Pilihan Marsel

Pilihan Marsel
29: Merenung


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula šŸ”°


.


Selesai acara pertunangan, seluruh tamu undangan pun satu persatu pulang, sebagian dari tetangga ikut membantu membereskan barang barang, begitupun dengan kru dekorasi.


"Beb, aku sama mama papa pamit pulang ya, jaga diri kamu ya selama aku pergi ke luar daerah ya, my baby... " ucap Raka.


"Ihhh jadi rindu deh, iya, kamu yang semangat ya, sayang... " ucap Misella.


Raka dan Misella berpelukan, mereka kemudian dipisahkan oleh waktu dan keadaan.


"Udah, sekarang kamu istirahat ya, pasti tadi kamu kecapean, Sela" ucap Salma.


"Iya, malam ini Sela mau tidur sama kakak, mah" ucap Misella.


"Kamar kamu kan ada, Sela, ngapain mau tidur di kamar kakak kamu? " tanya Thomas.


"Sela tadi bilang sama kakak, kalau Sela tetap awasin kakak sampai besok dan Sela mau temenin kakak buat minta maaf sama Wulan ke panti asuhan nya, pah. Dan juga, Sela mau tegaskan sama kakak, bahwa kakak harus cepat punya jodoh! Gak bisa harus nunggu, Sela gak bisa langkahin kakak, itupun kalau bisa juga Raka harus nanggung apa yang diminta kakak, Sela gak mau kakak ngerepotin Raka! " tegas Misella.


Misella bergegas ke kamar Marsel, sebelumnya ia mengambil bantal miliknya dan ia berjalan ke kamar Marsel.


Misella tanpa izin apapun langsung masuk ke kamar Marsel, Marsel yang fokus bekerja terkejut melihat Misella masuk ke kamarnya tanpa izin.


"Sela, ngapain kamu masuk ke kamar kakak? " tanya Marsel.


"Mau pura pura bodoh sama Sela ya kak? Sela bakalan tidur sini sampai besok pagi, biar bisa ngawasin kakak! " jawab Misella dengan nada tegas.


Tanpa aba aba, Misella naik ke kasur Marsel, ia kemudian membaringkan dirinya dan memeluk pinggang Marsel.


"Ish, apaan sih Sela? Kakak lagi fokus kerja ini... " ucap Marsel.


"Cincin yang aku kasih tadi masih ada? " tanya Misella mengalihkan pembicaraan Marsel.


"Hah, iya, masih ada sama kakak... " jawab Marsel dengan nada pasrah.


"Ingat besok, kakak harus temuin Wulan, minta maaf sama dia, dan ajak dia buat kakak lamar, Sela gak mau harus main tunggu tungguan sama kakak, Sela gak mau" ucap Misella sambil memejamkan mata.


"Iya Sela, kakak janji" ucap Marsel.


"Bagus... "


Misella kemudian tidur memeluk pinggang Marsel, ia dengan posisi nyenyak memeluk pinggang kakaknya.


Marsel yang fokus bekerja kemudian mengucek matanya yang mulai lelah, ia melihat adiknya yang tertidur nyenyak sambil memeluk pinggangnya.


Marsel mengelus rambut Misella, ia kemudian meletakkan laptopnya di meja sebelahnya.


"Maaf ya Sela, kakak sengaja melakukan ini hanya untuk kamu, Azizah dan Arinska. Kakak ngga mau sampai Azizah dan Arinska berkelahi karena memperebutkan kakak, mau sampai kapanpun, mereka dan kamu tetaplah adik adiknya kakak. Dan kakak sengaja memberi kamu jalan untuk bisa tunangan sama Raka agar kalian bisa menjadi dua insan yang sudah terikat janji walaupun terpisah jauh dan nantinya kalian bisa tinggal meresmikan hubungan kalian. Ini sudah menjadi tujuan kakak dari dulu, sebelum kalian semua menjadi wanita wanita dewasa, kakak akan mengalah, agar kalian duluan yang bisa mendapatkan pasangan melebihi kakak... " ucap Marsel sambil mengelus rambut Misella.


Marsel kemudian membenarkan posisi tidurnya, ia mengambil selimut dan menyelimuti adiknya, ia juga memeluk adiknya kemudian tertidur.


.


.


Keesokan harinya, Marsel telah bersiap siap untuk pergi ke panti asuhan, sebelumnya ia telah meminta Salma untuk membuatkan makanan teruntuk anak anak di panti asuhan nantinya.


"Kamu serius Sel, gak mau ditemenin sama Sela? " tanya Salma sambil menaruh kotak makanan dan makanan di bagasi mobil Marsel.


"Serius mah, gak papa, biar Marsel sendiri yang pergi, lagian juga Sela masih tidur dikamarnya Marsel, biasa jadi kerbau lagi dia" jawab Marsel.

__ADS_1


Selesai menaruh seluruh makanan ke dalam bagasi mobil, Marsel pamit dengan Salma, ia kemudian menaiki mobil nya.


Sepanjang perjalanan yang sedikit macet, akhirnya Marsel sampai di panti asuhan yang dimaksudkan oleh Misella, ia kemudian memasukkan mobilnya hingga sampai ke depan gerbang panti asuhan.


"Mau ketemu siapa, mas? " tanya penjaga.


"Ini saya mau berbagi makanan sama anak anak panti, dan juga ada urusan sedikit" jawab Marsel.


"Oh iya mas, ayo masuk"


Marsel kemudian memasukkan mobilnya, hingga sampai di depan pintu panti asuhan.


