Pilihan Terbaik

Pilihan Terbaik
13. PT - Pernikahan Mendadak


__ADS_3

Sore itu Dira memasuki area hotel, dengan wajah yang tersenyum bagaimana mungkin tak senang ia kabur ketempat yang sangat membuatnya ingin berlama-lama kabur, tenang, damai, itulah yang ia rasakan di sana. Di sudut lain  saat itu Angga sedang tertidur di kamarnya setelah memberikan kabar kepada keluarganya dan keluarga Dira agar mereka tak cemas lagi.


Malam itu di bawah langit yang indah Dira duduk di kursi pinggir pantai, dengan membaca Novel di tangannya dan menyeruput kopi. Namun tak lama kemudian datanglah Angga dengan secangkir kopi di tangannya, saat itu Dira berada di sisi kiri kursi yang cukup panjang dan Angga menduduki sisi kanan kursi itu jua, Angga memang sudah tau bahwa Dira ada di sana, dan saat sedang duduk menikmati kopi masing-masing dengan sudut pandangan yang berbeda antara kiri dan kanan.


"Nona, mau tanya di sini di mana tempat orang menjual cindramata?" ucap Angga membuka percakapan.


Dira menoleh ke kanan dan menatap lelaki itu "kau!" ucapnya terkejut.


"Dira" ucap Angga yang seolah tak tahu (tapi bo'ong).


"Kenapa kau di sini?" tanyanya sambil berdiri hendak pergi,Tapi lebih dulu tangannya di tarik Angga, "Dira dengarkan aku, aku di sini ada urusan pekerjaan dan akupun tak tahu bahwa kau juga di sini" ucapnya berbohong.


"Angga dengarkan, tinggalkan aku dan batalkan itu semua."


"Mana bisa aku membatalkannya, kalau akupun menginginkannya" ucap Angga tanpa melepas tangannya dari pergelangan tangan Dira.


Dira sedikit bingung dengan perkataan Angga, sepertinya dia ingat sesuatu dan kata-kata itu "kau! aku bilang pergi" ucapnya marah.


"Dira baiklah aku akan pergi, asal kau kembali ke Jakarta" jawab Angga, Dira menghempaskan tangan Angga dari pergelangannya dan pergi berlari menuju hotel, saat itu perasaan takut dan kecewa atas penolakan dan permintaan Dira membuat Angga sedikit ingin berhenti dalam pengejarannya kali ini. tapi sesuatu menguatkannya saat ia melihat sosok Eggi, mantan kekasih Dira kini sedang ada di hotel yang sama dengan mereka. Ya Angga mengetahui sosok Eggi dari anak buahnya yang mencari informasi tentang kehidupan Dira.


"Sial!" gumamnya dalam hati .


Saat Dira berlari menuju hotel dan dengan sigap Eggi menariknya kedekapannya, Dira sungguh terkejut saat mengetahui lelaki yang kini mendekapnya ialah Eggi, lelaki yang sempat ada di hatinya namun dengan cepat ia buang jauh rasa manis itu dan seketika tubuh Dira merasakan hal yang aneh seperti perasaan marah dan tak nyaman ketika bersentuhan dengan Eggi.


Dari kejauhan engan cepat Angga berlari menghampiri mereka, dan saat mereka sedang bertatapan tangan Angga langsung menarik paksa Dira kedalam dekapannya. Dira menangis tanpa sepatah kata dalam dekapan Angga, Eggi hanya terdiam mematung dengan perlakuan Angga.


"Aku peringatkan kepadamu, jauhi Dira" Ucap Angga.


"Ta tapi, kau tahu siapa aku bukan" ucap Eggi menyombongkan diri.


"Tahu, kau lelaki tak tahu diri yang sudah membuat tunanganku patah hati beberapa tahun lalu dan aku juga berterimakasih padamu, berkatmu yang berkhianat aku dan Dira akan segerah menikah."


"Tak mungkin, aku kembali untuk mengulangnya bersama dia."


