Pilihan Marsel

Pilihan Marsel
31: Keputusan bulat


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula šŸ”°


.


Sudah 6 hari berlalu, akhirnya Thomas pulang dari dinas luar kota nya.


Dengan gembira Thomas membawa oleh oleh berupa pakaian dan makanan untuk orang rumah, ia tidak sabar memberikannya untuk istri dan anak anaknya.


"Keliatan senang banget ya pak, ada apa sih? " tanya supir tersebut.


"Ah, lihat oleh oleh yang saya bawa ini, rasanya gembira sekali, soalnya bisa diberikan untuk orang-orang di rumah. Sudah rindu banget sama mereka, walaupun baru seminggu lebih dinas ke luar kota" jawab Thomas.


"Ya begitulah pak, enak banget jadi si Tom ini, anak anaknya masih serumah, sedangkan anak anak saya udah sibuk sama urusan mereka masing-masing. Paling ini oleh olehnya buat saya dan istri saya nanti di rumah, jadi kangen sama anak anak... " ucap Putra.


"Hahaha, yang sabar ya, pak Putra. Namanya anak udah dewasa, jadi mereka udah punya kegiatan dan pekerjaan mereka masing-masing, udah sibuk sendiri lah. Anak saya juga kayak gitu, kadang saya sama istri saya kangen banget sama keempat anak anak kami. Tapi mau gimana, namanya anak anak udah dewasa, mereka udah tau gimana ngurusin hidup mereka sendiri. Kita sebagai orang tua ya cuma bisa kasih do'a sama mereka... " ucap supir tersebut.


Sesampainya di rumah, Thomas kemudian mengangkat barang barangnya, ia kemudian memberikan uang pada supir tersebut.


"Assalamu'alaikum, Salma.... " panggil Thomas.


Pintu rumah terbuka, Salma memakai sandalnya dan berlari ke arah gerbang kemudian membuka gerbang rumahnya.


"Mas, sudah pulang? " ucap Salma sambil bersalaman dengan Thomas.


"Belum, mau otw" ucap Thomas dengan nada mengejek.


Tak seperti biasanya, Salma hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum, ia kemudian mengambil barang barang milik Thomas.


"Kamu kenapa, sayang? " tanya Thomas.


"Gak papa Mas, nanti aku ceritain... " jawab Salma, Thomas kemudian merangkuk bahu Salma dan mereka masuk ke dalam rumah.


"Ada apa sih, sayang? Anak anak pada kemana? " tanya Thomas.


Salma kemudian duduk, ia kemudian menutup wajahnya dan menangis.


"Loh, kamu kenapa nangis, sayang? " tanya Thomas dengan nada suara khawatir.


"Maaf mas... Maaf, aku semingguan ini gak kasih kabar sama kamu secara jujur soal anak anak... " isak tangis Salma.


Thomas kemudian duduk disebelah Salma, ia memeluk Salma dan menyenderkan tubuh Salma ke tubuhnya.


"Ada apa sama anak anak? Mereka berkelahi karena saling usil? " tanya Thomas.


"Mereka berkelahi, tetapi mereka benar-benar berkelahi mas... Udah seminggu lebih ini mereka gak sama sekali saling tegur menegur... Aku gak tau mau bagaimana lagi, mas... Aku gak suka lihat anak anakku saling benci kayak gitu, bikin hatiku sakit melihat kedua buah hatiku sendiri saling benci membenci, mas... " jelas Salma dengan tangisannya yang benar-benar mendalam.


"Apa pemicu mereka berkelahi? Jelaskan sama mas... " ucap Thomas.


Dengan perlahan Salma menjelaskan satu persatu kejadiannya, Thomas kemudian merasa geram.


"Mana Marsel? Kemana dia?! " tanya Thomas dengan nada meninggi.


"Dia sedang bekerja mas, Misella juga lagi kuliah... Mas jangan main tangan sama Marsel ya mas, aku mohon... " ucap Salma.


Thomas tidak menjawab permohonan Salma, ia hanya diam dan mengusap wajahnya.


Di kantor, mood Marsel tampaknya kurang baik, ia berusaha fokus bekerja tetapi masih juga gagal.


"Agh, susah banget mau fokus... " keluh Marsel.

__ADS_1


Marsel berusaha fokus, ia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya sampai tuntas, memberikan laporannya kepada seniornya, kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Kerja bagus Marsel, terimakasih sebelumnya" ucap seniornya Marsel.


"Iya sama sama, saya permisi"


Marsel merasa pekerjaan nya sudah selesai, ia memutuskan untuk pulang kerumah, ditambah lagi waktu bekerja sudah habis dan waktu nya para karyawan pulang bekerja.


.


.


Sesampainya di rumah, Marsel langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah, ia kemudian mengambil barang barang nya dan masuk ke dalam rumah.


Plak!


Belum sempat mengucapkan salam, tiba-tiba Marsel ditampar.


Marsel memegang pipi nya, ia kemudian melihat Thomas yang menampar nya.


"Kerja bagus kamu Marsel, dengan beraninya kamu tampar adik kamu dan kamu bilang adikmu itu wanita murahan?! Kamu ternyata tidak sepenuhnya bisa menjaga adikmu ya? " ucap Thomas.


"Gak usah ikut campur pah, ini masalah Marsel sama Misella" ucap Marsel.


"Heh, kamu kira urusan Misella itu bukan urusan papa hah?! " tanya Thomas.


"Terus, apa mau papa? Aku bersujud sujud di kaki dia? Aku perlu minta maaf terus sama dia? Bilang saja! " teriak Marsel.


Plak!


