Pilihan Terbaik

Pilihan Terbaik
8. PT - Kehancuran Mulya Grup


__ADS_3

"Halo Sam jemput aku" ucap Dira dengan nada lesu, hari dimana ia harus pulang ke Jakarta walau dengan malasnya melangkah menuju Sam yang sedari tadi menunggunya dengan senyum kemenangan karna beban Sam akan berkurang ketika bosnya ini kembali. Di dalam mobil Dira masih belum semangat memikirkan dan membayangkan kehancuran Mulya Grup, separuh jiwanya seperti masih tertinggal di Belitung.


Sekilas cerita di Belitung, saat itu dira sedang berjalan sambil menikmati senja di pantai tanjung tinggi, namun secara tak sengaja ia menabran seseorang "brugh" Dira menabrak laki-laki berperawakan tinggi dengan celana pendek putih dan kemeja biru laut serta kacamata hitam yang menambah keren penampilan lelaki itu.


"Awh, maaf saya tak sengaja" ucap Dira meminta maaf karna ia sadari memang salahnya yang terlalu focus memandang kelaut tanpa melihat orang yang di hadapannya.


"Apa anda buta hah?" ucap lelaki itu dengan suara kerasnya, membuat Dira memejamkan matanya dan kakinya yang berasa gemetar.


"Ma af tapi sungguh sa ya tak sengaja" jawabnya dengan gugup.


"Sudahlah pergi dari hadapanku" ucap lelaki dingin itu.


Dira langsung berlari meninggalkan bibir pantai, matanya mengeluarkan cairan bening walau tak terlihat karna tertutup kacamata hitam. Dia berjalan menuju hotel dengan mata yang berair karna mungkin hampir semasa hidupnya ia tak pernah dibentak oleh lelaki sekalipun Ayahnya tuan Rian.


Dira pun tak mengerti kenapa ia selemah ini hanya dengan sekali bentak, "cengeng banget gua" ucapnya sambil melap air mata yang sedari tadi mengalir dengan tangan.


Saat itu jua ia teringat Eggi laki-laki yang dulu sangat menyayanginya, tak pernah membentak, tak pernah marah padanya, bahkan selalu menyayanginya, tapi itu dulu sebelum ku terluka, ehh kok malah nyanyi. Tapi setelah memikirkan Eggi, pikiran Dira seakan kembali dengan kasus Eggi yang berhianat, dan Sampun membuyarkan lamunannya.


"Nona semuanya sudahku siapkan, sekarang giliran anda yang bertindak" ucap Sam.


"Baik Sam, lakukan sekarang adakah rapat untuk semua perusahaan yang ikut bekerjasama dengan Xtas."


"Baik Nona."


 


 


***


 


"Ada apa ini, kenapa rapat ini begitu mendadak."


"Iya aku juga tak tahu, bawahan Dira menginfokan satu jam yang lalu."


"Entahlah apa pimpinan mereka ini tak tahu jika aku sibuk."


"Mengadakan rapat seenaknya saja."


Begitulah kiranya omelan para pimpinan perusahaan lain yang hadir dalam rapat tersebut, masuklah Dira si wanita dingin, sinis dan kejam dengan setelan kerja berwarna abu-abu dan rambut yang di cepol rapi.

__ADS_1


"Selamat sore, saya sangat berterima kasih kalian hadir di rapat yang mendadak ini, maafkan saya tapi saya tak bisa menunda demi kelangsungan hidup perusahaan kita masing-masing."


Di suatu sisi Sam sedang menampilkan beberapa bukti kecurangan pihak Mulya Grup dari mulai kejahatan dalam menyeludupkan uang, pembengkakan pengeluaran yang merugikan semua perusahaan yang ikut bekerjasama serta tingkah licik tuan Mulya yang menyuruh anaknya menggoda ahli waris E&F Grup, yaitu perusahaan Ayah Eggi.


"Tuan Mulya, saya tahu anda sengaja melakukan ini karna dendam pribadi anak anda dengan saya, dan mulai saat ini saya pastikan rekanan anda menarik saham mereka dari perusahaan anda" ucap Dira dengan tegas.


Terkejut, gemetar, rasa kacau bahkan mulut seperti membisu itulah ekspresi tuan Mulya. dalam posisi itu di pikirannya hanyalah meminta maaf untuk segala hal yang telah terjadi, karna ia melakukan semua itu hanya untuk membahagiakan putri sematawayangnya Nina.


"Nona kumohon beri aku kesempatan" kata itulah yang keluar dari mulut Muyla.


"kesempatan setelah anakmu berusaha melenyapkanku, kesempatan setelah anakmu dengan beraninya berbuat jauh tanpa melihat siapa lawannya" suara Dira mulai memenuhi ruangan rapat, ia berdiri dengan melempar semua bukti foto, paket, bahkan surat-surat kaleng yang Nina kirim selama ini, membuat orang yang berada di dalam ruangan rapat terkejut dengan itu semua.


