
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Sesampainya di rumah, Marsel membuka pintu rumahnya, ia kemudian berjalan langsung ke ruang kerja dan menutup pintunya dengan keras.
'Marsel, kamu kenapa?! Jangan banting pintu! ' teriak Salma di dapur.
Di dalam dapur, Salma dan Misella mendengar suara pintu yang di banting, membuat mereka terkejut dan Salma berteriak memanggil Marsel.
"Kakakmu kenapa sih? Baru pulang udah banting banting pintu, nanti kalau rusak dia sendiri yang dimarahi sama papa" omel Salma.
"Emmm, kalau gitu Sela susul dulu deh" ucap Misella.
"Jangan Sela, nanti kamu... "
"Gak papa, sekalian nanyain kenapa dia tadi, mah" ucap Misella.
Misella kemudian berjalan ke arah ruang kerja, ia kemudian membuka pintu ruang kerja dan mencium bau rokok.
"Kakak kenapa sih, pulang pulang banting banting pintu ruang kerja? " tanya Misella.
"Kamu gak perlu tau, Sela, ini urusan kakak, dan gak usah ikut campur kamu! " tegas Marsel.
"Gak usah merokok bisa ngga? Konyol banget pake ngerokok" ucap Misella.
Misella menarik rokok dari tangan kakak nya dan mematikan puntung rokoknya di asbak.
"Kubilang gak usah ikut campur... " tegas Marsel dengan suara pelan tetapi menekan.
"Gak, urusan kakak adalah urusanku, biar ku tebak, kakak pasti ditolak sama Wulan kan? " ucap Misella.
Marsel hanya menatap kebencian ke arah Misella, Misella tampak tidak peduli dan masih menebak-nebak apa yang terjadi padanya.
"Sudah kubilang, tolong jaga ucapan kakak, hati orang tuh... "
"Bisa diam gak?! " tegas Marsel.
"Kenapa? Gak senang dengar fakta hah? Kakak tuh perlu sadar diri ya, eh kak, hati orang tuh beda beda, harusnya kemarin tuh kakak bisa jaga omongan kakak ya, lihatlah sekarang, ada Wulan mau maafin kakak, ngga kan? Terus, buat apa gegayaan pengen ngerokok ngerokok segala, buat ngelupain sama ngecoba buat renungin kelakuan kakak? Gak mempan, perlu kesadaran diri buat kakak sendiri kak. Kakak gak mungkin selamanya harus ngehindar sama cewek karena kakak itu nganggep cewek itu nyebelin! Kecuali kalau kakak itu bukan cowok normal, tetapi pecinta sesama jenis! " jelas Misella.
"Misella! "
Marsel menggebrak meja kerjanya,ia kemudian berdiri dan ingin menghampiri Misella.
Merasa kakaknya benar-benar marah dan itu sebuah ancaman, Misella berlari dari ruang kerja, Marsel mengejarnya dengan cepat.
.
.
__ADS_1
Sesampainya di dapur, Misella yang belum sempat berlari ke dalam dapur, tangannya di pegang oleh Marsel dan sebuah layangan tangan mendarat ke pipinya.
Plak!
"Mama! " pekik Misella.
Salma yang mendengar tamparan tersebut ditambah teriakan Misella terkejut, ia kemudian menyusul ke depan dapur dan melihat kedua anaknya telah berada di depan dapur, dengan Misella yang tersungkur dan Marsel yang menatap tajam ke arah Misella.
"Mama....! " teriak Misella.
Salma kemudian memeluk Misella, ia melihat pipi anak gadisnya memerah akibat ditampar oleh Marsel.
"Marsel! Mama sudah sering kasih tau kamu, jangan kasar sama wanita, apalagi Misella adalah adik kamu! " tegas Salma.
"Bagus mah! Bagus! Belain aja dia terus! Mama gak tau semua ini biang masalah nya dari dia! Dia sengaja bikin darahku naik dari kemarin! Dan sekarang mama belain dia?! Bagus sekali mah! " bentak Marsel.
"Tapi tidak seperti itu, Marsel! Adikmu ini perempuan, dan kamu sebagai kakak laki-laki nya harus melindungi dia, bukan menyakiti nya! Mau apapun kesalahan nya padamu, tidak seharusnya kamu selesai kan dia dengan kekerasan, Marsel! " tegas Salma.
"Hah! Sekarang mama berpihak sama orang yang suka ikut campur masalah orang ya?! Aku mah, sesekali aku yang mama bela! Aku gak senang ya semua urusan ku selalu dia yang atur! Aku yang tua darinya harus terus ngalah sama dia! Jangan kira dia wanita aku gak bisa kasar sama dia! " bentak Marsel.
