
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Beberapa hari kemudian, diperlukan kesiapan yang matang, ditambah lagi pemulihan sekeluarga sehabis mengalami kesalahpahaman yang terjadi.
Marsel dan Misella bersiap siap ingin ke panti, sebelumnya Marsel menyiapkan mentalnya agar tidak merasa kaku dan tegang saat bertemu dengan Wulan.
"Kak, kalau semisalnya kakak belum terlalu siap, bisa kapan kapan aja ya? " tanya Misella.
"Gak, gak usah Sela, kakak bisa kok, kamu bantu kakak ya" ucap Marsel.
"Oke kak, aku akan bantuin kakak, tenang aja... " ucap Misella.
"Maaf mama gak bisa bantu banyak, cuma ini aja baju baju yang kekecilan, tapi masih bagus kok kalau dipakai untuk anak anak panti" ucap Salma sambil membawa seplastik besar berisi baju baju yang telah dikumpulkan nya.
Marsel menyambutnya, ia kemudian membawanya ke dalam mobil dan menaruhnya di jok belakang, karena bagasi belakangnya dipenuhi oleh stok makanan yang akan dibagikan untuk anak anak panti asuhan tersebut.
"Yaudah mah, Marsel sama Misella pergi dulu ya mah, assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam, hati hati di jalan ya, anak anak... " ucap Salma.
Marsel dan Misella naik ke mobil, mereka kemudian meninggalkan rumah dan menuju ke panti asuhan.
Sepanjang perjalanan Marsel dan Misella merasa senang, mereka bisa kompak dalam menyanyikan lagu yang sudah disetel, dan juga mengobrol dengan baik.
"Kak, kayaknya udah lama deh kita gak seakrab ini, jadi keinget lagi pas kakak baru beli mobil ini, dengan suasana kita yang sekarang seperti ini bikin Sela rindu" ucap Misella.
"Iya, kakak juga rindu masa masa itu, dan sekarang kita mewujudkan nya. Kakak juga senang, akhirnya kita bisa begini lagi, ngobrol ngobrol seperti ini, jadinya itu seperti sebuah kenangan yang terulang lagi sama kita... " ucap Marsel.
"Lainkali kayak begini juga ya kak, biar kita gak saling tegang dan kaku... " ucap Misella.
"Siap adikku, kakak bakalan inget ini terus... " ucap Marsel.
.
.
Sesampainya di panti asuhan, hari ini tidak ada anak anak panti yang menyambut mereka, tampaknya sedang belajar di dalam ruangan mereka.
"Kok gak ada ya anak anak panti kayak kemarin? " tanya Marsel.
"Iya lah kak, jam segini anak anak panti tuh belajar, jadinya gak ada sambutan buat kita... " jawab Misella.
Tak lama kemudian, bu Santi datang menghampiri mereka, dengan sambutan yang ramah dan hangat membuat mereka menjadi senang.
__ADS_1
"Ini bu, seperti biasa, saya dan adik saya ingin memberikan makanan dan juga hari ini saya bawain pakaian untuk mereka, semoga bisa diterima ya... " ucap Marsel.
"Terimakasih, sebelumnya saya mengucapkan terimakasih, karena kebaikan hati mas dan mbak sekalian bisa membagikan makanan dan pakaian untuk anak anak panti kami. Ya sudah, saya panggil dulu anak anak"
Bu santi kemudian memanggil anak anak panti yang sudah remaja dan dewasa, ia menyuruh anak anak panti tersebut ikut membantu nya dan Marsel mengangkut makanan dan pakaian ke dalam aula panti.
Di jalan menuju aula, Marsel dan Wulan bertemu.
Merasa itu timing yang bagus, Marsel segera meraih tangan Wulan dan menahannya agar berhenti berjalan.
"Ada apa, bang Marsel? " tanya Wulan dengan nada tidak senang.
"Boleh kita bicara sebentar, Wulan? Abang mohon... " mohon Marsel.
"Ngapain lagi abang datang ke panti asuhan? Mau ngungkit semua adek adek panti dengan sebutan gak terdidik karena gak ada orangtua? " tanya Wulan.
"Bukan gitu, ayolah Wulan, kasih abang kesempatan buat cerita sedikit sama kamu.... " mohon Marsel lagi.
Wulan menghela nafasnya, ia mengalah dan menganggukan kepalanya.
"Hah....! Oke, ayo ke lapangan, disini cukup berisik karena ada adek adek panti yang lagi belajar.... " ucap Wulan.
Marsel dan Wulan berjalan menuju ke lapangan, mereka berjalan bersama, walaupun Wulan berusah menghindar dari Marsel.