"Kau tenang tuan aku takkan menarik sahamku karna masih kuberi kau kesempatan, tapi aku tak yakin dengan rekananmu yang lain" ucap Dira dengan senyum sinis dan benar yang Dira katakan, setelah kejadian Dira membongkar kecurangan tuan Mulya dalam usahanya, seketika harga saham Mulya Grupp menurun dan hampir semua rekanan mencabut sahamnya dari perusahaan beliau.


Hanya kerugian yang ia nikmati sekarang, hutang perusahaan yang menumpuk, perjanjian kerja sama dengan perusahaan baru di batalkan, serta kehilangan kepercayaan dalam dunia bisnis.


Namun di sisi lain hanya Diralah yang tidak menarik sahamnya, dengan tujuan membantu ketika Mulya Grup tidak bisa beroperasi lagi dengan cara membeli saham perusahaan tersebut, walaupun asetnya tidak seberapa karna sebagian habis di jual untuk menutupi hutang perusahaan.


"Aku hanya membantumu tuan, mungkin disaat semua orang meninggalkan mun aku tetap di sini" ucap Dira dengan senyum liciknya.


"Ini semuanya memang salahku" ucap Mulya dengan suara memelas.


"Baik nona Dira, semua berkas susah selesai, akte pendiri perusahaan juga sudah kita ubah, dan mulai sekarang Mulya Grup resmi menjadi Xtas D Grup dengan pimpinan perusahaan Dira Melody Pradipta" ujar Notaris menjelaskan.


Di sisi lain, Nina sedang stres memikirkan hidupnya yang tiba-tiba jatuh, mobil dan aset lainya ditarik, hanya tersisa rumah yang masih bisa ia nikmati, hubungannya dan Eggi pun juga kacau setelah Dira membongkar niat busuk Nina.


Bulan demi bulan berlalu, aktivitas di Xtas D Grup kembali normal dan berjalan baik. Banyak tawaran kerja sama dari perusahaan-perusahaan luar dan membuat Dira semakin sibuk tiap harinya.


Sudah satu bulan ini Evan teman semasa sekolahnya membantunya dalam mengelola perusahaan, setelah SMA Evan kuliah di Yogya dan saking focusnya mereka bahkan jarang bertemu hanya sesekali ketika Dira mengadakan perjalanan bisnis ke Yogya dan setelah ia selesai Dira memintanya untuk bekerjasama mengelola anak perusahaan milik Dira dan menghendel beberapa kerjaan ketika Dira banyak pekerjaan.


Wina dan Sam pun begitu, mereka mengerjakan segala urusan di Xtas Grup dan Evan membantu mengelola Di Xtas D Grup, berkat bantuan mereka Dira bisa sedikit santai bahkan tak tau apa jadinya jika orang kepercayaan itu tak ada, dia harus mengelola dua perusahaan sekaligus.


 


 


***


 


 

__ADS_1


Hari ini adalah hari dimana namanya akan bertambah gelar, kebaya cantik berwarna maroon dengan polesan makeup tipis, rambut yang di cepol rapi menemaninya pagi ini, dengan toga ia tampil begitu anggun.


"Selamat sayang untuk kerja kerasnya, anak Papa sudah mendapat gelar hari ini" ucap Papa sambil tersenyum.


"Sama-sama Papa semuanya untuk kalian."


"Kak Eka ada hadiah karna Dira sekarang sudah lulus" ucap kak Eka.


"Apa si Kak, aku gak mau hadiah ah uda kayak anak kecil" jawabnya marah.


"Ini bukan berupa barang sayang" ujar kak Eka tersenyum.


"Apa?" jawabnya malas.


"Kakak akan menggantikan kerjaanmu di perusahaan dan selamat berenang-senang."


"Tidak kak, bagaimana nanti Keni siapa yang akan menjaganya?."


"Ada Mama sayang" jawab Mama Dira.


"No mommy, aku tak ingin Keni kehilangan kasih sayang orang tuanya" ucapnya malas.


Seperti itulah Dira, ia akan marah jika kakaknya pergi meninggalkan Keni keponakannya yang cantik itu, walau cuma sebentar Dira akan langsung mengomel dan suaranya akan memenuhi telinga orang-orang yang ada dirumah.


Memang sebenarnya ia sangat ingin melihat perkembangan usahanya di Belitung, namun pekerjaan di Jakarta cukup banyak dan menyita waktu.


 


 


 


📚


 


Hai readers Novel ini dalam tahap revisi karna beberapa Bab akan di gabung menjadi satu,


jangan lupa kasih Vote dan tinggalkan jejak,


salam manis author.

__ADS_1


Indie Q


Ig : Nindi.indi


__ADS_2