
Sesampainya di apartemen Angga, Dira masuk ke dalam menikmati setiap dekorasi minimalis di sana, dan yang membuatnya terkejut di sana ada sebuah foto anak kecil laki-laki dan perempuan sekitar umur 1 tahun dan 5 tahun sedang bergandengan tangan dan tersenyum manis. Wanita itu ialah Dira, ia mendekati foto yang berukuran kurang lebih 12R itu terdapat tulisan nama di sana “Melody & Varasha”.
Dia mengusap foto itu dengan tersenyum barulah ia sadar seberapa besar cinta Angga padanya, perjodohan masa kecil itu memang terjadi dan itu menjadi kenyataan sekarang. Papa dan Ayah memang sudah mengatur masa depan mereka sebaik mungkin. Seketika Angga yang merasa Istrinya tak berjalan di belakangnya pun terdiam dan menoleh kebelakang.
“Ada apa sayang?" tanya Angga mendekati Dira.
“Ngga, dari mana kamu dapat foto ini."
“Itu Ayah yang memberikannya sewaktu aku sudah terbiasa tidur di kamar sendiri mungkin sekitar 2 tahun setelah foto itu di cetak, Ayah bilang jaga dia dan foto ini akan menunjukkan bahwa ada suatu rencana besar di dalamnya."
“Rencana?" tanya Dira bingung.
“Ya rencana untuk menyatukan kita, masa depan, harapan orang tua kepada anaknya, mungkin saat itu terdengar seperti paksaan, tapi Ayah dan Papa memang tak salah pilih."
“Kamu! mulai deh mau gombal."
“Lebih dari gombal juga gapapa sama istri sendiri" jawab Angga seraya memeluk Dira.
“Ikh Angga, aku mau mandi."
“Iya ayo” sambil menggendong tubuh Dira, Dira hanya meronta dan tak bisa melawan tubuhnya yang kecil takkan bisa melawan Angga.
“Air hangatnya sudah aku siapkan ayo mandi."
“Yauda aku duluan” ucap Dira sambil beranjak kekamar mandi.
“Barengan aja biar cepet sayang” ujar Angga.
“Ikh Angga” rengek Dira.
“Ayo” sambil menggendong Dira ke kamar mandi.
Sesudahnya mandi mereka melanjutkan hal yang perlu di lanjutkan “aku akan melakukkannya dengan pelan” ucap Angga, Dira hanya tersenyum malu dan terjadilah apa yang harus terjadi (gak usah dibayangin ya readers hi hi hi).
***
Pagi ini mereka menyempatkan diri kerumah Papa Ryan dulu sebelum berangkat ke kantor, disana ada Mama dan Papa yang sedang bersantai menonton TV.
“Assalamualaikum Pa Ma” ucap Dira sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
“Waalaikumsalam sayang, wah ada pengantin baru Mama pikir pergi liburan” jawab mama dengan semangat.
__ADS_1
“Belum Ma, masih banyak kerjaan disini” jawab Dira.
“Yauda segerah selesaikan dan pergi berlibur” ujar Papa.
“Siap” jawab mereka bersamaan.
Papa yang mengetahui kabar bahwa Dira sudah bisa menerima Angga dan begitu juga sebaliknya sangat senang, harapan untuk menyatukan anak mereka akhirnya tecapai, dan di hari tuanya mereka akan tenang karna sudah menitipkan anaknya pada orang yang tepat.
Setelah selesai mengunjungi rumah Papa dan Ayah pagi ini mereka segerah ke kantor masing-masing.
“Sayang nanti siang aku gak bisa makan siang sama-sama, ada pertemuan dengan client” ucap Angga.
“No problem, aku juga akan sedikit sibuk hari ini” jawab Dira dengan senyuman.
“Baiklah jangan terlalu letih, aku akan menjemput mu nanti."
“Oke” sembari mencium pipi Angga dan turun dari mobil.
“Bby kau semakin membuatku gemas” gumam Angga dalam hati.
Sudah seminggu ini mereka sibuk dengan berbagai urusan kerja, mulai dari menghadiri berbagai rapat, pertemuan client, makan malam dengan client, dan beberapa kegiatan serta acara lainnya membuat mereka hanya bertemu pada malam hari.
Ada di mana rasa jenuh sudah menghampiri Dira, jenuh dengan pekerjaan dan kesibukan, mungkin ini saatnya ia menyetujui tawaran Angga untuk menggabungkan perusahaan mereka. Karna beberapa hari lalu Angga sempat mengkhawatirkan kesehatan Dira karna ia terlalu sibuk dengan pekerjannya sehingga membuat kesehatannya menurun.
“Bby, kau terlihat letih dan kusut apa mau istirahat di rumah saja” jawab Angga sambil memakan sarapannya.
“Sayang bagaimana jika kita menggabungkan perusahaan kita, lagi pula perusahaan kita hampir sejalur bukan? , kamu bisa lebih tenang di rumah dan hanya sesekali saja ke perusahaan untuk mengeceknya."
“Tapi, em nanti aku pikirkan lagi oke, sekarang ayo kita pergi 30 menit lagi aku ada rapat” ucapnya terburu-buru.
Ada sedikit kekecewaan pada diri Angga melihat istrinya masih mempertimbangkan itu semua, disisi lain ia tak tega melihat Dira bekerja begitu lelah, karna ia juga berfikir sedikit banyaknya akan berakibat ke rumah tangga mereka.
Di ruangannya Dira masih termenung memikirkan perkataan Angga “penggabungan perusahaan, emm terdengar cukup baik tapi sampai saat ini saja aku dan Angga belum mengumumkan ke publik tentang pernikahan kami, bahkan belum mengadakan resepsi” gumamnya sambil meminum secangkir kopi.
