
Hari ini hari pertama Dira mulai mengurus berbagai keperluan usahanya dari mulai keperluan barang hingga adminstrasi dan surat perizinan, sebenarnya hatinya masih sakit tentang kejadian kemarin namun ia tak mau kalah dengan memikirkan orang yang tak sedikitpun memikirkannya.
Sebenarnya tadi malam handphone Dira tak berhenti bergetar banyak sms dan telpon yang masuk namun ia tak mau memperdulikannya, ia hanya sibuk termenung di teras atas sambil berfikir kenapa Eggi setegah itu, sesekali dia mengusap air matanya masih mencoba mengingat manisnya pertemuan dan cinta mereka tapi rasanya semua itu tak berarti setelah penghianatan kemarin.
Berulang kali Eggi ingin menjelaskan namun tak satu kalipun di bolehkan Dira baginya sekarang Eggi hanyalah seorang penghianat.
***
Satu bulan berlalu, penghianatan Eggi benar-benar mengubah hidupnya, Dira lebih tertutup, diam, sinis, dan dingin sekarang ini ia hanya memikirkan usahanya yang akan segerah dia mulai dan ia benar-benar pergi dari kehidupan Eggi, tanpa penjelasan dan tanpa alasan karna baginya apa yang ia lihat sudah cukup menjelaskan semuanya.
"Baik nona Dira, semuanya sudah selesai kerja sama yang baik dan 2 hari lagi restoran nona sudah siap untuk Grand Opening" ujar Pak Dedi salah satu orang yang mendukung usahanya saat ini.
"Saya sangat berterima kasih atas bantuan pak Dedi, saya harap kerja sama kita akan tetap berlangsung" jawab Dira.
Dira menatap puas kerja kerasnya selama satu bulan ini restoran yang cukup besar dengan komposisi lengkap di dalamnya, resto khusus keluarga dan rekan kerja, ada juga yang berjenis cafe bersantai yang menghadap ke arah pantai, banyak ruko-ruko juga di bagian depan yang di sewakan untuk para usahawan kota itu, semuanya sesuai dengan apa yang Dira inginkan, di berinya nama XTAS untuk usaha barunya ini.
Grand Opening pun di mulai, Dira sebagai Direktur dan pemilik restoran itu pun sore ini terlihat sangat cantik, dengan batik Indonesia yang dirancang khusus berwarna abu-abu hitam, rambut panjang di bagian bawahnya bergelombang, kacamata hitam yang di kenainya menemani sore yang cukup panas.
"Dengan ini saya selaku pemilik Xtas resmi membuka tempat ini" guntingan pita merah di iringi musik menambah kemeriahan acara grand Opening Xtas.
Ucapan selamat dari berbagai petinggi kota, rekan kerja, kolega, serta teman-temanpun ramai memenuhi area Xtas, tak lupa mereka juga mengirimkan karangan bunga untuk tempat usaha baru Dira.
Rasa senang dan sedih seakan tidak percaya dengan apa yang sudah ia capai, setelah sholat isya malam itu Dira duduk di salah satu kursi yang mengarah ke pantai, lampu-lampu kapal dan segelas coklat panas menemaninya malam itu.
"Dira selamat atas apa yang sudah kamu capai" lelaki tinggi dengan kemeja abu-abu mengulurkan tangan memberikan selamat kepada Dira, buka Eggi tapi Levy.
Dira menoleh dan mempersilahkan Levy duduk, kali pertama Levy bisa berbicara dengan Dira setelah puluhan kali di tolak dan di tinggalkan Dira.
"Aku tahu apa yang kau alami sejauh ini, aku juga sebenarnya ingin memberitahukan tentang Eggi dari dulu, namun kau tak pernah memberiku izin untuk berbicara bahkan kau tak pernah meresponku" Levy mulai berbicara.
"Kak Levy, sudahlah apapun yang terjadi padaku itu urusanku tak sedikitpun orang lain berhak ikut campur, sekarang aku sudah mengikhkaskan apa yang terjadi, jadi kumohon jangan terlalu ambil pusing" jawab Dira kali ini dia berbicara sedikit panjang ke Levy, bukannya apa dia hanya ingin menyendiri untuk sekarang.
"Dira aku akan selalu ada untukmu."
"Tapi Dira tak ingin" Jawab Dira ketus.
Levy berusaha mengenggam tangan Dira namun Dira menepis, bediri dengan muka marah dan pergi meninggalkan Levy.
"Tolong pak Levy jaga sikap anda" ucap Dira ketus.
Levy terdiam melihat Dira pergi menjauh darinya, entah mengapa Dira berubah menjadi seperti monster setelah tangannya sempat sedikit bersentuhan dengan tangan Levy, dan di dalam mobil ia mengambil tissu basah dan mengusapkan kasar ke tangannya, daranya seperti mendidih ketika emosi itu berhasil mengusai pikirannya.
"Astagfirullahaladzim" Dira menangis dengan apa sudah ia terjadi malam ini, kenapa lagi Levy kembali benaknya karna tak sedikitpun Dira mengharapkan itu, Dira tak ingin bertemu dengan Eggi ataupun Levy walau Levy memang tak memiliki masalah padanya namun Dira tetap tidak suka, apalagi dengan cara Levy ingin memegang tangganya.
