
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Setelah beberapa hari Arinska dan Enrico menikah, sudah waktunya kesempatan Azizah agar bisa berdekatan dengan Marsel, karena ia sudah diberi jalur kesempatan untuk bisa memiliki Marsel sesuai dengan apa yang diinginkan Arinska.
"Azizah.... Azizah.... "
Azizah yang sedang merenung di kamar nya kemudian ngeh dengan panggilan ibu Rahma, ia kemudian menjawab panggilan tersebut.
"Adek lagi ngapain? Lagi merenung ya? Ibu panggil gak denger kamu dek" ucap bu Rahma.
"Ibu tumben mau masuk ke kamar adek, ada apa bu? " tanya Azizah.
"Izah, kamu udah ada tanda tanda ya pengen ngelanjutin sebuah hubungan serius? Ibu jadi penasaran sama kamu, keliatannya kayak seneng banget" ucap bu Rahma.
Azizah hanya bisa tersenyum senyum malu, ia kemudian berdekatan dengan ibu Rahma dan berlutut di dekat bu Rahma.
"Iya bu, sebenarnya adek tuh ada tanda tanda pengen ngelakuin hal yang serius, tapi adek harus nunggu kepastian dulu... " ucap Azizah.
"Alhamdulillah, kamu beneran ada tanda tanda pengen ngelakuin hal yang serius? Kamu terima lamarannya anak pak kyai buat taarufan, si Arifin? " tanya bu Rahma dengan nada semangat.
"Apaan sih ibu, bukan si Arifin lah bu, izah gak mau taarufan sama dia, karena yang izah denger si Arifin itu laki-laki yang suka godain santriwati di pondok pesantren pak kyai itu sendiri. Yang ada nanti si Arifin kerjaannya bikin Azizah sakit kepala aja, izah kan cuma mau satu pasangan itu milik izah sendiri, gak mau bagi-bagi sama orang lain... " jelas Azizah.
"Kamu izah, belum kenal dekat sama Arifin udah suudzon aja, gak baik tau suudzon gitu. Ingat kata pepatah 'jangan lihat dari luarnya, tapi lihatlah dari dalamnya'. Mungkin menurut izah, si Arifin itu laki-laki yang suka godain santriwati di pesantren nya sendiri, tapi mungkin aja si Arifin itu sekedar hanya bersenda gurau dengan santriwati di pondok pesantren nya itu. Lagipula kan ayah kamu seneng banget kalau kamu berjodoh dengan Arifin, udah ganteng, kerjaanya udah ada dan mapan, hafidz Al-Qur'an juga, ayah sama ibu serta kakak kamu seneng banget kalau semisal kamu benar benar mau terima taarufan nya Arifin, itu tuh udah jadi impian kami loh, izah... " ucap bu Rahma dengan semangat.
"Tapi kan bu, Azizah gak milih si Arifin itu, Azizah juga sudah punya yang lain, bukan Arifin yang ada di pikiran nya Azizah" ucap Azizah dengan nada tidak senang.
"Terus siapa? Ibu mau tau dong, adek... " ucap bu Rahma dengan nada ingin tahu.
"Azizah udah dapat kesempatan untuk bisa berjodoh dengan bang Marsel, bu... " ucap Azizah dengan semangat.
"Serius nih bang Marsel, izah? Nanti kalau ibu tanya sama bang Marsel, apa dia naksir kamu, nanti dia jawab adek cuma dijadikan adik nya gimana? Mending yang pasti pasti aja lah, izah... " tanya bu Rahma.
"Izah lagi berusaha bu, sebelumnya Arinska udah kasih dukungan buat izah bisa deketin sampai sejodohan sama bang Marsel, bu. Ibu kan tau sendiri, memang Azizah tuh gak mau dianggap adik sama bang Marsel, setidaknya bisa jadi pasangan nya.... " jawab Azizah meyakinkan.
"Yaudahlah, itu pilihan kamu, ibu cuma nyaranin kamu baiknya terima taarufan nya Arifin, karena ibu gak sepenuhnya bisa percaya kalau Marsel bisa nerima kamu, izah.... " ucap bu Rahma, ia kemudian berdiri dari duduknya dan keluar dari kamar Azizah.