Siang ini ia dan Angga tidak makan siang bersama seperti hari-hari sebelumnya karna kesibukan masing-masing, kali ini Dira mengajak Wina untuk makan di salah satu café di dekat Xtas Grup, sudah cukup lama ia tak berbincang dengan sahabatnya itu, sahabat yang sudah banyak membantunya dalam segala hal.
“Win, mau makan apa?” tanya Dira.
“Apa ya, aku bingung dan mendadak kenyang” ucap Wina terkekeh geli.
“Ah aku tau, kau tiba-tiba kenyang dan tak nafsu makan karna tak ada Sam disini bukan?" ejek Dira dengan menedipkan matanya.
“Ikh Dira, apaan sih."
“Haha betul bukan, ayo jujurlah padaku Win kau selalu membantuku bukan biarkan kali ini aku membantumu."
“Tapi saat ini tidak tepat Dir, nanti aja."
“Baiklah aku akan memanggil Sam keruanganku nanti."
__ADS_1
“Jangan!” ucap Wina dengan cemas, dan Dira hanya terkekeh geli melihat sahabatnya itu karna ia juga sudah tahu kabar tentang kedekatan Sam dan Wina. Mereka sangat kompak apalagi mengenai pekerjaan, kak Eka yang sering bercerita dengan Dira jika mereka menelpon atau video call, sepertinya memang Wina menaruh hati terhadap Sam, tapi tak tahu apakah sama dengan Sam lelaki itu susah di tebak.
Ketika sedang asik makan dan bercanda seseorang menghampiri mereka dengan mata yang tajam dan emosi yang menggebu ia mulai mendekat dan “brugghh (memukul meja) dasar wanita tak tahu malu masih saja kau berniat memisahkan ku dengan Eggi apa mau mu, bukankah kau sudah tahu bahwa Eggi adalah milikku seutuhnya” wanita itu datang kembali dengan penampilan yang berbeda tak glamour seperti beberapa tahun yang lalu, mungkin akibat kecurangan perusahaan Mulya yang di bongkar oleh Dira, bahkan perusahaan itupun di beli oleh Dira.
“Hei, apa-apan kau ini sangat tidak sopan berbicara tanpa berfikir” ucap Dira yang sudah sangat emosi, ia mengepalkan tangannya bersiap ingin melayangkannya ke wajah Nina.
“Lo yang apa-apaan\, udah ngancurin perusahaan Ayah gue\, mau rebut calon suami gue lagi ga tau malu\, dasar J*****” Nina bersiap melayangkan tangannya terlebih dahulu ke wajah Dira.
Tak lama kemudian datanglah Angga yang kebetulan sedang makan siang bersama client nya disana, ia mendengar suara wanita yang memaki saat ia melihat bahwa yang di maki wanita itu ialah istrinya kesabaran Angga pun hampir habis, ia mendekat dan menghempaskan tangan Nina yang baru saja ingin menampar Dira.
“Awh\, tu tuan kenapa engkau menghalangiku\, aku ingin memberi pelajaran kepada wanita J***** ini” ucap Nina.
“Apa kau bilang, beraninya kau menggangu Dira” jawab Angga dengan penuh emosi.
“Tuan saya tahu anda pemilik perusahaan besar tapi jangan mudah dong dirayu oleh wanita murahan ini."
“Murahan kau bilang, wanita di depanmu ini adalah istriku dan asal kau tahu yang murahan itu ialah dirimu."
“Haha, hei Dira pelet apa yang kau gunakan sampai-sampai CEO tampan ini menyebutmu istrinya” Nina berbicara dengan nada mengejek.
“Saya beritahukan kepada kamu sekali lagi dan saya tegaskan, Dira Melody ialah istri sah saya secara agama dan hukum” ucap Angga dengan tegas, membuat Nina bungkam ia bahkan tak percaya dengan apa yang ia dengar, bukan hanya ia bahkan semua pengunjung dan karyawan café pun terdiam dan hanya berani menaru hormat pada Nyonya Varasha, karna mereka semua tahu siapa Angga dan bagaimana berpengaruhnya Angga pada kota ini.
“Saya ingatkan sekali lagi padamu, tunangan mu Eggi dan kau sendiri sudah membuat trauma pada istri saya, setelah mengetahui keberadaan Dira di Belitung ia berniat menyusul Dira dan memintanya kembali pada lelaki yang kau cintai, tapi nasib baik tak berpihak pada tunanganmu. karna tak ada sedikitpun lagi cinta di hati Dira, yang ada hanya kesakitan yang kalian berikan. Tapi sejujurnya aku ingin mengucapkan terima kasih padamu nona. Berkat kau kini aku dan istriku bisa bersatu, dan satu lagi untuk masalah perusahaan Ayahmu yang bangkrut itu murni keserakahan kau dan Ayahmu yang dengan sengaja menjebak bahkan bermain dana dengan seenaknya" ucap Angga dengan santai tapi menusuk.
Nina terkejut bukan main dengan apa yang ia dengar, kini musuhnya mungkin tak lagi sepadan dengannya, siapa yang tidak takut dengan Tuan Varasha yang dingin dan bahkan tak ada satu wanita yang bisa menggodanya kini telah memperistri Dira musuhnya, sungguh ia tak ingin berurusan lagi dengan mereka.
📚
Hai readers Novel ini dalam tahap revisi karna beberapa Bab akan di gabung menjadi satu,
jangan lupa kasih Vote dan tinggalkan jejak,
salam manis author.
Indie Q
Ig : Nindi.indi
__ADS_1