
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Beberapa hari setelahnya, keluarga Marsel telah bersiap siap, begitupun dengan sepupu sepupu dari keluarga Thomas dan Salma yang ikut menemani Marsel hantaran.
"Wih, akhirnya si tampan ini lamaran juga, mau hantaran juga, selamat ya sepupuku" ucap sepupu Marsel.
"Iya makasih, yaudah kamu masuk ke dalam mobil satunya lagi, ini mobil untuk keluarga kami" ucap Marsel.
Marsel kemudian berjalan ke dalam mobilnya, ia duduk di depan, sedangkan di belakang adalah Salma dan Misella yang memegang hantaran.
"Sudah semua? " tanya Thomas.
"Sudah, jalan aja mas, nanti rombongan di belakang bakalan ngikutin kita, mas tau kan dimana pantinya? " tanya Salma.
"Iya, aman aja sayang" ucap Thomas.
Thomas kemudian menjalankan mobilnya, diikuti oleh rombongan keluarga yang ikut dalam hantaran lamaran tersebut.
.
.
Sesampainya di panti asuhan, sebagian keluarga dari Thomas dan Salma terkejut, ternyata mereka beralih ke panti asuhan.
Marsel yang melihat raut wajah dari sebagian keluarga nya terkejut, ia menatap semua keluarga nya dengan tatapan sinis, alhasil sebagian keluarga nya mengerti bahwa Marsel tidak suka kalau mereka terkejut.
"Selamat datang, keluarga besan, ayo silahkan masuk... " sambut bu Santi.
Semua keluarga dari Thomas dan Salma ikut masuk, begitupun dengan Marsel yang memegang hantaran berupa perhiasan dan cincin nikah untuk Wulan.
Beragam hantaran dibawa, buah buahan, seperangkat alat shalat, pakaian formal dan nonformal, skincare dan makeup.
Hari ini anak anak panti berpakaian rapi, mereka juga ikut menyaksikan kakak mereka, Wulan, yang akan dilamar oleh Marsel.
Wulan yang sudah dirias sebagus mungkin ia menyambut calon keluarga besarnya, ia menerima hantaran yang diberikan Marsel.
"Kakak Wulan...! Kakak Wulan cantik...! Abangnya juga ganteng...! " teriak salah satu anak panti.
Bu Santi mengisyaratkan diam untuk anak panti tersebut, sedangkan Marsel dan Wulan yang ada di depan tersenyum melihat salah satu anak panti yang berteriak mereka.
.
.
Selesai hantaran dan doa bersama, Wulan menarik tangan Marsel, ia membawa Marsel di dekat tumpukan barang-barang hantaran.
"Bang, itu apa ya? Kayak mainan rumah rumahan gitu terus ada map nya... " tanya Wulan sambil menunjuk ke arah sebuah map.
"Wulan, di dalam kotak hantaran ini yang berbentuk mainan replika rumah rumahan seperti ini adalah rumah, dan map itu adalah sertifikat rumah, jadi rumah rumahan ini yang artinya rumah itu hantaran abang untuk kamu, itu berarti rumah dan sertifikat itu untuk kamu, Wulan... " jawab Marsel.
Wulan yang mendengar jawaban Marsel terkejut, ia tidak menyangka bahwa hantaran yang diberikan tidak tanggung tanggung selain perhiasan, yaitu juga sertifikat rumah untuk nya.
"Abang.... " haru Wulan.
"Ini semua uang loh... Selama ini Wulan hanya melihat kakak kakak panti yang sudah menikah itu hantaran nya hanya sebatas seperangkat alat shalat saja... Tapi Wulan... "
Belum sempat mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan, Wulan menangis, membuat Marsel panik.
"Lan, Wulan kenapa nangis? " tanya Marsel dengan panik.
"Wulan gak nangis bang, Wulan terharu... Hantaran untuk Wulan yang padahal Wulan ini bukan siapa-siapa, bukan wanita yang wow, hantaran nya bisa semewah ini, ini pasti mahal kan? " tanya Wulan.
"Masalah mahal murahnya itu abang yang tanggung, kamu tinggal mikirkan kedepannya untuk kita nanti ya, calon istrinya abang... " ucap Marsel sambil mengusap air mata Wulan.
Wulan memeluk Marsel, pelukan tersebut dibalas oleh Marsel, mereka saling berpelukan.
.
.
Sebelum persiapan pernikahan, Marsel dan Wulan sudah disibukkan oleh persiapan nikahan mereka, dan juga mereka berencana untuk menukar cincin nikahan mereka.
"Lan, kenapa Wulan minta sama abang buat ganti cincin? Cincin yang kemarin gak bagus ya? " tanya Marsel.
"Emmm, sebenarnya begini sih bang, maaf ya bang, abang jangan marah... " ucap Wulan dengan ragu.
"Jelasin aja lah, abang bakalan dengerin... " ucap Marsel.
__ADS_1
"Cincin yang kemarin abang kasih itu kesempitan sama jarinya Wulan, mau kemarin ngasih tau, tapi gak enak sama keluarga nya abang, nanti Wulan dibilang matre lagi... " ucap Wulan.
