
Sepulang sekolah siang itu dengan wajah yang tersenyum memasuki kamar, mengganti baju, dan menatap langit-langit kamarnya seraya berfikir tentang seseorang.
"Lelaki itu akh! siapa dia sebenarnya sungguh baru kali ini aku meliat pria setampan itu" gumamnya sambil memejamkan mata dan membayangkan wajah seseorang.
Benar saja yang ada dipikirannya bukan Levy kakak kelas yang memperhatikan Dira tanpa berkedip, tapi yang sedang ada dipikirannya ialah laki-laki yang ia tabrak tadi, menurutnya ada kharisma tersendiri dari lelaki itu, kulitnya kuning langsat, tubuhnya yang tinggi dan kekar, senyumnya yang manis dan penampilan yang rapi membuat nya menjadi daya tarik tersendiri untuk Dira.
Dira melanjutkan aksinya mencari tahu lelaki tadi, mulai ia buka berbagai alat tempurnya, ia membuka laptop berharap menemukan sedikit informasi, mirip seperti detektif mencari tahu orang tanpa nama dari berbagai media sosial, namun sia-sia tak sedikitpun Dira mendapatkan informasi tentang lelaki itu.
***
Sesampainya di sekolah ia sedikit berlari menemui sahabatnya Wina, Wina sama seperti Evan mereka berteman semenjak di bangku SMP berbedanya dengan Evan, Wina selalu menajadi tempat curhat Dira baik itu urusan pribadi hingga urusan laki-laki.
"Win ada yang inginku tanyakan" panggil Dira sambil berlari dari gerbang menghampiri Wina, dan Dira mulai menceritakan semua yang terjadi kemarin tentang pertemuannya dengan lelaki yang ia tabrak.
"Sejak kapan temanku ini memikirkan lelaki? bukannya Dira yang ku kenal selalu cuek, masa bodo, tidak memperdulikan orang yang memperhatikannya? Apa ini yang dibilang cinta pada pandangan pertama" jawab Wina mengejek.
"Sudah diam tugasmu hanya membantu ku mencari tahu, selebihnya biarkan menjadi urusanku" ucap Dira, Wina yang mendengarnya tertawa melihat keanehan Dira.
Waktu istirahatpun tiba lelaki yang sedang diincarnya berjalan semakin mendekat melewati kelasnya, seketika Dira yang duduk dengan Novel ditanggannya seperti kaku tak bisa bergerak ataupun berkedip, Wina yang di sebelahnya kebingungan melihat ekspresi temannya itu.
"Dira kamu kenapa,"
"Win itu dia win lelaki yang kuceritakan tadi, cepat kau cari tahu win siapa namanya."
Wina memang seseorang yang bisa di katakan pemberani dalam hal mencari tahu atau mengendap-endap entahlah kehebatan macam apa itu, dan diam-diam Wina mengikuti lelaki itu dan lewat di sampingnya serta sedikit menoleh kekanan "Eggi Dianarta" nama di baju sekolah lelaki itu, setelah mengetahui namanya ia kembali memutarkan badannya menuju Dira.
"Eggi Dinarta" ucap Wina kepada Dira.
"Terimakasih kerjamu bagus, oh ya Win siang ini kita rapat Osis, kamu kan juga anggota osis jadi wajib datang" ucap Dira.
"Baik bos" jawab Wina.
***
Diruang rapat osis para anggota osis sudah berkumpul, masuklah Evan, Dira, dan Levy seketika mata semua anggota tertuju kepada Dira,sikat dan cara Dira menyampaikan berbagai ide membuat semua anggota Osis terpukau, namun tak sedikit jua yang iri dengan dirinya.
Tapi jauh dari itu, Dira tampak memperhatikan lelaki yang duduk di belakang "ow rupanya dia juga anggota Osis" ucapnya dalam hati seketika dia tersenyum, menurutnya keadaan ini membuat dia lebih bisa mengenal lelaki itu.
Dira mengikuti rapat, memberikan ide-ide menarik yang tak di bayangkan oleh anggota lain. Seketika ruangan itu di penuhi semangat dengan ide dan cara pembawaan Dira mengeluarkan ide-idenya.
Keputusan terakhir di Sekolah ini akan mengadakan eskul musik dalam segala bidang, ya musik memang menjadi makanan sehari hari bagi Dira. Tak heran putri terakhir dari pasangan Tuan Rian dan Nyona Lela ini menyulap kamarnya sudah seperti studio musik, Ayahnya pun selaku mendukung apa yang menjadi kesenangan putri bungsunya itu.
__ADS_1
Selesai rapat ia pulang, awalnya ia ingin pulang dengan sahabatnya Wina ia bermaksud mengikuti Eggi dan mencari tahu rumahnya, tapi sungguh sial Pak Mun supirnya sudah menunggu di depan gerbang.
