Pilihan Marsel

Pilihan Marsel
17: Tertolak


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula šŸ”°


.


Pov author


"Arinska... "


Misella terkejut mendengar nya, ia baru tau bahwa Enrico menyukai Arinska


"Loh, jadi kak Enrico naksir sama kak Arinska?! " teriak Misella


"Stttt! Jangan kenceng kenceng ngomong nya, Sela, nanti tante Salma denger! " ucap Enrico dengan isyarat diam dengan jari telunjuknya di bibir


"Oh iya, maaf... "


"Iya, ngga papa.... " ucap Enrico


"Eummm, maaf sebelumnya kak Rico, bisa lepas ngga tangannya? " mohon Misella


Bukan Enrico yang menyingkirkan tangan nya sendiri, melainkan Marsel lah yang menepis tangan sahabatnya dari tangan adiknya


"Daritadi gua risih lihat lu pegang pegang tangannya Sela, Ric! " tegas Marsel


"Ya maaf, kamu jadi kakak posesif banget" ucap Enrico tidak senang


"Lu bisa pake logika gak, Misella udah punya Raka, lu pake acara pegang pegangan tangan gini apa gak risih si Sela?! Jangan jangan lu mikir selain mau sama Arinska, adek gua juga lu embat? Gua kebiri lu kalau niat lu kayak gitu " ancam Marsel


"Sialan, belum nyoba ini gua sama Arinska, lu asal mau kebiri aja, bisa bisa dibantai bapaknya duluan karena gak bisa nerusin keturunan"


Ucapan Enrico sudah mulai menjurus ke hal dewasa, hal tersebut membuat Marsel menjitak kepala Enrico


"Dikit dikit obrolan udah mulai ke hal dewasa, gak bisa tahan lu jadi orang" judes Marsel


"Dihhhh, tandanya gua normal dong, emang kayak lo? " ejek Enrico, akhirnya mereka ribut dan membuat Misella berdeham


"Ini mau atau ngga ya nanya nanya nya sama aku? Perasaan dari tadi dilihatin ribut terus kayaknya"


Misella mulai serius, sedangkan Marsel dan Enrico duduk kembali dan diam


"Oke, kita balik ke inti awal, jadi kak Enrico minta konsultasi sama aku soal cewe gitu? " tanya Misella serius


"Iya, kakak butuh konsultasi sama kamu mengenai soal cewe, terutama seumuran kamu dan Arinska... " jawab Enrico


"Sebelumnya, aku mau goreng nugget ini dulu ya, rasanya ada yang kurang kalau gak makan nugget yang udah ada ini... " ucap Misella, ia membawa sebungkus besar nugget tersebut ke belakang, tak lupa juga dengan plastik yang berisikan banyak nugget tersebut


"Ric, ini gua kasih syarat buat lo ya" ucap Marsel dengan tegas


"Yaelah Sel, lu udah kayak atasan gua aja deh, perasaan gua gak pernah giniin lu di kantor, kayak ada dendam pribadi aja kesan lu sama gue" ucap Enrico dengan kening mengkerut


"Gak gitu, omongan asal dipotong aja lo. Jadi gini, lo selama minta konsultasi sama adek gua jangan tanya aneh aneh soal dewasa dan harus ada batas wajar, ngerti? Dan satu lagi, gak usah pegang pegang sembarangan sama adek gua, ngerti? " perintah Marsel, Enrico berdecak kesal menatap Marsel


"Iya iya, gimana mau maju pemikiran adek lu, kalau semua soal hal baru lu larang terus? " tanya Enrico


"Gua gak larang, cuma gua akan selalu kontrol dia semampu gua, dan juga gua ingat gua harus jadi kakak yang bisa bimbing adek gua, apalagi adek gua juga cewe dan perlu diawasi sebisa mungkin, emangnya lu tau apa jadi seorang kakak? " remeh Marsel


"Iya, baik, oke kakak Marsel, gua turuti apa perintah mu, sungkem.... "


Duk!


