Pilihan Terbaik

Pilihan Terbaik
27. Suara Hati Dira 1


__ADS_3

"Dira, Dira dimana kau!” Suara Angga memenuhi ruang kamar


Dira yangasik menyender di kursi balkon kamar dengan headset di telinganya sama sekali


tak mendengar kekesalan suaminya. Saat menemukan istrinya sedang asik dengan


handphonenya kegeraman Angga pun datang. “Aku memanggilmu apa kau tuli!”


“Ada apa”jawab Dira dengan muka tanpa dosa.


“Agghh”mengusap rambutnya kasar “ Semua orang sudah menunggu kita untuk makan malam di


resto dan kau malah sibuk dengan duniamu” ucap Angga marah.


“Baiklah Ayo!, oh ya dan ingat mainkan peranmu anggap saja kita sedang berekting dengan


pernikahan ini” ujar Dira dengan santai.


“Melihat sikap asli mu membuatku muak” ucap Angga.


“Aku tak peduli” gumamnya.


 


***


“Dira Angga, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri kami semua akan kembali ke


Jakarta besok, nikmati masa-masa kalian disini atau sesekali pergilah berbulan


madu” ucap Papa.


“Terimakasihatas waktunya Angga dan Dira sangat senang” ucap Angga, sembari mencubit tangan


Dira.


“Oh em Iya, terimakasih kita akan tetap disini sementara waktu ya kan sayang” Sambil


mencubit balik tangan Angga .

__ADS_1


“Ah hem yaa sayang” ucap Angga dengan senyum terpaksa.


“Baiklah Ayah dan semuanya selalu mendoakan kalian, jangan lupa membuat Varasha Junior


yaa” ucap Ayah diiringi kedipan Ibu dan Mama.


Keadaan makan malam itu terlihat hangat, perkumpulan keluarga yang sangat akan


dirindukan jika berjauhan.


“Baiklah semua aku dan Dira akan ke kamar dulu, selamat malam”


Deg Deg Deg


Kencangnya suara degupan ini membuat ia sedikit takut, mengingat kata-kata kasar yang ia


ungkapkan ke Angga tadi membuat ia cemas jika Angga akan berbuat macam-macam.


“Tidurlah di ranjang aku akan tidur di sofa malam ini” ucap Angga membuka percakapan.


Diabalas anggukan dari Dira. Sesekali ia mencuri pandangan ke arah Angga yang sedari


sedikit perasaan bersalah di hatinya. Ingin rasa membangunkannya dan


menyuruhnya tidur di ranjang. Tapi seketika rasa itu ia tepis. Sudah cukup


pikirnya kejadian 2 hari kemarin membuat ia dalam rasa bersalah berdekatan


bahkan tidur didekat orang yang belum kenal bahkan belum ia cintai.


***


Pagi ini selesai ke bandara mengantarkan keluarga mereka pulang ke Jakarta. Kini Dira


dan Angga sedang diperjalanan pulang.


“Ngga aku tak ingin tidur di hotel mu”


‘‘Terserahmu aku tak peduli” ucap Angga.

__ADS_1


Ada perasaan bersalah di diri Dira mengatakan permintaan tadi, ia tau tak seharusnya ia


menjauhi dan membuat jarak antara ia dan suaminya. Tapi sunggu ada keinginan


dan alasan tersendiri ia melakukan ini semua.


Sesampainya dihotel ia mengemasi kopernya dan pergi ke Cotec tempat ia menginap dulu.


Didalam cotec ia merenungi nasibnya. Ingin rasanya saat ini ia bercerita ke


sahabatnya Wina, tapi itu tak mungkin saat ini pasti Wina sedang sibuk mengurus


perusahaan yang ia tinggalkan.


“Angga, maafkan aku” ucapnya.


 Isi hati Dira


Malam itu aku berlari menginggalkan mu yang sepertinya tahu aku memang sengaja datang ke


Pulau ini untuk menghentikan perjodohan kita. Dalam pikiraku saat Papa dan


Ayahmu menjodohkan kita adalah masalah bagiku, bagimana aku bisa hidup dengan


pria yang belum sama sekali aku cintai bahkan pertemuan antara aku dan kamu


ialah dalam keadaan salah, dari awal kau menabrakku di bandara, kedua aku


menabrakmu di tepi pantai dan marahmu padaku, jujur membuat aku takut dengan dirimu.


Saat kau sengaja membuat Levy terdiam dan tak berani mengusikku lagi, sungguh aku


tersenyum saat itu. Kau dengan mudahnya bersandiwara untuk mematahkan harapan


Levy. Aku sungguh tak tahu apa motifmu tapi aku melihat ketulusan menolong itu


ada dimatamu. Aku yang biasanya tak akan mudah menerima pegangan, dekapan, dan


kecupan, tapi malam itu apa yang kau lakukan seakan-akan tulus membuatku tak

__ADS_1


bisa marah dan mengamuk.


__ADS_2