***
Siang ini eskul musik di mulai, ada beberapa bagian yang bernyanyi, bermain gitar, dan beberapa kelompok lainnya. Dira datang agak sedikit terlambat karna sedikit bertengkar dengan kakanya dirumah hanya karna masalah sepele, sebenarnya ia dalam keadaan marah tidak mau di antar Pak mun dan pergi dengan sepeda motor miliknya, dan sesampainya di sekolah ia meminta maaf kepada guru eskul atas keterlambatannya.
Mmaaf pak saya terlambat" ujarnya.
"Ia saya maafkan tapi sebagai hukuman nya kamu silahkan bernyanyi ditengah lapangan" ucap Pak Frans guru eskul musik.
Tanpa menolak ia mengambil gitar dan mikrofon menuju ketengah lapangan.
"Aku terperangkap diantar dua hari yang
Mencintaiku mencintaiku
Bingung tak menentu
Siapa yang benar benar
Mencintaiku mencintaiku
Mereka berlomba
Siapa yang pantas yang bisa kuandalkan
Bukan rayuan, bukan pujian yang Aku butuhkan
Cinta apa adanya
Aku pilih
Dia."
Dira bernyanyi sesekali memandang kearah Eggi dengan senyuman, seketika tepuk tangan terdengar di lapangan Dira pun menunduk malu. Tak heran dengan kepandainnya bahkan Dira pun mempunyai chanel youtube yang isinya lagu-lagu yang ia nyanyikan.
Disisi lain Eggi yang melihat Dira terpanah dan sadar bahwa Dira menatapnya dengan senyum sedari tadi. Eskul pun selesai Dira menuju parkiran, di belakang Eggi mengikutinya. "emmm, Dira apa saya boleh meminta nomor hp mu, takutnya sewaktu waktu ada perlu" ujar Eggi.
Dira sedikit kaget tak menyangka. "08 13 xxx xxx xx" Ucap Dira dengan senyumnya, "trimakasih" ucap Eggi.
Dira mengambil motornya dan pergi meninggalkan sekolah dengan hati yang berbunga bunga "yeay akhirnya aku tak perlu bersusah payah" ucapnya sambil tertawa.
****
__ADS_1
Sesampainya dirumah.
"Dira" Ucap Papa.
"iya Pa" menunduk berjalan kearah Papa.
"Papa sudah bilang kamu tidak boleh keluar rumah sendiri, kakakmu memarahimu kamu malah marah balik apa itu namanya anak baik?" ucap Papa marah.
Dira memang anak bungsu yang selalu ditiruti kedua orang tuanya, namun kalau urusan keluar sendiri orang tuanya selalu tak mengizinkan, karna bagi mereka Dira adalah berlian yang harus dijaga.
"Pa tapi Dira sudah besar, Dira juga bisa jaga diri Pa" sahut Dira.
Papanya meninggalkan Dira di tengah ruang keluarga, Dira merasa kesal karna Papa selalu melarang jika dia ingin pergi sendiri, dan sebenarnya banyak yang ingin dia lakukan sore ini, tapi semua seketika hilang dia pegi menaiki anak tangga dan masuk ke kamar.
Masih teringat dengan kejadian tadi Dira tersenyum senang, beberapa menit kemudian handphone nya berbunyi ada pesan masuk,
Dira ini aku Eggi, bisakah kita bertemu malam ini dicafe xxx ada yang ingin aku bicarakan.
Baik, jawab dira
Seketika wajah Dira berubah merona, tapi terbesit dipikirannya "gimana bisa aku keluar rumah, kalau pergi sendiri aja ga boleh" dia merenungi gimana caranya, tapi tiba-tiba ide nya muncul.
"halo Win apakah kau bisa membantuku" Dira menelpon wina dan memberi tahu maksudnya, akhirnya Wina setuju.
Setelah sholat isya dia bergegas turun kebawah, ia dapati Papa dan Mama yang sedang asyik nonton Tv.
"Pa Ma Dira ada tugas kelompok yang harus diselesaikan, kita sudah janjian di rumah Wina" ucap Dira.
"Baik sayang, jangan pulang malam, diantar pak mun ya" jawab Mama.
Akhirnya Dira pergi kerumah Wina. "Pak Mun jangan nungguin Dira karna lama, pulang aja nanti Dira telpon" ucap Dira.
"Baik non" jawab pak mun.
Sesampainya di rumah Wina, dia sedikit mengintip ke arah jalan di lihatnya mobil Pak Mun sudah jauh.
"Ayo Win cepet!" ucap Dira merengek.
"Iya sabar, aduh susah ya kalo lagi khasmaran hi hi hi" goda Wina.
📚
Novel Ini dalam tahap revisi.
Dukung Author terus dengan rajin membaca dan jangan lupa Vote.
__ADS_1
Terimakasih- Indi Q
Follow IG : Nindi.indi