
Beberapa hari ini kebingungan melanda Dira, Eggi dengan tiba-tiba jarang menelpon atau sms dan Levy yang tetap menghubunginya bahkan seperti peneror tetap berusaha mengambil hati Dira, sampaiia lupa besok ialah hari kelulusannya.
"Dek, besok kamu kelulusankan? akan ada acara apa di sekolahmu?" tanya kak Eka yaitu satu-satunya kakak Dira.
"Nggak tau ah kak, Dira malas mikirinnya" jawab Dira.
"tapi kakak lihat itu ada undangan seperti party kelulusan?" kata Kak Eka, "kakak bantu carikan bajunya yaa, biar adik kecil kakak ini terlihat cantik besok malam" kak Eka berjalan ke kamar Dira meninggalkan Dira yang masih bengong di teras atas.
***
"Diraaaa selamat, kamu jadi siswa dengan nilai berbaik di sekolah ini aku bangga padamu ciwi-ciwiku" Wina mendekati Dira dan memeluknya.
"Ah masa si Win" tanya Dira tidak yakin.
"Iya sana lihat di papan pengumuman" jawab Wina.
Dira berlari menuju papan pengumuman, dan benar yang di katakan Wina, Dira mendapatkan nilai yang memuaskan, tapi seketika Dirinya memutar kepalanya ke samping.
"Selamat Dira kamu hebat" ucap Levy sambil menyodorkan tangannya ingin bersalaman.
"Terima kasih " jawab Dira tanpa membalas uluran tangan Levy.
Dia bukannya tak ingin berteman dengan Levy tapi dia sendiri takut Levy akan menganggap lebih, sedangkan hatinya sudah terisi Eggi di dalamnya.
Malampun tiba, Dira dengan gaun elegan berwarna hitam, dandanan yang tipis menghiasi mukanya, rambutnya yang di tata rapi, dengan high heel yang tidak terlalu tinggi, membuatnya seperti wanita sempurna.
Mobil yang dibawa pak Mun memasuki halaman sekolah, turunlah Dira bak bidadari dari khayangan, dengan anggunnya berjalan di koridor sekolah menuju tempat acara. Semua mata tertuju padanya, tersenyum seperti terhipnotis. Sebernya Dia sedikit lebih malu karna mungkin ini kali pertamanya berpenampilan anggun seperti ini, biasanya dia hanya memakai celana jeans, kemeja atau huddy serta sepatu cat.
Dia di minta menyanyikan sebuah lagu perpisahan pada malam itu, suara yang merdu dengan iringan musik membuat acara itu berjalan haru, karna masa SMA mereka akan menjadi masa yang di rindukan setelah ini.
Tapi dia terfikir akan sesuatu, "kenapa kak Eggi tidak memberikan ucapan selamat atau apa kek ke aku?" gumamanya dalam hati, Dira berfikir keras hingga acara selesai.
Kenang-kenangan sebagai siswa terbaikpun ia terima, plakat yang tertulis namanya "Dira Melody Pradipta" ia sangat bangga dan puas akan hal ini, karna menjadi kehormatan tersendiri baginya.
"Dira mau di lanjutkan kemana sekolahmu setelah ini" tanya Pak Budi.
"Dira belum tahu pak, Papa Dira tak memberi izin kalau harus keluar Negri, sepertinya Dira akan kuliah Online di salah Universitas dalam Negri saja" jawab Dira.
"Apapun keputusan yang akan kamu ambil, bapak selalu mensuport kamu, karna bapak yakin murid bapak ini akan menjadi seseorang yang berhasil" ucap pak Budi tersenyum.
"Terima kasih suportnya pak, Dira sangat senang" jawab Dira.
__ADS_1
***
"Pa Ma, bolehkah kali ini Dira memutuskan sendiri jalan hidup Dira" tanya Dira pada orang tuanya yang masih santai di taman belakang.
"Bolehkah kita bernegosiasi dulu sayang, sekarang jelaskan apa yang Dira mau" tanya Papa.
"Dira akan membuka restoran di tanah yang papa berikan ke Dira minggu lalu, Dira ingin membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang tidak mampu kuliah, Dira ingin berbisnis dengan orang-orang hebat, membuka cabang usaha, merekrut lebih banyak orang dan intinya Dira ingin berguna untuk orang banyak" Dira meratapi keinginannya.
"Apa kamu tidak mau kuliah sayang?, kakak kamu saja S1 masa' kamu cuma mau sampai SMA saja" celetuk Mama.
Sebenarnya Dira memang tak ingin melanjutkan sekolahnya, tapi Dira sadar jika dia bilang tidak mau maka Papa akan marah dan menarik fasilitas yang ia gunakan saat ini.
"Baiklah Dira akan Kuliah terserah di Universitas mana, yang penting Online, dan itu keinginan yang tidak bisa di tawar Mama" jawabnya.