Tahun-tahun berlalu dengan kerja keras dan kesungguhan kini Xtas makin berkembang dan saat ini kurang lebih sudah 2 tahun Xtas berdiri. Mentari terbit dengan cuaca cerah, semangat Dira pun menggebu dengan usaha baru yang ia rintis sangat menguntungkan banyak pihak, tak jarang banyak pengusaha yang ingin bekerja sama dengan Dira. Kesibukan hari-harinya di isi dengan bertemu klint bisnis untuk mengembangkan dan membuka bisnis-bisnis baru.
__ADS_1
Dira berubah menjadi wanita yang mandiri dan tegas, apalagi dengan cabang-cabang usaha yang mulai ia buka lebih membuat dirinya tak ada memikirkan hal lain selain pekerjaan yang ia cintai.
***
"Boleh saya bertemu Dira?" tanya seorang pria pada Wina yang kini menjabat sebagai asisten Dira di kantor Xtas Grup.
"Maaf apa anda Eggi?" tanya Wina dengan ragu.
"Iya, saya ingin bertemu Dira."
"Apa sudah membuat janji tuan."
"apa harus seperti itu?" tanya Eggi dengan muka sombongnya.
"Wah, rupanya anda belum tahu siapa Dira Melody Pranata sekarang, tidak bisa seenaknya tuan bertemu sebelum membuat janji dengan beliau."
"Haha bilang saja kekasih sejatinya ingin menemuinya" jawab Eggi dengan percaya diri.
Wina mengambil gagang telpon "halo nona Dira, tuan Eggi ingin menemui anda" ucap Wina.
Dira sedikit terkejut mendengar nama itu kini berada di kantornya "saya sibuk dan tidak ingin di ganggu" ucap Dira dan telponpun di tutup.
"Bilang sama nona anda, saya akan kembali lagi besok" ucapnya dengan kesal.
Di dalam ruangnya darah Dira seperti mendidih mendengar nama itu datang dan kembali mencoba menemuinya, entah apa yang Eggi inginkan lagi setelah mereka putus hampir 2 tahun yang lalu.
Informasi baru Dira dapat dari salah satu orang kepercayaan Dira, bahwa Eggi kembali 2 hari yang lalu, dia sudah menyelesaikan study nya di luar negri, saat ini Eggi juga masih menjalin kasih dengan Nina kekasih selingkuhannya semenjak berjauhan dengan Dira.
***
Malam hari pun tiba, ramai sekali pengunjung di Xtas dengan berbagai usia, band lokal pun menemani malam itu menjadi semakin hangat, Dira duduk di kursi yang menghadap ke pantai di mejanya ada laptop, handphone dan secangkir kopi..
"Nona Dira ada sesuatu yang di kirimkan untuk anda" ucap salah satu pelayan sambil memberikan buket bunga ke Dira.
Dira mengambil bunga tersebut dan membuka kartu ucapannya.
"Dira sejak 2 tahun yang lalu aku tak bisa membohongi perasaanku, perasaan yang masih sama sejak aku memintamu menjadi kekasihku" by Eggi.
Dira menutup kartu ucapannya "permainan apa lagi yang ingin kau mainkan Eggi" gumam Dira dan tak lama kemudian seorang pria tinggi dengan kemeja biru mendekati meja dira, sontak dira terkejut dengan apa yang ia lihat, di saat pengunjung Xtas sedang ramai-ramainya.
__ADS_1
"Dira aku kembali untukmu" ucap Eggi dengan senyuman.
"Apa yang kau inginkan" jawab Dira.
"Aku ingin kau kembali bersamaku lagi, menemaniku, seperti kisah kita dulu" Eggi berbicara berlutut di hadapan Dira.
"Masih ingatkah kau Eggi akan kejadian 2 tahun lalu, aku bukanlah Dira yang kau kenal dulu."
"Tapi bagiku kau tetap Dira kecil ku sayang."
"Enyah kau Eggi" ucap Dira berdiri dengan suara seperti ingin membunuh.
"Takkan kubiarkan kau pergi Dira"
"Aku bilang enyah kau dari hadapanku" suara Dira mual sedikit tinggi.
Eggi ingin menenangkan dengan menyentuh tangan Dira, seketika Dira marah dan menepisnya.
Plakkkk.
Tamparan mendarat di pipi Eggi "aku bilang sekali lagi, mulai dari hari ini dan seterusnya enyah kau dari pandangan ku" Dira berbicara dengan gemetar dan dingin beranjak pergi meninggalkan Eggi.
Tak lama Wina datang ke meja Dira tadi mengambil laptop dan handphone Dira, Eggi masih di sana terdiam malu sekeliling mereka melihat kejadian itu banyak pula yang mengabadikan momen ekstrem itu di dalam vidio.
"Aku peringatan sekali lagi ya Eggi, Dira yang sekarang bukan Dira yang dulu, bay" Wina pergi meninggalkan Eggi.
Isak tangis Dira pecah di dalam ruangnnya, Wina masuk dan memeluknya, "yang kau lakukan tadi benar sayang sudah jangan menangis ada aku yang selalu ada untukmu" ucap Wina menenangkan Dira.
"Win, aku hancur malam kni ku mohon Eggi pergilah dari hidupku" Dira menangis sejadi jadinya.
📚
Hai readers Novel ini dalam tahap revisi karna beberapa Bab akan di gabung menjadi satu,
jangan lupa kasih Vote dan tinggalkan jejak,
salam manis author.
Indie Q
Ig : Nindi.indi
__ADS_1