
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula š°
.
Pov author
Tinggal menghitung hari selesai nya bulan Ramadhan untuk sebentar lagi menyambut hari raya idul fitri, Salma telah bersiap siap menyiapkan kue kue kering untuk jamuan tamu saat berkunjung ke rumahnya
Misella yang kebetulan tak berpuasa siap mencicipi rasa dari adonan yang telah dibuat Salma
"Udah pas belum, Sela? "
"Hmmm, ya tinggal garamnya lagi mah, biar ada rasa rasa gurihnya, paling seujung sendok aja nih yang perlunya... "
"Oke, mama taruh lagi ya"
Salma melanjutkan mengadon adonan kue nya, ia meminta Misella untuk membuat hiasan pada kue nya nanti
"Assalamu'alaikum, lagi buat kue ya? Baunya sampai keluar rumah loh... " ucap Marsel
"Eh, gak boleh bau nya itu dihirup banget gitu, makruh puasamu nanti" ingat Salma pada Marsel
"Maaf deh mah, ini pesanan mama tadi, minimarket rame banget semenjak mau mendekati lebaran besok mah" ucap Marsel
"Iya, orang kan mau mudik, mau beli parsel juga untuk lebaran ke rumah sanak saudaranya. Kita kan yang kebetulan keluarga pada dekat semua bersyukur masih sempat bikin kue sendiri untuk nyambut lebaran besok, kamu lanjut temenin papamu ngaduk rendang di belakang sana, biar Misella sama mama yang lanjut bikin kue kering nya... "
"Oke mah, adek, nyicip nya jangan kebanyakan ya, nanti habis loh... " ejek Marsel
"Ihh! Gak dong! Emang aku serakus itu?! " kesal Misella
"Gak peduli, lanjut sana bantuin mama, nanti malam juga kita bakal beres beres sebelum besok berangkat ke tempat sanak saudara kita" ucap Marsel, ia meninggalkan Salma dan Misella, sedangkan ia membantu Thomas yang sedang mengaduk rendang di belakang rumah
Malam harinya, suara takbiran mulai terdengar, begitupun sahutan dari letupan kembang api yang meriah
Para anak anak kecil dengan antusias bermain kembang api, rumah dari tempat keluarga Thomas dijadikan bahan keisengan anak kecil untuk menarik perhatian Marsel
"Bang Marsel, main petasan yuk sambil cari belut disawah...! " teriak bocah bocah dari luar rumah, Misella keluar dan menyambut anak anak kecil tersebut
"Wah kalian mampir, maaf nih, si abang Marsel nya gak bisa main, nih dia kasih permen permen buat kalian... " ucap Misella
"Yaahhh, okelah kak Sela, bilang makasih ya sama bang Marsel, sama ini juga petasan buat bang Marsel mainin... "
Misella masuk ke dalam rumah, ia membawa seplastik kecil berisi petasan tersebut
"Apaan itu Sela? " tanya Thomas yang berpapasan dengan Misella
"Petasan pah, biasa fansnya kak Marsel setiap takbiran, bocah bocah sekitar sini lah yang sering ajak kak Marsel main petasan sambil cari belut di sawah depan... " jelas Misella
"Oh... Ya mau bagaimana lagi, kakakmu itu kerjaannya sekarang kalau gak kerja ya tidur tiduran aja di kamarnya, udah jadi kebiasaan dia keseringan betah di kamar, kayak gak ada kehidupan di luar kamar, kita mainin aja petasan nya diluar rumah" ajak Thomas
"Boleh juga pah, sekalian bisa jahilin mama sama kakak yang suka stay terus di kamar.... "
Misella dan Thomas keluar rumah, mereka membawa sebatang lilin kemudian dialaskan di piringan bekas sebagai tempat lilinnya
"Petasan korek, lempar aja ke arah anak anak yang lagi main di sawah depan, biar dikira Marsel yang main gak ajak ajak mereka" ucap Thomas
"Oke pah"
Misella mengambil satu, ia melempar dengan jarak yang sudah ditentukan dan suara petasan tersebut berhasil mengalihkan perhatian anak anak yang sedang bermain di sawah ke arah rumah keluarga Thomas