"Jangan berani berbicara seperti itu, atau kau akan ku habisi."


"Ha ha aku tak takut tuan."


"Beraninya kau, brughhh" tendangan Angga mendarat tepat di perut Eggi, dan selang beberapa lama, datanglah anak buah Angga yang akan membereskan Eggi membawanya ke suatu tempat kosong dan menguncinya.


Angga membawa Dira ke kamarnya namun dekapan itu sama sekali tak ia lepaskan mengingat kondisi Dira yang berubah total saat bertemu Eggi membuat Angga sedikit khawatir walau jujur saja ada sudut kesenangan di saat itu.


“Sayang, tenanglah aku ada di sini” saat itu Angga sudah mencuri kesempatan untuk berada di dekat Dira dengan jauh bersikap manis dan berprilaku layaknya seorang suami.


“Aku takut, lelaki itu" ucap Dira disela isak tangisnya.


“Tak ada yang perlu ditakuti, sudah tenanglah” ucap Angga seraya mengusap kepala Dira.


“Jangan tinggalkan aku."


“Baiklah, sekarang minum dulu biar kamu tenang."


Setelah menangis dan lalah Dira pun tertidur di dekapan Angga "sebegitu sakitkah dirimu?" gumamnya dalam hati yang saat itu Angga sepeti merasakan kesatikan masa lalu yang Dira alami.


 

__ADS_1


 


 


***


 


 


 


“Ri, apa sebaiknya kita besok kita menyusul mereka saja ke Belitung, aku takut terjadi apa-apa” ucap Ayah Ali.


“Aku juga demikian Li, sampai saat ini Angga belum memberi kabar” jawab Papa Ryan.


“Sekalian aja kita lakukan acara akad nikah mereka di sana Yah” timpal Bu Lia.


“Ide bagus, baiklah Mama dan Lia akan mengurus semuanya Pa” Ucap Mama Lela.


“Kalau begitu kakak dan mas Ery akan membantu mempersiapkan semuanya” ucap kak Eka girang.


Malam itu semua persiapan bak kilat, Mama menghubungi temannya dan di Belitung untuk mempersiapkan acara akad nikah itu semua tanpa meminta pertimbangan calon mempelai. Berkat orang-orang yang terpercaya tempat akad nikah dan pesta pantai pun sudah 90% tinggal menunggu mempelai dan keluarganya saja.


Mereka sekeluarga bersama Sam, Wina, Evan juga datang untuk menghadiri akad nikah Dira dan Angga, dan dua hari sejak bertemu dengan Eggi, belum terlalu banyak berubah dari Dira ia masih merasa takut walau Angga selalu membujuknya untuk melupakan dan menenangkan Diri.


Yang lebih anehnya lagi Angga pun tak di perbolehkannya kemana-mana, terkadang ia hanya mendekap diri di dada bidang Angga hanya seperti itu ia lebih tenang. Entah setan apa yang merasuki Dira, apa mungkin ia belum sadar siapa lelaki yang mendekapnya sekarang, di pikirannya sekarang hanya terlintas bahwa ia berada di tempat yang aman dan tenang.


Namun walau keadaan Dira seperti itu Angga tidak menjadikan itu sebagai kesempatan dan pagi itu Dira membuka mata menuju sofa tempat Angga terlelap, “maaf aku merepotkanmu, sunggu ada rasa takut ketika melihanya kembali, ngga aku akan pulang terima kasih” gumamnya dengan suara yang sangat pelan karna ia takut Angga terbangun.


“Tidak, maafkan aku harus pergi” ucap Dira dengan berusaha melepaskan genggaman tangan Angga.


Tok Tok Tok ceklekk


“Astagfirullahhaladzim Yah coba lihat anakmu dan calon mantuku sudah tidur sekamar, tak bisa di biarkan ini harus cepat kita nikahkan."


“Iya Bu, ayo ayo segerah jangan sampai membuat aib keluarga” ucap Ayah Ali.


