Pilihan Terbaik

Pilihan Terbaik
15. PT - Perasaan


__ADS_3

Setelah rapat kepemilikan saham selesai, Dira bergegas ingin meninggalkan hotel tapi tiba-tiba salah satu karyawan di sana mendekatinya.


“Nyonya Varash mohon maaf tuan menunggu anda di kamarnya” ucap lelaki itu.


“Tapi saya tak ada waktu, bilang saja nanti” jawab Dira berbohong.


“Saya mohon Nyonya, saya bisa di pecat jika tak berhasil membawa anda ke kamar tuan."


“Dasar lelaki pemaksa” gumamnya dalam hati “baiklah nomor berapa kamarnya” ucap Dira dengan malas.


“111, mari saya antar Nyonya" di balas anggukan dari Dira, sesampainya di depan kamar itu dengan ragu ia membuka pintu dan menemukan sosok Angga yang tengah menyender di ranjang dengan ponsel di tangannya.


“Ada apa?” ucap Dira.


“Aku ingin bicara” jawab Angga.


“Bicaralah, aku akan mendengar."


“Bisakah lebih mendekat."


“Tidak, cukup disini."


“Hem, Dira istriku aku tahu masih ada lelaki itu di dalam hatimu dan aku pun tak bisa memaksakanmu untuk menerimaku karna aku tak ingin ada keterpaksaan dengan semua ini” Angga diam sejenak. “Aku ingin kita pulang ke Jakarta memberikan keterangan yang sebenar-benarnya dengan orang tua kita”  ucap Angga dengan suara memelas.


“Nggak, aku gak mau Papa dan Mama malu” ucap Dira.


“Tapi aku tak bisa seperti ini” ucap Angga.


“Biarkan ini berjalan, dan aku tahu bahwa kau mencintai pacarmu dan berencana menikahinya sekarang aku tak masalah” ucap Dira dengan asal.


“Ngomong apa kamu."


“Memang iya, aku lihat kok dari dua hari dulu kamu sibuk menghubunginya" lagi-lagi ucapan Dira asal.


“Apa-apaan aku bukan lelaki seperti itu, jika aku ada wanita lain kenapa juga aku ingin di nikahkan denganmu."


“Sudahlah Ngga, aku tahu."


“Dira!” ucapan Angga marah dengan mata yang sudah merah mendekati Dira, seketika tubuh Dira gemetar ketakutan, Angga datang mendekat kearah Dira dengan marahnya ia mencengkam kasar tangan Dira.


“Apa aku harus dalam kondisi marah menceritakan padamu, kau selalu membuat emosiku naik dengan segala tuduhanmu. Asal kau tahu setelah wanita sialan yang pernah mencuri hatiku dan ia berhianat sampai saat ini aku belum pernah berpacaran atau berdekatan dengan wanita lain selain dirimu. Aku sejauh ini menahan seluruh hasrat untuk istriku, sampai aku tak bisa menjalankan syarat untuk tak di jodohkan dan takdir menjodohkan aku dengan mu. Wanita yang pernah aku tolong dari kelakuan jahat seseorang tapi ia meninggalkanku lari tanpa meminta penjelasan kenapa aku menolongnya, wanita yang membuat bumi seakan berhenti berputar dengan tindakannya kabur untuk menghentikan perjodohan ini dan bodohnya aku malah khawatir dan mencarinya sampai ke Belitung. Wanita yang membuatku tenang dan damai jika aku memeluknya, mendekapnya setiap malam, bahkan ia merengek jika aku ke kamar mandi sekalipun, wanita yang membuat aku rindu ketika ia memutuskan untuk pergi meginap di cotec padahal aku suaminya sangat membutuhkan kehangatkannya. Kau bagai candu yang Tuhan kirimkan dari penantianku yang lama, dan bodohnya kau masih tak bisa melihat ada cintaku di dalamnya, dan bodohnya aku masih mencintai mu setelah tahu sifat asli mu."


Ia diam sejenak dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya, Dira terdiam kaku tak bersuara hanya ada air mata yang keluar tanpa henti dan ia tertunduk lemas mendengar segala penjelasan Angga saat ini, ia sungguh terkejut jika saat ini rupanya Angga sudah menaruh hati padanya dan ia mengutuk dirinya sendiri saat ini, memaki dirinya yang bodoh dan tak bisa melihat ketulusan didalam diri Angga.


“Dan sekarang baiklah aku akan lakukan keinginanmu, pergilah” ucap Angga dengan suara serak tak bertenaga.


Dira masih diam tertunduk menangis, “maaf kan aku” ucapnya dengan suara memelas.

__ADS_1


“Sudahlah, tak ada yang perlu meminta maaf” jawab Angga.


“Maafkan aku Ngga."


“Pergilah Dira, tak apa" Dira hanya menggelengkan kepala dalam tangisannya.