Azizah kemudian tersenyum senyum sendiri lagi, ia kemudian melihat jam nya seketika terkejut, karena jadwal kuliahnya dimulai saat itu.
Setelah sampai di kampus, Azizah dengan terburu-buru untuk masuk ke kelasnya, bersyukur saat itu belum ada dosen yang masuk ke kelasnya.
"Izah, kok tumben tumben nya kamu datangnya telat, ngapain? " tanya teman Azizah yang berada di sebelahnya.
"Maaf, aku kebanyakan ngelamun di rumah, makanya sampai lupa ada jadwal kuliah... " jawab Azizah.
"Pak dosen tadi udah masuk? " tanya Azizah sambil mengeluarkan peralatan tulis dan laptopnya.
"Sudah, kamu ketinggalan satu materi, nanti aku kirim ya, sekarang lanjutin aja yang bakal dijelasin sama dosennya nanti" jawab teman Azizah.
"Oke, syukron... "
.
.
Sore telah tiba, Azizah yang berada di perpustakaan mulai menyusun peralatan tulisnya dan semua barang barang yang ada di meja perpustakaan tersebut, ia keluar dan bertemu dengan Misella.
"Sela, kamu dari perpustakaan juga ya? " tanya Azizah.
"Eh iya kak, ini aku abis minjem satu buku buat kubawa pulang, kakak juga mau pulang ya? Barengan aja yuk sama aku, kebetulan kak Marsel yang jemput aku, tenang, nanti kakak aku suruh duduk di depan biar bisa sebelahan sama kak Marsel. Kan kata kak Arinska, kak Azizah itu harus mulai PDKT sama kak Marsel, karena itu udah jadi wasiatnya kak Arinska untuk aku dan kakak Azizah sendiri" jawab Misella.
Merasa itu kesempatan yang bagus, ditambah lagi Misella yang ikut mendukungnya, Azizah merasa senang.
"Boleh ya? Ngga ngerepotin nih? " tanya Azizah.
"Ihhh gak boleh malu malu, tenang aja, kalau kak Marsel marah, bakal ku tendang dia" jawab Misella meyakinkan.
.
.
Di luar kampus, tepatnya tempat parkiran, Misella menarik tangan Azizah kemudian mengajaknya berlari ke mobil Marsel.
"Halo kakakku yang ganteng, kakak hari ini tepat janji deh mau jemputin Sela" puji Misella.
"Udah, gak usah muji muji kayak gitu, kamu muji kakak pas ada maunya aja, kalau gak ada kakak kamu aniaya" ucap Marsel yang fokus dengan layar HP nya.
"Oh ya, sekalian kakak duduk sama kak Azizah ya? " tanya Misella.
"Loh, dia kan bisa duduk barengan sama kamu, Sela" ucap Marsel.
Marsel yang awalnya tidak peduli, seketika kaget ketika Misella menyuruh Azizah duduk bersebelahan dengannya.
"Kan ingat tuh wasiat kak Arinska, kalau kakak sama kak Azizah tuh harus sejodoh. Kak Arinska aja tahan mau ngalah dan mau nikah sama kak Enrico biar kak Azizah bisa sejodoh sama kakak, ingat kak, itu wasiat kak Arinska" ucap Misella.
"Udah, ayo kak Azizah, silahkan duduk di sebelah kak Marsel ya... " sambung Misella.
Misella kemudian menyuruh Azizah untuk naik ke mobil, ia juga memasukkan jilbab panjang serta gamis panjang Azizah hingga tak merumbai rumbai ke luar pintu mobil, kemudian ia masuk ke dalam mobil mengambil kursi belakang.
"Kak" panggil Misella.
"Apalagi, Sela? " tanya Marsel yang fokus dengan kendaraan nya.
"Cobalah senyum dikit, kan di sebelah kakak ada calon kakak loh, masa ada calon nya sendiri gak berusaha mau romantis sih? " ucap Misella.
