Pilihan Marsel

Pilihan Marsel
16: Konsultasi wanita?


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula šŸ”°


.


Pov Marsel


Sebulan berlalu, tetapi kehidupan ku masih saja berjalan terus menerus secara berulang


Aku seperti biasa akan fokus pada pekerjaan ku, sedangkan Misella tingkah lakunya mulai berulah dan keseringan galau karena tidak ada kabar dari Raka hampir sebulan ini, ya biarin aja kali, namanya lagi ngejar cita cita kok mau dilarang


"Marsel, ini tolong dikerjain, nanti selesai makan siang berkas ini akan ku tagih kembali sama kamu" ucap seniorku


Aku mengambil berkas tersebut dan melanjutkan pekerjaan ku, enak sekali ya sistem sering suruh suruh orang, tapi yasudahlah namanya juga kerja


"Marsel, apa pekerjaanmu banyak? "


Aku mengenal suara ini, tak salah lagi ini adalah Enrico, klien yang suka mondar mandir di tempatku bekerja dan juga termasuk pengurus perusahaan ini


"Maaf pak, saya masih bekerja, sepertinya akan lama. Apa ada yang perlu dibantu?" tanyaku pada Enrico


Di depan para karyawan lain aku harus menghormati nya, beda saat tidak bekerja, sebebas ku memanggil namanya


"Bisa kamu ikut ke ruangan saya sebentar? Saya ingin membicarakan sesuatu" ucap Enrico padaku, dia terlihat sangat serius dan bahkan membuatku menyetujui nya


Kami naik lift khusus, ya bagiku saja khusus, beda dengan Enrico yang menganggap ini lift biasa saja yang selalu ia lewati


Sesampainya di ruangan, aku pasti nya akan berdiri sebelum ia suruh untuk duduk


"Duduklah sel, lu kan ngomong gue sebagai atasan lu kalau di depan karyawan. Berdiri kayak gitu kesannya kayak gue ngehukum lu aja"


Aku segera duduk, terlihat ekspresi dari Enrico susah ditebak dan sepertinya ada masalah


"Lu kenapa, Ric? " tanyaku


Enrico hanya menghela nafas, kemudian menarik nafas lagi dan mulai merenung


"Ah, yang ada gue habisin waktu cuma lihat lu narik nafas buang nafas doang, dahlah" ucapku


"Jangan gitulah lu, Sel, lu sama sahabat sendiri gak mau bantu"


"Ya, terus apalagi yang mau gue bantu? Kerjaan lu? Gue minta 50-50 dari lu kalau gitu" ucapku


"Paan, bukan gitu loh"


"Terus apa? " tanyaku dengan gemas


"Gimana sih cara deketin si Arinska, Sel? Udah lama banget aku mau deketin dia, tapi dianya ganas dan cuek banget sama aku"


Sudah kuduga, si Enrico ini pasti tidak akan jauh dari sosok bayangan si Arinska, dia terlihat ingin sekali dengan Arinska


"Ya usaha dulu lah, Ric, wanita tuh memang gitu, susah caranya mau deketin atau bujukin dia" jawabku


"Itulah alasanku gak mau deketin cewe, ribet" lanjutku, matanya melotot sempurna padaku


"Jadi lu gak tertarik sama cewe, Sel?! Lu penyuka sesama jenis?! " tanyanya dengan nada terkejut


"Sialan lu Ric, cocot lu jaga dikit ya sebelum nih kepalan tangan gue melayang ke muka lu" ancamku pada Enrico


"Gue aduin sama si Sela nanti, gimana? " balasnya, hal tersebut membuatku kesal dan malas untuk berniat membantunya


"Pengadu, dahlah males bantuin lu buat deketin si Arinska... " ucapku dengan kesal


"Dih merajuk, janganlah, ayo bantu aku, nyesss banget rasanya berjuang gak di anggap" melasnya padaku

__ADS_1


"Cari yang lain gak bisa? Mau Arinska banget lu? " tanyaku


Enrico menganggukkan kepalanya ke arahku, memalukan sekali ingin berjuang tapi manja


"Gua bukan pakar ahli tafsir sifat wanita, Ric, adek gua sendiri si Sela, gua bingung mau digimanain kalau dia merajuk atau marahan sama gua" ucapku


"Nah, kalau gitu, gimana nanti gua nanya sama si Sela? Kan lumayan tuh, si Sela gak cebol cebol amat.... "


"Lu hina adek gua cebol, kepalan nih gak main main melayang" ancam ku pada ucapannya mengatakan bahwa Misella cebol


"Bukan maksud cebol itu, maksudnya tuh umur si Misella kan gak jauh jauh amat tuh dari Arinska, jadi gua pengen konsultasi aja sama dia, sesama cewe gaul kayak dia kan pastinya tau soal sifat dan kebiasaan si Arinska" jelasnya padaku


"Lu gak takut sama adek gua, Ric? " tanyaku


"Kenapa? " tanya balik Enrico padaku


"Setiap pake jasa dia, pasti dia minta uang" jawabku


"Ah itu perkara gampang, nanti di kasih pecel lele, nugget atau nasi padang mau dia, kan makanan kesukaan dia antara kedua itu, masalah uang kecil, aku bisa atur" ucap Enrico padaku


Baru lihat ada pria seperti Enrico ini, berkorban sekali untuk bisa menaklukkan hati wanita, walaupun aku sudah tau kelanjutannya bagaimana


.


