
03.00 WIB di ruang kerja apartemen Dira, semenjak beberapa bulan yang lalu Dira juga sudah mengumpulkan beberapa aset seperti tanah dan apartemen di Jakarta, dan semenjak ia mengelola Xtas D, ia lebih sering tinggal di apartemen karna lebih dekat dari kantornya.
"Huft ini sungguh melelahkan, dini hari pun pekerjaanku belum selesai" gelisahnya dan akhirnya ia lanjutkan 30 menit namun karna rasa kantuk dan lelah tak bisa ia tahan Dirapun tertidur di ruang kerja.
Treettt Treettt
"Hallo nona, salah satu hotel di Belitung mengalami kendala dan besok akan di adakan rapat dengan seluruh kepemilikan saham" ujar Sam di ujung telpon yang sedari tadi gelisah.
"Kau gila Sam, aku baru tidur satu jam yang lalu" jawab Dira marah.
"Aku tak peduli nona, ini sangat urgent aku sudah memesankanmu tiket dan kau akan di antar pak Mun pagi nanti ke bandara" ucap Sam dan telpon pun di akhiri Dira, dengan wajah yang masih mengantuk ia pun terpaksa mengikuti perintah Sam.
***
Pesawat yang ditumpangi Dira mendarat di Bandara HS Hanandjoedin Tanjungpandan Belitung "aku kembali, kota pertama yang membuatku rindu" gumamnya sambil tersenyum.
Siang ini akan di adakan rapat di salah satu hotel yang nilai sahamnya sedikit bermasalah, Dira keluar dari kamarnya dengan setelan kerja berwarna dusty pink, rambut panjang yang di gerai dengan sedikit gelombang di bagikan bawahnya, kacamata berlensakan polaroid menambah kecantikannya siang itu. Dira sangat jarang menggunakan setelan kerja dengan bawahan rok, ia lebih suka menggunakan celana agar lebih tertutup.
Setelah menunggu di dalam ruang rapat bersama beberapa penanam saham lainnya, datanglah CEO Varash Grup yang akan memimpin rapat siang ini, jas hitam menemaninya dengan muka datar tanpa ekspresi serta kacamata yang menunjang penampilannya sebagai pimpinan.
"Selamat siang semuanya, saya Angga Okta Varasha CEO Varash Grup" ucapnya santai, semua mata tertuju pada laki-laki itu apalagi beberapa sekertasi dari perusahaan lain yang mengikuti rapat, mata mereka seperti ingin menerkam. Namun berbeda ekspresi dengan Dira, ia agak sedikit terkejut dan kembali rasa takut beberapa bulan yang lalu seperti trauma baginya.
Lelaki yang ia tabrak dan membentaknya serta mengusirnya kini berada tepat di depannya, "Ya Allah aku hamba-Mu yang memang kadang kurang taat tapi kali ini bantulah aku, buat pria pemarah ini tak ingat siapa aku" gumamnya dalam hati dengan mata memejam.
Rapat berlangsung selama tiga jam dan menemukan titik terang untuk menyelesaikan masalah dan syukurnya lelaki itu tidak curiga sedikitpun terhadap Dira, apakah doa orang ketakutan langsung terkabul?, tanya Dira dalam hati.
Beberapa orang sudah meninggalkan ruangan rapat, sama halnya Dira dia kembali kekamar dengan laptop dan berkas di tangannya, ketika berjalan menuju kamar ia melihat Angga yang berjalan di depannya bersama sekretarisnya, wanita cantik dengan postur tubuh tinggi membuat mereka menjadi serasi.
"Serasi sih kalo dari belakang, tapi kalo dari depan ya cantikan gue lah" ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Ia memasuki kamarnya dan berbaring di kasur, seketika kesepian menghampirinya dan seperti merasa ada yang hilang dan kurang dari hidupnya. Benar saja setelah hubungannya dengan Eggi kandas, sampai saat ini Dira masih menutup hatinya, ia masih belum bisa meyakinkan dirinya untuk jatuh cinta lagi, walau banyak lelaki rekan bisnis, anak-anak pejabat, pengusaha, bahkan daddy-daddy yang mengejar berusaha mendapatkan cintanya, namun ia hanya menanggapi dengan helahan nafas.
"Yang bener aja, cocok jadi bokap gue aja mau minta gue jadi istrinya" ucap Dira sambil membuka beberapa akun medsosnya yang di penuhi lelaki-lelaki yang tergila-gila padanya.
