
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Pov author
Setelah sehabis makan, Marsel dan Misella berencana untuk pergi ke dokter hewan
Salma dan Thomas mengurungkan niat mereka untuk pergi mengikuti Marsel dan Misella, karena sehabis kenyang mereka merasa malas untuk pergi kemana-mana
"Yaudah mah, aku pergi dulu ya" pamit Marsel
"Iya, hati hati dijalan ya"
Misella membawa kardus berisi kucing kecilnya, sedangkan Marsel keluar duluan untuk mengeluarkan mobilnya dari dalam teras rumah
Misella menunggu kakaknya, sedangkan ia melihat kucing kecilnya gelisah ingin melihat lagi keadaan diluar
"Sabar ya meong, kita ke dokter hewan buat tau kondisi kamu, jangan khawatir, kamu gak bakal di buang kok... " ucap Misella
"Sela, ayo naik" ucap Marsel dari dalam mobil
Misella menyusul kakaknya dan naik ke mobil
"Kucingnya berontak ngga dalam kardus? " tanya Marsel yang sedang fokus menyetir
"Ngga kak, dia cuma gelisah aja, mungkin ngerasa dalam mobil ini kayaknya" jawab Misella
"Oh yaudah, tenangin aja, takutnya dia berontak, bahaya kalau dia sampai jatuh dan berlari ke arah kaki kakak"
"Iya kak"
.
.
Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di dokter hewan, Misella turun duluan menuju ke dalam, sedangkan Marsel memarkirkan mobilnya
"Atas nama siapa? " tanya perawat tersebut
"Bisa tunggu kakak saya sebentar? Saya ingin dia yang mewakili" mohon Misella
"Akan menunggu antrian yang panjang nanti, tidak apa kalau menggunakan nama dari mbaknya"
"Baiklah, atas nama Queretta Misella, ingin memeriksa kesehatan bayi kucing tanpa induk"
Perawat tersebut merasa bingung, ia kemudian lanjut menulis lagi
"Nama hewannya? " tanya perawat
Misella kaget, ia ingat bahwa ia sendiri saja belum menamai kucingnya
Misella memutar otak untuk menamai kucingnya, sedangkan perawat menunggunya
"Winter, namanya Winter" jawab Misella, perawat itu menulis lagi kemudian memberikan surat berbentuk selembar kertas nota tersebut pada Misella
"Ini nomor antriannya, silahkan menunggu di ruang tunggu sampai namanya dipanggil"
"Baik, terimakasih... "
Misella berjalan dan duduk didekat orang orang, ia melihat para pemilik hewan hewan peliharaan sedang menunggu nomor antriannya dipanggil
"Sela, udah ngambil surat yang di depan tadi? "
Marsel menyusul Misella, Misella menganggukan kepalanya
Misella membaca kertas nota tersebut, bisa diyakinkan sebelumnya, pasti perawat yang berjaga tersebut tidak tau cara mengeja nama depan dan belakangnya
Seharusnya ditulis 'Quereeta Misella' dan yang ditulis adalah 'Kyureta Mysela'
"Papa sama mama ngasih nama buat kita unik unik aja ya kak? Apalagi namaku" ucap Misella sambil menatap kertas nota tersebut
"Kenapa? Sini, coba kakak lihat"
__ADS_1
Marsel melihat lembaran nota tersebut, ia tertawa kecil melihat nama adiknya yang ditulis oleh perawat yang berjaga di bagian administrasi tadi
"Kyu, halo kyu... " ejek Marsel
"Apaan sih kakak?! Itu nama depan kita kan nama depannya papa juga, kakak kok malah ngejek ngejekin nama depan kita? " tanya Misella dengan kesal
"Gak ada sih ngejek, cuma lucu aja, malah ditulis kayak gitu"
"Udahlah ah"
Tak lama kemudian, suara kucing kecil Misella berbunyi lagi, Misella menatap kucingnya dan mengelus kepala kucingnya
"Sabar ya Winter, kita harus tunggu antriannya dulu, nanti kita beli susu buat kamu ya"
Seakan mengerti, kucing kecil tersebut alias Winter diam dan tenang kembali, Misella merasa lega karena semua itu
Beberapa lama menunggu, akhirnya nomor antrian Misella dipanggil, Misella dan Marsel masuk kedalam ruangan dengan membawa kardus berisi Winter didalamnya
"Halo, selamat malam, ada yang perlu dibantu mengenai hewan peliharaan?" tanya dokter hewan tersebut
"Permisi pak dokter, ini adik saya ingin memeriksa kucing yang dia temukan tadi siang, ingin dipelihara katanya" jelas Marsel
"Oh iya, silahkan dilihat dulu kucing nya... "
Misella membuka kardusnya secara perlahan, ia mengambil kucing kecilnya dan menaruh di atas meja yang telah disediakan oleh dokter hewan tersebut untuk diperiksa
"Ini kucing nya ada indukan nya? " tanya dokter hewan
"Gak ada dokter, tadi siang saat hujan lebat, saya menemukan kucing ini di dekat kampus saya, tampaknya dia pengen saya pelihara... " jawab Misella
"Ini kucingnya sehat ya, cuma kelihatan habis kedinginan, tapi kita suntik vaksin dan kasih vitamin untuk kucingnya ya"
"Iya dok"
Dokter mulai menakar ukuran obat yang diperlukan untuk suntikan, ia kemudian memegang punduk leher Winter dan menyuntikkan nya, sedangkan Misella tak tahan melihat kucingnya yang disuntik
"Hayo, hayo, kamu sehat, bisa jadi kucing besar yang kuat... "
"Sudah ada susu untuk kucingnya? " tanya dokter hewan tersebut
"Belum dok, saya ingin beli nanti nya"
"Disarankan susunya harus bisa dikonsumsi sama kucingnya sekitar umur 3-5 bulan ya, masalah makanannya kasih saja makanan yang halus dulu, nanti takutnya pencernaan nya gak lancar, nanti keduanya itu bisa dibeli di bagian administrasi"
"Baik dok, terimakasih"
Misella dan Marsel keluar dari ruangan, mereka menuju ke bagian administrasi untuk mengambil makanan dan susu yang diperlukan untuk Winter
.