Marsel kemudian melihat Misella dari kaca spion, ia kemudian mulai tersenyum terpaksa, akibatnya Misella tertawa melihat ekspresi tersenyum Marsel, sedangkan Azizah tertawa malu malu.
"Kakak, gak usah ngelawak deh, senyum tuh harus ikhlas, gak boleh terpaksa... " ucap Misella.
"Ya kakak lagi fokus nyetir gini kamu suruh kakak senyum senyum, mana bisa" kesal Marsel.
Di tengah perjalanan, Misella menepuk pundak Marsel.
"Kak, kakak... " panggil Misella sambil menepuk pundak Marsel.
__ADS_1
"Ada apa lagi Sela? " tanya Marsel.
"Berenti dulu dong di minimarket, aku mau beli cemilan dulu, ya, ya? " tanya Misella.
"Oke, bentar"
Menemukan di pinggir jalan ada minimarket, Marsel menepikan mobilnya ke arah trotoar, Misella menyodorkan tangannya ke arah Marsel.
"Kenapa? Minta uang? " tanya Marsel.
"Hehehe, iya.... " jawab Misella dengan senyum manis tapi licik.
Marsel menggeleng kepalanya, ia merogoh dompet nya dan memberikan selembar uang kertas warna merah dengan Misella.
Misella merasa senang, ia berterimakasih dan mencium pipi Marsel kemudian keluar dari mobil menuju ke minimarket.
"Azizah... " panggil Marsel.
Azizah yang merasa gugup segera menatap ke arah Marsel yang memanggilnya.
"Iya bang, ada apa? " tanya Azizah.
"Gimana kuliah mu? Lancar? " tanya balik Marsel tanpa melihat Azizah.
"Alhamdulillah, sejauh ini kuliahnya Azizah lancar, bang" ucap Azizah dengan nada senang.
"Oh begitu... "
Suasana mulai sunyi kembali, Marsel mulai berdeham dan menyenderkan tubuhnya di jok mobil.
"Azizah, kamu ingat apa yang dikatakan Misella tadi sebelum naik mobil kan? " tanya Marsel.
"Izah masih inget bang... " jawab Azizah dengan gugup.
"Kamu ambil serius apa yang diucapkan Misella tadi, Azizah? " tanya Marsel tanpa melihat Azizah.
"Seperti itu bang, Azizah sangat senang mendengar ucapan Misella tadi, ditambah lagi Arinska sudah mengizinkan nya, Azizah sangat.... "
"Tapi tidak dengan aku, Azizah" ucap Marsel dengan nada serius.
Azizah kemudian diam, Marsel menatapnya dan mulai duduk di posisi semula.
"Selama ini, tepat nya sesudah Arinska menikah, abang rasa kamu beberapa hari ini mendekati abang terus kan? " tanya Marsel.
"Iya bang, hanya saja Azizah menjalankan apa yang sudah di wasiatkan oleh Arinska bang, untuk bisa menjadi pasangan.... " jawab Azizah dengan nada ragu.
"Tapi maaf Azizah, abang tidak pernah menganggap kamu sebagai pasangan abang, dan tepatnya abang tidak pernah menganggap kamu sebagai calonnya abang.... " ucap Marsel.
Deg!
Azizah terkejut mendengar pernyataan Marsel, ternyata selama pendekatan tersebut, Marsel tidak pernah goyah ataupun tertarik pada dirinya.
"Bagaimana pun, kamu dan Arinska adalah adik, bagaimanapun abang tidak akan pernah mengambil kalian untuk menjadi pasangan abang, abang sengaja agar Enrico bisa menikahi Arinska agar tidak ada lagi perselisihan di antara kamu dan Arinska. Dan setelah Arinska bisa menikah dengan Enrico, bukan berarti abang ingin kamu mendekati abang, Azizah" jelas Marsel.
Marsel kemudian memegang kepala Azizah, Azizah yang hanya diam terkejut ketika kepalanya dipegang oleh Marsel.
Azizah yang merasa hancur hatinya mendengar pernyataan Marsel hanya bisa menganggukan kepalanya, Marsel membenarkan duduknya kembali, sama halnya dengan Azizah.