"Ayo duduk.... " tawar Wulan.
"Ada apa bang? Abang ada niatan mau minta maaf lagi sama Wulan? " tanya Wulan.
"Iya Wulan.... Maafin abang sebelum nya, Wulan, dengan tulus hati ini abang bersungguh-sungguh minta maaf sama kamu. Kemarin serius, abang beneran gak bermaksud buat nyakitin hati Wulan dengan ngatain Wulan gak dididik dengan baik sama orang tuanya Wulan karena ulahnya adek abang yang bikin kamu terlihat gak berkenan sikap kamu didepan abang. Abang juga khilaf, karena abang baru sadar, kalau Wulan itu anak yatim piatu, gak seharusnya abang mengungkit kedua orangtuanya Wulan yang udah tiada... " ucap Marsel dengan nada suara bersalah.
Wulan meneteskan air mata nya, ia berusaha menahannya tetapi air mata itu tetap jatuh.
"Akhirnya abang sadar juga, kalau Wulan sakit hati sama ucapan abang.... Wulan tau, abang belum ngerasain gimana ditinggalkan kedua orangtua saat masih bayi, dan dari keluarga Wulan gak ada yang mau adopsi Wulan.... Wulan sedih banget.... " isak tangis Wulan.
"Maafin abang, sungguh sungguh abang minta maaf sama Wulan. Kalau belum bisa juga, abang bakal rela sujud di kaki kamu, Wulan.... " ucap Marsel dengan perasaan bersalah dan ingin melakukan apapun agar ia bisa dimaafkan.
"Gak perlu bang, abang pantas bersujud di kaki mama abang sendiri, karena dia wanita yang udah melahirkan bang Marsel sama Misella... " ucap Wulan.
Merasa iba melihat ketulusan Marsel yang benar-benar ingin meminta maaf, akhirnya Wulan membuka hatinya, karena tidak selamanya ia akan menutup hatinya hanya untuk merasa tersakiti dan tidak mau memaafkan.
"Tapi Wulan melihat abang dengan perasaan tulus minta maaf sama Wulan, Wulan menerima maaf dari bang Marsel... " ucap Wulan.
Mendengar hal tersebut, Marsel merasa tidak percaya, ia berusaha meyakinkan Wulan sekali lagi.
"Serius? Kamu seriusan mau maafin abang, Wulan? " tanya Wulan.
__ADS_1
"Iya bang, Wulan rasa kemarin abang memang lagi emosi sampai ngungkit ngungkit kedua orangtuanya Wulan yang sudah tiada, tapi tidak selamanya Wulan menutup hati untuk tidak menerima maafnya abang. Jadi, untuk sekarang, Wulan memaafkan abang dan Wulan merelakan ucapan abang sebelumnya untuk Wulan... " jelas Wulan.
Merasa senang, Marsel bersyukur, ia kemudian merogoh kantong nya dan mengeluarkan kotak cincin untuk Wulan, ia berlutut di hadapan Wulan.
"Wulan, belum sempat permintaan maaf kemarin kamu terima, dan sekarang kamu dapat memaafkan abang. Dan juga, tujuan abang kesini ingin melamarmu sekali lagi untuk menjadi pasangan hidupnya abang. Jadi, maukah Wulan menikah dengan abang? " ucap Marsel.
Wulan terkejut sekaligus ragu, ia hanya diam sambil berpikir.
"Ayolah Wulan, terima dong lamarannya kakakku... "
Wulan kemudian menatap ke belakangnya, itu adalah Misella dan bu Santi yang melihat mereka daritadi.
"Terima dong, lan, aku gak mau loh harus main nunggu nunggu sama kakakku. Hari ini kakakku ada niat baik loh sama kamu, masa gak mau kamu terima, Wulan? Kalau wanita lain malah nunggu nunggu loh bisa dilamar sama kak Marsel ku kayak kamu itu, masa kamu yang udah dipilih menjadi salah satu pilihannya kamu gak mau? Rugi loh... " goda Misella.
"Gak papa anakku, kamu memang sudah pantas menerima lelaki yang tulus mencintaimu, ibu Santi mu ini merestui mu... " ucap bu Santi.
Wulan merasa malu, ia kemudian menarik nafasnya dan menutup matanya.
"Iya, Wulan terima! Wulan mau jadi pasangannya bang Marsel! " ucap Wulan dengan nada lantang.
Misella dan bu Santi bersorak bahagia, Marsel dengan perlahan mengambil cincinnya dan memasangnya di jari manis Wulan.
Marsel dan Wulan berpelukan, mereka akhirnya bisa menjadi sebuah calon pasangan nantinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£