Para anak anak panti melihat hal tersebut berlari ke arah mobilnya, begitupun dengan pengurus panti.


"Selamat datang kak... " sambut ramah semua anak anak panti.


"Ayo, kita di dalam, jalan yang rapi dulu ya, kita tungguin kakaknya" ucap pengurus panti.


"Sebelumnya, salam kenal, saya pengurus panti asuhan disini, nama saya Santi" ucap pengurus panti tersebut.


"Salam kenal bu, saya Marsel, ini saya ada kiriman makanan untuk seluruh anak anak di panti ini, mohon diterima ya... " ucap Marsel.


"Wah, terimakasih mas Marsel atas kiriman makanan untuk anak anak panti kami" ucap Santi.


Santi kemudian memanggil anak anak panti yang sudah dewasa, kemudian keluarlah Wulan dan rombongan anak panti dewasa lainnya.


Marsel menatap Wulan, sedangkan Wulan sengaja menghindari tatap kontak mata dengan Marsel sambil mengangkut semua kotak makanan untuk adik adik panti nya.


Marsel menyadarinya, memang sekarang Wulan belum memaafkannya, terlihat sekali Wulan menjauhinya.


.


.


"Hari ini kita semua bahagia, karena adanya kak Marsel yang mengirimkan makanan untuk kalian, ayo semua nya, bilang terimakasih sama kak Marsel nya.... " ucap Santi.


"Terimakasih makanannya, kak Marsel.... " ucap anak anak panti dengan bersamaan.


"Sama sama, adik adik sekalian, semoga kalian bisa menikmati makanan makanan yang sudah kakak bawa ya... " ucap Marsel.


Satu persatu anak anak panti berbaris untuk dibagikan makanannya, dengan wajah bahagia dan senang anak anak panti tersebut menikmati makanan yang dibawa oleh Marsel.


Suasana tersebut membuat hati Marsel terenyuh, ia merasa sedih dan bahagia melihat anak anak panti tersebut makan dengan bahagia.


Dari itupun Marsel menyadari, ia harus bersyukur dengan hidupnya, yang masih mempunyai keluarga yang lengkap, dan dilahirkan dengan kebutuhan yang cukup, dan memiliki kedua orangtua yang sayang beserta tulus mencintainya.


Disisi lain, ia melihat Wulan yang langsung pergi dari aula.


Marsel kemudian izin sebentar dengan Santi, beralasan untuk pergi ke toilet.


"Permisi bu Santi, toilet ada di sebelah mana ya? " tanya Marsel.


"Oh, nanti keluar dari aula ini, ada di bagian sebelah kiri dekat lapangan bermain, ada toilet di sana, mau saya anterin? " tanya bu Santi.


"Tidak usah bu, sebelumnya terimakasih"


Marsel kemudian keluar dari aula, ia kemudian mengikuti ke mana arah Wulan pergi.


.


.

__ADS_1


Bertemu di dekat lapangan bermain, Marsel melihat Wulan yang sedang duduk sendirian sambil melamun.


"Wulan... " panggil Marsel.


Wulan yang melamun kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Marsel, ia kemudian memalingkan pandangannya lagi ke arah lapangan.


"Ada apa, bang? " tanya Wulan.


Marsel kemudian duduk di samping Wulan, ia kemudian berdeham.


"Tujuan abang kesini bukan hanya ngasih makanan makanan untuk anak anak di panti ini saja, Wulan" ucap Marsel.


"Terus? Apa abang ada tujuan lain? " tanya Wulan.


Marsel kemudian mengeluarkan kotak cincin dari kantongnya, ia kemudian meraih tangan kanan Wulan.


"Wulan, abang minta maaf ya atas ucapan yang kemarin, dan juga niat abang kesini bukan hanya minta maaf, tapi buat ngelamar kamu... " ucap Marsel.


Wulan mendengar hal tersebut terkejut, ia menarik tangannya dari Marsel.


"Wulan? " panggil Marsel.


"Sebelumnya maaf ya bang Marsel, bang Marsel sendiri minta maaf beginipun belum Wulan setujui tapi bang Marsel main lamar lamar seperti ini. Wulan aja sampai sekarang belum bisa lupa sama ucapan abang yang kemarin..." ucap Wulan tanpa melihat Marsel.


"Tapi sungguh, maksud abang kemarin gak sengaja kok, masa Wulan gak bisa ngertiin abang" ucap Marsel.


"Abang kira cuma abang aja gitu yang punya perasaan? Ucapan abang kemarin cukup bikin sakit hati loh, apa salahnya buat nolak dan langsung bilang aja abang nolak Wulan karena Wulan gak selevel sama abang dan juga gak usah bawa bawa orangtua Wulan yang sudah tiada, sudah, gak perlu nambahin ucapan yang bikin Wulan sakit hati" jelas Wulan.


"Benarkah? " tanya Marsel.


"Selalu saja gak peka, sudah cukup, abang pulanglah, aku sebagai Wulandari Ningsih menunda permintaan maaf dari bang Queretta Marsel, oke? Maaf sebelumnya, makasih... "


Wulan kemudian berdiri, ia kemudian meninggalkan Marsel yang sedang duduk.


Di dalam mobil, Marsel pun merenung, ia kemudian berteriak.


"Agh! Bodohnya aku! " teriak Marsel, ia kemudian menancapkan gasnya untuk langsung pulang ke rumah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£šŸ‘£šŸ‘£

__ADS_1


__ADS_2