.
.
Sesampainya di rumah Azizah, Azizah turun dan mengambil tasnya.
"Misella, bang Marsel, makasih ya udah kasih tumpangannya buat Azizah, Azizah pamit dulu, assalamu'alaikum... "
Dari nada suara Azizah yang terkesan sedih, Misella bisa tau, sepertinya ada sesuatu hal yang terjadi ketika ia sedang berbelanja di minimarket tadi.
"Waalaikumsalam.... " ucap Marsel dan Misella bersamaan.
"Kakak, ini pasti ulah kakak ya? " tanya Misella dengan nada mengintimidasi.
"Ngga... Ngga ada kok.... " jawab Marsel dengan ragu.
"Awas, lihat aja dirumah ya... Kakak memang suka cari masalah, sama temannya Sela sendiri aja belum ada sama sekali niatan mau minta maaf! Huh! " kesal Misella.
Marsel menggeleng kepalanya, ia kemudian menjalankan mobilnya menuju ke rumah.
Di dalam rumah, bu Rahma yang sedang menyapu rumah melihat Azizah yang pulang.
"Assalamu'alaikum... " ucap Azizah.
"Waalaikumsalam, adek udah pulang? Ayo makan dulu, ibu udah masakin kamu makanan loh... " ucap bu Rahma.
"Izah gak lapar, bu, izah mau langsung istirahat... "
Azizah dengan nada lemas kemudian masuk ke kamar, bu Rahma merasa penasaran kenapa anaknya murung dan nada suaranya terdengar lemas.
Azizah membaringkan tubuhnya di kasur, ia kemudian mengingat kembali ucapan Marsel saat di mobil tadi, ia sendiri tidak menyangka bahwa Marsel bisa sekejam itu memberitahukan padanya bahwa tidak sama sekali memiliki daya tarik pada nya.
"Ternyata percuma saja aku mendekati bang Marsel, sia sia aja ternyata ya.... "
Azizah kemudian menangis, ia tidak pernah akan melupakan rasa penolakan tersebut sampai kapanpun.
Azizah memutuskan untuk keluar kamar untuk mencuci mukanya, ia kemudian mendengar suara obrolan orang-orang di ruang tamu.
Merasa penasaran, Azizah kemudian menyusul ke ruang tamu, ia melihat pak djarot dan bu Rahma sedang menyambut keluarga pak kyai dan Arifin.
"Eh ini yang dicari, si Azizahnya nongol sendiri... " ucap bu Rahma.
Azizah kemudian salam kepada pak kyai beserta keluarganya, ia kemudian duduk disebelah bu Rahma.
"Tujuan pak kyai beserta keluarga disini seperti sebelum sebelumnya kan? Mau meminang anak kami agar ta'aruf dengan Arifin kan pak?Hahahaha.... " ucap pak djarot dengan tertawa.
"Hahaha, benar sekali pak djarot, nampaknya anak saya si Arifin belum bisa berpindah hati selain dengan anaknya pak djarot sendiri. Maka dari itu, kami ingin meminang sekali lagi kepada anak pak djarot sama bu Rahma sekalian, yang terpenting juga dengan anaknya langsung, si Azizah ini... " jelas pak kyai.
__ADS_1
Azizah yang hanya diam kemudian berpikir, ia merasa inilah jalan satu satunya agar bisa melupakan Marsel.
" 'ana 'aqbal aliaiqtirah , 'umiy wa'abi " ucap Azizah dengan nada kecil.
Bu Rahma mendengar suara tersebut, ia kemudian bertanya sekali lagi.
"Apa Azizah? " tanya bu Rahma.
"Aku terima lamarannya, ayah, ibu... " jawab Azizah.
Mendengar hal tersebut, semua keluarga yang ada di ruang tamu merasa senang, mereka mengucapkan syukur atas penerimaan lamaran yang dilakukan oleh kedua belah pihak keluarga.
"Alhamdulillah, abi, akhirnya Arifin bisa diterima sama Azizah... " ucap Arifin dengan nada senang.
