
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Sesampainya di kediaman keluarga Thomas, asisten Enrico dan Enrico membantu Marsel untuk berdiri, mereka membawa Marsel ke dalam rumah nya.
"Permisi.... "
Salma yang berada di ruang keluarga mendengar ketukan pintu rumahnya, ia kemudian melihat jam dindingnya sudah menunjukkan jam 11 malam.
Salma membuka pintu rumahnya, terlihat Enrico dan asisten Enrico menggandeng bahu Marsel.
"Taruh saja di sofa ya " ucap Salma.
Marsel dibaringkan di atas sofa, Enrico berusaha melepaskan pelukan Marsel dengan duduk hampir tersungkur, sedangkan Salma dengan perlahan membantu Enrico melepaskan pelukan Marsel.
"Ehh tante, kalau gitu aku permisi dulu mau pulang ya, soalnya Arinska pasti nungguin aku... "pamit Enrico.
" Oh iya, makasih sebelumnya udah anterin Marsel sampai ke rumah ya Rico, hati hati di jalan.... " ucap Salma.
Salma mengantarkan Enrico sampai depan pintu rumahnya, ia kemudian menutup pintu rumahnya dan beralih ke ruang tamu untuk melihat anaknya yang habis pulang mabuk-mabukan.
"Siapa tadi sayang? Si Marsel sudah pulang hah?! " tanya Thomas yang keluar dari kamar.
"Mas, udah, simpan dulu emosinya mas sama Marsel, kasihan dia lagi mabuk, belum sadar juga" ucap Salma.
"Itulah kamu Salma, terlalu memanjakan dia, lihatlah sekarang dia.... "
"Udah mas! Gak usah diperpanjang! Yang penting dia sudah pulang! " tegas Salma, Thomas yang mengomel tadi seketika terdiam.
"Ya baiklah, kalau begitu mas mau lanjut tidur lagi... "
Thomas kemudian masuk ke kamar nya lagi, sedangkan Salma menemani Marsel.
Tiba-tiba tanpa aba aba, Marsel ingin muntah, Salma dengan panik mencari tempat untuk menampung muntah Marsel.
Sayang tidak ada, ia terpaksa merelakan tangannya untuk menampung muntahan anaknya, itupun berlumur hingga ke daster nya.
"Haduh pake muntah juga, ke belakang dulu ini terpaksa... "
Salma dengan cepat bergegas ke arah kamar mandi sambil membawa muntah Marsel dan daster nya yang berlumuran muntahan anaknya, menahan jijik ingin segera membuangnya.
.
.
Di saat Misella keluar dari kamarnya, ia kemudian melihat Marsel yang tertidur di sofa, terlihat sekali habis mabuk.
"Mentang mentang sudah kerja, pake acara mabuk juga, ini pasti belum di pel sama mama... "
Misella kemudian mengambil kain pel, ia kemudian mengepel lantai yang ada bekas muntahan Marsel.
Disaat mengepel lantai, yang tadinya Marsel mengigau terus terdiam, ia secara tiba-tiba menangis.
"Sela... Mama... Papa... " ucap Marsel sambil menangis di kala pengaruh mabuk nya.
"Apaan lagi nih omongannya? " tanya Misella.
"Maafkan aku, maafkan aku... Aku tau aku bersalah, buat kalian semua benci aku... Tapi aku gak sepenuhnya ingin membuat kalian benci sama aku... " isak tangis Marsel.
__ADS_1
Misella melihat Marsel makin menjadi tangisannya ia kemudian berhenti mengepel, ia ingin mendengar ngigau kakaknya.
"Ini semua untuk kalian semua... Aku terkesan menyebalkan dan bikin kalian benci itu karena demi kalian... Aku minta maaf... Aku minta maaf telah kasar sama Misella, melawan dengan mama dan papa, dan juga bikin kedua adik angkatku sendiri beserta wanita yang ingin ku lamar benci padaku... Aku minta maaf... "
Misella hanya mendengar kakak nya yang mengigau, tetapi ucapan dari kakaknya mampu membuatnya penasaran.
