Pilihan Marsel

Pilihan Marsel
25: Undangan Arinska


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula šŸ”°


.


Arinska terdiam, ia menatap lagi ke arah Enrico yang berdiri di depan papanya.


"Apa? " tanya Arinska.


"Aku ingin mengajakmu menikah, Arinska.... " ucap Enrico dengan percaya diri.


"Jadi kamu datang kesini ada tujuannya selain mengantarkan anak kami pulang, Enrico? " tanya Brian.


"Benar sekali, om, mungkin sudah lama saya ingin mengungkapkan nya langsung kepada Arinska, lebih bagus lagi jika om dan tante menjadi saksi awal untuk kami, agar kami bisa diberikan restu untuk bersatu"


Enrico mengeluarkan sekotak cincin dari kantongnya, ia kemudian menyusul Arinska dan berlutut.


"Iska, sangat beruntung sekali hari ini kita bisa mengobrol bersama dan saling berbagi cerita, jadi bolehkah aku berbagi cerita hidup bersamamu untuk selamanya, maukah kamu menikah denganku? " tanya Enrico.


Arinska merasa malu, ia juga merasa bimbang dan ragu ketika harus memilih jawaban ya atau tidak.


"Emmm, Enrico... "


"Iya Arinska, bagaimana? "


Arinska langsung mengambil kotak cincin tersebut, ia menyuruh Enrico berdiri terlebih dahulu.


"Aku bakal simpen cincin ini, kamu harus nunggu kabar dari aku apakah lamaran ini aku terima atau tidak. Jika aku terima, aku bakal kirim foto jari manisku sudah ku pasang cincin ini, jika tidak kuterima, aku bakal kirim foto kotak cincin nya yang masih tertutup. Aku minta waktunya ya... " jelas Arinska.


Enrico menganggukan kepalanya, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia ingin mengakui perasaannya pada Arinska tadi.


"Kalau begitu saya permisi, terimakasih om dan tante sudah menyambut saya" ucap Enrico.


"Iya, kamu tidak ingin masuk dulu untuk mengobrol lebih lanjut kepada kami, Enrico? " tanya Arina.


"Tidak tante, saya akan langsung pulang saja, terimakasih" jawab Enrico.


"Arinska, aku pulang ya, aku tunggu jawabannya dari kamu" sambung Enrico.


Enrico kemudian menaiki mobilnya, Arinska melambaikan tangannya kepada Enrico dan dibalas suara klakson oleh Enrico.


"Bagaimana sayang? Kamu mau terima lamaran dari Enrico? " tanya Arina.


"Arina, biarkan Arinska sendiri yang memutuskan, aku mohon, jangan campuri keputusan nya, biarkan dia sendiri yang memilih, Arinska kita sudah dewasa, kita harus bisa mendukung apa yang sudah jadi keputusannya, sudah biarkan saja" ucap Brian.


"Makasih papa"


Arinska kemudian memeluk Brian, mereka bertiga masuk kedalam rumah dengan para pelayan yang melayani mereka di luar tadi.


.


.


Di lain tempat, Marsel tampak merenung di belakang rumah, ia memikirkan cara untuk meminta maaf pada Wulan.


"Marsel, kamu ngapain? "


Marsel kemudian melihat kearah pintu, Salma yang memanggilnya kemudian mendekati nya.


"Gak ada, aku lagi mau ke belakang aja sambil liatin ikan di kolam ini aja, mah" ucap Marsel.


Salma duduk di sebelah anaknya, ia tau anaknya punya masalah.


"Marsel, mama sama kamu ada ikatan batin antara ibu dan anak, mama bisa tau kamu nangis, marah ataupun punya masalah. Kamu punya masalah kan? " tanya Salma.


"Seperti itulah mah, akhirnya Marsel bisa tau dari Misella, kalau Wulan ternyata yatim piatu" jawab Marsel.


"Aghhh! Bodohnya aku! Harusnya gak harus begitu! " kesal Marsel.


"Kamu gak boleh mengutuk dirimu bodoh, sayang, kamu cuma ceroboh saja. Mama tidak suka jika kamu mengutuk dirimu bodoh, karena semenjak kamu masih bayi sampai sekarang, mama selalu bilang kamu pintar dan cerdas, karena itu sebuah do'a yang baik untuk kamu" ucap Salma.