Layangan tangan dari Salma, kali ini ia terpaksa harus menampar anaknya.


"Mama... "


Marsel merasa tertekan, ia merasa muak.


"Baik, semuanya salah Marsel! Seolah olah Misella lah korban sesungguhnya! Seharusnya kalian tanya langsung sama aku, bukannya mendengar ucapan Misella yang bilang aku ini bukan laki laki yang mau bertanggung jawab, gak peka, egois dan bikin kesal menurut omongan dia! Seharusnya kalian tidak mendengar keinginan Misella yang harus memaksa Marsel yang harus mencari pasangan dan nikah duluan, agar dia dan Raka tidak menunggu lama untuk menikah! Harusnya kalian yang tanya langsung sama aku, gak seharusnya kalian yang selalu dengarin Misella terus! Marsel tau Marsel kemarin ada salah sama Wulan, Azizah dan Arinska, tapi kalian hanya bisa nyalahin Marsel terus! Selama ini Marsel mencari jalan keluar untuk minta maaf, karena Marsel sudah menerka-nerka bahwa permintaan maaf Marsel gak sepenuhnya diterima, seperti Marsel minta maaf sama Wulan minggu kemarin! Marsel merasa bahwa Marsel bukan anak kalian, karena kalian tidak pernah adil terhadap Marsel sendiri... "


Marsel kemudian pergi, Salma dan Thomas hanya terdiam mendengar ucapan Marsel.


.


.


Tak ada tujuan, Marsel hanya bisa mengelilingi kotanya, ia kemudian merasa bosan.


Entah pikiran dari mana, Marsel berencana untuk datang ke diskotik, ia kemudian memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam diskotik.


Penuh ramai orang, membuat suasana menjadi riuh dan berisik, ditambah lagi dentuman lagu yang keras.


"One shoot... "


Marsel sekarang nekat, ia yang seharusnya tidak minum minuman keras, tetapi sekarang ia dengan nekat meminumnya.


"Marsel? "


Marsel yang sedang duduk melihat ke arah yang memanggilnya, ia kemudian bertemu dengan Enrico.


"Rico? Kok lo kesini? " tanya Marsel.

__ADS_1


"Ya, biasa aja kali, namanya rutinitas sesudah kerja, apalagi sesudah nikah, jadinya bebas dikit lah" jawab Enrico.


Melihat wajah Marsel yang ada masalah, membuat Enrico menjadi penasaran.


"Sel, gak sepantasnya sih lo ada disini, lo kenapa? Ada masalah? " tanya Enrico.


Marsel yang ingin meneguk minumnya seketika berhenti, ia kemudian menatap Enrico.


"Seperti itulah ric, sekarang aku ada masalah sama satu isi rumahku, heh sepertinya sebentar lagi namaku bakalan dicoret sama mama papaku dari daftar kartu keluarga... " ucap Marsel.


"Lagi mabuk kayaknya lo Sel, yaudah sekarang coba jelasin dan ceritain sama gua apa yang sebenarnya terjadi sama lo, soalnya gua gak bisa lihat lo kayak gini Sel, apalagi lo masih muda dan masih bujangan gini... " ucap Enrico.


Marsel kemudian menjelaskan satu persatu, ditemani dengan minuman, mereka mulai saling bercerita.


"Jadi, semua ini bermula dari permintaan maaf lo yang ditolak sama Wulan? Sedih amat... " ucap Enrico.


"Entahlah, mana juga disuruh lamar lamar dia, gak tau apa gua tuh agak gimana kalau tatap kontak mata langsung sama cewe itu gimana? Agak ragu rasanya gua, Ric... Tapi, yaaa gitulah, gak bisa gua jelasinnya" ucap Marsel.


"Udah lah Sel, lu gak usah gengsi gengsian, bilang aja lu udah terlanjur suka sama Wulan kan, karena pasang pasang dasi yang diceritain sama Misella dulu sebelum gua sama Arinska nikah, kan itu lo sama Wulan pastinya tatap kontak mata langsung sama dia... "ucap Enrico.


"Kayaknya Ric, gue bodoh banget ya kemarin... " ucap Marsel dengan meneguk minuman keras.


"Jelas banget lu bodoh, ditambah lagi lu dungu! Ngapain juga lu ungkit ungkit orangtuanya Wulan karena sikap Wulan yang gak berkenan sama elu?! Gak sadar lu udah nyakitin hati seorang anak yatim piatu dengan ngungkit orangtuanya yang udah gak ada lagi?! " bentak Enrico.


"Kok lu yang jadi marah sama gua? Gua kan gak sengaja" ucap Marsel.


"Gak sengaja biji matamu! Lu nya aja yang emang dungu plus bodoh! " ucap Enrico.


"Terus, gua harus ngapain, Ric? " tanya Marsel.


"Gak ada jalan lain, kecuali lo harus minta maaf sama semuanya, Sel, dengan hati yang ikhlas, jangan dalam keadaan tertekan, gak selamanya juga lo mau disebut orang yang egois dan gak peka'an kan? " tanya Enrico.


"Iya kayaknya Ric, oke udah gua putus kan, gua mau minta maaf sama mereka semua, titik! Dan juga, gua mau lamar balik si Wulan, karena cuma dia yang tersisa dan udah kontak langsung sama dia! Aku bakal lamar! Lamar, lamar, lamar.... "


"Bagus, itu baru jagoan!" Puji Enrico.


Tampaknya mereka sudah mulai ngelantur, asisten Enrico segera membawa Marsel dan Enrico untuk berhenti meminum minuman nya lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£šŸ‘£šŸ‘£


__ADS_2