Pov author


Selesai bekerja, Enrico lagi lagi datang kepada Marsel, Marsel ingin menghela nafas tapi ia takut kalau ia merasa tak sopan kepada atasan nya jika dilihat karyawan lain


"Maaf Pak, ada lagi yang bisa dibantu? " tanya Marsel


"Tidak ada, mana berkas yang saya minta tadi? Saya mau ambil" ucap Enrico pada Marsel


Enrico telah memberi secarik kertas yang harus di jawab oleh Marsel selain mengerjakan berkas yang diberikan oleh Enrico


Marsel mematikan komputer nya, ia membereskan barang barangnya dan pergi untuk makan siang, tetapi ia berencana untuk langsung pulang


"Udahlah, pulang aja aku, lagian juga semua kerjaan pada selesai semua"


Marsel mengambil tasnya, ia merangkul tas tersebut dan pergi dari kantor


"Langsung pulang kamu, Marsel? "


"Iya, lagian juga semua kerjaan saya sudah selesai semua, saya mau pulang saja" ucap Marsel, ia bergegas ke parkiran dan menghidupkan mobilnya kemudian menjalankan mobilnya menuju ke rumah


Butuh waktu 1 jam lebih, akhirnya Marsel sampai di rumah, Marsel memasukkan mobilnya ke parkiran dan membawa barang barangnya keluar mobil


"Kakak, tumben baliknya cepet? Tanda tanda mau libur ya? " tanya Misella


"Ngga, kebetulan aja, soalnya juga pekerjaan tadi udah selesai semua" jawab Marsel, ia membuka bungkus plastik dan menunjukkan sebungkus besar nugget


"Wah, kakak beli nugget, bagi dong... "


Misella menyodorkan kedua tangan meminta pada Marsel, sedangkan Marsel menyembunyikan nugget tersebut dari Misella


"Gak, enak aja mau asal ambil, ini kan kakak yang beli, yang ada habis aja sama kamu" ucap Marsel


"Pelit! Sama adek sendiri pelit! Awas aja ya" ancam Misella


"Awas ya minggir, wleeek! " ejek Marsel, hal tersebut membuat Misella kesal dan memukuli kakaknya


Kriing!


Suara bel rumah berbunyi, Salma yang dari dapur menyuruh Marsel untuk membuka pintu

__ADS_1


'Marsel, tolong buka pintunya' ucap Salma dari dapur, Marsel membuka pintu rumahnya dan melihat Enrico dengan asistennya membawa makanan


"Ric, lu seriusan yang tadi? " tanya Marsel dengan ragu


"Serius, demi bisa dekatin Arinska aku bakal lakuin apapun" jawab Enrico dengan yakin


"Siapa kak, wow! "


Misella melihat Enrico yang membawa bermacam-macam makanan, apalagi sudah terlihat dari bungkusnya seperti nugget


"Ini Misella, tolong diterima ya... " ucap Enrico


"Eeh, aku udah punya Raka, kak ri.... "


"Ngga, kakak mau konsultasi sama kamu, Sela! " ucap Enrico dengan semangat


"Ada siapa, Marsel? "


Salma menyusul Marsel ke depan rumah, ia melihat Enrico yang membawa bermacam-macam makanan


"Ada apa, Ric? Mau ada acara ya sama Marsel? " tanya Salma


"Tidak tante, hanya sekedar obrolan biasa... " jawab Enrico


"Ya sudah, ayo masuk dulu ke dalam, silahkan duduk... "


Salma mengajak ketiga anak muda tersebut ke dalam, sedangkan ia akan menyiapkannya minuman


"Ini minumnya, diminum ya Ric" ucap Salma


"Terimakasih banyak tante" ucap Enrico dan mengambil secangkir gelas teh tersebut


"Eh, kak Enrico, maksudnya minta konsultasi sama aku itu soal apa ya? " tanya Misella


Enrico menatap Misella, ia kemudian mendekati Misella dan memegang tangan Misella


"Jadi, gini Sela, kakak tuh mau minta konsultasi tentang cewe seumuran kayak kamu gitu... " jawab Enrico


"Tumben kak Enrico tertarik soal itu, ada apa? Siapa cewenya? " tanya Misella


"Arinska.... "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£šŸ‘£šŸ‘£

__ADS_1


__ADS_2