"Maaf mah, Marsel memang benar-benar kesal sama diri Marsel sendiri, andai aja ucapan Marsel tadi bisa ditarik, mungkin gak bakalan buat Wulan kayak gitu, mah... " ucap Marsel.

__ADS_1


"Yaudah, nanti atau kapan kapan kamu minta Misella temenin datang ke panti asuhan tempat Wulan tinggal, kamu harus minta maaf langsung sama dia, agar kamu gak selalu terus merasa bersalah" ucap Salma.


"Hmmm, oke mah"


"Yaudah, ayo masuk, udara di luar mulai dingin" ucap Salma.


"Mah, Marsel pengen gendong... " jahil Marsel.


"Heh! Kamu itu lebih gede dari mama, bisa encok badan mama kalau gendong kamu"


"Iya iya deh.... "


.


.


Di ruang kerja, tepatnya di kediaman keluarga milik Enrico, Enrico tampak kurang fokus dengan pekerjaannya, karena ia menunggu jawaban dari Arinska.


"Aghhh, kenapa lama banget jawabannya si Arinska sih? " ucap Enrico, ia mencengkram bajunya dan sesekali mengusap kasar wajahnya.


Tring!


Tiba-tiba ia dikejutkan oleh alarm di hpnya, menunjukkan ia harus zoom meeting.


"Apaan sih nih alarm, bikin kaget aja, kukira pesan dari Arinska"


Enrico mulai menyetel zoom meeting di laptopnya, ia mulai sibuk bekerja dengan patner patner kerjanya beserta kliennya di zoom meeting online tersebut.


Setelah lama fokus karena terlarut dalam pekerjaan nya, secara tiba-tiba pesan masuk dari hp Enrico.


Enrico sesekali melihat layar hpnya, ia bahkan tidak fokus dengan pekerjaannya, tetapi ia harus dituntut profesional, apalagi dalam menjelaskan hasil kinerja yang telah di data.


"Begitu saja dan kita bisa beralih ke Queretta Marsel... "


Enrico kemudian melihat layar hpnya, itu adalah pesan dari Arinska dan menunjukkan sebuah foto.


Dengan perasaan yang bercampur aduk, ditambah lagi rasa deg deg-an, Enrico mengatur nafasnya dengan perlahan agar tetap dilihat profesional di depan para patner kerja dan klien walaupun ia mengalihkan pekerjaannya.


Dan yang paling membuatnya terkejut bahwa Arinska telah memakai cincin yang ia pakai, yang artinya Arinska telah menerima lamarannya dan bersedia untuk menjadi pasangannya.


Di sisi layar lain, Marsel yang sedang menjelaskan data yang ia kerjakan, Marsel juga melihat Enrico yang senyum senyum sendiri bahkan terlihat tidak fokus dengan pekerjaannya.


Ingin menegur, tetapi terlihat tidak sopan, karena Marsel masih ingat jabatannya hanyalah karyawan yang kebetulan malam itu ditunjuk menjadi asisten oleh Enrico, apalagi dengan keadaan tengah zoom meeting.


"Tuan Enrico, ada hal yang membuat tuan tidak fokus? Bisa dialihkan untuk sementara, tuan? " tanya klien lain.


Marsel merasa lega akhirnya ada seseorang yang bisa menegur sahabat nya yang terlihat tidak fokus.


'Maaf, boleh untuk Queretta Marsel lanjutkan lagi untuk menjelaskan data yang sudah dibuat oleh Queretta Marsel sendiri' ucap klien lain dari zoom meeting tersebut, Marsel menganggukan kepalanya dan melanjutkan lagi.


Setelah selesai dengan zoom meeting, Marsel mulai menelpon Enrico, untuk menanyakan alasan kenapa Enrico senyum senyum tidak jelas sendiri.


'Halo Sel, ada apa nelpon gua? ' tanya Enrico dari telpon.


"Lu yang harusnya gua tanya, lu kenapa senyum senyum sendiri tadi Ric? Lu gak lihat tadi lu sampai ditegur klien? Gak profesional banget lu" jawab Marsel.