'Wah bang Marsel beneran main....! ' teriak dari kejauhan, Thomas dan Misella tertawa melihat anak anak kecil yang percaya bahwa Marsel yang sedang bermain petasan
"Sekali lagi Sela, biar mereka tambah yakin" jahil Thomas, Misella menghidupkan sekali lagi dan suara petasan tersebut menjadi pancingan anak anak tersebut datang kerumah mereka
"Om Thomas! Bang Marsel main petasan ya?! " teriak salah satu anak kecil tersebut
"Kabur ke dalam dia, panggil aja sama sama... " ucap Thomas dengan wajah yang menahan tertawa
"Bang Marsel! Bang Marsel! "
Di dalam kamar, Marsel yang sedang mencoba tidur terbangun ketika mendengar suara berisik memanggilnya, ia melempar bantal dan beranjak dari tempat tidur untuk menuju ke depan rumah
"Marsel, kenapa ribut ribut di depan? " tanya Salma yang berpapasan dengan Marsel
"Gak tau mah, Marsel susul dulu lah"
Marsel berjalan ke depan, anak anak kecil yang memanggilnya seketika senang dan mengajaknya bermain petasan
"Bang Marsel datang! Main petasan yok! " ajak salah satu anak kecil
__ADS_1
Marsel menatap ke arah Thomas dan Misella, ia sudah tau ini pasti ulah papa dan adiknya yang sengaja membuatnya keluar kamar ketika ia berusaha ingin beristirahat
"Gak usah jadi kerbau terus kamu Marsel, tuh ladenin fans kamu tuh yang nungguin kamu daritadi.... " ucap Thomas
Marsel berdecak, ia berubah menjadi ramah dan mengajak bermain anak anak kecil yang disebut fansnya itu
"Sekali doang ya mainnya, besok mau sholat idulfitri, nanti kita semua telat" ucap Marsel
"Siap bang" sorak anak anak kecil tersebut, mereka akhirnya bermain bersama dan juga mencari belut di sawah depan rumah
.
.
Keesokannya, semua telah bersiap siap ke masjid kecuali Misella, sebelumnya mereka saling sungkeman dan bermaaf-maafan
"Maafin Misella ya kak, dari mungkin keisengan atau apapun yang buat kakak kesel, Misella minta maaf ya kak... " ucap Misella
"Iya, kakak juga kayak gitu, yang malem tadi jangan diulangi lagi, kakak mau istirahat kamu malah panggil anak anak buat main, itu kan gak lucu sama sekali" jawab Marsel, Misella hanya tertawa
"Yasudah, kini kita bertiga mau pergi ke masjid, nanti kalau ada tamu yang datang kamu sambut ya Sela, bilangin tunggu kalau ada yang nyari mama sama papa" ucap Salma
"Baik mah hati hati... "
Marsel, Salma dan Thomas pergi ke masjid, sementara Misella menunggu rumah dan menunggu mereka bertiga selesai sholat idul fitri
.
Pov Marsel
Di jalan, ramai sekali sesudah shalat idulfitri saling bersalam salaman, aku bertemu dengan teman teman dan tetangga sekitar kemudian bersalam salaman dengan mereka
"Nanti mampir ke rumah ya" ajak mama pada tetangga kami
"Kita ke rumah nenek kapan, mah? " tanyaku
"Nanti sore aja, kalau sampai siang nanti biasanya tetangga atau teman teman dari mama atau papa pasti mau berkunjung ke rumah, kita langsung aja kerumah dulu" jawab mama
Akhirnya kami sampai ke rumah, diluar rumah kami sudah ada 3 mobil yang terparkir, siapa lagi kalau bukan Enrico, Arinska dan keluarga dari Azizah
"Assalamu'alaikum"
Aku bersalaman dengan orang tua Azizah, kemudian dilanjutkan oleh orang tua Arinska dan mamanya Enrico
"Ibu, sudah dijamu sama adik saya? " tanyaku pada ibu Sonia, mamanya Enrico
"Sudah, waduh sudah lama tidak lihat kamu, soalnya ibu sibuk di luar negeri selama ini, gak sempat datang ke sini"
"Iya bu, lanjutin aja minumnya... " tawarku
Grep!