"Ta ta pi Om , tante kita tak melakukan apa-apa."


“Kamu ya Dira bikin malu, dan kau Angga berani-beraninya kalian tidur berdua” ucap Papa sedikit e~~~~mosi.


“Pa tapi aku dan Dira sungguh tak melakukan apapun”  ucap Angga jujur.


“Sudah-sudah Mama gak ingin berlama-lama ayo Dira."


Dira hanya bingung “bagaimana ini Ya Allah bantulah Dira” gumamnya dari hati seraya kebingungan dengan prilaku oranga tua mereka. karna orang tua mereka seperti melakukan sandiwara, agar kejadian tadi seolah-olah Angga dan Dira lah yang salah.


Dengan balutan kebaya putih di iringi Wina dan Kak Eka memimpinnya mendekati tempat pernikahan, desiran ombak menambah indahnya pemandangan akad nikah mereka.


“Saya nikahkan dan kawinkan anak saya Dira Melody Pradipta dengan engkau Angga Okta Varasha bin Alian Okta dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sebentuk cincin berlian dibayai tunaiii”


“Saya terima nikah dan kawinnya anak bapak Dira Melody Pradipta dengan maskawin tersebut tunai”


Sah

__ADS_1


Sah


Sah


“Alhamdulillah” ucap keluarga yang menghadiri pernikahan mereka. Keluaga dan rekanan hotel ikut meramaikan acara tersebut, memang acara pernikahan dadakan ini di lakukan dihotel milik Angga jadi akan lebih mudah untuk Ayah dan Ibu Angga mempersiapkannya.


“Dira tersenyumlah” di sela-seli sesi foto Angga berbisik padanya.


“Hem” hanya di balas deheman dari Dira, dan setelah pesta usai, ia dan Angga memasuki kamar yang sudah di persiapkan Mama dan Ibu. Dekorasinya sangat bagus sesuai dengan selera Dira, ia menatapi satu persatu dekorasi kamar itu dengan heran, “mengapa kejadian ini begitu mendadak tapi ini sungguh indah” gumamnya.


“Malam ini kau tidur disofa” ucap Dira dengan tegasnya.


“Ada apa dengan mu? apa kau lupa kita sudah menjadi suami istri?” jawab Angga penuh kekesalan.


“Kalau tak mau tak apa, aku yang akan tidur disofa."


“Dira! aku bingung padam, apa kau amnesia dua hari yang lalu? kau lupa bahwa sedikitpun aku tak boleh pergi jauh dari mu, bahkan untuk ke kamar mandipun kau merengek padaku."


“Em itu, kau bukan bersama diriku tapi ia adalah sisi lain dari ku” ucapnya asal.


“Aggrhhh” emosi sudah merasuki diri Angga.


Sebenarnya Dira hanya berbohong ia tak sanggup jika harus tidur beduaan dengan pria yang mungkin belum ia cintai saat ini dalam keadaan sadar wal afiat. dua hari yang lalu memang ia tidak ingin jauh dari lelaki itu tapi saat itu dirinya memang dalam keadaan takut setakut-takutnya, ia takut dan khawatir Eggi akan datang dan memaksanya kembali dan ia takut teror-teror kemarin kembali mengintainya.


Memang dekapan Angga waktu itu jauh menenangkannya, sikap Angga yang selalu melindungi membuat ia bisa bernafas lega apalagi setelah Angga meyakinkan bahwa Eggi tidak akan berani mendekati Dira lagi.


“Di balkon kamar juga tidak buruk” gumam Dira sambil bersender di kursi memandangi pemangdangan lautan di malam hari.


 


 


 


 


 


 


📚


 


Hai readers Novel ini dalam tahap revisi karna beberapa Bab akan di gabung menjadi satu,


jangan lupa kasih Vote dan tinggalkan jejak,


salam manis author.


 


Indie Q


Ig : Nindi.indi

__ADS_1


__ADS_2