“Kau tak salah Ngga, aku yang terlalu bodoh memahami ini semua, ketika masih ada nama lelaki itu walau ia juga di jebak tapi aku seharusnya paham kalau bukan cinta namanya jika di dalamnya rasa kekecewaan yang semakin kuat, rasa amarah yang tak bisa padam. Begitu bodohnya aku masih memikirkan jika itu cinta dan akan baik-baik saja, sedangkan aku di khianati melebihi batas” Dira diam sejenak menari nafas dan menyeka air matanya.


“Terima kasih sudah menyadarkan ku untuk hal ini, dan tentang kita aku juga berterimakasih walau aku belum paham apa yang aku rasakan saat ini dan aku juga tak ingin membohongi diriku bahwa aku merasa nyaman di dekat mu, walau kadang emosi mu bisa membuat aku bertindak dengan hal-hal aneh, sekali lagi maafkan aku” ucapnya masih tertunduk tak berani menatap Angga.


Di dalam lamunannya Angga terdiam, ada perasaan senang ketika Dira jujur tentang keadaan dirinya. Ingin rasanya ia mendekap Dira saat ini tapi masih ia tahan karna ia tak ingin istrinya berubah pikiran dan berubah perasaan setelah ini.


“Buat aku jatuh cinta padamu” ucap Dira seketika menatap lamunan Angga. Di balas tatapan oleh Angga dan berjalan mendekat Dira juga memeluknya, Dira tak membalas pelukan itu yang di rasakannya sekarang ialah kehangatan dan ketenangan. Mereka menghabiskan siang itu dengan saling memandang satu sama lain.


 


 


***


 


 


 


“Gak mau, kamu aja yang pulang aku masih pengen disini” jawab Dira manja.


“Sayang, nanti setelah kerjaan selesai aku janji kita bakal kesini lagi atau mau keluar negri berbulan madu?” rayu Angga genit.


“Ikh, Angga aku masih pengen disini” rengeknya.


“Baiklah aku akan bilang ke Sam, untuk membatalkan beberapa kontrak pekerjaan mu disana biar kamu berlibur dulu disini."


“Ahh jangan baiklah aku pulang” ucapnya malas.


Dira kini jauh lebih manja, dia selalu merengek jika menginginkan sesuatu, sejujurnya berat untuk ia meninggalkan pulau ini. Di sini sangat tenang dan damai, apalagi kerjaannya kalau bukan bolak balik beberapa pulau kecil untuk diving dan berjemur tak heran sekang kulitnya semakin eksotis. Suaminya selalu menuruti setiap keinginan wanita itu terkadang harus pintar membagi waktu untuk pekerjaan dan istrinya.


Hari ini mereka kembali ke Jakarta, segudang pekerjaan sudah menunggu mereka di perusahaan masing-masing. Di sana beberapa orang kepercayaan merekalah yang menghendel pekerjaan tersebut. Namun pagi ini dari mulai sampai di Jakarta sampai waktu menunjukkan pukul 22.00 Wib Angga dan Dira masih berkutat di depan laptop dan tumpukan berkas.


 


Tok Tok tok


“Masuk” ucap Dira dari dalam ruang kerjanya.


“Bby ayo pulang, sudah malam” ucap Suaminya.

__ADS_1


“Masih belum selesai Ngga” Jawabnya.


“Besok dilanjut ya."


“Hemm, baiklah ayo.”


Di dalam mobil tak henti-hentinya Angga melirik istri cantiknya itu, menatap istrinya yang masih mencuri-mencuri waktu mengecek beberapa email yang masuk dan membalasnya. Ia sangat kagum dengan Dira, jika kebanyakan wanita diluar hanya menikmati harta suaminya namun Dira malah marah ketika Angga memberikan sahamnya untuk Dira.


Mungkin Allah membalas doa nya dengan mengirim wanita pekerja keras ini agar Angga tahu bahwa tak semua wanita itu sama seperti mantan kekasihnya yang rela menikahi pria berumur demi kekayaan semata.


“Kamu kenapa senyum-senyum ?” tanya Dira.


“Emm nggak, cuma senyum aja apa gak boleh” jawab Angga.


“Ya gapapa si takut aja kamu mikir yang aneh-aneh."


“Aneh-aneh juga gapapa, kan sama istri sendiri."


“Ikh, dasar mesum” ucap Dira kesal dengan mecubit lengan Angga.


“Bby aku lagi nyetir, sabar ya nanti di apart aja ya"


“Ikh, Angga ngeselin, mau pulang kerumah Papa aja."


“Pulang ke apart aku ya, kasian nanti Papa udah tidur."


“Sok tahu kamu" jawab Dira dan Angga hanya terkekeh geli serta sesekali mencium tangan istrinya.


 


 


 


 


📚


Hai readers Novel ini dalam tahap revisi karna beberapa Bab akan di gabung menjadi satu,


jangan lupa kasih Vote dan tinggalkan jejak,


salam manis author.


Indie Q


Ig : Nindi.indi

__ADS_1


__ADS_2