
Dua hari sejak bertemu dengan Eggi,
belum terlalu banyak berubah dari Dira, ia masih merasa takut walau Angga
selalu membujuknya untuk melupakan dan menenangkan Diri. Angga pun tak
diperbolehkannya kemana-mana, terkadang ia hanya mendekap diri di dada bidang
Angga hanya seperti itu ia lebih tenang.
Entah setan apa yang merasuki Dira,
apa mungkin ia belum sadar siapa lelaki yang mendekapnya sekarang. Tapi
dipikirannya sekarang ia cukup tenang dan sudah dua hari ini ia tidur dikamar
Angga, walau Angga memilih tidur disofa ia takut imannya goyah.
Pagi itu Dira membuka mata, dan
menuju sofa tempat Angga terlelap. “Maaf aku merepotkanmu, sunggu ada rasa
takut ketika melihanya kembali. Ngga aku akan pulang terimakasih” gumamnya
dengan suara kecil.
Tiba-tiba tangan Angga menggenggam
tangan Dira seraya membuka mata “tetaplah disini bersamaku” ucapnya memohon.
“Tidak, maafkan aku harus pergi”
ucapnya.
Tok Tok Tok ceklekk
“Astagfirullahhaladzim Yah coba
lihat anakmu dan calon mantuku sudah tidur sekamar, tak bisa dibiarkan ini
harus cepat kita nikahkan Yah”
“Iya ma, ayo ayo segerah jangan
sampai membuat aib keluarga” Ucap Ayah Ali.
‘Ta ta pi Om , tante kita tak
melakukan apa-apa”
“Kamu ya Dira bikin malu, dank au
Angga berani-beraninya kalian tidur berdua” Ucap Pada sedikit Emosi.
“Pa tapi aku dan Dira sungguh tak
__ADS_1
melakukan apapun” ucap Angga jujur.
“Sudah sudah Mama gak ingin
berlama-lama ayo Dira”
Dira hanya bingung “Bagaimana ini Ya
Allah batulah Dira” gumamnya dari hati.
Orang tua mereka seperti melakukan
sandiwara, agar kejadian tadi seolah-olah Angga dan Dira lah yang salah.
***
Dengan balutan kebaya putih
diiringinya Wina dan Kak Eka memimpinnya mendekati tempat Pernikahan, desiran
ombak menambah indahnya pemandangan akad nikah mereka.
“Saya nikahkan dan kawinkan anak
saya Dira Melody Pradipta dengan anda dengan maskawin seperangkat alat sholat
dan sebentuk cincin berlian dibayai tunaiii”
“Saya terima nikah dan kawinnya anak
bapak Dira Melody Pradipta dengan maskawin tersebut tunai”
“Alhamdulillah” ucap keluarga yang
menghadiri pernikahan mereka.
Keluaga dan
rekanan hotel ikut meramaikan acara tersebut, memang acara pernikahan dadakan
ini dilakukan dihotel milik Angga jadi akan lebih mudah untuk Ayah dan Ibu
Angga mempersiapkannya.
“Dira
tersenyumlah” disela-seli sesi foto Angga berbisik padanya.
“hem” hanya
dibalas deheman dari Dira.
Dan setelah
pesta usai, ia dan Angga memasuki kamar yang sudah dipersiapkan Mama dan Ibu.
__ADS_1
Dekorasinya sangat bagus sesuai dengan selera Dira. Ia menatapi satu persatu
dekorasi kamar itu dengan heran, “mengapa kejadian ini begitu mendadak tapi ini
sungguh indah” gumamnya.
“Malam ini
kau tidur disofa” ucap Dira
“Ada apa
dengan mu ? apa kau lupa kita sudah menjadi suami – istri ?” jawab Angga penuh
amarah.
“Kalau tak
mau tak apa, aku yang akan tidur disofa”
“Dira… aku
bingung padamu apa kau amnesia 2 hari yang lalu, melupakan bahwa sedikitpun aku
tak boleh pergi dari dari mu, bahkan untuk ke kamar mandipun kau merengek
padaku !”
“em emm itu,
kau bukan bersama diriku, ia adalah sisi lain dari ku” ucapnya asal.
“aggrhhh”
Sebenarnya Dira
hanya berbohong ia tak sanggup jika harus tidur beduaan dengan pria yang
mungkin belum ia cintai saat ini dalam keadaan sadar wal afiat. 2 hari yang
lalu memang ia tidak ingin jauh dari lelaki itu tapi saat itu dirinya memang
dalam keadaan takut setakut-takutnya. Ia takut dan khawatir Eggi akan datang
dan memaksanya kembali dan ia takut teror-teror kemarin kembali mengintainya.
Memang dekapan
Angga waktu itu jauh menenangkannya. Sikap Angga yang selalu melindungi membuat
ia bisa bernafas lega apalagi setelah Angga meyakinkan bahwa Eggi tidak akan
berani mendekati Dira lagi.
“Dibalkon
__ADS_1
kamar juga tidak buruk” gumam Dira sambil bersender di kursi.