sampai-sampai temanmu begitu, Sela? " tanya Salma.
"Jadi gini mah... "
Misella menjelaskan apa yang telah terjadi tadi, Salma menyimak apa yang dijelaskan oleh Misella.
"Ohh, jadi begitu ya....? "
"Iya, mungkin karena kakak juga gak tau kalau Wulan itu anak yatim piatu, mungkin karena kemah kemarin jemput ke kostan Wulan maka nya kakak gak tau Wulan sebenarnya anak di panti asuhan.... " ucap Misella.
"Tapi kakak kamu kelewatan sih, mulut papamu banget yang dia tiru, mama pokoknya bakal beri dia pelajaran! " kesal Salma.
"Eeh, jangan mah, Sela gak mau diamuk kakak karena hal ini... " ucap Misella dengan nada ragu.
"Mama bakal hajar dia kalau dia ngamuk ngamuk ngga jelas! Gak usah takut kamu! " tegas Salma.
"Aduh mah, ini bukan kesalahan kakak kok, serius... "
"Kalau bukan kakak kamu, terus kesalahan siapa? " tanya Salma.
"Tadi tuh memang Sela yang salah, keliatan banget pas pulang kerja habis beliin cemilan buat Sela sama Wulan mood kakak lagi buruk, harusnya Sela gak ganggu kakak karena pengen comblangin Wulan sama kakak pake ide suruh pendekatan dengan masangin dasi. Gak mikir bisa sampai jadi begini, karena Sela kira kakak bakalan kesel doang terus jahilin Sela karena gangguin dia... " jelas Misella.
"Jadi gitu ya? Mama jadi gak enak sama temen kamu, Sela, gara-gara omongan kakak kamu, Wulan jadi sedih keinget orangtuanya yang udah gak ada karena diungkit sama kakak kamu... " ucap Salma dengan nada sedih.
"Yaudah mah, mama jangan gangguin kakak dulu ya, biarin kakak tenang dulu sama moodnya baik lagi, soal Wulan biar Misella pikirin caranya besok gimana pas mampir main di panti asuhan dia" ucap Misella.
"Eh btw, kata kamu comblangin itu maksudnya... "
"Iya mah, Wulan tuh suka sama kak Marsel, dia mau banget bisa pendekatan sama kak Marsel... " ucap Misella.
Salma terkejut dengan pernyataan Misella, ia merasa senang akhirnya ada wanita yang menyukai anak laki-laki nya dengan tidak langsung mengungkapkan nya demi kenyamanan anaknya.
"Yah, kamu gak bilang sama mama kalau dia suka sama kakak kamu, tapi tolong usahain ya buat minta maaf dulu sama Wulan, mama masih gak enak kalau belum minta maaf sama Wulan karena kakakmu... Haduh, kakakmu ada ada aja kerjaannya! " gemes Salma.
__ADS_1
"Iya mah, nanti Sela usahain... " ucap Misella.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Brian, Arinska baru pulang dari berlibur nya ke Paris.
Arinska turun bersama asistennya dan pembantunya yang membawa barang barangnya.
Di dalam rumah, sudah kedengaran suara keributan, Arinska penasaran dan segera masuk ke dalam.
"Harusnya kau sadar, Arinska sudah sangat berfoya-foya dengan semua hartamu, Brian! "
"Apa masalahnya?! Dia anakku, putriku, aku ingin membahagiakan dia dengan apa yang aku punya, karena dia hanya satu untuk ku! " teriak Brian.
"Brian! Harusnya kau cepat sadar, aku sengaja membatasi Arinska itu demi kebaikannya! Aku tidak mau nantinya Arinska hanya bisa boros dan tidak menghargai sesuatu yang telah ia belikan! Aku tidak mau Arinska menjadi wanita boros, bukannya menjadi wanita yang bisa mengatur keuangan! " tegas Arina.