Misella langsung menghentakkan piring berisi nugget ke atas meja, hal tersebut membuat Marsel dan Enrico terdiam


.


Pov Marsel


"Bisa diem ngga? Perasaan dari tadi disuruh diem kayaknya gak bisa ya? "


Sorot mata Misella menatapku dan Enrico, kami akhirnya diam dan duduk pada posisi semula


"Jadi, kalau soal wanita ya? " tanya Misella pada Enrico, aku mungkin hanya akan menyaksikan Enrico akan disidang oleh Misella, mampus


"Iya Sela, kira kira cewe tuh gimana sih? "


"Cewe dari kategori mana dulu? Sifat? Penampilan? Skill? Hobi? Atau yang lainnya? "

__ADS_1


Enrico tampak bingung memilih pertanyaannya Misella, hahahaha mampus palamu puyeng, soalnya Misella tidak akan mengambil lebih dari 2 pilihan yang telah ia berikan


"Semuanya deh, Sela.... "


"Gak usah pura-pura bego, kak Enrico, cuma dua aja dari semua pilihan itu.... "


Mampus, kau terlalu naif, Enrico, sifat Misella jika memberikan pilihan seperti di interogasi, tidak akan dia lepas seenaknya saja orang asal memilih


"Sifat sama hobinya aja deh, Sela, kakak nyerah" Aku tertawa kecil di belakang Enrico, melihat nya di interogasi rasanya seperti mimpi indah


"Gak usah ketawa kak, nanti aku tanya sama kakak, kakak bingung sendiri" ucap Misella padaku


Enrico tampak mengejekku, sedangkan Misella mulai menjelaskan dari kedua pilihan dari Misella


"Oke, dari sifat ya... "


"Kalau dari sifat, kami memang terkesan egois bagi kalian, karena kakak tau sendiri bahwa wanita itu selalu benar" ucap Misella, hal tersebut membuat ku dan Enrico tidak setuju


"Kok gitu sih? Kalau kalian salah ya tetap salah" protes ku


"Bisa diem gak? "


"Oke oke, lu diem dikit, Sel! "


Enrico menjitak dengkul ku, tak terima dia menjitak seenaknya, wajahnya ku tendang


"Sakit! "


"Hayo lanjutin terus! Sekalian saling pukul pukulan aja! "


Misella marah kepada kami, akhirnya kami diam dan mendengarkan dia menjelaskan tentang wanita


"Soal hobi kak Arinska udah tau? " tanya Misella


"Kenalan aja belum, gimana mau tau soal hobinya Arinska, Sela"


Aku tertawa dengan ucapan Enrico, tidak salah tapi benar, adikku hanya menggeleng kepalanya melihat jawaban Enrico


"Males lah, kerjaannya cuma main main aja! "


"Hmmm, iya juga ya.... Yaudah, aku kasih tau aja lah ya. Hobi kak Arinska itu main golf, biola, les bahasa Thailand, dan main bowling, memang selera kelas atas kak Arinska dan pasti kak Enrico bisa mengikutinya. Cuma, kak Arinska gak suka kejutan yang terlalu heboh dan terbuka, kecuali itu kak Marsel yang kasih kejutan sama dia. Usahakan kakak bisa bujukin dia buat bisa makan malam nanti, bersikaplah seperti atasan di kantor. Berusahalah memikat hati kak Arinska itu dengan memberikan seikat bunga Lavender untuk kak Arinska, dia sangat suka bunga Lavender"


Misella memberi wejangan pada Enrico, heh kesannya kayak anak dan ibu ya


Aku gak berani bilang Misella ibu ibu, yang ada habis aku dihajar nya


"Baik Sela, terimakasih atas konsultasi nya ya, akan kakak usahain"


"Ya sama sama, jangan lupa bayaran ku sesuai janjinya kakak tadi"


Seperti biasa, adikku si Queretta Misella itu memang mata duitan, dan si Enrico yang payah dan bodoh itu terlalu mangguk mangguk dengan bocah Perguruan tinggi itu