'Ya maaf Sel, harusnya lu yang kasih kode kode sama gua tadi' ucap Enrico dengan nada ngeles.


"Gimana mau kasih kode kode buat lu Ric, lu aja gak fokus ke zoom tadi, gimana mau kasih kode kode? Yang ada malah gua yang ikut ditegur sama klien lain" ucap Marsel.


'Ya namanya sahabat tuh harus berkorban lah, gua kena tegur, lu juga bisa dong ikutan kena tegur' ucap Enrico.


"Enak aja, yang ada gaji gua dikasih setengah, beda sama lu yang terserah mau ngapain gaji masih tetap" ucap Marsel.


'Udahlah, nanti lu lihat sendiri, kenapa gua bisa senyum senyum kayak gitu, lu lihat aja lah.... '


Pip!


Panggilan langsung diakhiri oleh Enrico, Marsel kemudian menaruh hpnya dan keluar dari ruang kerjanya.


Sudah lama tidak terlihat Arinska sering menelpon maupun terlihat aktif di sosial media, Misella merasa rindu, karena biasanya Arinska menelponnya dengan suara teriak maupun tiba-tiba datang ke rumah dengan heboh.

__ADS_1


"Lagi liatin apa, Sela? " tanya Azizah.


"Hehehe, gak ada kak izah, cuma kangen aja sama kabarnya kak iska, soalnya udah lama dia gak kasih kabar sama Sela, jadinya kangen sama dia" jawab Misella.


"Ya, mungkin Arinska ada proyek lain, mungkin Arinska sudah menemukan pekerjaannya, Sela" ucap Azizah.


"Ya mungkin saja, semoga kak Arinska selalu sehat sehat aja" ucap Misella.


Marsel kemudian datang dengan nugget nya, begitupun dengan Raka.


"Kakak juga bikin nugget? Bagi dong... " ucap Misella.


"Pffftt enak aja, males" ejek Marsel.


Misella langsung memegang kaki Marsel, Marsel berusaha ingin melepaskan Misella dari kakinya, karena bisa bahaya jika Misella menarik celananya.


"Udah beb, ini aku bikinin buat kamu loh, dimakan ya baby... " ucap Raka.


Misella langsung melepaskan kaki Marsel, Marsel menendang Misella dan langsung duduk, sedangkan Misella langsung memakan nugget buatan Raka.


"Makasih ayangku, rasanya enak banget... " puji Misella.


"Yaelah, itu mah emang nugget nya yang enak, baby, bukan aku yang bikin.... " ucap Raka sambil mengacak-acak rambut Misella.


"Enrico kok beberapa minggu ini keliatan aneh ya Sela? " tanya Marsel.


"Aneh gimana kak? " tanya balik Misella sambil menikmati nugget nya.


"Gimana ya, dia kadang-kadang senyum senyum gak jelas, ditanya malah ngelak, ntar bentar lagi kambuh lagi, jadi mulai takut aja tiba tiba dia gila karena udah lama ditolak Arinska dan jadi gila tiba-tiba" ucap Marsel.


"Gak usah overthinking deh kak, mungkin ada hal yang bikin kak Enrico tuh seneng, harus didukung lah, katanya sahabat kakak sama kak Enrico" ucap Misella.


Di depan rumah, terdengar suara sepatu heels, yang berada di dalam rumah mendengar suara sepatu heels itu berbunyi.


"Permisi, assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam, Arinska? " ucap mereka semua yang ada di rumah.


"Kak Arinska......! "


Misella berlari ke arah pintu, ia memeluk Arinska.


"Kak, kok beberapa minggu ini kakak gak kasih kabar sih sama Sela? Sela tuh kangen banget sama kakak... " ucap Misella.


"Maaf ya gak kasih kabar, baru sekarang baru munculnya, ini juga aku mau kasih undangan sama kalian"


Arinska menyodorkan undangan kepada Misella, bukan undangan biasa, melainkan undangan pernikahan.


"Arinska dan.... Hah?! Jadi kakak..... "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£šŸ‘£šŸ‘£


__ADS_2