"Untuk apa kau pusingkan hal itu, Arina?! Aku punya banyak harta, dan itu semua untuk Arinska nantinya, surat warisan sudah kutulis atas namanya, aku ingin dia bahagia dengan apa yang sudah ku kumpulkan bertahun-tahun lamanya untuknya agar dia tidak pernah merasakan penderitaan! Dan kau, kau cuma bisa membatasi kesenangannya! " ucap Brian dengan tegas.
"Aku tidak membatasinya, aku mengaturnya, agar dia tidak seenaknya menghamburkan semuanya dengan maksud yang tidak jelas! Aku ini wanita, Brian, aku lebih mengerti sifat dari wanita tersendiri! Dan aku mengajarkannya untuk putriku Arinska, karena aku tidak ingin dia menjadi orang yang tidak menghargai suatu barang yang tidak sekelas dengan apa yang dibelinya dan aku tidak mau dia terkejut jika roda kehidupan itu berputar! " teriak Arina.
"Kau egois, Arina, kau tidak memikirkan kebahagiaan putrimu sendiri, malah kau mengajarkannya hal yang membuat dia tertekan dan harus merasakan pahitnya hidup! " kesal Brian.
Arinska hanya bisa terdiam melihat kedua orangtuanya bertengkar, ia hanya bisa mendengarkan dan menahan perasaan nya.
"Aku tidak egois, Brian, kau yang lengah! "
"Aku tidak peduli, asal putriku bahagia, aku tidak akan mendengarkan ucapanmu Arina! "
"Bagaimana kalau Arinska itu bukan darah dagingmu?! " teriak Arina.
Deg!
Perkataan Arina menusuk perasaan Arinska yang mendengarnya, Arinska tidak percaya kalau mamanya mengatakan bagaimana kalau ia bukan darah daging dari Brian.
"Kalian! "
Brian dan Arina menatap ke arah pintu utama, mereka melihat putri mereka Arinska yang menangis.
"Jadi semua ini hanya pembohongan, mama?! " tanya Arinska dengan nada kecewa.
"Tidak, tidak seperti itu nak, mama hanya mengatakan pada papamu agar dia tidak terlalu memanjakan kamu dan kamu tidak selalu berfoya-foya dengan apa yang papamu berikan, maaf mama tidak bermaksud begitu, kamu tetaplah putri dari mama dan papa, sayang.... " jelas Arina.
"Mama bilang papa tidak boleh memanjakan ku dengan apa yang papa punya? Terus aku harus menderita, mama?! " tanya Arinska dengan nada kesal.
Arinska menangis lagi, sedangkan Arina dan Brian menatapnya, Brian berinisiatif mendekati putrinya dan ingin menghapus air mata putrinya.
"Mama bilang bagaimana kalau aku bukan anak dari papa, karena mama gak senang aku menggunakan uang dari papa... Kenapa mama tidak bunuh saja Arinska saat Arinska masih di dalam kandungan, agar Arinska tidak membuat mama terasa berat mengurus Arinska?! " teriak Arinska, ia kemudian berlari keluar rumah dan berencana ingin mencari tempat yang ia rasa dapat menenangkannya.
.
.
Di kediaman keluarga Thomas, mereka kedatangan Azizah yang mampir untuk main ke rumah, ia bermain dengan kucing milik Misella, yaitu Winter.
"Ini meongnya udah gede ya? Gak kerasa kalau udah segede ini... " ucap Azizah.
"Iya kak izah, sering di kasih makan sih, makanya bisa segede ini" ucap Misella dengan senang.
"Ini nugget nya, baby... "
Raka membawa sepiring nugget yang telah ia goreng, karena tidak ada Salma di rumah yang membuat ia harus menggoreng nuggetnya sendiri.
"Aihhh, makasih ya ayang, tau banget aku suka nugget sampai dibawain sama digorengin... " ucap Misella, ia mengambil nuggetnya dan memakannya, begitupun dengan Azizah.
__ADS_1
"Ini kucing yang kamu maksud itu ya, beb? Wuihh, gede banget dia... " ucap Raka sambil membelai Winter.
