
"Dira, Dira dimana kau!” Suara Angga memenuhi ruang kamar
Dira yangasik menyender di kursi balkon kamar dengan headset di telinganya sama sekali
tak mendengar kekesalan suaminya. Saat menemukan istrinya sedang asik dengan
handphonenya kegeraman Angga pun datang. “Aku memanggilmu apa kau tuli!”
“Ada apa”jawab Dira dengan muka tanpa dosa.
“Agghh”mengusap rambutnya kasar “ Semua orang sudah menunggu kita untuk makan malam di
resto dan kau malah sibuk dengan duniamu” ucap Angga marah.
“Baiklah Ayo!, oh ya dan ingat mainkan peranmu anggap saja kita sedang berekting dengan
pernikahan ini” ujar Dira dengan santai.
“Melihat sikap asli mu membuatku muak” ucap Angga.
“Aku tak peduli” gumamnya.
***
“Dira Angga, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri kami semua akan kembali ke
Jakarta besok, nikmati masa-masa kalian disini atau sesekali pergilah berbulan
madu” ucap Papa.
“Terimakasihatas waktunya Angga dan Dira sangat senang” ucap Angga, sembari mencubit tangan
Dira.
“Oh em Iya, terimakasih kita akan tetap disini sementara waktu ya kan sayang” Sambil
mencubit balik tangan Angga .
__ADS_1
“Ah hem yaa sayang” ucap Angga dengan senyum terpaksa.
“Baiklah Ayah dan semuanya selalu mendoakan kalian, jangan lupa membuat Varasha Junior
yaa” ucap Ayah diiringi kedipan Ibu dan Mama.
Keadaan makan malam itu terlihat hangat, perkumpulan keluarga yang sangat akan
dirindukan jika berjauhan.
“Baiklah semua aku dan Dira akan ke kamar dulu, selamat malam”
Deg Deg Deg
Kencangnya suara degupan ini membuat ia sedikit takut, mengingat kata-kata kasar yang ia
ungkapkan ke Angga tadi membuat ia cemas jika Angga akan berbuat macam-macam.
“Tidurlah di ranjang aku akan tidur di sofa malam ini” ucap Angga membuka percakapan.
Diabalas anggukan dari Dira. Sesekali ia mencuri pandangan ke arah Angga yang sedari
sedikit perasaan bersalah di hatinya. Ingin rasa membangunkannya dan
menyuruhnya tidur di ranjang. Tapi seketika rasa itu ia tepis. Sudah cukup
pikirnya kejadian 2 hari kemarin membuat ia dalam rasa bersalah berdekatan
bahkan tidur didekat orang yang belum kenal bahkan belum ia cintai.
***
Pagi ini selesai ke bandara mengantarkan keluarga mereka pulang ke Jakarta. Kini Dira
dan Angga sedang diperjalanan pulang.
“Ngga aku tak ingin tidur di hotel mu”
‘‘Terserahmu aku tak peduli” ucap Angga.
__ADS_1
Ada perasaan bersalah di diri Dira mengatakan permintaan tadi, ia tau tak seharusnya ia
menjauhi dan membuat jarak antara ia dan suaminya. Tapi sunggu ada keinginan
dan alasan tersendiri ia melakukan ini semua.
Sesampainya dihotel ia mengemasi kopernya dan pergi ke Cotec tempat ia menginap dulu.
Didalam cotec ia merenungi nasibnya. Ingin rasanya saat ini ia bercerita ke
sahabatnya Wina, tapi itu tak mungkin saat ini pasti Wina sedang sibuk mengurus
perusahaan yang ia tinggalkan.
“Angga, maafkan aku” ucapnya.
Isi hati Dira
Malam itu aku berlari menginggalkan mu yang sepertinya tahu aku memang sengaja datang ke
Pulau ini untuk menghentikan perjodohan kita. Dalam pikiraku saat Papa dan
Ayahmu menjodohkan kita adalah masalah bagiku, bagimana aku bisa hidup dengan
pria yang belum sama sekali aku cintai bahkan pertemuan antara aku dan kamu
ialah dalam keadaan salah, dari awal kau menabrakku di bandara, kedua aku
menabrakmu di tepi pantai dan marahmu padaku, jujur membuat aku takut dengan dirimu.
Saat kau sengaja membuat Levy terdiam dan tak berani mengusikku lagi, sungguh aku
tersenyum saat itu. Kau dengan mudahnya bersandiwara untuk mematahkan harapan
Levy. Aku sungguh tak tahu apa motifmu tapi aku melihat ketulusan menolong itu
ada dimatamu. Aku yang biasanya tak akan mudah menerima pegangan, dekapan, dan
kecupan, tapi malam itu apa yang kau lakukan seakan-akan tulus membuatku tak
__ADS_1
bisa marah dan mengamuk.