Malam itu dingin menyelimuti tubuh Dira, ia keluar kamar menuju resto dengan pakaian santai berwarna baby blue dan rambut yang di gerai rapi. Setelah mengambil makanan ia menuju meja di sudut ruangan, dan menggunakan headset blutooth di telinganya, ia sungguh tak menyukai suasana di sana penuh suara tawa, obrolan dengan suara yang cukup keras membuatnya agak sedikit pusing.
"Dira! Apa kamu Dira?."
__ADS_1
"Oh kak Levy, hai" ucap Dira ramah.
"Ya Tuhan kamu semakin cantik, hampir saja aku tak mengenalimu" ujar Levy, kakak kelas semasa SMA nya.
"Ah biasa saja."
"Sedang apa di sini?."
"Tadi siang habis rapat" jawabnya singkat
"Oh jadi Dira salah satu pemilik saham di hotel ini?."
"Yups" jawabnya santai sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Setelah selesai makan ia meninggalkan meja di susul oleh Levy yang makin senang membuntuti Dira, ia duduk di taman, di temani hiasanan bintang yang terang dan dengan sigap Levy mengambil posisi duduk di sebelah Dira.
"Perasaanku masih sama seperti dulu Dira" ucapnya memecahkan lamunan Dira.
"Akupun begitu kak, masih ingin sendiri dan belum bisa menerima siapapun itu" jawab Dira tersenyum kecut.
"Aku akan menunggu."
"Dan aku tak ingin di tunggu."
"Percaya padaku Dira."
"Tapi, tapi kau bisa bukan membatalkannya."
"Bagaimana bisa aku batalkan kalau akupun menginginkannya" jawab Dira tersenyum.
Dira selalu menghalalkan segala cara agar lolos dari hal yang menjebak, sebenarnya Papa tak pernah berbicara menjodohkannya, walau beberapa kali pernah ayah menyinggung soal pasangan namun sejauh ini belum ada obrolan yang serius, tapi Dira seakan meyakinkan Levy bahwa bagaimanapun kerasnya Levy mengejar Dira jawabannya tetap sama seperti yang dulu.
***
Pagi itu ia mulai kembali bekerja untuk mengecek beberapa sistem di hotel tersebut, ketika sedang sibuk mengecek dengan salah satu manager Front Office ia di kagetkan dengan datangnya Angga CEO Varash Grup, dan ketika Dira sedang fokus dengan berkas dan latopnya, Angga memasuki ruangan yang sama bersama Sekretarisnya.
"Nona Dira, ini sudah saya cek sistem FO dan ada sedikit masalah" ucap Manager Hotel itu, Sambil memberikan laptop untuk Dira melihat sistem yang sudah ia cek.
__ADS_1
"Baiklah kita akan membenarkan bagian ini" jawab Dira santai.
"Nona, anda sangat manis perkenalkan nama saya Eric" ucapnya melenceng dari bahasan kerja.
Belum sempat Dira membuka suara, "ekhem, di sini tempat kerja bukan tempat berpacaran" tiba-tiba Angga berdehem memecahkan keheningan ruangan itu.
"Haha ganjen" tawa sekretaris itu.
"Maaf tuan berbicaralah sesuai dengan pangkat anda, dan kamu (sembari menunjuk) saya tak tahu namamu maaf saya bukan wanita ganjen seperti anda yang kemana-mana membuntuti bos anda" ucapnya dengan tegas.
"Eh lo namanya juga gue sekretarisnya ya begitulah semestinya" jawab wanita itu dengan nada tinggi.
"Seperti itukah seorang sekretaris berbicara, atau anda salah memilih orang tuan" jawab Dira dengan nada mematikan.
"Kamu, bisakah berbicara sopan" ucap Angga dengan nada marah.
"Eric, ini akan segerah saya selesaikan dan setelah ini usai saya akan Chek Out dan mohon bilang ke supir hotel ini untuk menunggu saya di lobby" ujar Dira yang tak ingin menggubris ucapan Angga CEO resek yang sedari tadi ingin mencampuri urusan orang.
"Tidak ada yang boleh Chek Out karna kita akan mengadakan malam ramah tamah malam ini" ujar Angga membuka suara lagi.
"Saya tak peduli" ucap Dira yang berhasil membuat Angga naik darah.
"Kau" ucap Angga marah, di iringi dengan langkahan kaki Dira yang keluar ruangan tersebut.
📚
Hai readers Novel ini dalam tahap revisi karna beberapa Bab akan di gabung menjadi satu,
jangan lupa kasih Vote dan tinggalkan jejak,
salam manis author.
Indie Q
Ig : Nindi.indi
__ADS_1