Azizah yang tidak sanggup ia berusaha untuk menerimanya, ia kemudian mendekat ke arah Arifin dan berlutut ingin bersalaman dengan calon suaminya.
Arifin yang terlampau bahagia ingin memeluk Azizah, tetapi sorakan dari keluarga membuatnya jadi terkaku.
"MasyaAllah Arifin, sabar dulu nak, lamarannya udah diterima, tapi kalian belum muhrim, sabar dulu ya nak... " ucap bu Rahma dengan tertawa.
Arifin kemudian merasa malu, ia hanya bisa menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal tersebut karena menahan malu.
.
.
Beberapa hari, bahkan sudah hampir beberapa minggu, Misella dan Raka merasakan kebosanan di antara mereka, karena sudah lama tidak mendengar kedatangan Azizah dan Arinska beserta Enrico yang bilangnya janji untuk datang berkumpul kumpul lagi dengan mereka.
"Ini kok si kak Azizah gak pernah mampir lagi ya beb? Dia kemana sih? " tanya Raka.
"Gak tau yang, jangan jangan dia masih ingat ucapan kakakku yang kemaren maren" jawab Misella.
Ketika sedang mengobrol kemudian datanglah Marsel dari dalam, Misella kemudian berdiri dan mendekati Marsel lalu menendang kaki Marsel.
"Aghh! Sakit Sela! " teriak Marsel.
"Ini pasti gara-gara kakak kan? Kakak ngomong apa lagi sama kak Azizah maren hah, sampai sampai dia gak ada kabar sama sekali?! " tegas Misella.
'Sela, jangan ribut sama kakak.... ' ucap Salma di dapur.
"Kakak ini mah, bikin kesel aja kerjaannya, huh! "
Misella kemudian duduk lagi di samping Raka, sedang kan Marsel meringis kesakitan ketika kakinya ditendang oleh Misella.
"Assalamu'alaikum.... "
Suara dari luar rumah, Misella mengenal suara tersebut dan berlari ke depan rumahnya.
"Kak Azizah! " teriak Misella, ia berlari dan memeluk Azizah.
Azizah tersenyum dan tertawa, ia tau Misella sangat merindukan nya.
"Cieee yang rindu sama kakak, mama kamu ada, Sela? " tanya Azizah.
"Ada di dalam, maaaa! " teriak Misella memanggil Salma.
"Eeh, gak usah teriak teriak gitu, Sela... " ucap Azizah.
"Ada apa nak? Eh, Azizah.... "
Salma kemudian menyambut Azizah, Azizah tersenyum bahagia.
"Kok baru sekarang mampir kerumah, izah? Udah, ayo masuk dulu ke dalam.... " ucap Salma.
"Gak usah tante, ini Azizah cuma mau nganterin undangan buat tante sama om Thomas"
Azizah kemudian menyodorkan secarik kertas undangan, Salma melihat nama yang ada di surat undangan tersebut dan terkejut ketika melihat nama mempelai nya.
"Azizah, ini kamu yang mau nikah? " tanya Salma.
" Iya tante, Izah mau ta'aruf, jodoh izah udah datang, minggu sebelumnya dia datang melamar dan mengajak izah buat ta'aruf, tante..." ucap Azizah sambil memberikan kartu undangan pernikahan nya.
"MasyaAllah... Alhamdulillah... Akhirnya Azizah bisa segera nikah, semoga sakinah ya dan lancar lancar aja nikahannya... " ucap Salma yang sedang melihat kartu undangan pernikahan Azizah.
"Aihhhh, berkurang lagi anggota kita, beb... " ucap Raka.
"Ho'oh, minggu depan kita lagi loh yang ada acara tunangan kita, yang, uhhhh jadi sedih deh.... " ucap Misella.
"Kalian mau tunangan ya? Wah, selamat.... Cepat nyusul ya.... " ucap Azizah.
Misella dan Azizah berpelukan, mereka melepaskan rindu setelah beberapa hari tidak bertemu.
"Datang ya ke nikahan kakak, nanti kakak juga bakal datang ke acara pertunangan kamu sama Raka.... " ucap Azizah.
"Siap kak! " ucap Misella.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£