"Iya lah yang, dikasih makan banyak banyak makanya dia sampe segede gini" jelas Misella.
"Jenis kelaminnya apa beb? " tanya Raka.
"Kayak kamu, berbatang dia" jawab Misella dengan santai.
Raka merasa malu dan ia kemudian memegang kepala Misella agar bisa disadarkan dari pikiran kotor.
"Masak apa kalian? " tanya Marsel.
"Nah kak, nugget, makanan kesukaan kita kan? " tawar Misella, Marsel mengambil nuggetnya kemudian memakannya.
"Mana temenmu yang tadi, udah pulang kan dia? " tanya Marsel.
"Ih kakak, kakak kejam tau, sampai nangis dia kakak katain begitu tau" jawab Misella.
"Biarin, siapa suruh masang masang dasi sembarangan, dikira sopan gitu? " ucap Marsel dengan nada kesal.
Misella menggelengkan kepalanya, ia merasa kakaknya masih kesal dan tidak tau yang sebenarnya.
Tiba-tiba suara mobil dan gerbang terbuka, Misella melihat ke arah depan, bukan mobil mama atau papanya, melainkan mobil lain.
"Siapa beb? " tanya Raka.
"Gak tau, kayaknya tamu yang... " jawab Misella.
Suara sepatu heels terdengar di luar rumah, tiba-tiba Arinska muncul dan masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam kemudian langsung memeluk Marsel yang sedang duduk menikmati nugget.
"Iska, ada apa? " tanya Marsel, karena ia mendengar isakan tangis dari Arinska.
"Iska, kok baju kamu begitu sih? Dan juga gak boleh peluk laki-laki yang bukan mahram kamu... " ucap Azizah.
"Kok lo yang sewot, Azizah?! Lo tau apa hah?! " ucap Arinska dengan nada kesal.
"Maaf iska, sesama wanita muslim kita harus saling mengingatkan, agar selalu jaga diri dan tutup aurat kita.... " ucap Azizah.
Arinska kemudian melepas pelukannya, ia kemudian mendekati Azizah.
"Ngingetin? Lu kira bagus ngingetin disaat gua begini hah?! Lu kira lucu?! " ucap Arinska dengan nada kesal.
"Harusnya lo itu bertindak, bukan cuma omongan doang, Azizah! Lo kira dengan diri lo yang tertutup kayak gini udah ngejadiin lo wanita yang baik-baik?! Koreksi diri lo sendiri dulu sebelum ngurusin hidup orang! Gua udah muak dengar ucapan lo yang selalu bilang ngingetin ngingetin gua, lo kira lo siapa hah?! " bentak Arinska.
"Gua tau lo itu terdidik! Didikan agama lo bagus, gak dengan gua yang cuma bisa menjalankan ibadah tanpa ngerti apa arti itu sebuah ibadah! Andaikan saja ortu gua kayak ortu lo, gak bakal gua sebebas ini dalam berpakaian dan tatakrama! Lo gak tau gimana gak terurus nya gua, karena kedua ortu gua orang sibuk! Mungkin kalau lo di posisi gua, lo bisa ngerasain jadi gua! Gua sengaja pengen dekat dengan kak Marsel karena gua rasa dialah yang bisa jadi sandaran gua disaat gua ada masalah! Lo kira gua kegatelan untuk jadikan kak Marsel hiburan gua?! Gak! Gua bakal milih om om dan laki-laki tua untuk gua jadikan hiburan gua, dibandingkan kak Marsel orang yang gak pernah peka terhadap perempuan! Lo cuma ngebacot karena lo ngerasa diri lo itu baik bisa nge nasehatin orang! Andaikan aja, andaikan aja, biar lo bisa ngerasain gimana jadi gua! " bentak Arinska.
Azizah hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang terkejut, sedangkan Arinska pergi lagi dari rumah keluarga Thomas entah kemana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa gabung ke grup Jeloyelo dan jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£