"Ya, harusnya ngomong kemarin itu gak papa, Lan, abang juga salah ngukurnya, pake ngukur cincinnya sama cincinnya Misella, eh taunya jarinya kamu lebih besar daripada jari kelingking nya Misella" ucap Marsel.
"Aduh, segede itu ya jari manisnya Wulan? Jadi malu deh... " ucap Wulan dengan nada malu malu.
"Hahaha, santai aja Wulan, baguslah kamu ngomong dari sekarang, daripada nanti pas acara nikahannya jari kamu memerah gara-gara abang paksa masukkan.... " gelak tawa Marsel.
Wulan dan Marsel tertawa, dari situ Wulan bisa menilai calon suaminya, Marsel itu orangnya tidak sedingin yang ia kenal kalau sudah dekat dengan seseorang.
Setelah selesai menyiapkan semuanya, mulai dari sewa MUA, panggung pelaminan, baju dan cincin pernikahan, serta lainnya sudah disiapkan.
Marsel dan Wulan sepakat akan menyewa penyanyi jalanan untuk dijadikan MC beserta penghantar lagu untuk pernikahan mereka, karena tidak ingin membuat kebisingan karena menyewa organ tunggal dan sekaligus bisa membantu penyanyi jalanan itu dalam mencari rezeki dengan menyewanya.
Wulan kembali ke rutinitas kuliah siangnya, karena ia sangat rindu saat bisa dapat jadwal kuliah bersamaan dengan Misella, maka dari itu ia pindah jadwal kuliah yang sebelumnya malam kembali mengambil jadwal kuliah siang.
Saat fokus akan kelas kuliahnya, sebuah chat masuk ke HP Wulan, Wulan melihat sebuah pesan dari Marsel.
Mencuri curi pandang, Wulan melihat pesan dari Marsel, dengan menunggu hpnya yang ngelag ia bersabar.
'Mau ganti hp, tapi belum cukup tabunganku, kerja aja di restoran belum digaji untuk bulan ini, gak mungkin mau ngeberatin bu Santi lagi, kan uangnya bisa untuk adik adik panti ketimbang beli HP baru untuk aku, sabar dulu ya Wulan, hehehe... ' ucap Wulan dalam hati.
Wulan membuka chat dari Marsel, ia melihat pesan dari Marsel untuknya, yaitu Marsel yang mengajaknya makan malam bersama.
Salting, Wulan merasa malu, wajahnya tiba-tiba memerah, karena baru kali itu ia diajak makan oleh laki-laki, apalagi laki-laki tersebut akan menjadi suaminya seminggu nantinya.
'Lan, jangan liat hp dulu, nanti dimarahin sama bu dosen loh... ' ucap Misella yang ada disebelahnya, Wulan kemudian mematikan hpnya walaupun butuh usaha untuk mematikan hpnya yang lemot itu.
.
.
Malam harinya, Wulan dan Marsel makan malam bersama, Wulan dengan malu malu menggandeng lengan Marsel dan berjalan ke meja yang telah Marsel pesan.
"Abang, Wulan malu... " ucap Wulan.
"Ngapain malu Lan, ini kan restoran bebas, siapapun bisa datang asal bisa bayar... " ucap Marsel.
Marsel dengan romantis menarik kursi untuk Wulan, malam itu Wulan diperlakukan dengan anggun oleh Marsel, walaupun Wulan sendiri yang merasa insecure, tetapi Marsel berusaha menepis rasa insecure pada Wulan.
"Gak papa, Wulan, santai saja... " ucap Marsel.
"Abang... "
"Kenapa? Malu? Masa malu sama abang... Dipegang tangan seperti ini aja kamu malu malu, dasar kamu Wulan... " ucap Marsel.
"Bu.. Bukan gitu... Soalnya Wulan tuh gak pernah pacaran, apalagi sampai begini, makanya Wulan sampe kaget gini loh, bang Marsel... " ucap Wulan dengan grogi.
"Hahahaha, yasudah, sekarang kamu gak usah malu malu lagi sama abang, dan juga, kamu gak boleh insecure sama dirimu sendiri saat disini, karena kamu juga berhak mencoba makan malam di restoran, yang pastinya makannya bareng sama calon suamimu yang imut ini... " ucap Marsel dengan guyonan nya.
Wulan tersenyum, ia tertawa dan mencubit pipi Marsel dengan gemas, karena Marsel ia tidak merasa insecure maupun ragu ragu.
Makanan telah sampai, Wulan merasa tercengang ketika melihat makanan restoran yang belum pernah ia makan, karena baru kali ini ia diajak makan malam di restoran.
"Lan, mau difotoin dulu gak makanannya? " tanya Marsel.
"Eh, boleh difoto nih? " tanya Wulan.
Marsel mempersilahkan Wulan memotret dahulu makanannya, Wulan mengambil hpnya dan mulai harus menunggu hpnya yang lemot itu untuk membuka aplikasi kamera.
Marsel setia menunggu, ia juga nantinya akan memberikan Wulan kejutan setelah makan malam.