"Misella... Kakak kasar sama kamu... Aku minta maaf... Aku khilaf karena menamparmu kemarin... Kau tetaplah adikku yang paling ku sayang, semua sifatku ini karena kakak sayang kamu, Misella... Kakak ingin berjuang fokus kerja agar biaya kuliahmu tidak pernah terputus dan bisa menyekolahkan kamu dengan baik, Misella.... Dan kakak ingin mengalah sama kamu untuk agar kamu bisa menikah dengan Raka sesuai janji kakak dulu saat kakak masih remaja, memberi kamu jalan untuk bisa bersama Raka itu untuk kamu, Misella.... Kakak sayang kamu, kakak gak mau kamu harus terhenti sekolahmu dan menatap nasib hanya berhenti di D2 seperti kakakmu ini... Kakak ingin kamu bisa mendapat gelar sarjana, agar kelak nasib kamu gak seperti kakak yang harus bekerja di perusahaan biasa dan hanya bisa menumpang bekerja dengan teman saja, kakak ingin kerja semua biaya itu untuk kuliah kamu, adikku Misella yang tersayang... " isak tangis Marsel yang sedang mabuk.
Mendengar hal itu, Misella sadar, ternyata kakaknya tidak memikirkan untuk mencari pasangan dan fokus kerja itu hanya untuknya, ia menangis ketika mendengar ngigau kakaknya yang terkesan nyata untuk dirinya.
"Kakak... "
Misella menangis, ia kemudian memeluk Marsel yang sedang mabuk itu, tetapi Marsel hanya menangis dengan keadaan tidak sadarkan diri dan tidak merasakan Misella yang sedang memeluknya.
Salma kemudian datang, ia Misella yang memeluk Marsel, terlihat keduanya sedang menangis.
"Papa... Mama... Maafkan Marsel yang sudah dewasa ini... Mungkin ucapan dan sikap Marsel kemarin buat kalian kecewa bahkan buat kalian semua benci pada Marsel... Marsel begitu hanya untuk kalian semua, Marsel mau bantu papa yang sebentar lagi ingin pensiun, bantu mama yang usahanya ingin bangkit lagi saat pandemi hilang, dan ingin menyekolahkan Misella dengan baik agar tidak bernasib seperti aku... Aku sayang kalian semua, aku juga yang bikin kalian sakit hati semua, aku minta maaf... Aku minta maaf... " ngigau Marsel.
"Iya kak... Kami juga minta maaf sama kakak... " ucap Misella.
Salma kemudian mendekati Misella, Misella yang pundaknya disentuh oleh Salma kemudian beralih pandangan, ia kemudian mengusap air matanya dan mendekati Salma.
"Misella, kini kita bisa tau kenapa kakak kita seperti itu, kita semua bersalah sama dia... " ucap Salma.
"I... Iya mah... Sela juga merasa bersalah sama kakak... Sela salah sama kakak... " isak tangis Misella.
"Ya sudah, besok kita semua minta maaf sama kakak ya, biarin dulu kakaknya tidur, kita juga harus tidur ya? " tanya Salma.
"Iya mah... " ucap Misella.
Misella kemudian bergegas ke kamarnya, ia mengambil selimut cadangannya kemudian menyelimuti Marsel yang tertidur pulas dan mencium pipi kakaknya.
.
.
"Agh, kepalaku pusing... " keluh Marsel.
Marsel memijit mijit keningnya, ia berusaha sadar dan ia merasa haus.
"Kakak haus? "
Marsel menatap ke arah dapur, Misella membawakan air minum untuk Marsel.
"Diminum kak, kakak semalam habis mabuk soalnya... " ucap Misella.
Marsel mengambil minum dari Misella, ia kemudian meneguk air minumnya sampai habis.
Marsel merasa lega, ia kemudian ingin menaruh gelas tersebut, tetapi takut jatuh akhirnya Misella yang menaruhnya di atas meja.
"Misella... " panggil Marsel, Misella yang menaruh gelas menatap ke arah Marsel.
"Sela, kakak benar-benar minta maaf soal kemarin ya, itu sungguh kakak tersulut emosi, sampai sampai kamu yang harusnya kakak lindungi malah ditangan kakak sendiri kamu kakak sakiti. Kakak benar-benar minta maaf, kakak sadar itu semua kesalahan kakak... " ucap Marsel.
Misella menggelengkan kepalanya, sambil menahan tangisnya ia kemudian langsung memeluk kakaknya dengan erat.
"Ngga kak, bukan kakak yang salah, tapi Sela... Harusnya Sela gak boleh ikut campur sama urusan kakak, karena selama ini kakak gak pernah ikut campur urusanku, kecuali saat urusanku itu tidak benar sama sekali... Aku yang harus minta maaf sama kakak... " isak tangis Misella.
