
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Pov Salma
"Kami pulang ya, makasih ya Salma"
Aku melambaikan tanganku saat Arina pulang bersama putrinya, hari yang cukup menyenangkan saat bertemu dengan anak anak kecil dirumahku
"Mah, adek Arinska nya udah pulang ya? "
Aku menatap ke arah belakang, Marsel menanyakan soal Arinska yang baru saja pulang
"Iya Marsel, dia barusan pulang sama tante Arina, kenapa? "
"Ngga, Marsel nanya aja, mama... "
Tak lama kemudian, mobil mas Thomas tiba di depan rumah, aku membantu membuka gerbang dan menyuruh mobilnya masuk
Mas Thomas turun dari mobil, ia membawa barang barang dan aku langsung menyambut nya
"Assalamu'alaikum... "
Sepertinya mas Thomas gak ngeh aku ada disamping nya, sepertinya setelah lama menikah, lebaynya kami mulai berkurang, biasanya pulang begini mas Thomas menyambut ku dan mencium ku
Tapi, ah sudah lah, dia kan capek kerja seharian
"Papa....!! "
Teriakan kedua anakku menyambut kedatangan papanya, aku menaruh tas dan sepatu kerja milik mas Thomas, sedangkan ia membawa jajanan seperti biasa untuk kedua anakku dan memberikannya
"Salma, buatin mas kopi ya... "
Suaranya memanggilku untuk dimintakan membuat kopi, aku menyahuti nya dan segera bergegas ke dapur
Setelah membuat kopi, aku juga menyiapkan biskuit untuk teman ngopinya, ya daripada harus menyiapkan rokok, yang ada mencemari udara segar dalam rumah
"Ini mas... "
Aku menaruh kopi ke atas meja, saat ingin berbalik untuk menaruh nampan, mas Thomas menarik tanganku
"Kenapa mas? "
Cup!
Ciuman mendarat di kening ku, aku menatapi mas Thomas dan ia memelukku
"Lupa cium, maaf ya... " ucap mas Thomas
Aku tersenyum menatapnya, kami berpelukan dan saling bertatapan
"Sempat merajuk, ya? " tanyanya sekali lagi padaku, aku menggeleng kepalaku sebagai tanda gengsi untuk mengakuinya, enak saja mau ngaku, yang ada dia yang ngejekin aku
"Sudahlah, mas tau sifat mu, lainkali ingetin aja kalau mas lupa cium"
Mas Thomas melepas pelukannya, ia mengambil kopinya dan meminumnya, aku hanya menatapnya sambil memakan satu biskuit tersebut
"Mas, mas.... "
"Ya, ada apa ya? "
"Tadi anak anak mainnya seru banget, tapi itulah, ada aja tingkahnya"
Mas Thomas menatapku dengan sruputan kopinya, ia menaruh lagi gelas kopi tersebut di atas meja dan berfokus padaku
"Siapa aja yang main kerumah? "
"Temennya Marsel, mas, sama Arinska dan Arina yang main kesini... "
"Ohh, bagus lah, rame juga rumah jadinya"
"Tapi mas, kenapa ya disekeliling pertemanan anak kita anak anak itu pada anak-anak Sultan ya? Contoh nya kayak Arinska sama temannya Marsel... "
Aku tak menatap langsung mas Thomas, ia fokus padaku, sedangkan aku lanjut bercerita
"Jadi pengen deh jadi Sultan, kalau liat anak anak mereka jadi minder rasanya, pengen juga kayak mereka, ya tapi itulah.... "
"Jadi kamu gak bersyukur ya? "
Mas Thomas mengerutkan keningnya, aku merasa perkataan ku salah
"Eh?! "
Mas Thomas menatapku, ia memegang kepalaku dan membelaiku
"Maaf ya sayang kalau mas gak bisa sepenuhnya memenuhi keinginan kamu, ya kamu tau lah gimana mas ini, salah juga ternyata ya mas ini gak bisa sepantaran kayak yang kamu sebutin tadi.... "
Aku menatap mata nya yang sayu, sepertinya aku membuat mas Thomas sedih atas ucapanku tadi
"Ngga, jangan ngomong gitu dong, maaf ya mas ucapanku tadi bikin mas sedih begini"
Aku langsung memeluk mas Thomas, sedangkan ia hanya merenung, mungkin merenung karena ucapanku tadi
"Tapi aku yakin, nanti kita bisa kayak mereka, ya mas? Kita bisa kayak mereka, kalau gak juga kayak gini gak papa, aku seneng, yang penting selama kita berempat masih bersama aja aku dah seneng, bersyukur malahan.... "
"Hmmmm, iyalah, nanti kita bisa nyusul mereka, uangnya banyak, bisa beliin roket buat Marsel"
"Roketnya yang gede mas, biar dilangit keliatan"
__ADS_1
Sepertinya kami diambang halusinasi seperti anak kecil, berkhayal kami lama lama menjadi lawakan, akhirnya kami tertawa, kami berhasil saling menghibur diri masing-masing
.