"Sela peduli sama kakak. Sela memaksa kakak harus maafan sama Wulan dan lamar Wulan itu demi kakak sendiri. Sela gak mau kakak menjadi laki-laki yang gak tanggungjawab sama kesalahan yang kakak perbuat.... " ucap Misella dengan tersedu-sedu.
"Peduli? Jadi laki-laki yang bertanggungjawab? Gak perlu! Gak perlu kamu yang atur aku atas segala itu, Misella! Aku yang punya masalah, biar aku yang menyelesaikan nya sendiri! Dan kau, kau hanyalah adikku! Kau tidak berhak mengatur ku! Urus saja dirimu itu dengan Raka, yang tidak tahan lagi ingin menikmati hubungan dewasa kalian! Kau kira aku tidak tau saat di puncak kemarin kau dan Raka berciuman hah?! Aku gak tau apa yang kalian lakukan dibelakang saat aku tidak mengawasi kalian...! Mungkin kamu bisa hamil karena tidak ku awasi, dasar wanita murahan! "
Deg!
"Marsel! Teganya kamu bilang adikmu begitu! Mama yang selalu menjaganya agar dia tidak seperti yang kamu ucapkan tadi, tapi kamu seenaknya bilang Misella wanita murahan! Mama gak suka ya! " tegas Salma.
"Omong kosong! Entah sampai kapanpun, mama akan tetap berpihak dengan Misella karena dia anak mama! Aku bukan anak mama ternyata, karena mama tidak pernah adil terhadapku dan dia! Aku benci kalian! "
Marsel kemudian pergi dari depan dapur, sedangkan Misella dan Salma hanya bisa berpelukan sambil menahan sakit atas perkataan Marsel pada mereka.
"Sabar ya sayang, kalau ada papamu, mungkin kakakmu gak akan seperti ini sama kamu, tetapi papa kita lagi pergi urusan kerja keluar kota... " ucap Salma.
.
.
Dua hari kemudian, karena masalah yang terjadi antara Marsel dan Misella, rumah keluarga Thomas terlihat tidak seperti sebelumnya, tidak ada lagi canda dan tawa diantara kedua kakak dan adik tersebut seperti biasanya.
Rumah terasa sunyi dan senggang, Salma bahkan merasa sedih melihat anak anak nya saling benci, ia berusaha agar anak anaknya bisa berbaikan kembali.
Salma berinisiatif memasakkan banyak makanan dan menggoreng makanan kesukaan kedua anaknya, yaitu nugget.
Saat memasak, Salma yakin, kalau anak anaknya bisa berbaikan dengan ia yang memasakkan banyak nugget, seperti biasanya kalau berkelahi akibat saling jahil.
"Marsel, Misella, ayo makan anak anak....! " teriak Salma.
Yang datang duluan adalah Marsel, ia duduk dan mengambil makanannya.
__ADS_1
"Dimakan ya nak... " ucap Salma.
Kemudian datanglah Misella, Marsel memalingkan pandangannya dari Misella, begitupun dengan Misella.
"Ayo, dimakan ya nak... " ucap Salma.
Misella mengambil piring, ia kemudian dengan cepat menaruh makanannya dan membawa makanannya.
"Sela, mau dibawa kemana makanannya, nak? Kenapa gak makan disini bareng mama sama kakak kamu? " tanya Salma.
"Gak, Sela mau makan di kamar, benci banget liat dia duduk di dekat meja makan, bikin selera makan hilang aja...! " ucap Misella sambil membawa piringnya.
Mendengar ucapan Misella, Marsel kemudian marah dan menggebrak meja makan.
"Makan disini, sialan! Lo bisa hargain mama masak ngga?! Gua juga gak mau makan dekat dengan lo, tapi demi hargain mama gua mau makan disini! " bentak Marsel sambil menggebrak meja makan.
"Lo makan aja sana! Gua gak mood dekat dekat lo! Lo itu buat nafsu makan gua hilang, ibarat gua ngeliat lo kayak kotoran! " balas Misella.
"Kurang ajar lo setan! " bentak Marsel dengan gebrakan meja yang kuat.
"Lo yang setan! " bentak Misella.
Misella pergi dari meja makan, begitupun dengan Marsel.
Salma merasa sedih melihat anak anaknya yang saling membenci, ia menangis saat melihat makanan makanannya yang tidak disentuh sama sekali oleh anak anaknya, bahkan juga membuatnya tidak berselera untuk makan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£
__ADS_1