"Yasudah, aku permisi dulu ya, salam untuk tante Salma"


Aku mengantarkan Enrico ke depan rumah, ia disambut oleh asisten dan supirnya untuk masuk ke dalam mobil


"Bagus ya kak, bisnis menguntungkan"


Misella menunjukkan foto jepretan screenshot padaku dengan nominal yang sudah ditransfer oleh Enrico, lumayan nominalnya bisa beli 2 laptop


"Bagi dua? " tanyaku


"Gak mau, enak aja, wleeek! "


Misella mengejekku, aku mengganggunya dan membuat mama marah karena kegaduhan dari kami


.


Pov author


Sore menjelang tiba, Misella di chat oleh Enrico, karena Enrico meminta trik agar Arinska bisa bertemu dengannya


"Nanti bakalan Sela telpon kak Arinska buat ketemuan, mau di restoran mana? "


'Restoran biasa, yang memiliki hidangan high class juga bagus, mohon bantuannya ya Sela, nanti kalau berhasil kakak traktir kamu makan di restoran sana ' ucap Enrico di telpon

__ADS_1


Pip!


Panggilan berakhir, Misella beralih ke nomer HP milik Arinska


"Gimana, Sela? Si Enrico yang nelpon? " tanya Marsel


"Iya, dia minta Sela buat telponin kak Arinska buat ketemuan di restoran yang udah dipilih sama kak Enrico, kita buat jebakan batman untuk kakak Arinska biar ketemu sama kak Enrico"


Telpon akhirnya diangkat, Misella dengan berbagai cara untuk membujuk Arinska datang ke restoran yang telah dipilih


.


.


Malam harinya, malam yang cukup syahdu, sebuah mobil mewah turun di depan restoran


Supir mobil tersebut membuka pintu mobilnya, Arinska turun dengan anggun dan meminta arah untuk ditunjukkan meja nomor berapa yang akan ia duduki


Dari jauh, Marsel dan Misella mengawasi Arinska, mereka menyamar menjadi pelanggan restoran tersebut


Arinska duduk dan mengambil sampanye, ia meminumnya sedikit dan menaruh lagi gelasnya di atas meja


Dari ruangan lain, Enrico merasa gugup, karena ia akan secara langsung bertemu dengan gadis impiannya


"Arinska.... "


Arinska mengenal suara tersebut, ia menatap ke arah samping nya dan itu adalah Enrico dengan buket bunga mawar


Misella dari kejauhan menepuk keningnya, hal tersebut membuat Marsel penasaran


"Kenapa, Sela? " tanya Marsel


"Kak Enrico itu pelupa ya? Kan kak Arinska itu suka Lavender, bukan mawar! " ucap Misella dengan nada kecil tapi tegas


"Loh kok lu yang datang? Kemana kak Marsel sama Misella?! " ucap Arinska kebingungan


Enrico langsung bertekuk lutut, ia menyodorkan buket bunga tersebut pada Arinska


"Arinska, kakak naksir sama kamu, kamu mau jadi pacar kakak Enrico kamu ini? "


Enrico menyodorkan buket bunga untuk Arinska, ia berharap Arinska mau dan mengambil buket bunga nya kemudian menerimanya


Arinska menepis bunga tersebut, ia menginjak buket bunga yang diberikan oleh Enrico


"Gua gak suka bunga mawar, dan lagi maaf ya, gue gak mau sama lo, lo kan tau kalau gue naksir sama kak Marsel. Jadi, tolong jangan deketin gue lagi ya, gue gak suka sama elo, Enrico"


Ucapan tersebut singkat, tetapi menusuk, Enrico ditolak mentah-mentah oleh Arinska


Hal tersebut dapat membuatnya jadi turun harga diri dan membuatnya kecewa dengan ucapan Arinska yang menolaknya


"Sudah kuduga, Arinska keras orang nya.... "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£šŸ‘£šŸ‘£

__ADS_1


__ADS_2