
Setelah datangnya Eggi malam itu membuatku seakan-akan takut, takut akan cinta yang
pernah Eggi berikan, penghianatan, kedustaan yang ia ciptakan seakan memutar
kembali memori menyakitkan itu, teror Nina seakan-akan berada dedepan kepalaku.
Darah, bangkai tikus, surat kaleng ancaman semuanya berputar-putar di otak ini,
dan sungguh aku seperti tak sadar memeluk erat Angga dan tak ingin jauh
darinya. Hanya didekapannya aku merasakan sedikit ketenangan.
Dan pernikahan menedadak ini seakan-akan membuat aku bingung, mereka keluarga dan sahabatku
sudah mempersiapkannya sematang mungkin, itu yang ada dibenakku. Tapi jujur
hingga saat ini aku belum bisa menerima Angga sebagai suamiku, aku mencoba
menghindar dari apa yang sudah terjadi. Hanya ada rasa keharusan didalamnya tak
lebih dari Papa dan Mama harus bahagia, kalaupun dengan cara mengorbankan
rasaku aku harap tak apa. Aku seperti aktris professional didepan mereka
seakan-akan aku dan Angga sangat mencintai tapi nyatanya aku belum bisa membuka
hati dan masih terpaut nama Eggi didalamnya setelah ku tahu bahwa Eggi juga
dijebak dalam keadaan itu, ada sedikit penyesalan tidak mempercayai Eggi saat
itu, tapi setiap nama itu bahkan wajah Eggi muncul aku seperti ketakutan dan
darahku seperti mendidih. Apakah takut dan marah itu juga disebut cintah ? ,
entah lah mungkin aku harus mendatangi psikolog yang professional untuk masalah
seperti ini.
Dan aku masih disini merenungkan apa yang harus aku lakukan jika berjauhan dengan
Angga, apa rasa cinta itu akan tumbuh ? atau bahkan kita akan saling menjauh.
***
Matahari mengintip disela-sela kaca cotec pagi ini, kepala Dira sedikit berat dan pusing akibat
__ADS_1
menangis semalam. Pagi ini ia bergegas ingin diving di salah satu pulau wisata
dibelitung ditemani guide yang akan memandunya berkeliling hari ini. Senyumnya mengembang
membayangkan keindahan Belitung, ia rasa ia harus banyak menenamkan saham dan
usahanya disini agar ia bisa sering berkunjung ke tempat ini.
Mentari terik menemaninya diving menikmati keindahan bawah laut, terumbu karang, ikan-ikan
kecil membuat segar pemandangan dibawah laut ini. Entah sudah berapa lama ia
berada di bawah laut sewaktu-waktu naik ke kapal hanya untuk minum dan makan. Setelah
puas ia singgah disalah satu pulau untuk sekedar berkeliling dan berbincang
kepada penduduk dan juga pengunjung disana.
Drett drett
“Ya hallo” ucap Dira.
……
“Baiklah besok pagi saya akan ikut rapat”
……
“Hufft, berada disini apa tak membebaskan ku untuk tidak bekerja aku sunggu lelah”
gumamnya sedikit marah karna besok akan di adakan rapat kepengurusan pemegang
saham diHotel Angga.
Keesokan harinya Dira bersiap dengan setelan kerja berwarna navy dengan rambut yang dicepol rapi
keatas makeup tipis yang menambah kecantikannya. Ia memasuki loby hotel dan
saat itu semua karyawan menundukan kepalanya memerikan sapaan. “ada apa ini
tumben”gumamnya dalam hati dengan raut muka kebingungan.
Masuklah Angga Varasha memimpin rapat pagi ini dengan penampilan yang sangat tampat,
senyuman yang jarang ia keluarkan pun pagi ini menghiasi wajahnya. Banyak rekanan
__ADS_1
dan beberapa sekretaris yang mencari perhatiannya pagi itu.
“baiklah dalam rapat kali ini saya ingin mengumumkan bahwa 30% saham Varash grup diperusahaan
ini kini menjadi milik istri sah saya Dira Melody Pradipta CEO Xtas grup”
ujarnya santai, disisi lain Dira membulatkan matanya terkejut dengan perlakuan
Angga, mungkin jika wanita itu bukan Dira pasti mereka sangat senang tapi ini
Dira wanita yang tak pernah meminta belas kasihan sekalipun pada Papa nya
sendiri.
Hingga rapat usai Dira masih tidak mengeluarkan sepatah katapun hanya senyum dan senyum
ketika Angga mengumumkan kedudukannya kini. Ketika semua orang sudah keluar
ruangan rapat Dira masi setia duduk dikurnsinya dan beranjak mendekati Angga.
“Kau salah tuan, aku bukan wanita yang haus akan kekayaanmu dan tanpa saham mu pun
perusahaan ku akan tetap berajalan” ucapnya menusuk
“Aku hanya menjalankan kewajibanku dan memberi hak mu sebagai istri” jawab Angga
“Aku tak butuh, apa kau sedang menyalakan api pertengakaran?”
“Ha ha aku ! apa kau lupa perbuatan mu”
“Aku benci ini semua”
“Ikut aku pulang, dan satu lagi ini terakhirnya aku melihat kau mencepol rambutmu keatas,
kau lupa istriku hanya aku yang berhak menikmati keindahanmu” ucap Angga genit.
“Tidak akan” jawab Dira sembari berjalan meninggalkan Angga.
Jangan lupa
Vote ya manteman
Biar Author
lebih semangat UP
__ADS_1
Follow IG :
nindi.indi