Pov author
Keesokan harinya, Salma sibuk di toko catering nya, ia beserta para karyawan-karyawan nya menyiapkan pesanan sekaligus makanan untuk syukuran nanti sore
"Nanti yang bagian ini langsung bawa ke rumah saya ya"
"Baik bu"
Salma mengangkat sebagian kotak makanan ke dalam mobil, sementara para karyawan laki-laki mengangkat sebagian kotak nya lagi ke dalam mobil
"Yang cateringan sudah kan? Jangan lengah karena pesanan saya"
"Tidak bu, sudah kami kerjakan, tinggal beli bahan untuk cateringan nikahan sama arisan"
"Bagus, lanjutkan ya, nanti jangan lupa bereskan sebagian bekas kotak makanan punya saya dan kalian boleh pulang ataupun istirahat"
"Baik bu, terimakasih"
Salma berjalan keluar dari toko catering nya, ia masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya
.
.
Di rumah, Marsel dan Misella tampak sedang bermain bersama, mereka ditinggal sebentar oleh mama mereka, karena Salma sudah mengatakan kepada anak anaknya bahwa ingin pergi sebentar mengambil kotak cateringan
'Marsel..... '
Suara panggilan memanggil nama Marsel, Marsel mendengar panggilan tersebut dari luar dan langsung mengintip ke arah jendela
"Siyapa kak? "
"Kayak ibu Rahma, Sela, kakak mau buka pintu... "
Marsel mengambil bangku dan membuka pintu rumah, bu Rahma dan Azizah tersenyum dan menyapa Marsel
"Assalamu'alaikum Marsel... "
"Waalaikumsalam bu Rahma, ayo masuk dulu kedalam bu"
Marsel kemudian mengajak masuk bu Rahma, sedangkan Azizah berlari langsung ke dalam dan mulai mengambil posisi untuk duduk di sebelah Marsel
"Abang, ayo kita main.... "
"Iya, izah mau es krim? "
"Jangan sel, gak usah kasih izah es krim, nanti dia batuk"
"Bu, tapi izah mau es krim.... "
"Gak boleh, nanti kamu batuk, minum air aja"
"Gak enak"
Bu Rahma hanya menggeleng kan kepalanya, ia tetap tidak menyuruh anaknya untuk makan es krim
"Mama kemana, Marsel? "
"Mama lagi ambil catering, bu"
"Jadi berdua aja dirumah? "
"Iya, cuma Marsel sama Sela di rumah"
Bu Rahma menganggukan kepalanya, ia kemudian duduk dan melihat anak anak yang sedang bermain
Tin!
Suara klakson mobil terdengar di luar rumah, Marsel langsung berlari dan membuka pintu rumah
"Marsel, bantuin mama buka gerbang, nak "
"Iya mah, sebentar... "
Marsel langsung menggunakan sandalnya, bu Rahma kemudian keluar
"Ada bu Rahma? "
"Iya mah, barusan tadi bu Rahma datang.... "
"Ohhh begitu"
"Ayo, sini saya bantu, kalau berdua aja kecapekan"
Bu Rahma secara sukarela membantu Salma dan Marsel, mereka bertiga mengangkat kotak makanan tersebut sampai ke meja makan
"Banyak banget, ini ada acara? " tanya bu Rahma
"Mau syukuran rumah, kan baru punya rumah bu, kebetulan juga bu Rahma ada disini, jadi gak usah pulang dulu ya bu, sekalian ikut syukuran rumah saya"
"Wah, makasih ya"
.