Mama adalah orang yang paling paham karakter anaknya masing-masing, Papa tak bisa membantah kedinginan Dira kali ini dan menyetujui keputusan Dira.
Pagi itu matahari mengintip di sela sela jendela kamar Dira, namun Dira tak juga bangun dan masih tetap tidur dengan posisi yang berubah ubah. Kalau masalah tidur memang tak ada yang ingin tidur sekamar dengannya walaupun kak Eka sendiri, karna tingkahnya saat tidur bisa membahayakan orang di sampingnya.
"Dira... Bangun sudah siang temenin Kak Eka yuk ke mall" sorak kak Eka sambil membuka pintu kamar Dira.
Dira tetap tidur seperti orang mati.
"Diraaaaa..." kak Eka bersorak sambil melemparkan bantal ke badan Dira.
Dira menuruni anak tangga dengan muka kesal, Dira belum mau bangun karna otaknya dipenuhi hal-hal tentang Eggi dari kemarin.
"Nak di kartu ini ada uang modal usaha lakukan apa yang kamu mau Papa takkan ikut campur dan Papa yakin kamu bisa melakukan apa yang kamu impikan" Papa memulai obrolan dengan monyodorkan kartu ke Dira.
"Dira gak mau Pa, selama ini juga Dira ada pendapat kok dari Chanel yang Dira buat, Dira rasa itu cukup untuk memulai usaha ini" jawab Dira seraya menyantap sarapannya pagi ini.
"Tapi nak, ambillah sayang kamu boleh menggunakan sewaktu waktu ada keperluan mendadak, jangan tolak ini Papa gak mau" Papa meyakinkan dan memohon kepada Dira.
"Baiklah terima kasih Papa I love You" jawab Dira dengan mata berbinar.
***
"Kak, ayo lah cepat beli apa yang kamu mau aku tunggu disini aja ya" sambil Duduk di salah satu tempat di dalam mall dan memesan kopi, dan kak Eka mengangguk pergi meninggalkan Dira sendiri.
Tapi seketika matanya melihat kesalah satu sisi ada yang membuat dirinya terkejut, darahnya seperti mendidih dia berdiri perlahan mendekat memastikan yang matanya ini lihat benar.
Plakkkk.
__ADS_1
"Kita putus."
Teriak Dira di depan Eggi menampar, di bukanya cicin yang pernah Eggi berikan satu hari sebelum Eggi pamit kuliah keluar Negri di lemparnya kemuka Eggi, dan sontak Eggi terkejut.
Dira berlari jauh menuju parkiran masuk ke mobil dengan wajah yang tak bisa di baca, seketika ada cairan bening di sudut matanya.
Dia mulai mengulang kejadian tadi apa yang dia lihat, ya Eggi yang ia cintai beberapa tahun terakhir ini sedang duduk mengobrol bersama teman wanitanya dan itu Nina wanita yang sempat menjadi tanda tanya besar di hati Dira. Dari kejauhan Eggi menatap wanita itu dalam dengan tangan kanannya menggenggam tangan kanan Nina, wajar jika Dira marah apa yang ia lihat seperti mimpi, sedangkan ia yang pacarnya pun tak tahu jika Eggi akan pulang ke tanah air.
Di lamunanya dia berdzikir sambil menggenggam kedua tanganya, "astagfirullah alazim" ucapnya dengan mata tak berkedip dan cairan bening di matanya menetes membasahi pipinya.
Drett dreett getaran handphone Dira, ia melupakan kak Eka yang sedang bingung mencarinya di dalam.
"Hallo adek di mana kakak sudah selesai."
"Dira di mobil kak."
"Baiklah" kak Eka keluar dan menuju parkiran..
Di perjalanan kak Eka sedikit bingung melihat tingkah Dira yang tanpa kata sedikitpun, tanpa menanyakan apa yang kak Eka beli.
"Are you oke babe?."
"Tidak untuk sekarang kak."
"Ceritalah kak Eka akan mendengar."
Dira mulai bercerita dari awal perkenalkan sampai hari ini apa yang ia lihat dan seketika kak Eka tersenyum. "Adik kakak ini sudah besar rupanya, kenapa kak Eka tidak berfikir hingga kesana selama ini, oke babe it's no problem. Masih ada lelaki yang tidak bangs*t seperti itu, kau hanya harus menyiapkan diri dan hati" jawab kak Eka seraya mengelus rambut Dira.
Kak Eka juga paham apa yang terjadi pada adiknya sebenernya ia khawatir dan juga sedih tapi tak ingin ia tampakkan baginya saat ini, Dira harusa di berikan semangat untuk keluar dari zona sedihnya saat ini.
📚
Hai readers Novel ini dalam tahap revisi karna beberapa Bab akan di gabung menjadi satu,
jangan lupa kasih Vote dan tinggalkan jejak,
salam manis author.
Indie Q
__ADS_1
Ig : Nindi.indi