Marsel memeluk Misella, ia membenamkan dagunya di bahu Misella dan tangannya mengelus rambut Misella.
__ADS_1
"Kita semua salah, kakak salah karena main tangan sama kamu, dan kamu juga salah yang selalu menekan kakak atas semua maumu itu untuk kakak. Kakak yakin, semua yang kamu inginkan untuk kakak itu semuanya baik, tapi kakak belum sepenuhnya bisa memenuhi itu semua... " ucap Marsel.
"I... Iya... Sela tau... Kakak melakukan itu semua untuk aku, mama dan papa kan...? " tanya Misella.
"Kamu tau dari mana Sela? " tanya Marsel.
Misella hanya diam, ia memeluk erat lagi Marsel.
"Tetapi benar, kakak melakukan itu semua untuk kalian, karena sudah bisa jadi tanggungjawab kakak untuk bisa membantu kalian semua di rumah. Hanya kalian yang kakak punya, jadi kakak ingin membahagiakan kalian tanpa kakak harus melihat kamu, mama dan papa pusing dengan urusan kalian... Kakak ingin sekali menyekolahkan kamu sampai kamu dapat gelar sarjana, Sela... Kakak pengen bantu mama buat bangkitkan usaha catering nya yang terkena dampak pandemi tahun lalu, dan juga kakak ingin menabung untuk kebutuhan kalian saat papa tiba tiba pensiun dari pekerjaannya... Itu saja yang ingin kakak wujudkan, kakak ingin kamu, mama dan papa bahagia... " ucap Marsel.
Misella yang terbawa suasana dan ucapan Marsel membuatnya menangis lagi, ia memeluk Marsel lagi dengan erat.
"Kakak....! Sela sayang sama kakak...! Maafin Sela yang selalu buat kakak tertekan maupun bikin kakak selalu terbeban mental dengan apa yang Sela inginkan untuk kakak...! Sela minta maaf...! " tangis Misella.
Salma kemudian datang, Marsel yang sedang memeluk Misella menatap ke arah Salma.
"Marsel sayang, mama juga minta maaf sama kamu ya nak, mama kemarin seenaknya main tangan sama kamu... Benar kata kamu, seharusnya mama harus mendengarkan kamu langsung, bukan mendengarkan nya dari Misella... Mama sayang banget sama kamu, kamu juga rela banget berjuang untuk mama, Sela dan papa kamu, kami ngga sadar selama ini kamu berjuang untuk kami... Harusnya kami bisa jadi sandaran kamu dikala kamu lelah dan ada masalah, bukan selalu menekankan kamu untuk menuruti keinginan kami... Maafkan kami ya, nak... " ucap Salma.
Marsel menganggukan kepalanya, ia ingin mamanya memeluk nya.
Thomas kemudian datang, tanpa berkata apa-apa ia langsung memeluk Marsel, jarang sekali Thomas ingin memeluk Marsel dewasa itu, karena tidak lagi seperti Marsel yang dulu masih kecil.
"Papa juga minta maaf sama kamu ya, Marsel... Papa gak bisa kontrol emosi dan nampar kamu kayak begitu kemarin... Papa benar-benar minta maaf... " ucap Thomas.
Marsel mengangguk kepalanya, mereka semua berpelukan dengan erat dan saling mencium pipi masing-masing.
Dengan kasih sayang dan masalah yang telah diselesaikan bersama, akhirnya mereka semua berbaikan, mereka berjanji agar selalu menyelesaikan masalah sampai ke akarnya terlebih dahulu dan tidak saling memaksakan kehendak masing masing.
"Marsel punya kabar bagus untuk kalian semua... " ucap Marsel.
"Oh ya, apa itu nak? " tanya Salma.
"Marsel berencana ingin melamar Wulan kembali, mah, jadi untuk sekarang, Marsel minta dukungan dan doa restunya untuk Marsel, agar Marsel lancar lancar aja saat ingin melakukan niat baik tersebut untuk Wulan" jawab Marsel.
Misella, Salma dan Thomas memanjatkan puji syukur, akhirnya Marsel telah memutuskan pasangan yang dipilihnya sendiri, mereka bertiga mendukung Marsel yang ingin melamar Wulan tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£
__ADS_1