.
__ADS_1
Menunjukkan jam 7 malam, semua tetangga yang diundang beserta kepala daerah, RT dan RW maupun ustadz datang, Salma mengajak anak anak kecil yang datang untuk bermain di kamar tamu
"Marsel, nanti ingetin teman temannya jangan berisik ya, mau main gak apa, tapi jangan teriak teriak" bisik Salma dari depan pintu, Marsel menganggukan kepalanya
"Iya mah, nanti Marsel kasih tau"
Salma menganggukan kepalanya, ia kemudian menutup pintu kamarnya dan pergi ke ruang utama untuk ikut berdo'a
Di kamar tamu, anak anak tampak senang bermain, karena sebagian sedang bermain mainan milik Marsel dan Misella, sebagian lagi bermain game di hpnya
"Alo aba... "
Seorang anak kecil berumur 3 tahun datang bertatih tatih pada Marsel, Marsel melihat nya dan menyambutnya dengan baik
"Adik mau boneka? " tanya Marsel pada batita tersebut
"Iyah... "
Gadis batita tersebut duduk mendekati Marsel, Marsel mengajaknya bermain bersama dengan boneka milik Misella
Ada yang panas, tapi bukan api, tampak dari kejauhan, kedua gadis kecil tampak cemburu melihat sang bibit unggul bermain bersama gadis kecil lainnya
"Kakak Marsel nya iska kenapa duduk sama si centil itu?! "
"Arin apaan lah, abang Marsel cuma duduk sama main aja... "
"Kamu tuh gak tau kalau kakak Marsel banyak yang mau main sama dia, kamu gak jaman mainnya"
"Arin gak jelas"
"Apa bilang aku gak jelas? Iska selalu jelas! Izah yang aneh! "
Keributan mulai terjadi, Marsel melihat hal tersebut menyuruh kedua gadis tersebut diam
"Adik Iska sama adik izah jangan berisik, mama papa kita lagi do'a, mamanya Marsel gak suruh berisik... "
"Waaa gelud! "
Seorang anak kecil laki laki tampak ingin memprovokasi keadaan, seketika Azizah dan Arinska berkelahi, sedangkan anak anak kecil lain tertawa dan membuat keributan
"Jangan berisik, adik arin, adik izah! "
Suara keributan tersebut membuat Salma meresponnya, ia telah menduga akan adanya keributan oleh anak anak kecil di kamar tamu
'Mas, aku kedalam bentar ya, anak anak kayaknya berisik ' bisik Salma di telinga Thomas
'Gak usah, kita lagi do'a, paling mereka lagi main doang sampe keseruan... ' jawab Thomas, Salma merasa ragu
"Huaaaaaaa!!! "
Teriakan semakin menjadi, Salma langsung berdiri dan berlari ke arah kamar tamu
Cklek!
Pintu terbuka, ia melihat anak anak yang bertepuk tangan, sedangkan anaknya Marsel berusaha melerai Azizah dan Arinska
"Hei hei hei! Kenapa kalian berkelahi? "
Azizah dengan air mata ia memeluk Salma, sedangkan Arinska memeluk Marsel
"Iska tante! Dia ngejek ngejek izah! "
"Kamu yang ngejek aku! Huu! "
"Sudah sudah ya, kalian jangan berkelahi lagi, kalau begitu kakak Marsel nya sama tante Salma aja ya? " tanya Salma kepada kedua gadis kecil tersebut
"Jangan! " ucap Arinska dan Azizah bersamaan, Salma meminta kedua gadis kecil tersebut saling bermaaf-maafan
"Udah ya, jangan berkelahi lagi, Marsel tolong jagain lagi ya adek adeknya, ajakin main, jangan disuruh berkelahi lagi"
"Iya mah... "
Salma menutup pintu kamar tamu, ia menggelengkan kepalanya
"Setiap bertemu kayak magnet aja, satu kutub utara, satu kutub Selatan, gak bersatu, berseteru terus"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£
__ADS_1