.
.
Selesai makan malam, Marsel dan Wulan keluar dari restoran, mereka saling bergandengan menuju ke mobil.
Di perjalanan, Marsel kemudian berencana mengajak Wulan di pinggir danau dekat pinggiran kota, Wulan menyetujuinya.
Sesampainya di pinggir danau, Marsel mengajak Wulan ke pinggiran danau, disekitar mereka juga banyak pasangan yang duduk duduk dan juga banyak pedagang yang nangkring di pinggiran danau tersebut.
"Wulan mau abang pesenin bandrek? " tanya Marsel.
"Boleh bang, Wulan mau... " jawab Wulan.
Marsel kemudian datang ke angkringan, ia memesan dua gelas bandrek untuk diminum, tak lupa juga membeli makanan ringan agar tidak hambar.
"Ini Lan, sambil nunggu bandrek nya datang... " ucap Marsel sambil menyerahkan kresek yang berisi camilan tersebut pada Wulan.
__ADS_1
"Aduh, gak usah repot repot bang... " ucap Wulan.
"Kenapa? Malu? Masa sama abangmu kamu malu gitu, biasa aja, sayangku... " ucap Marsel.
Wulan hanya menganggukkan kepalanya, kemudian datanglah minuman bandrek yang dipesan oleh Marsel, Marsel memberikan segelas bandrek tersebut pada Wulan, mereka meminumnya dan menikmatinya.
"Emmm bang Marsel... " panggil Wulan.
"Iya, kenapa sayang? " tanya Marsel.
"Makasih ya buat malam ini, abang udah bikin Wulan seneng dengan ngajakin makan malam, terus duduk duduk disini sambil menikmati suasana danau malam ini dan duduk dipinggiran minum bandrek begini, Wulan seneng banget... " ucap Wulan.
"Kamu senang Lan? Abang merasa bersyukur kalau kamu bisa senang abang ajak makan malam sama duduk di pinggir danau begini, abang malah ngerasa tadi kayaknya kamu kurang seneng deh abang cuma ngajak kamu makan malam sama duduk duduk disini doang... " ucap Marsel.
"Ngga kok, begini aja Wulan udah seneng, Wulan merasa bersyukur bisa bersama dengan bang Marsel. Setidaknya, Wulan bisa merasakan suasana malam seperti ini yang jarang Wulan rasakan, apalagi sekarang Wulan sudah jadi calon istrinya abang, itu Wulan sangat sangat sangat senang banget...! " ucap Wulan dengan semangat.
Marsel tersenyum, ia kemudian mengingat sesuatu dan meminta Wulan menunggu nya sebentar.
"Wulan, kamu nunggu disini bentar ya? Abang mau ke mobil sebentar... " ucap Marsel.
"Oh iya bang, Wulan bakalan nunggu disini... " ucap Wulan.
Wulan menunggu Marsel, setelah beberapa menit Marsel kembali padanya dengan membawa totebag.
"Ini untuk kamu, Lan... " ucap Marsel sambil menyerah kan totebag.
"Untuk Wulan, bang? " tanya Wulan.
Marsel menganggukan kepalanya, Wulan kemudian mengambil totebag yang diberikan oleh Marsel.
Marsel duduk disebelah Wulan, melihat Wulan yang sedang merogoh isi totebag nya.
"HP? Ini HP? " tanya Wulan.
Wulan melihat ke arah Marsel, Marsel tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Iya, HP, itu HP dari abang untuk Wulan, semoga Wulan suka sama HP yang abang beli untuk Wulan... " ucap Marsel.
Wulan terharu, ia kemudian langsung memeluk Marsel, ia menangis tersedu sedu.
"Abang, abang kok baik banget sama Wulan... Wulan gak bisa berkata apa apa atas apa yang abang lakukan untuk Wulan malam ini... Wulan bahagia banget... " ucap Wulan, ia kemudian melihat lagi hpnya dan membuka kotak hpnya.
"Kamu suka? " tanya Marsel.
"Suka, makasih ya bang, Wulan merasa senang bisa punya hp baru... " jawab Wulan.
"Syukurlah, memang ini udah jadi rencana abang buat ngasih hp ini buat kamu, karena abang pernah lihat kamu cukup kerepotan sama hpmu, keliatan nya hp kamu udah lama dan pastinya lemot, abang berniat buat beliin ini buat kamu biar kamu kalau berkomunikasi atau pake aplikasi apapun gak kerepotan lagi... " ucap Marsel.
Wulan menatap Marsel dengan bahagia, Marsel merasa senang ia bisa membahagiakan Wulan.
Lagi lagi Wulan memeluk Marsel, Marsel dan Wulan saling bertatapan, membuat Marsel ingin mencium Wulan.
"Abang... "
"Kamu mau kan? " tanya Marsel.
Marsel kemudian mencium bibir Wulan, Wulan mengerti dan membalasnya, malam itu adalah malam dimana mereka merasakan ciuman pertama mereka, dan juga saling berbagi kisah cinta yang nantinya akan menjadi kenangan mereka setelah menikah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£