Pov Marsel
"Berapa harganya? "
"Harganya 85 ribu, ditambah vitaminnya 30 ribu, totalnya 115 ribu"
Aku menatap ke arah Misella, ia menyenggol nyenggol lenganku
"Kakak yang bayar? " tanyaku pada Misella
"Iya dong, bayarin, Sela kan lupa bawa uang... " jawabnya dengan wajah sok manis
Aku berdecak kesal, ku rogoh kantongku dan kuambil selebaran uang 100 ribu dan 20 ribu
"5 ribunya ingin didonasikan untuk hewan hewan terlantar, mas? "
Sudah kuduga, pasti saja akan begini kalau sedang berbelanja, tidak di minimarket saja ternyata dijelaskan panjang lebar
"Kami sedang mengadakan bakti amal untuk..... "
"Ya, saya kasih sumbangannya untuk bantuan hewan terlantar nya, segera bungkus saja yang saya inginkan tadi"
Malas panjang lebar penjelasan dari perawat ini, lebih baik disetujui saja agar tidak merembet kemana-mana
__ADS_1
"Kakak baik banget deh, bisa kasih uang 5 ribu nya untuk donasi bakti amal untuk hewan terlantar, jarang jarang kakak baik gini loh... "
Misella tampak mengejekku, tapi malas saja menanggapinya
"Udah, naik sana, gimana kucingmu? "
"Gak papa keliatannya, dia lagi tidur ini... "
Aku dan Misella masuk ke mobil, kami bergegas pulang sebelum jam 9 malam tiba, karena mama orangnya super protektif kalau Misella keluar rumah lewat dari jam 9 malam
"Kak, kakak... "
"Hmmm, kenapa Sela? " tanyaku
"Kakak, kakak ingat gak hari besok hari apa? " tanya Misella berbalik bertanya padaku
"Ya mana kakak tau, yang kakak tau besok kakak kerja dan kamu nugas kuliah" jawabku tanpa menatapnya
"Ish dikit-dikit kerja, bukan itu... "
"Terus apa? Keranjang belanjaan online mu ada? Perlu dikasih uang lagi buat bayar paket besok? " tanyaku lagi
"Bisa gak kalau kakak gak usah bawa bawa urusan yang terkait sama aku? "
"Iya terus apa? Jelas dikit lah ngomong nya"
"Kak, besok hari ulang tahun papa, kakak pastinya gak lupa kan? " tanya Misella padaku
Aku mulai teringat, bahwa hari ulang tahun papa, sebenarnya sudah terlewat, tetapi kami benar-benar lupa
"Kita kelupaan, Sela, pantas saja wajah papa murung saat itu, mungkin karena kita lupa rayain ultah nya" jawabku
"Kasih apa ya yang bagus sama papa? Baju papa udah banyak, sepatu baru aja dibeli sama mama, celana palingan yang jadi kesukaan papa warna hitam tapi udah banyak, duhhh.... "
Aku hanya bisa terpikir kan sesuatu, sebuah tulisan Arab kaligrafi yang bisa mengartikan nama papa atau diri papa
"Sela, besok coba kamu iseng iseng tanya sama si Azizah buat bikin kaligrafi, dia bisa bikin atau ngga" saranku
"Kakak mau tanya soal kaligrafi apa? Artian nama atau diri papa ya? " jelas nya padaku
"Iya, kita minta saja si Azizah buat bikin kaligrafi, nanti bisa buat hadiah ulangtahun nya papa" ucapku pada Misella
"Ada dana gak kak? "
Seperti biasa, kalau soal uang pasti nomor satu, gak jauh dari sifat papa
"Ada, tapi kakak mau langsung bayar sama Azizah, gak mau titip titip uang sama kamu, gak amanah"
"Dih, perhitungan sama adik sendiri! " bantah Misella padaku
"Biarin, bodoamat"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£
__ADS_1