Dari belakang badanku seperti ada yang memeluk, siapa lagi kalau bukan Arinska yang memelukku sekuat mungkin
"Hahahaha, Arinska, jangan kayak gitu nak... " ucap Om Brian, Arinska membantah om Brian dan tetap memelukku sekuat tenaga
"Sesuai janjinya Azizah kemarin, aku full puasa, aku boleh terus terusan sama kak Marsel....! "
Semua menertawakan ku dan Arinska, aku berusaha melepas pelukan Arinska yang kuat itu dari tubuhku, sementara Misella duduk di depan pintu seperti menunggu sesuatu
"Iska, lepasin dulu kakak, kakak mau sama Sela dulu... " ucapku
"Oke, nanti aku peluk lagi ya... "
Arinska melepaskan pelukannya, aku berjalan mendekati Misella
"Sela, nungguin siapa? " tanyaku
Tin!
Suara klakson mobil, itu seperti mobilnya teman papa, om Putra dan tante Rani
"Nungguin dia... "
Misella masuk ke dalam, terlihat sekali raut wajahnya seperti tidak bersemangat atau kesal, sepertinya dia kesal dengan Raka
"Assalamu'alaikum, ada papa kamu, Marsel? "
"Oh iya, silahkan masuk, om, tante, sama Raka" tawarku
__ADS_1
Raka bersalaman denganku, ku tarik tangannya sebelum masuk ke rumah
"Susul Misella ke belakang, Raka, dia nungguin kamu daritadi... " bisikku
"Iya kak, Raka mau susulin si Sela"
Aku mengajak Raka ke belakang rumah, kami menemui Misella sedang duduk dibelakang dekat ayunan
"Kenapa pulang? "
Sudah kuduga, sepertinya adikku kesal dengan Raka
Aku akan diam saja, jika kondisi nya sudah runyam baru aku ikut bertindak
"Maaf Sela, baru kasih kabar sekarang... "
"Kamu gak sama sekali kasih kabar sama aku, dan juga kamu gak ngasih tau sama aku, kalau kamu mau ikut tes TNI bulan kemarin, Raka! " bentak Misella ke Raka
"Bu... Bukan kayak gitu, Sela... "
"Terus apa?! Kamu egois banget gak kasih kabar sama aku, dan kamu baru pulang tes saat lebaran kayak gini hah?! Kamu kira ini semua lucu, harus nunggu kamu yang tes tanpa ngasih tau aku, Raka?! "
Misella pasti saja begini, aku agaknya harus mulai berbicara
"Udah ka, gak usah didengerin si Sela, tingkahnya bikin sakit kepala aja, kamu fokus sama cita cita kamu, gak usah dengerin omelan dia yang gak berfaedah itu... " ucapku
"Kakak! Kakak gak usah jadi provokator deh, ini urusan ku sama Raka, kak! "
"Justru saat ini sangat penting sekali kakak harus menjadi provokator, kamu gak seneng liat Raka bisa kejar cita citanya? Atau kamu lebih senang kalau Raka pengangguran nantinya? "
"Gak gitu! Aku juga akan bekerja nantinya! "
"Terus? Kamu bilang kamu juga bakal kerja, tapi kenapa saat Raka mau tes TNI kamu gak nyuruh? Ada yang kamu sembunyiin dari kakak? " tanyaku dengan curiga
"Aku gak mau harus LDR sama Raka, kakak tau kan gimana nantinya aku dan Raka bakal terpisah beberapa bulan karena Raka ada tugas di luar daerah? " ucapnya
"Cuma karena itu aja? Misella, resiko mempunyai pasangan yang hendak jadi pengabdi negara seperti itu, setidaknya berilah Raka dukungan, agar dia bersemangat. Gak selamanya dia harus nurutin kehendak kamu terus, Raka juga punya cita cita, dan kamu sebagai pasangannya haruslah mendukungnya, bukan malah menginterogasi nya" ucapku
Misella hanya diam, tampaknya ia tak tau ingin berbicara apa lagi
"Sudah, sekarang kalian masuk lah kedalam, orangtua kalian sudah menunggu. Raka, kamu fokuslah pada cita citamu. Misella, kamu harus bersikap dewasa, tidak semua yang kamu inginkan bisa dipenuhi dengan mudah" ucapku lagi
"Udahlah! Males aku! "
Misella meninggalkan kami berdua, kulihat Raka hanya memandangnya tak bergeming
"Udah Raka, masuk aja, biarin aja dia merajuk, kamu fokus aja sama cita citamu, nanti juga dia ngerti"
"Iya kak, makasih... "
Kami akhirnya masuk dan ikut berkumpul dengan semuanya
Seharusnya momen seperti ini dirayakan dengan bagus, bukannya dengan perasaan egois
Tapi sudahlah, nanti juga dia akan mengerti
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£š£